
Luka di tubuh Jaka telah membaik, ia dapat bergerak seperti sedia kala dan Jaka telah menjadi teman sependekar Daya. Dikarenakan baju Jaka yang sudah
kotor, Daya memberikan salah satu baju dan celananya kepada Jaka. Ia mengenakan pakaian pemberian Daya dan merekapun pergi melanjutkan perjalanan.
"Apa kau yakin sudah lebih baik, Jaka? Kau baru saja sembuh," ucap Daya menanyakan keadaan Jaka.
"Jangan khawatirkan aku. Karena Arbitrium milikmu, tubuhku terasa lebih baik dari sebelumnya. Jika hanya untuk berjalan pasti bisa," jawab Jaka sembari menggerakkan kakinya meyakinkan Daya.
"Bagus lah, omong-omong apa yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pendekar?" tanya Daya singkat di sela perjalanan.
"Kau harus mendaftarkan dirimu ke serikat pendekar, lalu mereka akan menguji, apakah kau layak menjadi pendekar atau tidak."
"Lantas apa yang akan mereka uji? Kamu sudah menjadi pendekar, bukan?" tanya Daya kepada Jaka.
"Iya, aku sudah menjadi pendekar dengan Tier Secundus. Kau akan diuji dengan berbagai hal. Kalau aku dulu, mereka menguji dengan latihan fisik."
"Oh ... ok. Jadi kita harus mencari Serikat Pendekar di desa lain ya?"
"Yap ...."
"Apa kamu tahu di mana lokasi desa lain yang terdekat?" tanya Daya menanyakan lokasi desa.
"Tentu saja, ikuti saja aku," jawab Jaka memimpin jalan Daya di depan.
Perjalanan yang tenang mereka dapatkan, mereka berjalan melewati area persawahan. Sawah yang luas terbentang sejauh mata memandang. Burung-burung berkicau dan beberapa orang terlihat beberapa kali lalu lalang. Mereka akan lebih cepat sampai desa jika melewati area hutan, namun tentunya perjalanan mereka tidak akan mudah jika melewati hutan. Akan ada banyak sekali rintangan dan tantangan yang akan menghampiri mereka jika melewati jalur itu.
Mereka berjalan tanpa mengenal lelah, sesekali mereka mengobrol ketika berjalan. Daya melihat pemandangan yang sangat menenangkan di hadapannya. Setelah berjalan selama beberapa jam, akhirnya mereka sampai di gerbang menuju desa. Dari kejauhan telah tampak aktivitas beberapa para penduduk desa yang tengah mengangkat barang. Daya melihat para penduduk dengan senang, tiba-tiba Daya dikagetkan dengan teriakan Jaka si sebelahnya.
"Haa ...," teriak Jaka terdengar kuat.
"Ah ... kenapa kamu teriak tiba-tiba?" tanya Daya terkaget mendengar teriakan Jaka.
"Maaf, aku melupakan satu hal yang penting. Jika kau ingin mendaftar menjadi pendekar, kau harus mengajukan perjanjian yang ditandatangani menggunakan darah monster Bee!"
"Kenapa baru bilang sekarang?" ucap Daya sedikit kesal.
"Ya maaf, namanya juga lupa. Sebenarnya darah ini bisa dibeli di serikat pendekar. Tapi harganya sengat mahal!"
"Berapa? Nanti akan kubayar!" ucap Daya yakin.
"Darah dari monster Bee seharga dua koin emas!"
"Ayok kita cari monsternya di hutan!" ucap Daya menelan ludahnya mendengar harga dari darah monster berbalik menuju hutan.
"Hahaha, bodoh," tawa Jaka mendengar ucapan Daya mengikuti langkahnya.
Mereka pun pergi masuk ke dalam hutan untuk mencari monster itu.
__ADS_1
"Kenapa harus menggunakan darah monster itu?" tanya Daya kepada Jaka heran.
"Darah dari monster Bee sangat unik dan sulit untuk dihilangkan. Darah itu bisa menjadi penjaga perjanjian antara pendekar dan serikat."
"Maksudnya?" tanya Daya bingung.
"Darah monster ini bisa menduplikat apapun yang ia sentuh. Jadi, walaupun kertas perjanjian rusak, masih ada darah monster Bee yang akan menjadi penggantinya. Kau akan mengerti jika sudah melihat prosesnya."
"Oh ... oke." jawab Daya singkat dengan nada yang lucu.
"Monster yang akan kita hadapi adalah monster lebah. Sangat sulit untuk menemukan dan membunuhnya. Jadi, aku ingin kau berhati-hati ketika telah bertemu dengan monster itu!"
"Terus, kenapa harus ada ujian lagi jika menangkap monster Bee adalah suatu hal yang sulit?" tanya Daya heran.
"Tsk ... kau lupa ya, kalau darah monster ini bisa diperjual belikan!?" tanya Jaka sedikit kesal.
"Oh ... oke." jawab Daya singkat dengan nada yang lucu lagi.
"Bisa tidak menjawab dengan kata lain? Nada yang kau buat membuatku kesal!" pinta Jaka mulai terbawa emosi.
"Oh ... oke." jawab Daya singkat dengan nada yang lucu.
Jaka menghentikan langkahnya dan menatap mata Daya.
"Pilih tangan kanan atau kiri?" canda Jaka menatap Daya dengan kedua tangan yang mengepal.
Mereka pun melanjutkan perjalanan pergi masuk ke dalam hutan untuk mencari monster agar bisa mendaftarkan dirinya ke serikat pendekar. Setelah
masuk ke dalam hutan, mereka mencari monster itu dengan melihat ke segala arah. Mereka telah mencari monster itu selama berjam-jam, namun mereka tidak bisa menemukan monster itu di mana pun.
"Apa kamu yakin monster itu berada di sekitar sini?" tanya Daya dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
"Tentu saja, orang-orang desa itu selalu mencari monster Bee di sini kerena hutan ini adalah tempat yang paling dekat dengan desa," jawab Jaka
dengan melihat ke sekelilingnya mencari monster itu.
"Apakah badannya besar?" tanya Daya.
"Iya, monster itu lebih besar dari pada lebah pada umumnya. Kira-kira besarnya seperti kepalan tangan manusia dewasa."
"Hmm ...."
Saat mereka sedang mencari dengan seksama, mereka melihat kehadiran seorang wanita berjalan dari celah pepohonan. Wanita itu memiliki wajah yang serius, kulitnya coklat, badannya memiliki otot, terlihat maskulin dan tomboy. Baju yang dikenakannya berwarna putih dengan panjang sampai pinggang, membuat orang lain bisa melihat pusar dan otot di perutnya. Rambutnya panjang hingga leher dengan warna putih krem yang menghiasinya. Di punggung wanita itu terletak sebuah busur beserta anak panahnya. Kalau bukan karena dadanya yang besar, Jaka dan Daya pasti mengira kalau wanita itu adalah lelaki. Saling pandangan terjadi di antara mereka bertiga.
"Kau wanita kan?" tanya Jaka langsung kepada wanita itu.
"Hoi, itu tidak sopan. Kamu lihat dadanya kan!? Sudah pasti dia wanita," bisik Daya menyikut pinggang Jaka pelan dengan sikutnya.
__ADS_1
"Wah ... iya, hehe" ucap Jaka membalas bisikan Daya setelah melihat dada milik wanita itu.
"Kau buta ya? Tentu saja aku wanita! Apa yang kalian lakukan di sini?" ucap wanita itu memandang ke arah Jaka dan Daya. Walaupun kata-katanya kasar dan badannya kekar, tapi tidak bisa dipungkiri wanita itu lumayan manis dan suaranya lembut seperti wanita pada umumnya.
"Kami sedang mencari monster Bee di sekitar sini, namun kami tidak menemukan apapun walaupun telah mencari selama berjam-jam," jawab Daya memberitahu tujuannya.
"Oh ... kalian ingin menjadi pendekar ya? Lebih baik kalian menyerah, monster itu sudah sulit ditemukan karena banyak diburu oleh orang-orang. Jika kalian ingin mencari monster itu, kalian harus langsung pergi ke habitat aslinya," jelas wanita itu dengan pandangan yang tajam.
"Gila ya ... kami tidak punya waktu dan tenaga sebanyak itu untuk mencari di habitat aslinya!" ucap Jaka setengah berteriak mendengar ucapan wanita
itu.
"Yah, kalau begitu lebih baik kalian menyerah!" ucap wanita itu dengan nada seperti mengejek.
"Memang habitat aslinya di mana?" tanya Daya memandang ke arah Jaka.
"Hutan di sekitar pedesaan sering terjamah oleh manusia, sehingga hanya memiliki sedikit monster yang berada di hutan itu. Tapi ada beberapa hutan
yang lokasinya jauh dari pemukiman manusia. Hutan itulah yang menjadi sarang dan habitat asli bagi para monster. Kita hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga jika pergi ke sana!" jelas Jaka dengan tatapan serius.
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Daya setelah mendengar penjelasan Jaka.
"Sayangnya tidak," ucap Jaka dengan nada kecewa.
"Hahh ... sepertinya perjalanan kita tidak akan mudah," ucap Daya dengan raut wajah yang sedih.
"Kalian ini laki atau perempuan? Begitu saja sedih!?" sindir wanita itu dari kejauhan.
"Apa kau bilang?" geram Jaka memandang wanita itu tajam. "Aku ini orang yang memegang kesetaraan jenis kelamin, jangan kira aku akan melepaskanmu walaupun kau wanita yah!" Bagaikan gas yang diberikan api, Jaka langsung marah kepada wanita itu.
"Aku akan memberikan kalian apa yang kalian butuhkan, tapi sebagai gantinya aku ingin kalian memberikan apa yang aku inginkan!" ungkap wanita itu bernegosiasi dengan Jaka dan Daya.
Marah yang awalnya berada pada diri Jaka seakan hilang saat wanita itu bernegosiasi.
"Jadi, kau punya monster itu?" tanya Jaka dengan nada yang menurun.
"Lihat siapa yang bicara ... tadi kau marah, sekarang kau baik denganku."
"T-tidak usah banyak bicara, kau ada atau tidak?" geram Jaka merasa dipermainkan.
"Tentu saja aku ada, jika tidak untuk apa aku memulai negosiasi ini!"
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Daya dengan nada yang lembut.
"Hehehe ... tidak susah, kalian hanya perlu melakukan .... "
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.