Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 33: Melawan Monster Verdon (3/3).


__ADS_3

"Saya akan menggunakan Arbitriumku sekali lagi, menyembuhkan luka Jaka dan memberikan energi untuk mengeluarkan api biru. Kita ulang rencana ini sekali lagi, jika tetap gagal, kita harus secepatnya keluar dari gua dan mencari cara lain untuk mengalahkannya," ucap Daya memandang monster Verdon yang masih sibuk menggelengkan kepalanya.


"Maaf ... gara-gara ingin membantuku, kalian sampai berusaha dan terluka seperti ini," ucap Maya menundukkan kepalanya.


Daya dan Jaka tidak membalas ucapan Maya, mereka hanya menepuk pundak Maya dan tersenyum. Daya sedikit menjauh dari Maya dan Jaka, ia menutup matanya mencoba fokus. Terlihatlah aura berwarna hitam mengelilingi tubuh Daya. Bersamaan dengan itu monster Verdon berhasil mengeluarkan tombak milik Daya dari kepalanya. Monster itu melihat ke arah Daya, seakan mengetahui apa yang akan terjadi jika Daya mengeluarkan Arbitrium, monster itu langsung berlari ingin menyerudukkan culanya ke badan Daya.


*Gedebuk gedebuk gedebuk gedebuk ....


Suara hentakan kaki monster itu terdengan keras menghentak permukaan tanah. Dari suaranya saja mereka bisa mengetahui, bahwa monster Verdon itu sangat berat. Daya membuka matanya, ia menjulurkan tangannya dan memegang erat tangan Jaka. Seketika itu juga aura milik Daya menyelimuti tubuh Jaka. Luka dan energi yang Jaka miliki seakan sembuh dan terisi seperti sedia kala. Bahkan Jaka merasakan dirinya sedang dialiri oleh kekuatan dan energi yang sangat besar.


Daya melepaskan tangan Jaka lalu bergerak ke arah kanan, melihat Daya bergerak ke kanan, Jaka mengambil posisi di tengah dan maya di kiri. Mereka semua berdiri sejajar dengan posisi siap untuk menyerang. Ketika monster itu sudah hampir dekat dengan Daya, di saat itulah penyerangan dimulai. Daya mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan dadanya, bersamaan dengan itu terlihat alira angin mengelilingi permukaan tanah tempat monster Verdon berlari.


Daya menghirup udara sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya pelan, setelah itu ia merapalkan elemennya,


"Elemen angin: Pusaran ... Angin ... Liar!" rapal Daya lalu mengepal kedua tangannya kuat. Bersamaan dengan itu, angin yang berjumlah sangat besar mengelilingi tubuh monster Verdon. Awalnya monster itu tetap berlari menuju arah Daya, namun lama kelamaan tubuh monster itu terangkat dari permukaan tanah dan masuk ke dalam pusaran angin yang besar. Angin yang berbentuk seperti tornado itu membuat monster Verdon melayang dan berputar-putar di udara.


Hembusan angin terasa di sekeliling tornado milik Daya, rambut mereka terhembus angin dan debu-debu berterbangan. Maya dan Daya mencoba melindungi matanya dari hembusan angin yang membawa debu bersamanya itu, sedangkan Jaka tampak sedang mempersiapkan elemennya. Jaka mengayunkan tangan kanannya vertikal, bersaaan dengan itu api biru dengan ukuran sangat besar menabrak tornado milik Daya yang berada tepat hadapannya. Api biru yang besar dan tornado yang kuat bersatu membuat kobaran api biru milik Jaka semakin besar dan kuat. Api itu membakar tubuh monster Verdon ketika masih terambang di dalam tornado milik Daya. Monster itu mengaum kuat selama beberapa detik, lalu suara monster Verdon senyap seketika.


Hembusan angin dingin berganti menjadi hawa panas ketika elemen Jaka bergabung dengan elemen milik Daya. Mereka bertiga sedikit menjauh dari kobaran api biru milik Jaka karena panas yang dihasilkannya. Setelah tornado api milik mereka menyala selama beberapa menit, serangan itu berhenti. Bersamaan dengan itu monster Verdon jatuh ke permukaan tanah. Monster itu mengeluarkan asap, badannya gosong dan terlihat sudah mati.


"Apakah monster itu sudah mati?" tanya Maya ragu.


"Harusnya sih begitu," jawab Jaka mendekat ke arah monster Verdon.


Daya menghilangkan auranya lalu mengikuti langkah Jaka. Saat telah dekat dengan monster itu, Jaka menendang tubuh monster itu dengan kaki kanannya pelan. Monster itu tidak membalas dan hanya diam tergeletak kaku.


"Hmm ... sepertinya dia sudah mati," terka Daya melihat ke arah monster Verdon.

__ADS_1


"Apa lagi yang kau tunggu? Potong cepat culanya sebelum dia bangun!" ucap Jaka menyuruh Maya memotong cula monster verdon.


"Memang monster itu bisa bangun lagi?" tanya Daya bingung.


"Siapa yang tahu," jawab Jaka singkat mengangkat pundaknya.


Mayapun mengambil kapak dari tas kecilnya dan memotong cula monster Verdon lalu menaruh culanya di dalam tas.


"Ayo keluar," ajak Maya melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang gembira.


Daya mengambil tombak yang telah terjatuh di tanah, membungkusnya dengan kain hitam lalu keluar dari gua itu. Saat mereka telah sampai di luar, terlihat kondisi yang mulai malam. Merekapun pergi dari sawah yang tandus dan melangkahkan kakinya pergi menuju desa. Di tengah perjalanan, Maya menanyakan kondisi luka yang Jaka terima.


"Apakah lukamu sudah sembuh secara sempurna, Jaka?"


"Ah ... kalau lukanya sih memang sudah tertutup. Tapi entah kenapa masih ada rasa panas dan dingin di bekas luka ini," ucap Jaka sembari memegang bekas luka yang telah sembuh secara sempurna itu.


"Kau harus segera diberikan obat, Jaka. Sepertinya monster Verdon memiliki elemen racun di dalam culanya. Itulah yang menyebapkan lukamu masih terasa sakit walau telah sembuh secara sempurna."


"Iya, semua mahluk hidup mempunyai elemen dasarnya masing-masing. Untuk manusia, kalian pasti sudah tahu apa-apa saja. Namun untuk para monster, salah satu elemen dasarnya adalah racun. Jika serangannya berhasil mengenaimu dan terasa panas dan dingin pada waktu yang sama, itu menandakan adanya racun yang mengalir dalam darahmu," jelas Maya dengan pandangan yang masih memperhatikan langkahnya pelan karena hari yang semakin gelap.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Jaka dengan nada yang mulai takut dengan keringat kecil yang menetes perlahan.


"Tenang, racun juga memiliki tingkatan, dan pada kasusmu ini racunnya tidak terlalu berbahaya. Aku punya penawar untuk racun ini di rumah kakekku."


"Hahh ... syukurlah," ucap Jaka menghembuskan nafasnya pelan. Beban pikirannya seakan hilang begitu saja setelah Maya memberitahu bahwa di rumah kakeknya ada penawar racun.


"Ternyata aura Arbitrium tidak bisa menyembuhkan racun ya ...," kata Daya dengan pandangan melihat ke arah langit yang hampir berwarna hitam sepenuhnya.

__ADS_1


"Tentu, karena aura Arbitrium hanya menyembuhkan luka yang berada di luar tubuh. Jika kau memiliki luka yang berada di dalam tubuh, kau tidak akan bisa menyembuhkannya menggunakan Arbitrium," jawab Maya.


"Ah, iya. Guruku pernah berkata seperti itu padaku," ucap Daya memukul telapak tangan kirinya menggunakan genggaman tangan kanan teringat tentang perkataan Tuan Abdi.


"Aku yakin gurumu adalah orang yang hebat, kau seharusnya mencatat setiap perkataannya, Daya."


"Iya, mulai sekarang saya akan mencatat apa yang kutahu. Omong-omong apakah tidak apa jika kamu memberikan cula monster Verdon yang memiliki racun itu kepada kakekmu, Maya?"


"Tak apa, semua elemen hanya bekerja jika penggunanya masih hidup. Jika penggunanya telah mati, maka semua elemen serta efeknya pun akan menghilang."


"Sepertinya aku harus mencatat itu," ucap Daya spontan.


Merekapun diam selama beberapa menit lalu dikagetkan dengan suara tawa besar milik Jaka yang membuat Daya dan Maya terkaget mendengarnya.


"Hahaha ...." Tawa Jaka terdengar lalu ia tersenyum girang sembari menahan kepala belakangnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Kenapa kamu tertawa, Jaka?" tanya Daya bingung dengan tawa Jaka yang tiba-tiba terdengar mengagetkannya dan Maya.


"Aku teringat pertarungan kita melawan monster Verdon."


"Terus ...?" tanya Maya dengan wajah yang bingung.


"Baru kali ini aku merasakan arti dari pertemanan, arti dari saling menjaga, dan arti dari kelompok yang bertarung bersama-sama. Mengingatnya saja membuat semangatku terbakar dan kekuatan baru muncul. Kekuatan yang melebihi diriku, kekuatan yang aku rasa bukan berasal dari dalam diriku. Yaitu kekuatan yang berkeinginan melindungi orang yang berharga bagiku," jawab Jaka dengan nada yang sangat semangat dan mata menatap tajam jalan dihadapannya.


Daya dan Maya ikut tersenyum mendengar ucapan Jaka, mereka mengingat pertarungan melawan monster Verdon. Daya merasa salah satu keinginannya untuk mendapatkan teman yang melindunginya dan ia lindungi dengan segenap jiwa hampir terpenuhi. Maya merasakan ingin terus seperti ini, mempunyai teman yang tidak akan mentertawakannya , mempunyai teman yang selalu menyokongnya dan mempunyai teman yang bisa ikut tertawa di kala senang dan saling membantu di kala susah.


Perjalanan pulang mereka diselingi dengan cerita dan tawa. Hari telah gelap sepenuhnya, tanpa terasa mereka telah sampai di gerbang desa yang ingin Daya dan Jaka tuju.

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2