Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 17: Pengetahuan dan Latihan (10/15).


__ADS_3

Pagi yang cerah, burung-burung berkicau meriah,


Daya dan Tuan Abdi berada di dalam kamar Daya


untuk mengobrol tentang rencana dia ke depannya.


"Tolong ajarkan aku tentang energi itu tuan, aku tidak ingin menjadi orang yang hanya duduk dan tidur sembari menunggu keberuntungan datang menghampiriku!" pinta Daya dengan wajah memelas.


"Hmm ..., apa yang kau ketahui tentang energi, Daya?" tanya Tuan Abdi.


"Setau saya, energi adalah suatu hal yang bisa membuat manusia melakukan tindakan, salah satu contohnya adalah untuk mengeluarkan elemen," kata Daya sembari mengingat ucapan Tuan Abdi kemarin.


"Bagus, lantas apa itu elemen?" timpal Tuan Abdi.


"Element adalah kekuatan dasar yang bisa di keluarkan suatu makhluk dengan mengkonsumsi energi dalam dirinya, elemen dasar manusia terbagi atas empat: Yaitu api, air, tanah dan udara!"


"Di antara elemen-elemen itu, adakah satu elemen yang kau suka?" tanya Tuan Abdi memandang


wajah Daya.


"Aku suka elemen udara, tuan!"


"Baiklah, kau sudah mengerti tentang dasar energi


dan dasar elemen. Energi, itu terletak dalam dirimu,


apakah kau bisa merasakannya? Sebuah aliran


tenang yang mengalir dalam dirimu?" tanya Tuan


Abdi.


"Hmm ...." Daya berfikir keras dengan satu jari berada di atas dahinya. "Ahh ..., darah tuan!" ucap Daya dengan senyum polos di wajahnya


"Bukan hoi ..., mana mungkin energi itu darah!" ucap Tuan Abdi sontak menjitak kepala Daya. "Darah dan


aliran energi itu berbeda, kau harus bisa membedakannya agar bisa belajar ke tahap selanjutnya!" Tuan Abdi berdiri dan beranjak meninggalkan Daya.


Saat Tuan Abdi sudah memegang gagang pintu dan

__ADS_1


membukanya, Daya bertanya,


"Tuan, maksud nya bagaimana? Saya tidak mengerti," ucap Daya kebingungan dengan penjelasan Tuan Abdi.


"Kau harus bisa merasakan energi itu Daya, energi


itu dapat membesar dan dapat pula mengecil. Tergantung dari bagaimana kondisi si pengguna. Jika kau dalam kondisi yang bugar, maka kau akan bisa merasakan aliran yang begitu besar mengalir dalam dirimu. Begitu pula sebaliknya!" Tuan Abdi pun keluar meninggalkan Daya sendiri.


Daya berfikir keras tentang ucapan Tuan Abdi,


Daya berfikir bagaimana caranya dia dapat merasakan aliran energi itu. Daya memejamkan matanya dan mencoba untuk merasakan aliran yang disebutkan oleh Tuan Abdi, namun Daya tidak merasakan apapun dalam dirinya.


"Bagaimana ya, caranya?" Daya berkata pada dirinya sendiri.


Daya tidak melakukan apapun selama beberapa


menit, Daya mengosongkan pikiran dan menghentikan aktifitas nya mencoba untuk fokus. Namun tetap, Daya tidak bisa merasakan apapun dalam dirinya. Setelah beberapa jam melakukannya, akhirnya Daya menyerah.


"Akh ..., Bingung banget pun ..." gumam Daya kesal


karena tidak merasakan apapun.


Daya melihat keadaan sekelilingnya, jam menunjukkan pukul 09:14 dan terdengar beberapa orang berjalan lalu-lalang di sekitar pondok. Daya melihat jendela di sampingnya, Daya mencoba untuk bangun dan membuka jendela agar angin bisa masuk ke dalam kamarnya. Dengan hati-hati Daya membuka jendela, setelah terbuka, Daya kembali berbaring di atas kasurnya.


buka, Daya menutup matanya mencoba untuk tidur.


Namun saat Daya hampir tertidur, Daya merasakan ada sebuah aliran. Aliran yang semakin lama terasa semakin kuat.


"Hah ..., aliran in ... apakah aliran ini yang dimaksud Tuan Abdi?" tanya Daya dalam hatinya.


Daya merasakan energi yang mengalir itu, Daya mencoba mempelajari bagaimana cara


membedakan energi itu dengan hal lain dalam


dirinya. Sudah beberapa jam Daya mempelajari dan merasakan energi dalam dirinya hingga akhirnya Daya sudah terbiasa dengan energi tersebut.


"Dengan begini, aku harap bisa melanjutkan tahap selanjutnya dalam mengendalikan energi!"


ucap Daya semangat.

__ADS_1


Di lain tempat, Tuan Abdi tampak akan mengajari


muridnya teknik berpedang, sebanyak sepuluh orang termasuk kelompok Jaka tampak sedang bersiap untuk mempelajari teknik pedang pula. Mereka telah membawa pedang hasil tempahannya, ada yang membawa pedang dengan bentuk naga, ular dan lain sebagainya, mereka membuat pedang sesuai dengan apa yang mereka suka.


"Baiklah para bocah, kalian akan mempelajari tentang teknik berpedang. Aku yakin kalian pasti memilih pedang karena dua alasan, yang pertama kalian tau apa yang akan kalian lakukan dengan pedang tersebut dan yang kedua kalian hanya mengikuti jejak orang lain.


"Aku harap kalian tidak termasuk orang yang kedua! Dalam berpedang, kalian di tuntut bisa menguasai lima hal dasar. Yaitu situasi, lingkungan, keseimbangan, pertahanan dan rasa percaya diri!" jelas Tuan Abdi sembari memegang pedang di tangan kanannya.


"Maksudnya bagaimana, tuan?" tanya seorang murid bingung.


"Perihal situasi, kalian harus bisa membaca skenario pertempuran. Kalian juga harus menajamkan firasat dan percaya pada firasat itu. Karena hal itulah yang mungkin bisa melindungi kalian dari kematian.


"Untuk lingkungan, kalian harus bisa menempatkan serangan kalian sesuai apa yang kalian tuju dengan memperhatikan lingkungan di sekitar kalian, misalnya jika kalian bertarung di sekitar hutan yang banyak pohon, bertarung saat malam hari ataupun bertarung saat cuaca terik!" jelas Tuan Abdi.


"Kenapa harus mempermasalahkan cuaca terik tuan?" tanya salah satu kelompok Jaka.


"Kau bodoh ..! Kau ingin di butakan oleh cahaya matahari saat kau bertarung huh ...?" ucap Tuan Abdi kesal melihat kelompok Jaka bertanya, Tuan Abdi teringat apa yang mereka lakukan kepada Daya, Tuan Abdi merasa kesal. Namun Tuan Abdi tetap mencoba untuk tenang.


"Lalu keseimbangan, ingatlah untuk selalu memposisikan kaki selebar bahu, dan ketika bergerak, jagalah agar kaki tetap terentang. Jangan pernah memosisikan kedua kaki secara berdekatan. Gunakan genggaman pedang yang memudahkan kalian untuk menggerakkannya. Awasi gerakan lawan dan pelajari caranya bergerak ketika menyerang dan melancarkan serangan pembuka. Kalian harus cepat. Ketika menangkis, jagalah agar pedang berada di dekat tubuh sehingga Anda tidak perlu merentangkan tangan untuk menangkis serangan. Cobalah untuk selalu melakukan serangan balik. Jagalah keseimbangan kalian, karena jika kalian jatuh sekali saja, maka kalian mungkin akan mati!" jelas Tuan Abdi.


Seorang murid mengangkat tangannya dan bertanya,


"Tuan, kami kan untuk pertama-tama akan melawan monster, apakah hal ini akan membantu kami?" tanya seorang murid.


"Tentu saja, karena teknik dasar berpedang bisa di aplikasikan di segala pertarungan! Itu adalah salah satu keunggulan pedang!


"Selanjutnya adalah pertahanan, untuk pertahanan, kalian hanya perlu terbiasa dengan jarak ideal dalam bertarung. Kalian akan terbiasa saat latihan nanti.


"Dan yang paling penting adalah kepercayaan diri, kepercayaan akan membuat kalian tenang dalam bertahan dan melakukan serangan! Maka percaya dirilah!


"Baiklah saatnya berlatih, siapkan pedang kalian!" ucap Tuan Abdi.


"Hokeh, akhirnya ...!" para murid berteriak senang.


Mereka pun berlatih cara menggunakan pedang, Tuan Abdi mengajarkan mereka cara mengayunkan pedang dan menahan serangan. Para murid belajar dengan serius, tidak jarang suara gesekan antara satu pedang dengan pedang lainnnya terdengar. Terkadang api terlihat dari gesekan pedang mereka.


Tuan Abdi mengajarkan mereka hingga sore dan setelan itu menyuruh muridnya pulang. Tuan Abdi pun menyuruh mereka untuk berlatih di rumah saat giliran kelompok lain yang berlatih. Tuan Abdi masuk ke dalam pondok dan bergegas menuju kamar Daya untuk melihat perkembangan nya.


Tuan Abdi membuka pintu dan terkejut melihat keadaan Daya ....

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2