
"Tidak boleh mengunjungi area Istana, tidak boleh bertemu dengan keluarga kerajaan dan lainnya! Aku benci sekali dengan peraturan itu! Sebuah diskriminasi yang sangat nyata dari seorang Raja!"
"Dari tadi kalian berbicara tentang area, memang area itu ada berapa?"
"Orang bodoh macam apa yang belum tahu tentang pembagian area, padahal hal itu sudah terpampang di seluruh dinding desa!" Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya bingung karena Daya belum mengetahui pembagian area.
Mendengar jawaban Jaka, Daya hanya menekuk wajahnya sedikit kesal.
"Tsk ... baiklah-baiklah, aku akan memberitahumu! Area itu terbagi atas tiga, yang pertama adalah area Istana, kedua adalah area Kerajaan dan yang terakhir adalah area Pemukiman!"
"Area Kerajaan dan Istana itu berbeda? Saya kira itu sama!"
"Tentu saja beda! Ini karena Istana milik Raja itu sangat besar dan luas sehingga Raja menjadikan Istana sebagai salah satu dari area. Area Istana adalah area tempat tinggalnya Raja, Ratu (Pemaisuri), pendekar dengan Tier Calestial Dragon, Pangeran serta Puteri dan beberapa orang paling penting lainnya!
"Sedangkan untuk area Kerajaan itu terbagi lagi menjadi dua area, yaitu Pineliela dan Beliron. Mereka terbagi bukan tanpa alasan, Pineliela adalah tempat tinggalnya anggota keluarga Raja dan Ratu. Seperti adiknya, abang, orang tua dan tidak lupa pendekar dengan Tier Emperor, namun biasanya pendekar dengan Tier Emperor jarang berada di area ini karena seperti yang kita tahu, tugas pendekar dengan tier Emperor ini berhubungan dengan ras lain. Jadi kemungkinan besar mereka akan tinggal di luar Kerajaan.
"Seperti yang kusebutkan sebelumnya, selain Pineliela ada juga area yang bernama Beliron. Beliron adalah tempat tinggal khusus untuk para pendekar tingkat tinggi, mulai dari Tier Sextus hingga Octo. Lalu yang terakhir adalah area Pemukiman, tempat rakyat biasa dan pendekar tingkat rendah seperti kita ini. Sama seperti area Kerajaan, area Pemukiman juga terbagi menjadi dua, yaitu area Desa dan Kota. Semakin tinggi tingkatan area yang akan kalian kunjungi, maka semakin mewah dan maju juga peradabannya!" Jaka menarik nafas sangat panjang ketika selesai menjelaskan tentang area kepada Daya.
"Aku harap dari panjangnya yang aku jelaskan barusan, ada sedikit yang nyangkut di otak kau, Daya!" timbal Jaka dengan nafas yang memburu kecapaian.
__ADS_1
"Ah ... pantas Tuan Anthony meminta saya membayar hutang padanya di area Kerajaan nanti." batin Daya dalam hati mengingat hutangnya pada Tuan Anthony.
Author Note:
Btw janji Daya kepada Tuan Anthony ada di Eps 6: Pondok Pendekar (3/3).
"Hoi ...! Kenapa kalian malah membicarakan masalah area? Buang-buang waktu saja kalian ini! Lebih bagus berpikir tentang bagaimana caranya Livia bisa bebas dari status budaknya!"
Teriakan Maya membuat Jaka dan Daya tersadar akan masalah yang ada di hadapannya.
"Ah ... maaf, ini semua gara-gara saya yang memulai pertanyaan tidak penting ini. Dari yang Maya sebutkan tadi, kemungkinan meminta kepada Raja adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk membebaskan Livia dari status budaknya!"
Medengar bantahan Jaka membuat Daya dan yang lainnya tertunduk lesu. Karena saking inginnya Daya membebaskan Livia dengan cara yang mudah, ia tidak memikirkan konsekuensinya sampai sana.
"Bagaimana caranya mereka mengetahui Livia adalah seorang budak?" Di sela-sela mereka sedang berpikir, Daya menyempatkan untuk bertanya.
"Semua akan tertera dengan jelas ketika kau meminta surat pengecekan data diri!" Jaka menjawab dengan singkat.
Mereka hanya terdiam di dalam gang sepi itu selama beberapa menit memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi. Waktu demi waktu telah berlalu, mereka belum juga menemukan jalan tengah untuk permasalahan yang mereka hadapi. Daya dan teman-temannya bisa saja meninggalkan Livia dengan tidak mengikutinya mendaftar menjadi pendekar, namun setelah mendengar cerita Livia, mereka tidak bisa melakukan itu. Waktu sudah hampir sore, Daya kembali bertanya kepada Jaka tentang kapan ujian akan dilakukan. Jakapun menjawab,
__ADS_1
"Di sini tertara ujian akan dilakukan pada tanggal 20 Desember hingga 25 Desember!"
"Sekarang tanggal berapa?"
"Kalau tidak salah sekarang baru tanggal 15 Desember, kita masih mempunyai tenggat waktu lima hari lagi untuk memikirkan dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Livia!"
Saat mereka masih mendiskusikan tentang pembebasan Livia, tanpa Jaka, Maya dan Daya duga Livia bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapan mereka sembari menundukkan kepalanya.
"Terima kasih telah mengkhawatirkan Livia, terima kasih telah rela meluangkan waktu demi melindungi Livia dan terima kasih telah mau menerima Livia sebagai teman sependekar kalian. Livia merasakan hanya menjadi beban bagi teman-teman dan Livia merasakan hanya menjadi penghambat impian teman-teman. Sejauh ini Livia mempunyai dua impian, impian yang pertama adalah keluar dari nereka yang bernama Serikat Budak. Lalu impian yang kedua adalah bertemu dengan mentari yang menyinariku." Livia merubah posisinya yang awalnya menundukkan kepalanya, kini memandang wajah Daya dengan senyum dan air mata yang
bersatu.
"Impian Livia telah terkabul, doa Livia telah terjawab dan keinginan Livia berada tepat di depan mata. Livia berharap dapat bertemu lagi dengan Daya, Jaka dan Maya di lain waktu." Livia tidak menitihkan air matanya lagi, ia hanya tersenyum dengan senyuman yang penuh arti. Sebuah perkataan yang tidak bisa terucapkan membuat bibirnya bergetar dengan hebat, mengakibatkan senyumnya sedikit memudar. Namun Livia tetap mempertahankan senyumanya di bibir indahnya. Kedua matanya masih berkaca-kaca memandang wajah teman-temannya untuk yang terakhir kali, Livia ingin mengenang wajah orang yang menyelamatkanya untuk seumur hidupnya.
Livia terkaget melihat Daya, Jaka dan Maya bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh Livia dengan erat, sebuah pelukan kehangatan pertama yang membuat dirinya ingin menangis dan tertawa itu membuat kakinya gemetar kesulitan untuk menahan berat di tubuhnya. Air mata yang Livia coba tahan kembali berderai dipelukan teman-temannya.
"Uwahhhhhh ...." Tangis Livia meledak berpikir ini adalah ucapan selamat tinggal dari teman-temannya. Livia memeluk ketiga temannya dengan erat, kakinya gemetar dan wajahnya memerah dengan air mata yang hampir habis itu membasahi baju ketiga temannya. Selama beberapa menit mereka berada pada posisi ini hinga akhirnya mereka melepaskan pelukannya, Livia tersenyum untuk yang terakhir kalinya lalu membalikkan badannya untuk pergi kembali ke rumah Kakek Eko.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.