Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 49: Balasan Surat Raja.


__ADS_3

Dengan terburu-buru Maya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, Daya dan Livia yang berada di ruangan itu terkejut dengan kedatangan Livia yang datang secara tergesa-gesa.


"Ada apa? Kenapa terburu-buru seperti itu, Maya?" Daya yang kaget dengan kedatangan Maya langsung mengajukannya pertanyaan.


"Surat balasan dari Raja telah tiba, Daya!"


"Huh ...?" Daya dan Livia terkaget dengan ucapan yang dilontarkan oleh Maya.


"K-kenapa Jaka tidak memberitahu kepada kita?" tanya Daya dengan nada bingung.


"Aku tidak tahu, semoga itu pertanda baik!" harap Maya dengan mata tertuju pada surat di gengamannya.


"Coba buka kertasnya, Maya!" Tanpa menunggu waktu lama lagi, Livia langsung menyuruh Maya membuka kertas jawaban dari Raja.


Setelah mendapatkan izin dari Livia, Maya langsung membuka surat jawaban dari Raja dan membacanya dengan pelan,


Terima kasih atas keberanianmu mengirimkan kepadaku sebuah surat yang berisi permintaan tidak masuk akal! Aku tidak tahu apa yang melandasimu berbuat seperti ini, kau seharusnya sadar atas posisimu saat ini! Aku, Zake George, Raja dari Kerajaan Naga Hijau akan mengirimkan bawahanku untuk mencari dan mengeksekusimu berserta teman-temanmu di alun-alun area Kerajaan sebagai contoh kepada orang yang mau berpikir!


Maya, Livia dan Daya yang mendengar isi surat itu berkeringat dingin dan menelan ludahnya ketakutan. Tangan Maya yang memegang sepucuk surat itu bergetar dengan getaran yang tidak bisa dibilang pelan. Dalam hati Maya berpikir alasan Jaka tidak memberitahu kedatangan surat jawaban dari Raja adalah karena telah duluan melarikan diri. Namun Maya mencoba menghilangkan perasangka itu dari pikirannya. Maya menelan ludah, melihat ke arah Daya dan Livia, dengan suara yang serak dan terdengar bergetar itu Maya kembali membacakan surat balasan dari Raja.


Aku harap dengan diadakannya eksekusi ini akan menekan angka orang-orang bodoh yang masih menginjakkan kakinya di atas tanah Kerajaan ini! Namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku akan membiarkan kalian menuju apa yang kalian inginkan!


Setelah membaca semua isi surat balasan Raja, Maya menurunkan posisi kertas yang ia pegang lebih ke rendah. Mereka bertiga saling berpandang dengan raut wajah sangat bingung. Mereka tidak mengerti atas jawaban yang Raja berikan kepada mereka, Maya terlihat kembali membaca surat balasan Raja dalam hati mencoba untuk mencerna apa yang surat itu katakan. Saat Maya menaikkan lagi surat yang ia pegang untuk dibaca, tanpa ia duga jatuhlah selembar surat lain yang awalnya berada di sela-sela surat balasan Raja.

__ADS_1


Maya mengambil surat itu kemudian membacanya. Setelah membaca surat itu, raut dan sifat Maya berubah. Yang awalnya ketakutan kini merasa senang dan yang awalnya badannya bergetar kini terlihat tenang.


"Livia ...!" Maya melebarkan tangannya dan memeluk tubuh Livia dengan erat.


Melihat itu, Livia dan Daya bingung dibuatnya. Mereka masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Setelah Maya melepaskan pelukannya, ia mengetahui bahwa Daya dan Livia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Maya langsung membalikkan surat yang ia pegang sehingga Daya dan Livia dapat membacanya. Tulisan besar paling atas di kertas itu bertuliskan 'Pencabutan Status Budak, Livia Dewi Andhini.'


Tanpa membaca semua isinya pun Livia dan Daya mengerti, bahwa Raja telah mencabut status budak milik Livia. Daya tersenyum dengan sangat lebar hingga memperlihatkan sedikit giginya yang sangat putih. Livia menitihkan air matanya sembari menutup mulutnya tidak percaya hari ini akan tiba. Hari yang diimpikan seumur hidupnya, sebuah kebebasan, sebuah ketenangan, dan sebuah kepercayaan kepada seorang teman. Rasa khawatir yang menyelimuti Livia dan Daya hilang seketika melihat surat itu. Livia tak sanggup untuk berkata-kata, hanya sebuah pelukan kepada teman-temannya yang menjadi jawaban atas kegembiraannya.


"Sekarang kamu bisa memakan apapun yang kamu mau, menangis sekencang apapun, dan tersenyum dari lubuk hatimu yang paling dalam. Kami akan selalu berada di sampingmu, Livia." Daya berkata dengan sangat lembut saat ia memeluk tubuh Livia. Livia melepaskan pelukan Daya dan mengganguk bahagia.


"Omong-omong ke mana Jaka?" tanya Daya bingung.


"Mungkin setelah mengetahui yang datang bukan orang yang mencurigakan, ia memutuskan untuk melepas penat dengan berjalan-jalan ke sekitar desa, Daya." Maya memandang wajah Daya yang masih memperlihatkan kebahagiaan atas pencabutan status Livia.


"Beberapa hari lagi ujian akan di mulai, kita harus cepat mengurus surat yang diperlukan!" Maya berkata dengan sangat serius setelah melihat yang jam menunjukkan pukul 13:00.


"Bagaimana dengan Jaka, Maya?" tanya Livia khawatir dengan keadaan Jaka.


"Dia tidak akan diculik, Livia. Lagi pula dalam pengurusan surat dia tidak memerlukannya. Hanya akan jadi sia-sia jika kita menunggunya, ayo!"


Merekapun beranjak keluar dari penginapan dan pergi menuju Perpustakaan Raja. Saat mereka masuk ke dalam Perpustakaan Raja, hanya ada beberapa warga biasa yang sepertinya sedang mengurus sesuatu, sisanya adalah penjaga Perpustakaan Raja. Terlihat banyak sekali rak-rak besar dengan buku yang tersusun rapih. Mulai dari buku yang berukuran kecil, hingga sebuah gulungan yang sangat besar mereka lihat di sana. Merekapun melangkahkan kaki pergi menuju penjaga di ujung ruangan dan memberitahu tujuan mereka datang ke Perpustakaan Raja adalah untuk meminta surat pengecekan data diri.


"Siapa saja nama yang ingin kalian lihat?" tanya pria tua itu sembari membenaran posisi kacamatanya.

__ADS_1


"Maya Revina, Daya Adi Madanu dan Livia Dewi Andhini, tuan." Maya memberitahu nama mereka kepada pria tua itu.


Setelah mengetahui nama yang ingin dicari, pria tua itu langsung menggambil sebuah buku tebal di sebelahnya lalu menyuruh Daya dan temannya untuk menunggu dengan duduk di tempat yang telah disediakan. Merekapun mematuhi apa yang pria tua itu katakan. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya nama Daya, Livia dan Maya dipanggil oleh pria tua itu. Setelah berada tepat di hadapannya, pria tua itu memberikan secarik kertas kepada Daya, Maya dan terakhir adalah Livia. Saat pria tua itu ingin memberikan surat kepada Livia, pria itu berkata,


"Kau adalah budak! Apa yang kau inginkan di sini?" Pria tua itu menatap wajah Livia dengan tatapan yang sangat tajam. Livia yang melihat mata pria tua itu terlihat ketakutan.


"Tidak, tuan. Livia telah bebas dari status budaknya," ucap Maya sembari memberikan surat pencabutan status budak milik Livia.


Pria itu menggambil surat itu, membenarkan posisi kacamatanya lalu mulai membaca surat itu dengan seksama. Setelah membaca, pria itu memberikan surat itu kepada Livia.


"Pegang surat itu baik-baik, jangan sampai hilang, gadis muda! Perbaikan data memerlukan waktu beberapa hari. Jika surat itu hilang dan orang lain mengetahui kau adalah seorang budak, maka kau akan disangka sebagai seorang budak yang sedang melarikan diri! Datanglah satu minggu lagi untuk menggambil surat perbaikan!"


"M-maaf, tuan. Livia dan teman-teman membutuhkan surat itu sekarang untuk melakukan tes menjadi pendekar." Rasa takut masih ada pada diri Livia, membuat ia bergetar ketika sedang berbicara.


"Hmm ... kalau orang lain menanyakan statusmu, berikan saja secarik kertas ini padanya. Namun jangan lupa untuk menggambilnya kembali! Atau kau akan kehilangan hakmu untuk yang kedua kali!"


"B-baik, tuan."


Pria tua itupun memberikan surat itu kepada Livia lalu mereka bertiga keluar dari Perpustakaan Raja dan mencari keberadaan Jaka. Surat itu bertuliskan ...


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2