Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 32: Melawan Monster Verdon (2/3).


__ADS_3

Saat tubuh Daya hendak terkena cula monster Verdon, tiba-tiba Daya teringat saat ia latihan bersama Tuan Abdi berlatih elemen angin tanpa mengenal lelah dan henti. Saat Daya sedang beristirahat di sebuah batang pohon yang rindang, Daya melihat sehelai daun jatuh dari tungkainya dan terbang diterpa sang angin. Sesaat ia berfikir dalam hati,


"Jika angin bisa menggerakkan daun, apakah angin juga bisa menggerakkan sesuatu yang lebih berat?" batin Daya merenung dan berfikir jauh ke depan.


Mulai saat itu, Daya mencoba menggabungkan elemen angin dengan gerakannya. Karena gerakannya telah digabungkan dengan elemen angin, membuat pergerakannya lebih cepat dan serangan serta pukulannya terarah dengan tepat. Jika sebelumnya Daya berlari dari titik A ke titik B memerlukan waktu sepuluh menit, kini Daya bisa melakukanya hanya dalam jangka waktu lima menit. Jika sebelumnya Daya sering melakukan kesalahan saat melemparkan tombaknya, kini semua serangannya terarah dengan baik dan tertata. Semua itu berkat kerja keras dan gabungan antara elemen dan pergerakan tubuhnya.


*Kembali ke masa sekarang.


Mengetahui monster itu hendak menanduk tubuh Daya, ia dengan sigap menyelimuti dirinya dengan elemen angin dan bergerak menghindari tandukan monster itu dengan sangat mudah. Daya menghindari serangan dari monster Verdon bak kain merah yang digerakaan oleh seorang matador mengelabuhi banteng. Saat monster itu mengetahui serangan culanya gagal, monster Verdon menghentikan langkahnya dan mengeluarkan air seni tepat ke arah Daya. Namun lagi-lagi Daya dapat menghindari serangan monster Verdon mudah dengan melompati semburan air seni itu tinggi. Jika saja bukan karena elemen anginnya yang membuat Daya terbang setinggi itu, dapat dipastikan Daya tidak bisa melompatinya. Selepas melompat dengan sangat tinggi, Daya mendaratkan kakinya dengan mulus ke tempat yang telah direncanakan sejak awal.


Kini mereka telah membentuk posisi sesuai rencana. Monster itu berbalik dan bersiap untuk menyeruduk tubuh yang paling dekat dengannya, yaitu Jaka. Jaka melihat ke arah Daya dan Maya, mereka berdua menganggukkan kepalanya tanda mereka akan memulai rencana. Saat monster itu berlari cepat ke arah Jaka dan hanya beberapa meter lagi darinya, Jaka mengayunkan tangannya vertikal, bersamaan dengan itu sejumlah besar api merah keluar dari tangan Jaka bergerak tepat menuju tubuh monster yang sedang bergerak ke arahnya.


Api yang dikeluarkan Jaka sangat besar hingga menutupi hampir seluruh tubuh monster Verdon. Seakan tidak terkena efeknya, monster Verdon tetap berlari menuju arah tubuh Jaka. Mengetahui serangan Jaka tidak mempan, Maya dan Daya tidak hanya tinggal diam. Mereka menggerakan kedua tangannya lurus seakan mendorong suatu benda, bersamaan dengan itu sejumlah angin besar milik Daya dan Maya bergabung dan mengenai tubuh Monster Verdon. Api besar milik Jaka yang menutupi badan monster Verdon bergabung dengan angin milik Daya dan Maya menghasilkan api merah yang semakin lama semakin besar.

__ADS_1


"Sial ... energiku hampir habis, jika aku mengecilkan apiku sedikit saja dapat dipastikan elemen apiku akan padam oleh angin milik mereka berdua," batin Jaka mengetahui energinya hampir habis.


Jaka tidak menghentikan elemennya, bahkan ia mendorong dirinya lebih kuat lagi. Api yang dikeluarkan Jaka semakin besar dan besar, namun mereka semua terkaget karena monster Verdon tetap berlari ke arah Jaka seakan api besar yang berkobar mengelilingi dirinya tidak melukainya sedikitpun. Mengetahui usahanya sia-sia dan monster Verdon yang sudah semakin dekat, Jaka menghentikan elemennya dan mencoba menghindari tandukan sang monster.


Namun sayang, dengan waktu yang singkat, monster Verdon yang telah dekat dan pergerakan monster yang sangat cepat membuat Jaka terlambat untuk menghindar. Saat Jaka ingin menghindar, cula monster itu mengiris bagian pingangnya. Darah menetes dari bekas serangan monster itu, Jaka mencoba menutupnya dengan menekan lukanya di tempat darahnya mengalir. Setelah monster itu berhasil melukai Jaka dan melewati tubuhnya, monster Verdon memutar badannya dengan berpijak pada kedua kaki depannya lalu menggerakkan kedua kaki belakangnya memutar. Setelah posisinya sudah tepat di hadapan Jaka, monster Verdon menggerakkan kepalanya pelan dan mendenguskan nafasnya kuat seperti sedang memeriahkan serangannya yang berhasil mengenai tubuh Jaka.


Terlihatlah seluruh bagian badan monster itu telah gosong, namun anehnya monster itu masih bisa berdiri dan menggerakkan tubuhnya dengan leluasa. Saat ini posisi Jaka-lah yang paling dekat dengan monster Verdon, sementara Daya dan Maya berada tepat di belakang Jaka. Jaka, Daya dan Maya hanya diberikan beberapa detik untuk menghela nafas oleh sang monster, setelah menggerakan kepalanya lagi, monster itu kembali bergerak dengan cepat mendekati Jaka. Jaka yang ingin menghindar merasakan sakit yang amat luar biasa di pinggangnya seakan seperti terbakar dan beku pada saat yang sama, itulah yang Jaka rasakan pada pingangnya.


Monster itu mulai mendekati Jaka, jaraknya hanya tinggal beberapa meter dari tubuhnya. Mengetahui Jaka yang tidak bisa menghindar, Daya tidak hanya tinggal diam, ia membuka kain hitam yang menutup tombaknya dan memegang tombak besar itu di tangan kanannya. Daya mengambil ancang-ancang dan melesatkan tombak yang dibalut oleh elemen angin menuju ke arah kepala monster Verdon. Dengan tombak yang besar dan elemen angin yang lebih kuat dari Maya, membuat tombak yang Daya lesatkan berhasil membolongi kepala sang monster. Saat tombaknya menancap di kepala monster Verdon, tekanan dari tombak yang diselimuti oleh angin itu membuat gerakan monster itu terhenti. Namun kejutan tidak berhenti ketika serangan gabungan yang mereka keluarkan tidak bisa membunuh monster Verdon, mereka semua dikejutkan kembali ketika monster Verdon masih bisa berdiri dan menggerakkan kepalanya saat tombak Daya masih tertancap beberapa meter di kepalanya.


urusannya, Maya memanggil Jaka dan Daya untuk kembali merencanakan serangan dengan cepat. Dengan langkah yang pelan, Jaka mendekati Maya, begitu pula dengan Daya.


"Maaf, rencananya gagal karena apiku kurang kuat," ucap Jaka ketika mereka bertiga telah berkumpul dengan nada menyesal.

__ADS_1


"Tak apa, kita harus merencanakan sesuatu dengan cepat sebelum monster itu berhasil mengeluarkan tombak milik Daya," usul Maya dengan mata yang tertuju pada monster Verdon yang masih berusaha mengeluarkan tombak Daya.


"Apakah kamu bisa mengeluarkan elemen apimu lagi, Jaka?" tanya Daya.


Jaka menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku kehabisan energi. Sebenarnya aku ingin menggunakan api biruku, tetapi elemen itu terlalu menguras energi. Jika api biruku tidak bisa mengimbangi kedua serangan angin milik kalian, dapat dipastikan apiku akan padam olehnya. Jika saja aku punya kekuatan yang lebih ...," sesal Jaka memukul dinding gua.


Mereka bertiga terdiam memikirkan sesuatu, hingga akhirnya Daya buka suara,


"Saya akan menggunakan Arbitriumku sekali lagi, menyembuhkan luka Jaka dan memberikannya energi untuk mengeluarkan api biru. Kita ulang rencana ini sekali lagi, jika tetap gagal, saya ingin kita keluar dari gua ini dan memikirkan rencana yang lain.


"Kita akan mati dan kehabisan energi jika menggunakan rencana yang sama sebelum bisa membunuhnya," ucap Daya memandang monster Verdon yang masih sibuk menggelengkan kepalanya.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2