
Tanpa terasa pembelajaran sudah berlangsung selama dua jam, para murid menyimak dan merekam setiap hal yang diucapkan oleh Tuan Abdi, walau ada beberapa remaja yang bersifat acuh tak acuh dengan materi yang disampaikan olehnya. Berbeda dengan Daya, dia memperhatikan semua perkataan yang dilontarkan oleh Tuan Abdi. Setiap ucapan dan perkataannya di hafal dan dipahami oleh Daya.
Selagi Tuan Abdi menjelaskan, sesekali Daya melihat ke arah murid lain, terdapat lima belas laki-laki termasuk dirinya dan sisanya adalah perempuan.
"Baiklah, sekarang tentang iblis," ucap Tuan Abdi mengambil botol lalu meminumnya.
"Iblis adalah mahluk terkutuk yang hidup di dalam bawah tanah dan memiliki kerajaan di tengah lautan yang dikelilingi oleh ular-ular yang besar. Perihal iblis sendiri, aku belum tau banyak dikarenakan para pendekar dengan Tier Emperor belum mengirim informasi terbaru tentang ras ini. Tapi, hal yang pasti tentang ras ini adalah: mereka adalah ras berdarah dingin, memiliki gigi yang runcing, mempunyai sayap untuk terbang dan kehidupan yang abadi!" ucap Tuan Abdi menyipitkan matanya memberitahu tentang keabadian Ras Iblis.
"A-a-anu, apakah mereka (Iblis) bisa mati juga? Seperti elf yang tetap mati jika dibunuh atau sakit?" tanya wanita dengan malu-malu.
"Aku tidak tau, hal itu masih belum diketahui secara pasti!" ucap Tuan Abdi menundukkan kepalanya.
Para murid terdiam saling memandang, ketakutan dirasakan para murid dari tatapan serta gerak-gerik mereka.
"Sudahlah, tidak perlu takut. Kita mempunyai pendekar yang kuat melindungi kita dari luar desa," ucap Tuan Abdi menenangkan para muridnya.
Tujuan Tuan Abdi berkata seperti itu adalah untuk menenangkan para remaja dari ketakutannya, namun hal itulah yang membuat para murid semakin takut. Tuan Abdi melupakan sesuatu yang penting.
"Kenapa kalian malah semakin takut? Kan ada pendekar!?" tanya Tuan Abdi bingung karena para muridnya tetap takut.
"Iyasih ada pendekar, tapi kitakan bakalan jadi pendekar juga. Huu ... ayah, bunda aku takut ..." rengek seorang gadis remaja.
"Hei ...!" bentak Tuan Abdi sembari memukul meja bundarnya.
Kami semua terkejut dengan suara pukulan yang dilakukan oleh Tuan Abdi.
"Tujuan kalian menjadi pendekar untuk apa? Berlagak sombong? Agar dipuji oleh orang banyak? Atau malah ingin menyakiti orang lemah? Jika hal itu yang kalian inginkan lebih bagus kalian keluar dari pondokku ...!
"Rasa takut memang ada pada diri setiap manusia, tapi rasa takut itu juga yang akan membuat kalian semakin hebat dalam mengendalikan hawa nafsu dunia. Jika kalian memiliki kepercayaan kepada tuhan, maka ber do'a dan bekerja keraslah. Karena do'a akan membantu kalian menggapai angan dan impian!" ucap Tuan Abdi dengan sorot mata yang tajam dan tegas.
Tuan Abdi melanjutkan kata-katanya,
__ADS_1
"Kalian berada di sini bukan sebagai tumbal atau penyerahan kepada iblis, tapi sebagai orang yang berdiri dibarisan paling depan melindungi umat manusia ketika iblis datang membawa mala petaka! Maka dari itu, percayalah pada diri kalian!" Tuan Abdi berkata dengan membara meyakinkan para generasi muda untuk percaya pada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan Tuan Abdi, para remaja yang awalnya ketakutan sontak merasa tubuhnya dialiri oleh energi yang besar. Para remaja yang awalnya pesimis tentang apa yang mereka akan jalani menjadi yakin akan apa yang mereka percayai.
"Benar, kita pasti bisa mengalahkan para iblis itu ...!" ucap seorang remaja.
"Iya ... karena iblis terbuat dari api, kita harus menyiram tubuh mereka dengan air," ucap seorang remaja serius.
"Ya Tuhan, betapa bodoh nya di remaja itu," pikir Tuan Abdi tak percaya ada yang berfikir dengan sesederhana itu.
"Baiklah, saya sudah memberitahu kalian tentang ketiga ras yang telah ditemukan oleh pendekar dengan Tier Emperor dan itu belum semuanya akurat. Ada kemungkinan bahwa para ras itu memiliki elemen lain. Sama halnya seperti manusia yang memiliki empat elemen dasar. Dapat dipastikan mereka mempunyai sama bahkan lebih elemen yang dikuasai.
"Lalu, semua mahluk dapat mempelajari elemen dari ras lain!" ucap Tuan Abdi serius.
Para murid terkaget dengan penjelasan yang diberitahukan oleh Tuan Abdi.
"Lah ..? Jadi manusia bisa mempelajari elemen dari Ras Iblis?" tanya seorang remaja tak percaya.
"Baiklah, saya akan membahas tentang hal lain. Ras manusia memiliki kerajaannya yang berdiri di atas bumi ini. Kerajaan Ras Manusia terdiri dari lima wilayah besar, yaitu: Kerajaan Green Dragon, Red Dragon, Black Dragon, White Dragon dan Blue Dragon. Masing masing kerajaan memiliki sistem yang sama, yang membedakan kita hanya dari lokasi Geografis!
"Begitupula dengan kerajaan dari ras lainnya, mereka punya kerajaan yang di dalamnya hidup orang-orang dari ras tersebut. Selama Ras Manusia tidak menggangu keberlangsungan hidup ras lain baik secara langsung maupun tidak langsung maka Ras Manusia tidak akan mengalami pertarungan!" ucap Tuan Abdi kepada para muridnya yang telah hilang rasa takut dan gelisah akibat mendengar tentang iblis.
"Lantas jika manusia secara tidak sengaja menghancurkan ekosistem iblis?" tanya seorang remaja.
"Jika itu terjadi, maka kita harus mempersiapkan diri akan segala kemungkinan yang akan menghujani ras kita ini. Namun bentrokan antara satu ras dengan ras lain hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah. Maka jangan jadikan generasi kita yang pertama kali merasakannya!" Tuan Abdi berkata dengan menyipitkan matanya memandang ke arah murid.
"Baiklah sekarang kalian semua keluar dari ruang bawah tanah ini menuju lapangan!" perintah Tuan Abdi berdiri dari kursinya.
"Kenapa Tuan? Apakah pembelajaran sudah berakhir?" tanya seorang remaja.
"Iya pembelajaran hari ini sudah berakhir dan di lapangan nanti adalah hal terakhir yang akan ku sampaikan kepada kalian pada hari ini."
__ADS_1
Para murid mematuhi perkataan Tuan Abdi dan meninggalkan ruang bawah tanah lalu pergi ke lapangan. Para murid naik berdesakan melewati tangga menuju permukaan. Setelah sampai di lapangan, para murid diperintahkan untuk duduk bersila satu barisan panjang. Tepat di depan mereka terdapat Tuan Abdi berdiri memperhatikan wajah para muridnya satu persatu.
"Baiklah, saya ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian pernah bertarung dengan monster?" tanya Tuan Abdi.
"Belum Tuan," jawab para remaja serentak.
"Aku hanya melihat ayah saya yang bertarung melawan monster!" ucap seorang remaja.
"S-saya pernah tuan ..." ucap Daya terbata-bata mengangkat tangannya.
Mata para remaja mulai melihat kearah Daya dengan tatapan bagaikan panah yang mengenai jantungnya.
"Wah ... kau pernah ya? Monster apa yang kau lawan?" tanya Tuan Abdi.
Daya mencoba mengingat perkataan pemilik ruko ketika Daya ingin menjual sepasang kuping padanya.
"Anu ... kalau tidak salah namanya Monster Lamoe tuan," ucap Daya tidak yakin dengan jawabannya.
"Ah, Lamoe ya? Monster level rendah yang biasa ditemui di sekitar hutan. Apakah kau membunuhnya?"
"Iya Tuan, aku menjualnya untuk biaya makan ku."
"Bagus bagus, kau sudah memiliki dasar dalam berburu monster. Baiklah saya di sini akan memberitahu cara membunuh monster level rendah," ucap Tuan Abdi yang tampak bersiap-siap melakukan sesuatu.
Ketika Tuan Abdi menjelaskan, Daya merasa diperhatikan oleh para remaja lainnya. Tatapan sinis dan iri menyeruak melalui bola mata mereka. Lalu remaja disebelahnya berbisik pada Daya,
"Sepertinya kau hebat dalam berburu, tetapi tetap lemah dalam bertarung. Cocoknya kau ini menjadi peternak monster, bukan pendekar hahaha," ucap remaja dengan tawa pelan yang tak lain adalah remaja yang berkata akan memukulnya ketika Tuan Abdi datang kembali membawa minum.
Tuan Abdi melakukan ancang-ancang yang terlihat aneh dihadapan para muridnya. Tuan Abdi menekuk kaki kanannya dan tangan kirinya memegang tanah. Lalu muncul lah hal yang tidak pernah disangka oleh muridnya, dan itu adalah ....
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.