
"Huh ...!?" Jaka dan Maya terkaget mendengar ucapan wanita itu, sedangkan Daya hanya bengong mendengarnya karena tidak tahu apa itu tradisi Seda.
"Sejak kapan tradisi ini telah dilakukan kembali?" tanya Jaka dengan pandangan yang terlihat kaget bertanya kepada wanita penjaga bagian kanan.
"Sejak beberapa hari yang lalu, Tetua Pendekar telah diberikan mandat oleh Raja untuk melakukan tradisi Seda."
Maya dan Jaka terdiam mendengar penjelasan wanita penjaga bagian kanan. Maya tidak sanggup berkata-kata, hanya kaki yang terlihat digerak-gerakkan seperti sedang memikirkan sesuatu untuk ke depannya. Daya yang bingung apa itu tradisi Seda membuyarkan lamunan Maya dan Jaka dengan pertanyaannya. Akhirnya Jaka menyuruh Maya untuk menjelaskan kepada Daya secara singkat apa itu Tradisi Seda,
"Jadi gini, Daya. Singkatnya tradisi Seda adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh Tetua Pendekar untuk mengangkat persentase atau jumlah pendekar yang hebat. Tradisi ini telah terbukti mampu menciptakan pendekar yang kuat, namun karena ujiannya yang terbilang sulit mengakibatkan hanya sedikit pendekar yang berhasil lolos. Dikarenakan pihak Kerajaan pada waktu dahulu lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas, alhasil tradisi ini dihilangkan dan entah kenapa tradisi ini kembali diadakan pada hari ini!" jelas Maya dengan serius.
"Tsk ... merepotkan saja. Sepertinya Raja berencana untuk menghasilkan pendekar yang kuat lagi!" timpal Jaka kesal sembari menggelangkan kepalanya.
"Memang ujian seperti apa yang akan kita hadapi?" tanya Daya penasaran dengan ujian yang akan ia lalui.
Namun Jaka dan Maya hanya menggelengkan kepalanya sembari menundukkan pandangan. Melihat sifat Jaka dan Maya yang seperti itu, Daya menyimpulkan bahwa mereka tidak mengetahui ujian seperti apa yang akan mereka hadapi. Saat mereka masih sibuk termenung memikirkan tentang ujian yang akan mereka lalui, Daya terkejut dengan sebuah tangan yang menarik bajunya sembari berkata,
"Kamu Daya, kan?" Seseorang perempuan berkata padanya dengan suara yang sangat lembut.
Merasakan bajunya telah ditarik dan mendengar ada suara yang memanggilnya, Daya langsung memalingkan pandangannya ke arah suara itu berasal. Saat Daya memalingkan pandangannya, terlihatlah seorang perempuan seumuran dengan dirinya sedang berdiri di hadapan Daya. Bajunya berwarna putih dengan celana hitam khas pakaian bertempur yang sering dipakai oleh seorang pendekar perempuan. Wajahnya sedikit lancip dengan bibir merekah dan mata yang berbinar memandang ke arah Daya. Kulit wanita itu putih bersih dengan rambut yang lurus panjang menjuntai sampai punggung diikat kuda tak luput poni yang menutupi sedikit matanya.
Sembari membenarkan posisi busur yang berada di punggungnya, wanita itu kembali bertanya dengan nada senang,
"Kamu benar Daya, kan!?"
"Ah ... iya, namaku Daya." Daya melihat perempuan itu dengan tatapan bingung, Daya menyusun memorinya mencoba mengingat siapa perempuan yang sedang berdiri dihadapannya.
"Kyaaa ...." Mengetahui pria yang berdiri di hadapannya benar adalah Daya, perempuan itu langsung memeluk tubuh Daya dengan erat.
Maya, Jaka bahkan Daya sendiri terkaget ketika perempuan itu memeluk tubuh Daya. Sesaat perempuan itu telah melepaskan pelukannya, Daya bertanya,
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Reaksi perempuan itu langsung berubah kelam mengetahui Daya telah melupakannya. Dengan wajah yang cemberut perempuan itu berkata,
"Ihhh ... Daya lupa sama aku!?"
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa mengingatnya."
"Aku Livia, Daya! Masa lupa sih." Livia yang menarik baju Daya pelan dengan wajah cemberut itu terlihat sangat menggemaskan.
"Ahhh ... Livia!? Kamu udah beda sekarang, pangling saya dibuat." Daya yang telah mengingat perempuan di hadapannya langsung membalas pelukan Livia.
Melihat Daya dan Livia saling berpelukan, Maya merasakan perasaan sesak di dadanya.
"Jadi semakin cantik, kan. Hehehe." Livia berkata dengan sangat percaya diri.
"Ah ... omong-omong mereka adalah temanku. Pria dengan wajah seram ini namanya Jaka."
"Hoi!" Jaka yang merasa dihina membalas ucapan Daya dan memukul tangannya pelan.
"Lalu wanita ini namanya, Maya!"
Mereka bertigapun berjabat tangan dan saling mengenalkan dirinya masing-masing. Saat Maya berjabat tangan dengan Livia, Maya mengeluarkan senyum yang terkesan terpaksa.
"Daya dan teman-teman mau mendaftar menjadi pendekar saat akan diadakan tradisi Seda?" Livia bertanya dengan memandang mata Daya.
"Ihh ... kebetulan banget. Aku mau donk jadi teman sependekarnya Daya!"
Mendengar permintaan Livia, Daya melihat ke arah teman-temannya. Jaka menaikkan bahunya sedangkan Maya hanya tersenyum simpul memandang ke arah Daya. Akhirnya Daya memutuskan untuk berbicara kepada teman-temannya, setelah beberapa menit mereka berunding akhirnya telah diputuskan bahwa Livia boleh bergabung bersama mereka. Mendengar perkataan Daya, Livia sangat senang dan kembali memeluknya. Kegembiraan Livia dipecahkan oleh suara wanita penjaga bagian kanan yang sedari tadi
menunggu Daya dengan nada marah,
"Akehmmm! Kalian mau mendaftar atau tidak? Jika tidak silahkan enyah dari hadapanku!"
Mendengar penjaga bagian kanan yang marah, dengan terpaksa mereka mendaftarkan diri menjadi calon pendekar dengan menuliskan nama lengkapnya di sebuah kertas pendaftaran. Setelah mereka menuliskan nama, wanita penjaga bagian kanan menstempel kertas itu dengan logo Kerajaan Naga Hijau.
Kertas Calder itu bertuliskan,
Di sini di bawah ini, kami para calon pendekar mencalonkan dengan nama diri dan anggota:
-Daya Adi Madanu - Uji.
__ADS_1
-Jaka Nasiri - Tidak.
-Maya Revina - Uji.
-Livia Dewi Andhini - Uji.
(Jaka tidak mengikuti ujian menjadi pendekar karena telah menjadi pendekar.)
Kami bersumpah nama yang kami cantumkan adalah benar adanya dan kami bersiap menanggung segala konsekuensinya.
"Untuk selanjutnya kalian hanya perlu mengikuti perintah yang tertulis di belakang kertas Calder itu, semoga kalian lolos!" ucap wanita penjaga bagian kanan dengan nada yang terkesan menyiratkan kebalikan dari kata-katanya.
Saat dalam perjalanan keluar dari Serikat Pendekar, Jaka membaca surat itu dengan seksama dan berkata,
"Aku tidak pernah tahu nama panjangmu sampai hari ini tiba, Daya! Mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan Danu! Nama itu lebih enak didengar di telingaku, hahaha!" Jaka berkata dengan serius dengan tawa besar di akhir.
"Bagaimana dengan kalian?" timpal Jaka bertanya kepada Maya dan Livia.
"Aku akan tetap memanggilnya Daya, Jaka!" Maya berkata dengan mantap.
"Orang yang menyelamatkanku adalah Daya, bukan Danu!" ucap Livia sembari menggandeng lengan Daya manja.
"Menyelamatkan? Daya pernah menyelamatkan wanita ini?" batin Maya binggung dengan ucapan yang Livia lontarkan.
"Mau Daya atau Danu, itu tetap namaku kok, haha." Daya berkata sembari mencoba melepaskan gengaman tangan Livia, namun Livia menolaknya. Maya yang melihat Livia menggandeng tangan Daya hanya bisa mengigit jarinya kesal. Maya tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Jaka?" Daya bertanya kepada Jaka dengan tangan yang masih mencoba melepaskan gengaman Livia.
"Hmmm ... mungkin ini akan memakan waktu yang singkat tetapi mengesalkan."
"Apa itu?" Maya bertanya dengan penasaran.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
__ADS_1