Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 25: Jaka Nasiri (4/4).


__ADS_3

Setelah menjual hasil buruannya ke Serikat Pendekar dan mendapatkan hasil sebanyak tiga koin emas, teman Jaka kembali ke pondok dan berjumpa teman-temannya. Para teman-teman yang menunggunya menatap dengan tatapan tidak sabar sembari duduk di bangku.


"Bagaimana keadaan Jaka?" tanya teman Jaka yang menjual hasil buruan saat melihat teman-temannya.


"Kami sudah membersihkan luka dan membalutnya dengan perban. Tidak usahlah mengkhawatirkannya, bagaimana dengan ekor yang kau jual itu?"


"Gila, ekor kalajengking itu dihargai tiga koin emas!" ucap teman Jaka sembari mengeluarkan tiga koin emas dari kantongnya.


Melihat temannya membawa tiga koin emas, teman-temannya bangun dari duduknya menatap koin yang dipegang dengan tatapan tidak percaya.


"Wah ... bisa makan banyak kita nih."


"Gila, baru kali ini aku ngelihat uang sebanyak itu!"


"Kita ke bar yuk, kita makan dan minum sepuasnya!"


"Bagaimana dengan Jaka?"


"Sudahlah, tidak usah memperdulikan dia. Nanti juga sembuh sendiri. Ayok ke bar!"


"Ayook ...," ucap keempat temannya serentak dan pergi meninggalkan Jaka sendiri di kamarnya.


Teman-teman Jaka pun menghamburkan uang hasil buruan yang susah payah Jaka dapatkan tanpa memperdulikan kesehatan dan keadaan Jaka. Tidak terasa beberapa hari telah berlalu, ini adalah hari ketiga semenjak Jaka tidak bangun dari komanya.


Saat itu tengah malam, terlihat sedikit demi sedikit Jaka membuka matanya perlahan. Pandangan Jaka kabur, kepalanya sakit dan kondisi kamarnya sangat gelap. Perutnya keroncongan dan kondisinya sangat lemah. Jaka mencoba memanggil teman-temannya, namun suaranya sangat pelan bahkan terkadang tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


Jaka mencoba untuk bangkit dari kasurnya, saat ia telah bangkit, dia kaget melihat kasurnya yang dipenuhi oleh darah yang sudah mengental. Ia teringat dengan pertarungannya dengan monster kalajengking dan melihat bekas serangan di perutnya.

__ADS_1


"Akh, teman sialan! Tentu saja aku merasa lemas, mereka bahkan tidak menutup lukaku dengan benar!" ucap Jaka geram karena teman-temannya tidak menutup lukanya dengan baik, sehingga membuat Jaka kehilangan banyak sekali darah membuat tubuhnya menjadi lemah.


Jaka merasa aneh karena kamarnya gelap tidak memiliki lampu, karena pada dasarnya semua kamar itu memiliki lampu yang berfungsi sebagai sumber pencahayaan. Pandangan Jaka terfokus pada celah di perbatasan antara satu kamar dengan kamar lainnya yang terlihat memiliki cahaya yang sangat terang. Dengan langkah pelan dan jalan yang terpincang-pincang, Jaka mencoba melihat apakah teman-temannya berada di kamar sebelah atau tidak.


"Sialan, apa mereka tidak sempat melihat perban yang diikat? Atau bahkan memeriksaku keadaanku? Akh ... sakit sekali kepala ini, mau mati rasanya!" ucap Jaka jengkel sembari berjalan menuju arah pintu yang dari celahnya memancarkan cahaya yang sangat terang.


Jaka membuka pintu untuk melihat apakah temannya berada di dalam. Saat Jaka membuka pintu, aroma dari minuman keras ditambah aroma aneh dan menjijikan yang tidak pernah Jaka rasakan sebelumnya menyeruak menghantam hidungnya yang lemah. Betapa kagetnya Jaka melihat


teman-temannya telanjang dada tidur dengan makanan dan botol bir mengelilinginya, lalu mereka tertidur berbantalkan wanita-wanita malam yang ikut menemaninya. Saat Jaka melihat teman-temannya tertidur dengan keadaan seperti itu, perasaan jijik dan benci menyelimuti hati dan pikiran Jaka.


Jaka merasakan sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakan olehnya sebelumnya, perasaan terkhianati dan merasa dijadikan sebagai objek penghasil uang. Energi negatif menyelimuti diri Jaka, perasaan marah dan murka tak dapat lagi dibendungnya. Orang-orang yang Jaka anggap sebagai sahabat yang mengerti dirinya, orang-orang yang Jaka anggap sebagai sahabat yang rela berkorban untuknya dan sahabat yang selalu mendorongnya menjadi lebih hebat, menusuknya tepat di belakang tubuhnya.


Pemikiran yang tidak pernah Jaka inginkan berada di dalam kepalanya mendadak memenuhi pikirannya. Pemikiran yang mengatakan bahwa temannya hanya menjadikan Jaka sebagai objek penghasil uang, pemikiran yang mengatakan Jaka telah di manipulasi oleh teman-temannya dan pemikiran buruk lainnya memenuhi akal sehatnya. Tanpa Jaka ketahui, energi Arbitrium berwarna merah darah menyelimuti tubuhnya, luka dan energi yang membuat dirinya lemah berangsur-angsur menghilang. Lukanya sembuh secara total dan energinya terasa seperti terisi kembali. Jaka merasakan kekuatan yang luas biasa memenuhi dirinya.


Energi Arbitrium yang dihasilkan oleh Jaka sangat besar, mengakibatkan hembusan angin yang kuat. Jendela yang awalnya tertutup, menjadi terbuka. Makanan dan minuman yang berada si sekeliling temannya berhamburan entah kemana. Teman-teman Jaka dan wanita yang mengelilingi mereka pun bangun dan kaget melihat Jaka yang marah dengan energi Arbitrium yang mengelilinginya.


Dikarenakan hembusan angin yang sangat kuat dan aura membunuh yang hebat, teman Jaka berpegangan pada meja di depannya lalu bersujud meminta maaf atas apa yang telah mereka perbuat.


"I-i-iya Jaka, kami tidak bermaksud untuk membangunkanmu yang sedang tertidur," timpal teman Jaka memohon ampun.


"K-kami juga minta maaf karena membawa wanita saat kau masih koma," timpal seorang temannya lagi ketakutan. Mereka hampir mengompol melihat dan merasakan amarah Jaka yang sangat besar.


"Aku tidak peduli dengan uang yang kalian pakai, b*jin*agan tengik! Aku tidak peduli dengan kata-kata hati yang mengatakan kalian hanya menjadikanku objek penghasil uang, b*jin*agan tengik! Dan aku ... tidak ... peduli ...! Dengan wanita yang kau bawa ...!" bentak Jaka dengan suara yang sangat besar dan nada yang diputus-putus menekankan kalimatnya di akhir.


"Aku hanya marah kerena kalian tidak peduli padaku, aku hanya marah karena kalian membiarkanku terluka dan berdarah tanpa memeriksa keadaanku. Terlebih kalian menusukku dari belakang! Kalian membuatku memikirkan apa yang tidak ingin kupikirkan! Sebelum aku membunuh kalian semua di sini, aku ingin kalian pergi dari hadapanku ...!" bentak Jaka dengan suara yang tidak kalah besar dari sebelumnya.


Tanpa pikir panjang, teman-teman Jaka dan wanita yang dibawanya pergi keluar dari pondok meninggalkan Jaka seorang diri. Kemarahan masih

__ADS_1


Jaka rasakan, aura masih menyelimutinya dan kesedihan mulai datang menghapus kekuatannya. Jaka menangis karena telah salah memilih teman.


Energi Arbitrium yang mengelilingi dirinya mulai mengecil dan menghilang. Saat energi Arbitrium itu menghilang, di saat itu juga kekuatan yang dirasakan Jaka menghilang. Jaka terjatuh dan pingsan di lantai yang kotor.


Para penghuni pondok yang mendengar dan merasakan aura membunuh milik Jaka yang sangat besar ditambah dengan hembusan angin yang kuat terbangun dan melihat ke arah sumber semua itu berasal. Mereka masuk ke kamar Jaka dan melihatnya tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Hampir semua penghuni yang masuk ke kamar Jaka menutup hidungnya dari aroma yang sangat menyengat. Para penduduk lalu membopong tubuh Jaka dan berniat menyerahkannya ke balai desa.


Besok paginya Jaka terbangun dan melihat banyak orang mengelilinginya. Yang paling membuat Jaka terkejut adalah orang yang berdiri tepat di hadapannya. Dia adalah pemimpin desa dengan badge bertuliskan Sir. Deff Nasiri, Ayah kandung dari Jaka. Ayahnya melihat Jaka dengan tatapan marah dan menyilangkan tangannya.


"Benar kau adalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi, Jaka!?" hardik Ayahnya mengacungkan jarinya ke wajah Jaka.


Jaka mencoba mengingat apa yang terjadi walaupun kepalanya sangat sakit, ia teringat tentang energi yang mengelimuti dirinya dan dampak yang diakibatkankanya. Dengan ketakutan Jaka berkata,


"I-iya Ayah, maaf. Aku terbawa emosi dan membuat pondoknya rusak," sesal Jaka menundukkan kepalanya.


"Aku tidak menyinggung pasal pondok, Jaka! Tapi kelakuan kau yang menggangu ketertiban warga desa! Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang kau buat!"


"Benar itu! Bunuh saja dia!" teriak para warga dengan nada yang marah.


"Gara-gara kau, anakku harus memiliki luka bakar permanen!" timpal seorang ibu yang digenggamannya terdapat perempuan yang kemarin Jaka dan teman-temannya ganggu.


Jaka melihat ke arah kerumunan warga yang berteriak. Jaka terkaget menyadari mereka semua adalah korban kejahatan yang telah Jaka dan teman-temannya perbuat.


"Kenapa mereka bisa tau aku adalah dalangnya?" batin Jaka dalam hati heran.


Jaka lebih memfokuskan pandangannya ke arah para warga, Jaka terkaget melihat teman-temannya yang tersenyum sinis ke arah Jaka ikut berdiri diantara warga desa yang menjadi korban.


"Hah ... seharunya aku tidak curiga," ucap Jaka menghembuskan nafasnya pelan sembari menundukkan pandangannya menyerah akan hal yang bakal terjadi.

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2