Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 59: Argani dan Persahabatan.


__ADS_3

Di sebuah ruangan pengobatan, terlihat Abi sedang dikelilingi oleh keempat temannya dan seorang tabib kerajaan yang terlihat sudah tua.


"Apakah temanku bisa sembuh, Tuan?" Adi terlihat gelisah, badan dan kaki tak henti-hentinya bergerak.


"Tenang saja, Nak. Temanmu akan baik-baik saja," jawab tabib tua itu mencoba menenangkan Adi dan teman-temannya.


"A-a-apakah Abi t-tidak bisa b-berjalan seperti s-semula lagi, T-tuan?" Disa bertanya dengan nafas sesenggukan, Disa terlihat masih menahan derai air matanya.


"Untuk sekarang, kita hanya perlu memikirkan kesehatannya." Tabib itu berdiri lalu berjalan mendekati Dina dan menepuk pundaknya pelan kemudian pergi keluar dari ruang pengobatan.


Mendengar jawaban tabib membuat teman-temannya kembali menitihkan air mata, mereka tidak bisa membayangkan temannya tak dapat berjalan seperti manusia pada umumnya.


Abi terlihat masih belum sadarkan diri, ia kehilangan begitu banyak darah. Hanya waktu yang bisa menjawab keselamatan Abi.


Saat mereka masih dirundung kesedihan, tiba-tiba terdengar seseorang memasuki ruang pengobatan. Adi, Cahya, Disa dan Haira melirik pintu di sebelah kanan untuk melihat siapa yang masuk, ternyata ia adalah Evan si juru pisah. Evan berdiri di samping teman-teman Abi dengan pandangan yang memancarkan kesedihan dan rasa bersalah.


"Kenapa di sini? Bukankah kau harus menjadi juru pisah pada pertandingan selanjutnya?" tanya Haira melihat Evan berdiri di sampingnya.


"Tidak, selama beberapa menit pertandingan dihentikan. Arena sedang dalam pembersihan dan sepertinya Raja masih ingin memastikan tekat para calon pendekar berikutnya."


"Maksudnya?"


"Setelah melihat Abi yang telah kehilangan kakinya, kemungkinan Raja akan bertanya lagi kepada calon pendekar, apakah mereka tetap akan maju, atau tidak."


"Raja sangat memperhatikan rakyatnya, yah!?"


"Itulah gunanya Raja! Aku mengagumi dirinya sama seperti aku mengagumi Argani!"


"Siapa Argani?" Haira terlihat penasaran dengan nama itu.


"Dialah sang pendekar terkuat yang dipilih langsung olehnya!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Evan, semua yang berada di ruang pengobatan terkaget. Baru kali ini mereka mendengar nama pendekar terkuat tersebut, bukan melalui kabar burung, namun langsung dari pendekar dengan Tier Emperor.


"Omong-omong kenapa kami juga diberikan suntikan?" tanya Cahya bingung, ia merasa tidak mengalami sakit apapun.


"Kalian telah terkena racun monster Tagula," jawab Evan singkat. Jawaban Evan tentu membuat Adi, Cahya, Dina dan Haira terkaget. Mereka tidak mengingat pernah terkena racun milik monster Tagula.


"Kapan dia menyuntikan racun itu?" tanya Adi dengan nada naik.


"Racun tidak hanya bisa melukaimu jika disuntikan. Racun bisa menjalar dengan berbagai cara, seperti terkena cairannya, menghirup udara, memakai sesuatu dan memegang sesuatu!" Mendengar jawaban Evan, Adi langsung memegang bekas luka di awal pertandingan.


"Jadi sedari awal kita telah terkena racun?"


"Benar, dari awal pertandingan kalian telah kalah, karena tidak mengetahui fakta bahwa racun telah mengalir di darah kalian. Kalian tidak bisa melanjutkan ujian lagi, kalian telah didiskualifikasi karena telah gagal membunuh monster Tagula."


"Hmm ... kami tidak peduli lagi dengan ujian ini. Selagi nyawa Abi selamat, itu cukup!" Disa berkata dengan nada yang yakin.


Mereka terdiam selama beberapa menit memandang Abi yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Semua mata tertuju pada Evan saat ia mulai berbicara,


"Tidak perlu meminta maaf, ini semua salahku! Aku terlalu lemah dan bodoh!" Adi mencaci dirinya dengan tangan yang mencengkram erat dadanya.


"Hem ... setelah dipikir-pikir kau ada benarnya!" Mendengar jawaban Evan, Adi dan teman-temannya melihat ke arah Evan dengan tatapan bingung. "Ini semua gara-gara kau! Jika saja kau bisa mengontrol elemen kau dengan baik, ini semua tak akan pernah terjadi. Sialan! Elemen air yang kau gunakan telah menyembuhkan luka yang berada pada tubuh monster Tagula!" Sifat Evan berubah 180°, matanya melotot tajam memandang wajah Adi dengan urat-urat yang terlihat.


Adi yang sebelumnya telah terpukul, kini merasakan kembali pukulan itu. Sebuah pukulan yang tepat mengenai jantungnya, tubuhnya kembali bergetar dan matanya melotot seakan ingin keluar dari kelopak matanya.


Dalam posisi jongkok, Adi memegang kepalanya dan menjambak rambutnya kuat. Mulutnya bergetar dengan sangat kuat, urat terlihat berada di tangannya bersamaan dengan Adi yang menjambak rambutnya.


Melihat Adi yang mulai kehilangan akal, Disa, Cahya dan Haira menangis sembari memeluk tubuh Adi erat.


"Tidak, Adi! Itu semua tidak benar, jangan dengarkan kata-katanya!" Cahya mencoba menenangkan Adi yang mulai hilang akalnya itu.


"K-kau pasti i-ingat, bukan? Bagaimana k-kita berlatih b-bersama? Bagaimana kita tertawa b-bersama? Dan bagaimana k-kita melalui c-cobaan bersama? Jangan biarkan itu semua merusakmu, Adi!

__ADS_1


"Kau adalah o-orang terkuat diantar k-kami, aku yakin Abi akan marah jika m-melihatmu seperti ini!" Tangis yang Disa coba tahan mendadak pecah melihat Adi yang sepeti kehilangan dirinya. Disa tidak pernah melihat Adi terpukul sampai seperti ini sebelumnya.


"Jika tujuan kau datang ke sini hanya untuk memperkeruh suasana, lebih bagus kau keluar! Kami tidak perlu ucapan yang mematahkan semangat orang seperti itu!" Haira yang tidak suka dengan ucapan Evan langsung mengusirnya dari ruang pengobatan dengan nada dan raut wajah marah.


Evan hanya mendenguskan nafasnya pelan lalu pergi keluar dari ruang pengobatan meninggalkan Adi dan teman-temannya yang masih dalam keadaan kesal dan sedih.


***


Di lain sisi, Raja terlihat sedang mengingatkan rakyatnya kembali tentang keyakinan mereka dalam menghadapi ujian ini. Raja tidak ingin rakyatnya menempuh jalan yang salah dan mengorbankan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Namun tetap, tidak ada satupun para calon pendekar yang berniat untuk merobek nomornya. Raja hanya menghela nafas dan kembali duduk di atas kursinya.


Beberapa orang terlihat masih membersihkan arena agar siap digunakan untuk pertarungan berikutnya. Beberapa orang mengangkat mayat monster Tagula dan ada juga yang membersihkan darah-darah yang berserakan di sekitar arena. Mereka melakukannya dengan cepat, mereka adalah ahlinya.


Dari pintu yang menghubungkan beberapa tempat itu terlihat Evan berjalan pelan kembali ke posisi awalnya. Saat beberapa menit berdiri pada posisinya, Evan merasakan ada yang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Juru pisah itu melihat siapa orang yang memandangnya sedari tadi, ternyata orang yang memandangnya adalah sang Raja. Evan menunduk lalu secepat kilat berlari ke hadapan Rajanya.


Sambil membungkuk, Evan berkata, "Apakah Anda memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, Yang Mulia?"


"Kau pasti tahu monster seperti apa yang akan dilawan selanjutnya, bukan!?" tanya Raja melihat ke arah arena pertandingan yang sedang dibersihkan.


"Saya tahu, Yang Mulia."


"Jangan lengah, jangan gundah dan janganlah ragu! Aku tidak ingin melihat rakyatku mati di depan mataku lagi!"


"Permintaan Anda adalah keinginan hamba, Yang Mulia." Evan menundukkan kepalanya lalu pergi menuju posisinya lagi.


Saat telah berdiri di tengah arena selama beberapa menit, akhirnya arena telah bersih dan siap untuk digunakan kembali. Terlihat Evan tengah bersiap untuk memanggil nama calon pendekar berikutnya yang akan melawan monster-monster. Detak jantung para calon pendekar kembali berdetak kencang menunggu namanya terpanggil.


"Pertandingan selanjutnya akan segera dimulai! Kepada siapa yang saya paggil, harap ia dan teman sependekarnya memasuki arena pertandingan! Nama calon pendekar berikutnya yang akan bertarung adalah ...."


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2