
Mendengar ketukan pintu tersebut, Sean berpikir apakah itu Yun Zi?
Namun daripada diterka-terka, lebih baik dirinya buktikan saja langsung.
Sean berjalan kearah pintu dan membukanya, terlihat disana ada sosok ayah dari Yun Zi.
"Maaf mengganggu nak Sean, tapi boleh kita bicara berdua diruangan kerjaku?" tanya ayah Yun Zi.
"Baik, paman" jawab Sean.
Mereka pergi bersama menuju ruangan kerja milik ayah Yun Zi dirumah, lalu duduk berhadapan di sofa yang tersedia didalam ruangan itu.
"Sekali lagi saya memohon maaf jika sudah mengganggu kamu yang mungkin hendak tidur sebelumnya" ucap ayah Yun Zi.
"Paman tenang saja, saya belum mau tidur jadi tidak merasa terganggu sama sekali" jawab Sean santai.
"Kalau begitu baguslah" jawab ayah Yun Zi.
"Jadi, ada paman sampai mengajak saya untuk berbicara disini?" tanya Sean.
"Ini soal Yun Zi....." ucap ayah Yun Zi.
"Yun Zi....Kenapa dengan Yun Zi paman?" tanya Sean penasaran.
"Sebelumnya jangan panggil paman, panggil saja ayah dan ibu pada kami mulai sekarang" ucap ayah Yun Zi.
"Baik, ayah" jawab Sean.
"Sigh....Sebenarnya ini mungkin akan mengejutkan kamu nak Sean" ucap ayah Yun Zi.
"Memangnya ada apa ayah, katakan saja apapun itu akan berusaha saya terima dan siapa tahu saya bisa bantu?" ucap Sean dengan tenang.
"Begini....Yun Zi tidak sesehat seperti apa yang kamu lihat selama ini" ucap ayah Yun Zi.
"Maksud ayah, Yun Zi sakit?" tanya Sean dengan perasaan terkejut.
"Benar....Dan itu adalah penyakit mental" jawab ayah Yun Zi menjelaskan.
"Lebih tepatnya apa itu?" tanya Sean.
"Yun Zi terkadang bisa merasakan kecemasan berlebih, dan itu adalah penyakit mentalnya" jawab ayah Yun Zi.
"Apakah bisa dihindari atau diprediksi kapan gangguan mental itu terjadi?" tanya Sean.
"Cara menghindarinya adalah dengan membiarkannya hidup dengan tenang, dan dengan begitu bisa diprediksi bahwa Yun Zi akan baik-baik saja dan tidak terkena gangguan mental tersebut" jelas ayah Yun Zi.
Sean sekilas mengingat apa yang terjadi pada Yun Zi disekolah karena kelakuan Jia Yu sebelumnya.
"Om tahu apa yang terjadi pada Yun Zi selama disekolah" jawab ayah Yun Zi.
"Saya berjanji akan menyembuhkannya" jawab Sean.
"Kalau begitu om percayakan Yun Zi padamu mulai dari sekarang, jadi tolong jaga dan lindungi dia selalu semampu dirimu" jawab ayah Yun Zi.
"Baik, saya berjanji" jawab Sean percaya diri.
Saat mereka sedang mengobrol seperti itu, terdengar ketukan pintu.
"Masuklah" jawab ayah Yun Zi.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Yun Zi beserta ibunya disana.
Sean dengan ayah Yun Zi berdiri, dan secara tiba-tiba Yun Zi berlari kearah Sean dan memeluknya dengan erat.
Ayah Yun Zi menatap kearah sang istri seolah meminta penjelasan padanya soal kejadian ini.
Sang istri hanya menjawab dengan anggukan kepala saja atas kode yang diberikan oleh sang suami.
"Sean bawa Yun Zi ke kamarnya" ucap ayah Yun Zi.
Sean mengangguk sebagai tanda mengerti, kemudian menggendong Yun Zi ala tuan putri pergi dari sana dan menuju kamar Yun Zi.
Yun Zi sendiri berpegangan erat pada leher Sean dengan mengalungkan lengannya pada leher Sean, kemudian wajahnya dibenamkan pada dada bidang Sean.
Sampai di kamar Yun Zi, Sean menutup pintu dan menguncinya. Kemudian membaringkan Yun Zi diatas kasur dengan lembut dan perlahan.
"Sistem sembuhkan penyakit gangguan mental pada Yun Zi"
__ADS_1
{Layanan diberikan}
Seketika Yun Zi yang tengah memeluk erat Sean melepaskan pelukannya dan menatap kearah Sean.
Sean tersenyum dan berkata dengan lembut "sudah baikan bukan?"
"Ehm" jawabnya sambil menganggukan kepala sebagai tanda jawaban.
Chu~
Satu kecupan Sean daratkan pada kening Yun Zi, dan kemudian mereka tertidur bersama malam itu dalam keadaan berpelukan di bawah selimut yang sama hingga pagi datang.
Keesokan pagi harinya, dimana merupakan hari sabtu dan sekolah libur.
Sean yang pertama bangun dari tidurnya kemudian melepaskan diri dari pelukan Yun Zi, dan pergi dari kamar Yun Zi kembali ke dalam kamar tamu yang seharusnya ditempati dirinya semalam.
Sean langsung mandi dan mengenakan pakaian miliknya yang semalam sudah dicuci dan dikeringkan dengan mesin pengiring.
Lalu selesai dengan itu dirinya keluar dari dalam kamar tamu tersebut, dan bertemu dengan Yun Zi disana yang berdiri menatap kearahnya dengan mata berair henda menangis.
"Kenapa nangis hm?" tanya Sean.
Yun Zi tanpa aba-aba langsung memeluk tubuhnya dan berkata "aku kira kamu udah pulang tanpa pamit ke aku"
Sean tersenyum dan membalas pelukan Yun Zi sambil berkata "aku hanya mandi saja"
Sean kemudian ditarik menuju kamar Yun Zi, dan di suruh untuk menunggunya yang tengah mandi sampai selesai berpakaian dan bersiap-siap.
Sean hanya diam menunggu sambil memainkan ponselnya, sampai sebuah panggilan telpon masuk.
Itu adalah nomor Bu Chenyue.
"Hal, bu" ucap Sean menyapa lebih dulu.
"Sean, ibu mau ucapkan terimakasih atas bantuamu" ucapnya.
"Bantuan, soal apa?" tanya Sean heran.
"Ibu tahu, kamu yang bawa ibu ke rumah sakit setelah kecelakaan itu" jawab Bu Chenyue.
Sean kemudian paham dan ingat apa yang tengah dibicarakan dan dimaksudkan oleh guru nya ini.
"Tapi tetap saja ibu ucapkan terimakasih atas bantuannya" jawab Bu Chenyue berterimakasih dengan tulus.
"Sama-sama" jawab Sean.
"Lalu, bagaimana kondisi ibu sekarang?" tanya Sean.
"Ibu sudah pulang kerumah, dan baik-baik saja" jawab Bu Chenyue.
"Syukurlah" jawab Sean.
"Oh ya, jangan lupa kamu bersiap diri untuk perlombaan itu" ucap Bu Chenyue.
"Kalau soal perlombaan itu saya sudah siap mulai kapanpun" jawab Sean dengan percaya diri.
"Baguslah, dan jika kamu memang akan ibu berikan hadiah khusus untuk kamu" ucap Bu Chenyue.
"Wah....Kalau begitu akan saya nantikan hadiah dari ibu itu jika saya bisa memenangkan perlombaannya nanti" jawab Sean.
"Kalau begitu, sudah dulu telponnya" ucap Bu Chenyue.
"Baik" jawab Sean.
Sambungan telpon ditutup, Sean kemudian melihat kearah Yun Zi yang baru keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk putih yang menutup bagian lekuk tubuhnya yang terlihat meggoda.
Sean yang melihat penampilan Yun Zi saat ini begitu terpana, dan dengan susah payah menelan salivanya.
"C-antik" ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Sean begitu melihat penampilan Yun Zi saat ini dihadapan matanya.
Yun Zi terlihat senang dengan pujian tulus yang diberikan oleh Sean padanya, lalu entah dapat ide da keberanian dari mana. Yun Zi mendekati Sean dan duduk tepat dihadapan dirinya.
"A-pakah, sayang mau 'itu'?" tanya Yun Zi.
!
Sean yang mendengar hal tersebut dari mulut Yun Zi secara langsung begitu terkejut dan tentu saja membuatnya tergoda.
__ADS_1
"Kamu jangan menggoda diriku seperti ini" ucap Sean.
Yun Zi kemudian mendekat kearah Sean lebih dekat lagi, dan berbisik tepat disamping telinganya.
"Jika kamu ingin, boleh kok" ucap Yun Zi.
!
Sean langsung merasakan.... nya memuncak, dan degup jantungnya lebih kencang serta ditambah sesuatu yang terasa sesak dibawah sana.
"Kamu yakin?" tanya Sean.
Yun Zi tersenyum dan mengangguk sebagai tanda jawaban atas pertanyaan sang kekasih barusan.
Sean dengan perlahan mendekatkan wajah nya ke wajah Yun Zi dan kemudian mencium bibirnya dengan lembut dan perlahan, sampai perlahan-lahan tensi permainan bibir itu berubah.
Bahkan Sean sudah membaringkan tubuh Yun Z diatas kasur dengan ditindih oleh tubuhnya, tapi malah ada yang mengganggu momen mereka itu.
Diman terdengar bunyi ketukan pintu sebanyak tiga kali dan disusul suara dari ibu Yun Zi.
"Kaliam sudah bangun? Jika sudah segera keluar dan kita akan sarapan"
Sean dengan Yun Zi menghentikan kegiatan mereka dan Yun Zi menjawab pertanyaan sang ibu dengan segera sebelum sang ibu menerobos masuk kedalam kamar dan melihat mereka dalam posisi intim.
"Baik bu, kami akan segera keluar dan bergabung dengan kalian berdua untuk sarapan pagi" jawab Yun Zi sedikit meninggikan nada suaranya.
Sean kemudian menyingkir dari atas tubuh Yun Zi dan menenangkan dirinya, serta merapihkan kembali pakaian yang dikenakannya.
Yun Zi sendiri segera mengenakan pakaian dan setelah selesai, mereka berdua keluar bersama dari dalam kamar lalu bergabung dengan orang tua Yun Zi untuk makan sarapan pagi bersama-sama.
... -------...
Sean sudah pulang kerumah, dan saat ini tengah menonton acara televisi. Sampai dirinya teringat akan sesuatu yang dirinya lupakan.
"Sistem, apakah Yun Zi yang ku kenal sekarang itu adalah Yun Zi yang sama dengan yang aku kenal di kehidupanku sebelumnya?"
{Jawaban singkatnya benar}
{Dimana Yun Zi yang anda kenal di kehidupan pertama anda telah bereinkarnasi kedua ini seperti anda dalam waktu yang bersamaan}
"Apakah Yun Zi memiliki ingatan dikehidupan sebelumnya?"
{Tidak}
"Apakah ingatan dikehidupan sebelumnya milik Yun Zi bisa dipulihkan?"
{Bisa}
"Berapa Layanan Sistem yang dibutuhkan?"
{Hanya satu}
Sesaat Sean diam berpikir apakah dirinya memutuskan untuk mengembalikan ingatan milik Yun Zi dikehidupan sebelumnya atau tidak?
{Menurut saran sistem lebih baik anda tidak perlu memulihkan ingatan milik Yun Zi dikehidupan sebelumnya}
"Ya...Kurasa itu lebih baik untuk sekarang ini"
Sean kembali fokus menatap layar televisu dihadapannya, sampai sebuah berita di televisi memancing perhatian dirinya.
Dimana dalam acara televisi yang dirinya tengah saksikan sekarang ini, menayangkan sebuah acara berita yang memberikan informasi mengenai sebuah perhiasan termahal di dunia yang berhasil di lelang dengan harga tinggi.
"Aku akan berikan Yun Zi cincin sebagai hadiah"
Sean segera pergi dari rumahnya dengan menggunakan taxi, dan pergi menuju mall untuk membeli sebuah cincin.
Walau dirinya bisa meminta cincin pada sistem, tapi lebih baik menghemat Layanan Sistem untuk saat ini karena sekarang dirinya hanya bisa meminta maksimal 3 Layanan Sistem saja setiap harinya pada sistem.
Sampai di mall, dirinya langsung pergi ke lantai 3 tempat dimana berkumpulnya para toko perhiasan dan barang elektronik serta branded lainnya disana.
Sean berniat membeli sebuah cincin untuk Yun Zi pada salah satu toko perhiasan branded disana.
Bersambung......
Jangan lupa kasih dukungan kalian.
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang.
__ADS_1
Terimakasih.