
Hari yang ditunggu telah tiba, Daya bergegas keluar dari kamar menuju tempat Tuan Abdi. Seperti biasanya Tuan Abdi dan Ben sedang mengurus berkas di depan pintu keluar.
"Lihat siapa yang sudah bersiap untuk menjadi pendekar!" canda Ben menghentikan kegiatannya melihat Daya datang.
"Sebelum belajar, cucilah wajah mu di kamar mandi atau sungai lalu pergilah kau ke lapangan di samping pondok ini!" perintah Tuan Abdi kepada Daya.
"Baik Tuan Abdi."
Daya pun pergi ke belakang pondok dan mencuci wajahnya di air yang mengalir.
"Sepertinya kau akan mempunyai murid yang terlalu lemah Ayah," ucap Ben kepada Tuan Abdi setengah bercanda.
"Akan menjadi apa dia di masa depan, itu adalah kehendaknya. Aku hanya bisa membantunya, namun pada akhirnya tetap dirinya sendiri yang menentukan. Kau tidak bisa menilai seseorang dari tampangnya Ben!" ucap Tuan Abdi di sela kesibukannya.
"Hanya bercanda ayah, jangan dibawa serius," ucap Ben menenangkan Ayahnya.
Setelah Daya membasuh wajahnya, Daya beranjak dari sungai dan pergi ke lapangan di samping pondok. Betapa terkejutnya Daya mengetahui ternyata sudah banyak orang yang berada di sana. Namun rata-rata umur mereka sekitar 19 tahun. Daya adalah murid termuda di sana. Daya pun melangkah mendekati para gerombolan anak remaja itu untuk sekedar berteman.
"Hai, aku Daya sepertinya kita akan menjadi teman seperguruan," ucap Daya tersenyum sembari mengangkat tangannya untuk berjabat tangan.
"Hei bocah, ini bukan taman kanak-kanak. Pulang kau, aku tidak ingin kau terluka!" ucap seorang remaja berbaju garis garis membentak Daya.
Tidak ada yang membalas uluran tangan Daya, lirikan mata para gerombolan remaja ini seakan menghina dan pandangan sinis pun harus Daya terima.
"Terima kasih sudah menghawatirkan ku." Daya berkata dengan senyum ramah.
"Hei bodoh, aku hanya melakukan satire, jangan kira ada yang peduli dengan mu."
Mereka pun tertawa, Daya menjadi bulan-bulanan para remaja. Daya menjauh dari keramaian dan menunggu kedatangan Tuan Abdi. Daya melihat para remaja yang berada di depannya, mereka semua berkumpul secara kelompok, ada yang beranggotakan dua orang dan yang paling banyak terdapat tujuh orang dalam satu kelompok tersebut. Total semua orang yang ikut latihan disini berjumlah dua puluh orang termasuk Daya sendiri.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Tuan Abdi datang bersama Ben dengan membawa kertas di tangannya.
"Baiklah para bocah, sekarang adalah saat yang kalian nantikan, ikuti aku!" perintah Tuan Abdi kepada para remaja.
Sampailah mereka di ujung lapangan, Tuan Abdi membuka pintu rahasia bawah tanah. Tuan Abdi menyuruh kami untuk masuk dan menunggu di dalam. Para murid berjalan menyusuri tangga menuju bawah tanah. Mulai tercium aroma tanah melalui hidung para remaja. Sampailah mereka disebuah di tempat yang memiliki meja panjang dengan beberapa kursi yang tersedia.
Seperti yang Daya duga, para remaja itu duduk berkelompok, dengan terpaksa Daya duduk sendiri di pojok paling belakang. Daya membersihkan meja dan kursi dari beberapa debu yang menempel.
__ADS_1
Suasana disana sedikit menakutkan, karena kondisi yang lumayan gelap, tempat penuh debu dan aromanya yang mengisi tempat ini. Mereka hanya dapat melihat sumber cahaya dari pintu rahasia yang dibuka oleh Tuan Abdi. Setelah beberapa saat menunggu, Tuan Abdi masuk ke dalam tempat ini, menutup pintu dan membawa 2 buah lampu yang di dalam lampu tersebut terdapat hewan yang sama seperti yang ia lihat di kamarnya. Keadaan sekitar tempat itu terlihat lebih terang dari sebelumnya. Daya melihat lagi keadaan sekitarnya, mulai terlihat bahwa tempat ini memang benar benar hanya tanah. Dindingnya terbuat dari tanah dan lantainya juga tanah.
"Yah ... memang karena ini di bawah tanah sih," pikir Daya sembari melihat sekeliling nya.
Tuan Abdi lantas duduk di tempat yang telah disediakan, meja berbentuk bulat besar yang di tempatkan dipaling depan.
"Sebelum kalian belajar cara memukul, kalian akan pelajar tentang dasar pengetahuan dunia ini terlebih dahulu, karena kalian masih bocah, aku yakin kalian hanya tau sedikit bahkan tidak tau apapun tentang dunia ini. Mulai dari sistem, perekonomian dan lainnya," ucap Tuan Abdi sembari membenarkan posisi kaca matanya melihat ke arah kertas yang ia pegang.
"Tidak usah kami belajar tentang itu, langsung saja ke jurus! Aku ingin mengeluarkan api dari tangan ku hahaha."
"Benar, ngapain susah susah belajar tentang itu," ucap beberapa remaja dengan sombong.
"Diam kalian! Bocah-bocah seperti kalian tau apa huh!?" ucap Tuan Abdi berteriak.
Para remaja kaget mendengar ucapan Tuan Abdi, termasuk Daya. Daya tidak mengira Tuan Abdi akan berteriak seperti itu. Para remaja terdiam tak berbicara, Tuan Abdi melanjutkan pembicaraannya.
"Sebelum kalian melangkah ke arah yang besar, kalian harus terbiasa dengan hal dasar!
"Aku ingin kalian mendengarkan dan merekam baik baik apa yang kukatakan ini. Baiklah akan ku mulai," ucap Tuan Abdi.
"Kita hidup disebuah desa yang berada di Negara Green Dragon. Sistem di dalamnya adalah Monarki Absolut. Kita memiliki seorang Raja dan Ratu (permaisuri). Raja kita bernama Baginda Zake George dan istrinya bernama Ajeng Abelia Anne. Mereka memiliki tiga orang anak bernama: Henry, Tommy dan Kanaya. Mereka adalah para anggota kerajaan, jadi ku harap kalian tidak mencari gara-gara dengan mereka.
Dari sela-sela penerangan Tuan Abdi, seseorang remaja bertanya kepadanya.
"Apakah ada ras lain selain manusia?" tanya seorang remaja mengangkat tangannya.
"Ada, dan itu akan ku jelaskan nanti."
Tuan Abdi melanjutkan penjelasannya:
"Para pendekar memiliki pangkat, pangkat ini akan disesuaikan dengan hal yang harus dihadapinya, pangkat ini bernama Tier. Masing masing tier memiliki ciri-cirinya masing masing. Tier paling rendah adalah Primis. Hanya tier ini yang tidak memiliki ciri ciri khusus. Tier kedua bernama Secundus, ciri-ciri pendekar ini adalah bedge bertuliskan namanya yang berwarna kuning. Dilanjutkan dengan tier bernama Tertium, ciri cirinya memiliki bedge berwarna coklat.
"Tier keempat bernama Quartus, memiliki bedge berwarna hitam. Tier kelima bernama Quintus memiliki bedge berwarna ungu."
"Ah, para pahlawan desa memiliki tier kelima," ucap Daya dalam pikirannya.
"Tier keenam bernama Sextus, memiliki bedge bewarna merah. Tier ketujuh bernama Septima, memiliki bedge bewarna biru. Tier kedelapan bernama Octo, memiliki bedge bewarna emas. Lalu dua tier terakhir adalah tier tertinggi yang dimiliki oleh pendekar. Tier kesembilan bernama Emperor, mereka tidak memiliki bedge tetapi memiliki logo kerajaan di bahu kanannya. Tier tertinggi dari semua tier adalah Celestial Dragon, tidak memiliki bedge tetapi punya logo kerajaan di bahu kanannya.
__ADS_1
"Capek sekali aku harus ngomong seperti ini terus, permisi sebentar aku mau minum," ucap Tuan Abdi setengah bercanda.
Tuan Abdi pun keluar dari tempat ini untuk mengambil air, para murid mulai berbicara tentang pendekar ke teman kelompoknya. Hanya Daya yang tidak berbicara kepada siapapun.
Remaja A: "Hoi lihat tuh si bocah, duduk sendirian disono."
Remaja B: "Sepertinya dia tidak datang bersama orang tuanya, jika ia datang bersama orang tua nya pasti dia mempunyai teman"
Remaja C: "Paling bocah yang diambil dari serikat budak karena kasihan melihatnya."
Remaja D: "Ganggu yuk"
Remaja A, B dan C: "Yuk lah."
Beberapa remaja itu lantas berdiri dan menghampiri Daya. Daya melihat ke arah remaja itu heran kenapa mengerumuninya seperti ini. Perasaan heran berubah menjadi perasaan takut ketika remaja-remaja ini tersenyum dengan senyum yang menakutkan.
\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=
To Be Continued.
Tier:
Primis \= none.
Secundus \= kuning.
Tertium \= coklat.
Quartus \= hitam.
Quintus \= ungu.
Sextus \= merah.
Septima \= biru.
Octo \= emas.
__ADS_1
Emperor \= logo kerajaan.
Calestial Dragon \= logo kerajaan.