
"Itulah yang ingin aku ceritakan padamu, apa kau ingin mendengarkan ceritaku, Nak Daya?"
"Tentu saja, Kek."
Kakek Maya terdiam selama beberapa detik, menundukkan pandangannya, menarik dan
menghembuskan nafasnya pelan lalu mulai memandang mata Daya dan mulai berbicara,
"Dahulu atau sekitar lima belas tahun yang lalu, kami hidup dalam kebahagiaan dan kenyamanan. Bahagia memiliki keluarga yang lengkap dan kenyamanan tempat tinggal, makanan dan pakaian yang terpenuhi. Namun semua berubah ketika Raja sialan itu melakukan suatu hal bodoh yang membuat banyak rakyatnya meninggal. Kejadian itu bernama Tragedi Morway," jelas Kakek Maya dengan nada yang beranjak naik dan pandangan menatap tajam langit-langit gubuk bambunya.
Alis Daya tertekuk, ia merasa pernah mendengar tentang Tragedi Morway sebelumnya. Karena bingung, Daya bertanya tentang Tragedi Morway.
"Apa itu Tragedi Morway, Kek?"
"Tragedi Morway adalah masa di mana Raja menarik pajak yang besar kepada rakyat kota dan desa, barang siapa yang tidak bisa membayar, maka Raja akan memerintahkan para pendekar untuk menghukum hingga mengeksekusi para warga," jawab Kakek Maya dengan menundukkan kepalanya, matanya memancarkan kemarahan serta tangannya mengepal mengingat Tragedi Morway yang telah mengubah hidupnya.
Mendengar penjelasan Kakek Maya, pandangan Daya ikut terlihat marah dan bibirnya tidak bisa berhenti bergetar. Dalam hatinya berfikir; kenapa seorang Raja yang seharunya melindungi rakyat malah berbuat sebaliknya, kenapa seorang Raja tega memberikan pajak yang membebankan rakyatnya, kenapa para pendekar yang seharusnya melindungi para rakyat malah mengikuti perintah kejam sang Raja dan kenapa ini semua bisa terjadi. Daya ingin menanyakan semua itu kepada Kakek Maya, tetapi karena rasa kesalnya yang hebat membuat Daya hanya bisa menggertakkan giginya keras dan mengepalkan tangannya kuat hingga terlihat urat-urat di tangannya tegang karenanya. Kekesalan dan pandangan marah Daya terpecah ketika Kakek Maya melanjutkan penjelasannya.
"Keluarga kami adalah salah satu dari sekian banyak warga yang tidak bisa membayar pajak karena terlalu mahal. Ayah, ibu serta nenek Maya dieksekusi karenanya, setelah itu kami hanya hidup berdua. Kebahagiaan kami hilang dan kenyamanan kami direnggut oleh Raja sialan itu," murka Kakek Maya sembari menitihkan air matanya.
__ADS_1
"Saat itu Maya masih berumur empat tahun, ia sangat pintar hingga mengetahui apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Saat itu pintu kami digedor-gedor oleh beberapa pendekar, karena tahu apa yang akan terjadi kepada mereka, orang tua Maya menyuruh kami untuk mengunci pintu dan kabur lewat pintu belakang sementara kedua orang tuanya pergi menemui para pendekar itu.
"Saat kedua orang tuanya pergi menemui para pendekar, saat itulah terjadi pertumpahan darah yang membuat kedua orang tua Maya meninggal. Aku berniat untuk menutup telinga Maya, tapi aku terlambat untuk melakukannya. Aku merasa menjadi kakek yang bodoh membiarkan Maya mendengarkan para pendekar membunuh orang tuanya.
"Setelah kabur, kami pun pindah ke gubuk ini dan memulai hidup baru, Maya tetap tersenyum walau aku yakin jauh di lubuk hatinya ia menangis. Menangis karena tidak memiliki orang tua, menangis karena hanya memakan sejumput nasi dalam satu hari, dan menangis melihat para rakyat hidup kelaparan sedangkan Raja dan antek-anteknya hidup bergelimang harta.
"Tidak semua orang setuju dengan Raja, begitu pula dengan sebagian kecil pendekar, beberapa pendekar itu dengan suka rela membantu para rakyat yang menderita. Mereka tidak bisa melawan Raja, para pendekar itu membantu kami dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena banyak warga yang merasa dirinya ditindas, sebagai dari warga pergi dari Kerajaan ini dan melintas masuk ke kerajaan lain. Setelah beberapa tahun Raja itu berkuasa, akhirnya ia meninggal dan digantikan dengan Raja yang sekarang.
"Raja sekarang lebih baik dari pada raja terdahulu, ia ingin menarik kepercayaan rakyat kembali dengan membuat surat perjanjian antara rakyat dan pendekar. Jika ada orang yang ingin menjadi pendekar, pasti diwajibkan untuk mentaati surat perjanjian itu," jelas Kakek Maya dengan serius.
"Lantas kenapa anda memintaku untuk berjanji melindungi Maya?" tanya Daya heran karena ia tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan.
"Oh ... jadi itu yang menyebapkan kulitnya hitam dan banyak sekali otot di tubuhnya," batin Daya setelah mendengar penjelasan Kakek Maya.
"Aku sudah tua, tidak bisa banyak bergerak dan bekerja. Selama ini aku diurus oleh Maya, cucuku tercinta. Aku tahu, ia sangat ingin menjadi pendekar, mempunyai teman dan berpetualang bersama. Tetapi impiannya terhalang karena ia merasa mempunyai tanggung jawab untuk mengurusku. Aku tahu, dia akan menjadi orang yang kuat suatu hari nanti dan ia akan berkembang dengan cepat. Maya mempunyai kekuatan dan pengetahuan tidak seperti perempuan pada umumnya, karena itu aku yakin ia akan menjadi teman yang akan melindungimu kelak, Nak Daya.
"Aku sudah tua dan merasa akan mati sebentar lagi, aku menyuruh Maya untuk pergi membunuh monster Verdon dan memotong culanya sebagai obat yang mana sebenarnya penyakitku tidak bisa disembuhkan lagi."
Mendengar penjelasan Kakek Maya, Daya mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Kenapa Anda menyuruh Maya membunuh monster Verdon padahal cula itu tidak bisa membantu menyembuhkan penyakit Anda!? Monster itu bisa saja membunuhnya," potong Daya dengan nada yang sedikit kesal.
"Maya tidak akan mati semudah itu, Nak Daya. Ia tahu untuk mengalahkan monster Verdon seorang diri adalah hal yang mustahil dan aku yakin ia akan menemukan teman yang akan membantunya membunuh monster Verdon. Lalu lihatlah! Aku mengetahui apa yang akan ia lakukan, Maya menemukan teman yang bersedia membantu dan menolongnya," ucap Kakek Maya dengan senyum di bibirnya.
"Jadi cula monster Verdon yang Maya rebus barusan itu apa?" tanya Daya yang mulai heran dengan penjelasan Kakek Maya.
"Hehe ... itu adalah racun yang aku minum dengan kebahagiaan," jawab Kakek Maya dengan tawa yang terdengar sangat tulus.
"Hah ...!? Bukankah bagian monster yang telah mati itu tidak memiliki racun lagi? Bagaimana dengan kondisimu dan Jaka!?" tanya Daya mulai kesal karena merasa nyawa Jaka dalam bahaya. Daya sangat bingung dengan penjelasan Kakek Maya yang berbeda dari apa yang Maya katakan.
"Hehehe ... kau mengetahui itu dari Maya, bukan? Aku berbohong padanya, sebenarnya aku memang berniat untuk mati sejak dahulu, tetapi aku ingin melihat cucuku menjadi apa yang ia impikan, walau aku harus melihatnya dari atas sana. Jangan khawatirkan temanmu, ia akan baik-baik saja. Racun itu adalah segalanya bagiku, dengan racun itu aku akan kehilangan rasa sakit ini dan dengan racun itu pula cucu yang kucinta mewujudkan apa yang ia impikan." Kakek Maya tersenyum dan menangis pada saat yang sama.
Air mata kebahagiaan menetes menuju pipinya dan senyum yang besar melingkar di bibir Kakek Maya. Kini Daya telah mengetahui apa yang Kakek Maya ingin lakukan sebenarnya. Tanpa Kakek Maya dan Daya duga, ternyata selama ini Maya menguping pembicaraan mereka. Maya menangis tersedu-sedu dibalik tidurnya, dikarenakan posisi tidur Maya yang membelakangi Kakek Maya dan Daya, membuat mereka tidak bisa mengetahui bahwa selama ini Maya masih terjaga.
Tangis mengiasi mata Maya mengalir menuju pipi coklatnya serta isak mulai terasa di dadanya. Maya mencubit pahanya sendiri agar tangisnya mereda,
namun berapa kuatpun Maya mencubit dirinya sendiri, rasa sakit itu tidak sebanding dengan kesedihan yang ia sekarang rasakan.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.