
Saat teman-teman Jaka tertidur pulas, ayam belum mengeluarkan suara kokokannya dan matahari belum menunjukkan cahayanya. Jaka sedang berlatih di depan pondoknya telanjang dada dengan hanya menggunakan celana panjangnya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, nafas tidak beraturan dan semangat yang menggebu-gebu terpancar dari pergerakan yang dilakukan Jaka.
Gerakan Jaka sangat gesit, pandangan matanya tajam, dan setiap tendangan dan pukulan Jaka sangat kuat. Jaka berlatih dengan menggerakkan anggota badannya.
"Hiyah ....! " Jaka teriak dengan lantang dengan pandangan yang tetap fokus pada gerakannya.
Selama beberapa menit Jaka berlatih di depan pondok, saat terdengar suara kokokan ayam, Jaka menghentikan latihannya. Jaka duduk di sebuah
kursi dan mengelap keringatnya. Jaka mencoba mengkontrol nafasnya yang tidak beraturan.
"Tsk ... nafas ini terasa menggangu sekali!" gerutu Jaka memegang dadanya.
"Sepertinya aku harus berlatih cara mengkontrol pernapasan, hmm ...," lanjut Jaka dengan kepala yang memikirkan langkah ke depannya.
"Mandi dulu lah," ucap Jaka bangun dari duduknya lalu melangkah masuk ke dalam pondok.
Saat Jaka telah selesai mandi, Jaka kembali ke kamarnya dan masih melihat teman-temannya tertidur pulas.
"Woi bangun ...!" teriak Jaka mencoba membangunkan teman-temannya.
Akibat teriakan Jaka yang lantang, teman-temannya terkaget dan bangun dari tidurnya.
"Ah ... sialan kau Jak!"
"Berengsek, menggangu orang tidur saja kau!"
"Bangun kalian, sudah pagi. Waktunya kita berburu untuk mendapatkan uang!" Jaka berjalan dan duduk di kursi lalu mengelap pedang berbentuk ular miliknya.
Teman-teman Jaka pun bangun dan berjalan letoi menuju kamar mandi. Setelah siap mereka mengenakan pakaian dan senjata lalu pergi keluar dari pondok berjalan ke luar desa. Sampailah mereka disebuah hutan di luar desa. Hutan yang sangat lebat dan tidak terlihat ada tanda kehidupan.
"Oke Jak, kamu yang paling depan, jika ada monster kalahkan ya ...," ucap salah seorang teman Jaka ketakutan.
"Kenapa setiap kali kita berburu, aku yang selalu menjadi orang yang membunuhnya? Kalian tidak pernah ikut andil dalam membunuh ataupun
__ADS_1
membantuku, itu membuatku lelah!" sindir Jaka kepada teman-temannya yang sudah berdiri di belakang punggung Jaka.
"Ayolah, kau yang paling kuat diantara kami semua. Kalau kami yang berburu, nanti hal buruk akan terjadi," balas teman Jaka dengan nada memohon.
"Maka dari itu, kalian harus ikut berburu dan berlatih agar kekuatan kalian berkembang!" potong Jaka dengan tatapan serius.
Teman-teman Jaka tidak menjawab, yang mereka lakukan hanya saling memandang satu sama lain.
"Tsk ... terserah kalian lah!" decak Jaka jengkel dengan yang dilakukan oleh teman-temannya.
Mereka masuk lebih dalam ke hutan untuk mencari monster yang sekiranya bisa untuk diburu. Pandangan Jaka menjuru ke segala arah untuk menghindari hal ysng tidak diinginkan, sedangkan teman-teman Jaka asik mengobrol satu salam lain. Saat sedang fokus berjalan, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang mereka.
Krak ...
Suara seseorang yang menginjak ranting pohon terdengan aneh. Jaka menyuruh teman-temannya untuk tidak bergerak, Jaka memasang indranya tajam untuk mendengar apakah suara yang ia dengar barusan benar-benar ada atau itu hanya halusinasinya saja.
Krak ... Krak ... Krak ... Krak ...
Ternyata dugaan Jaka benar, mereka diikuti oleh sesuatu. Jaka menyuruh teman-temannya berlindung di belakang batu di samping jalan agar tidak menggangu Jaka ketika bertarung. keempat teman Jaka pun menuruti kata-katanya dan mengumpat di belakang batu besar.
arah suara yang terdengar. Sedikit demi sedikit suara itu semakin dekat, Jaka dikagetkan dengan serangan yang tampak seperti jarum seukuran pedangnya melesat cepat menuju wajah Jaka.
Trang ....
Suara pedang Jaka dan jarum itu beradu, jarum itu terpental lalu jatuh ke tanah. Jaka melihat dari mana jarum itu melesat, sebuah bayangan hitam bergerak menuju ke arahnya. Jaka menunggu saat di mana mahluk itu menampakkan dirinya agar tau siapa yang akan dihadapinya. Bagi Jaka, beberapa detik menunggu mahluk itu menampakkan dirinya terasa seperti beberapa menit ia menunggu. Terlihatlah monster dengan perawakan seperti kalajengking merayap melalui celah celah ranting pohon yang besar.
"Sial, monster ini sangat besar dan menyeramkam," gidik Jaka dengan nada yang sedikit ketakutan.
Monster yang akan dilawan Jaka adalah kalajengking yang memiliki sengatan besar terletak di ekornya. Jaka melihat sengatan yang berada pada ekornya, terlihatlah sebuah jarum yang berada di pucuk sengatnya dengan lendir berwarna hijau. Lalu Jaka melihat lagi jarum yang baru saja dia tangkis, ternyata jarum itu juga memiliki lendir berwarna hijau.
"Hmm ... sepertinya monster ini menembakkan jarum dari sengatannya, jika itu mengenai kulit, pasti akan berbahaya," batin Jaka dalam hati.
Saat sedang asik berfikir dan menganalisis lawannya, kalajengking ini melakukan gerakan yang aneh pada ekornya.
__ADS_1
"Sepertinya monster ini akan menembakkan jarumnya lagi," terka Jaka dalam hatinya.
Benar saja, kalajengking itu mengayunkan ekornya sebanyak dua kali. Dari ekornya pula keluar dua jarum yang bergerak cepat menuju Jaka. Namun, karena Jaka telah mengetahui serangan yang akan dilakukan oleh kalajengking itu, dengan mudah Jaka menghindar dari serangannya. Saat jarum pertama mendekat, Jaka menangkisnya dengan pedangnya. Lalu jarum kedua dielakkannya dengan melompat ke kanan.
"Baiklah, sekarang aku yang akan menyerang!"
Jaka berlari ke arah kalajengking itu, namun saat Jaka ingin mendekatinya, kalajengking itu mengeluarkan lagi serangan jarum dari ekornya sebanyak empat kali. Seperti biasa, Jaka dapat menghindar dari serangan kalajengking itu dengan mudah, tanpa terluka sedikitpun.
Setiap gerakan Jaka memiliki arti, begitu pula saat ia menghindar. Jaka menghindari serangan kalajengking dengan bergerak menuju ekor kalajengking tersebut. Saat Jaka sudah dekat dengan dengan ekornya, ia berkeinginan untuk menebas ekor kalajengking itu dengan sekali tebasan. Namun kalajengking itu meloncat turun dari pohon menghindari tebasan Jaka.
Saat monster itu meloncat, monster itu juga mengeluarkan serangan jarumnya ke arah Jaka yang masih melayang di udara. Sebanyak dua jarum bergerak mengarah ke pungguh Jaka.
"Sial ...," gumam Jaka dengan keadaan yang masih melayang di udara.
Jaka melihat teman-temannya tidak melakukan apapun untuk membantunya, mereka hanya melihat pertarungan dengan wajah yang ketakutan. Saat
jarum itu sudah sekitar beberapa meter dari Jaka, dengan terpaksa ia mengeluarkan sedikit elemennya. Tangan kanannya memegang pedang sedangkan tangan kirinya mengepal erat, dari kepalannya itu keluarlah api berwarna merah yang mendorong badan Jaka yang awalnya posisinya membelakangi serangan monster, menjadi tepat di depan serangannya.
Dikarenakan badan Jaka yang sudah berputar, dengan mudahnya Jaka menangkis jarum yang mengarah ke arahnya menggunakan pedang yang ia pegang di tangan kanannya lalu mendaratkan kakinya ke tanah.
"Huft, hampir saja," ucap Jaka lega karena lolos dari serangan monster kalajengking dihadapannya.
"Aku harus menghemat energi ku, kemarin aku sudah kelelahan akibat terlalu banyak membuang energi," batin Jaka dalam hatinya sembari menyiapkan kuda-kudanya.
Grrr ....
Suara desisan monster itu terdengar menakutkan keluar dari mulutnya yang terlihat berbusa.
Ctak ... Ctak ... Ctak ... Ctak ...
Monster kalajengking itu mengeluarkan busa dari mulutnya dengan tangannya yang terlihat mencapit-capit tanpa alasan yang jelas.
"Baiklah monster jahanam, sekarang adalah giliranku!" geram Jaka berlari menuju monster kalajengking dengan kedua tangan yang memegang pedangnya kuat.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.