Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 27 - Arc 2: Eksekusi.


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan orang-orang pondok, secara resmi Daya telah keluar dari pondok milik Tuan Abdi. Dengan berbekal tas ransel di pundak yang berisi berbagai bekal pemberian Dewi dan tombak yang diselimuti oleh kain berwarna hitam, Daya melangkahkan kakinya menuju apa yang diimpikannya. Saat Daya melangkahkan kakinya menuju Desa, Daya mengenang perkatan Tuan Abdi saat mereka masih berada di dalam gua.


*Sedikit Flashback.


"Apa tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, Daya?" tanya Tuan Abdi dengan nada pelan.


"Ada, tuan. Tapi saya takut menanyakannya."


"Apa itu? tanyakan saja!"


"Kenapa manusia tidak bisa hidup abadi atau hidup selama seribu tahun? Sedangkan mahluk lain seperti Elf bisa melakukan itu?"


"Hmm ...." Tuan Abdi menghembuskan nafasnya pelan.


"Manusia adalah mahluk yang lemah, Daya. Manusia hidup pada masanya masing-masing. Jika masamu sudah habis, maka orang lain akan menggantikan posisimu. Sama halnya ketika aku mati nanti, kaulah yang akan menggantikan masaku." Tuan Abdi tersenyum kepada Daya dengan senyuman yang menghangatkan hati.


"Apapun yang terjadi, ingatlah satu hal, Daya! Kau memang tidak bisa hidup abadi atau hidup selama ratusan tahun. Namun, kau bisa membuat orang lain mengingat namamu selama ribuan tahun. Mereka akan mengingatmu dari kebaikan atau kejahatan yang telah kau buat. Maka pilihlah, kau ingin dikenang sebagai seorang pahlawan, atau dibenci sebagai seorang tawanan!"


Mata Daya terbuka lebar ketika mendengar ucapan Tuan Abdi. Mulutnya kaku, kaki dan tanganya bergetar kecil. Daya sangat mengagumi kebijaksanaan Tuan Abdi dalam segala hal. Daya merasakan ingin menjadi seperti Tuan Abdi suatu hari kelak.


"Satu hal lagi, Daya! Jangan jadikan manusia sebagai motivasi! Jadikanlah sifat serta ambisinya yang memotivasi mu menuju apa yang kau impikan!"


"Terima kasih atas penjelasannya, tuan," ucap Jaka menundukkan kepalanya hormat.


"Perasaan saya atau Tuan Abdi memang mengerti apa saya ucapkan di dalam hati. Hmm ... perasaan saja mungkin," batin Daya heran ketika masih memberikan hormat kepada Tuan Abdi.


"Jangan asal makasih aja kau! Paham tidak apa yang kujelaskan barusan?"


"Ngerti donk, maksudnya jika kita menjadikan manusia sebagai motifasi, maka kita akan mengikuti manusia itu apapun yang terjadi. Namun jika kita menjadikan kepribadiannya yang memotifasi, maka kita akan lebih mengetahui apa yang dia rasakan dan yang akan dia lakukan. Begitu, tuan?" tanya Daya dengan tatapan kurang yakin.


"Yah, begitu lah kurang lebih."


*Kembali ke masa sekarang.


Dengan senyum yang merekah, raut wajah yang senang dan langkah kaki berjalan beriringan, Daya meyusuri jalan dengan kondisi yang gembira. Saat Daya telah jauh dari pondok, Daya menghentikan langkahnya. Raut wajahnya pucat, pandangannya ketakutan dan keringat tampak sedikit membasahi wajahnya. Daya berkata,

__ADS_1


"Ahhh ... saya lupa bertanya bagaimana cara menjadi pendekar ...!" ucap Daya setengah berteriak memandang langit pagi yang cerah.


Daya terdiam selama beberapa detik. Daya lalu berkata dengan santai,


"Yaudah lah, nanti nanya sama warga desa aja," kata Daya melanjutkan perjalanannya.


Saat Daya telah sampai di desa, dia melihat banyak sekali penduduk berkerumun seperti sedang membicarakan sesuatu. Daya mendekati mereka dan


bertanya,


"Kenapa banyak sekali warga desa berkumpul di sini, tuan?" tanya Daya kepada salah seorang penduduk.


"Ah, nanti akan ada eksekusi kepada seorang pemuda yang telah melakukan kejahatan," jelas penduduk.


"Eh ... di mana, tuan?" tanya Daya penasaran.


"Nanti di balai desa, rencananya Pemimpin desa akan melaksanakan eksekusi itu saat siang hari."


"Terima kasih, tuan," ucap Daya pergi meninggalkan penduduk itu.


Daya pun menunggu diantara keramaian penduduk di balai desa. Setelah menunggu selama beberapa menit, tiba-tiba Daya dikagetkan dengan alunan musik yang mengerikan. Alunan itu seperti membuat siapapun ingin menjauh darinya. Daya melihat ke arah alunan itu berasal, dari sana banyak warga yang mengangkat seseorang. Saat Daya melihat siapa orang yang diangkat, Daya dikagetkan dengan sosok yang dilihatnya. Tak lain dan tak bukan dia adalah orang yang selalu menggangunya saat berada di pondok. Dia adalah Jaka.


Kondisinya sangat memprihatinkan, Jaka dibawa dan diikat disebuah tiang besar dengan kondisi seperti sehabis dipukul dengan benda tumpul. Darah keluar dari badannya, pandangannya menunduk dan dari sela-sela matanya tampak mengalir air mata dengan raut wajah penyesalan. Dengan hanya melihatnya, membuat Daya merasa kasihan kepada Jaka. Daya tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa melihat para penduduk desa mengarak Jaka menuju balai desa. Saat Daya melihat ke sekeliling kerumunan itu, Daya merasa aneh karena empat teman Jaka saat belajar di pondok juga berada di antara penduduk desa. Namun mereka tersenyum dan tertawa lepas ketika melihat Jaka diarak oleh warga desa. Daya merasakan ada yang tidak beres telah terjadi di sana.


Saat para kerumunan warga yang membawa Jaka telah sampai di balai desa, mereka menurunkan tiang yang mengangkatnya di tengah-tengah lapangan. Dari kerumunan itu tampak seorang pria berbadan tegap dengan badge bertuliskan Sir. Deff Nasiri berdiri di samping Jaka. Pria itu berkata,


"Sebagai pemimpin dari desa ini dan orang yang memiliki hubungan dengan pelaku, maka aku sendirilah yang akan melaksanakan eksekusi ini!" ucap pria itu dengan tegas.


Seorang penduduk memberikan sebuah pedang panjang yang ditaruh di atas bantal berwarna merah kepada pria tegap itu. Pria itu menggambil pedang


lalu mengangkatnya tinggi dengan kedua tanganya bersiap memenggal kepala Jaka. Karena tidak yakin akan kuat melihat pelaksanaan eksekusi, Daya memalingkan pandangannya ke arah lain. Saat yang mendebarkan telah tiba, pria itu telah bersiap untuk menghunuskan pedangnya ke arah leher Jaka.


Setelah diperhatikan lebih jelas lagi, tangan pria tegap yang memegang pedang itu terlihat bergetar dan wajah pria itu memancarkan keraguan.


* Shrekk ....

__ADS_1


Suara ayunan pedang terdengar, namun para penduduk kaget karena pria tegap itu tidak memenggal kepala Jaka.


"Hoi ... apa yang kau lakukan, huh!?"


"Kenapa kau tidak memenggal kepala b*jing*n itu!?"


Para warga desa mulai marah dan memaki Deff Nasiri karena tidak memenggal kepala Jaka. Daya pun terkejut karenanya. Dari satu orang yang teriak,


merembet kedua orang. Hingga akhirnya semua warga desa yang berkumpul di balai desa meneriakkan hal yang sama.


"Diam kalian ...!" teriak Deff Nasiri menggema ke seluruh penjuru desa mengacungkan pedangnya ke arah para warga.


"Siapapun korban dari kejahatan Jaka, akan kujamin hidupnya sampai mati!" teriak Deff Nasiri dengan mata tajam memandang ke arah para warga.


pria tegap itu melihat ke arah Jaka dan berdiri tepat di hadapannya lalu mengangkat wajah Jaka dengan sisi pedang yang tidak tajam.


"Aku beri kau kesempatan untuk hidup, Jaka! Namun sebagai gantinya, aku tidak ingin melihat wajah kau di desa ini lagi!" Deff Nasiri berkata kepada Jaka lalu mengayunkan pedangnya ke arah tali yang mengikat tubuh Jaka.


* Shrekk ....


Tali yang mengikat tubuh Jaka lepas, bersamaan dengan itu tubuh Jaka yang lemas pun ikut terjatuh. Jaka terjatuh ke tanah yang kotor dengan tubuh


yang lemah. Deff Nasiri menendang Jaka tepat di perutnya ketika tubuh Jaka berada di tanah sembari berkata,


"Pergi kau dari sini!" bentak Deff Nasiri sembari menendang perut Jaka secara terus menerus.


Walau telah ditendang sebanyak berapapun kalipun, tetap, Jaka tidak bisa bergerak karena tubuhnya sangat lemah. Karena kasihan dengan keadaan Jaka, Daya bergerak dari tempat berdirinya menuju arah tubuh Jaka yang tergeletak lemas. Daya menghentikan tendangan Deff Nasiri dengan kakinya lalu berkata,


"Biar saya yang membantu Anda menjauhi pemuda ini, tuan," ucap Daya mengangkat tubuh Jaka berdiri dan membopong tubuhnya.


"Bawa pergi pemuda ini sebelum kubunuh kalian berdua!" bentak Deff Nasiri kepada Daya mengusir mereka berdua.


Dari sela-sela teriakannya, Daya melihat sedikit senyuman yang mengiasi wajah pria tegap itu. Daya bingung dengan senyuman yang pria tegap itu lakukan, Daya pun pergi keluar dari Desa Oregon dengan membopong tubuh Jaka yang lemah.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2