Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 16: Pengetahuan dan Latihan (9/15).


__ADS_3

Seorang pria tua dengan kumis halus, wajah yang terlihat bijak, kulit berwarna kuning langsat, rambut pendek dengan sedikit poni di bagian depan dan tubuh yang berisi setinggi 165 cm terlihat sedang berjalan menyusuri lorong yang berdecit, dia adalah Tuan Abdi. Tuan Abdi berjalan untuk menemui anaknya yang marah perihal Daya yang diperlakukan dengan tidak pantas karena ayahnya tidak membantu Daya.


Tuan Abdi membuka pintu kamar Ben dan terlihatlah ia sedang duduk di kasur dengan satu kaki yang diangkat. Pandangan mata Ben tajam dan raut wajahnya terlihat marah.


*Kreeat ....


Suara pintu tua terdengar berdecit. Ben pun melihat ke sumber suara dan keberadaan ayahnya terlihat berdiri di depan pintu.


"Ben, kenapa kau membanting pintu? Kasihan Daya tarkaget mendengar nya," kata Tuan Abdi sembari mendekati Ben dan duduk di sampingnya.


"Kenapa ayah tidak membantu Daya? Tidak hanya Daya! Ayah tidak pernah membantu siapapun ketika dalam kesulitan! Aku merasa kesal karena memiliki hubungan dengan mu ayah!" gerutu Ben sambil memandang mata ayahnya tajam.


"Ben ..., manusia itu adalah makhluk yang pemalas, manusia adalah makhluk yang egois dan terkadang manusia akan menjerumuskan makhluk lain demi keinginannya. Aku tidak ingin sifat ini di miliki oleh orang-orang di sekeliling ku dan terlebih, aku tidak ingin melihat sifat ini ada pada keluargaku!


"Untuk menghindari itu semua, manusia harus merasakan pahitnya dunia, manusia harus merasakan buruknya berada di bawah dan manusia harus berusaha sendiri untuk menggapai impiannya!"


"Tapi Daya masih kecil ayah ..." sanggah Ben dengan raut wajah yang sedikit kesal.


"Ben ..., setiap orang memiliki batas yang berbeda-beda dalam melakukan dan menerima segala hal. Aku yakin, Daya bisa melalui semua ini!


"Dan jangan pernah berucap kau kesal dengan sebuah hubungan, Ben! Itu bisa membuat orang yang mendengar sakit hati. Memang, dalam hubungan pasti akan merasakan sakitnya tusukan tombak. Tetapi jika kau memilih untuk tidak memiliki hubungan, kau akan mendapatkan rasa sakitnya orang yang tenggelam. Tenggelam dalam kesunyian dan kehampaan.


"Jangan khawatir dengan tusukan tombak, Ben! Dengan perhatian dan kepercayaan, kau akan menghentikan darah yang mengalir. Dengan kasih sayang dan cinta, kau akan mencuci luka yang terbuka. Lalu Dengan keterbukaan dan komunikasi, kau bisa menutup lukanya seperti sebuah perban yang bersih. Sedangkan jika kau tidak memiliki hubungan, sedikit demi sedikit kau akan tenggelam, lalu meninggal dalam kehampaan dan kesunyian!"


Mendengar ucapan ayahnya, setitik air jatuh dari kelopak matanya.


"Ahh ..., maafkan ucapanku ayah, aku menyesal," ucap Ben lembut dan memeluk ayahnya erat.


Mereka berpelukan sekitar beberapa menit hingga akhirnya mereka dikagetkan dengan suara langkah kaki yang berdecit di lorong.


"Siapa itu ayah?" tanya Ben dengan raut wajah bingung, karena jarang ada penghuni pondok yang keluar kamar jika waktu sudah menunjukkan di atas pukul sepuluh malam.


"Hmm ..., itu Daya," ucap Tuan Abdi sambil mendengus kan udara dari hidungnya pelan.


"Hah ...? Apa yang ia lakukan? Dia seharusnya beristirahat! Biar aku menyuruh ia tidur ayah,"


"Tidak perlu, biar aku saja yang keluar. Kau pergi lah tidur, sudah malam!" perintah Tuan Abdi.

__ADS_1


Ben pun tidur sedangkan Tuan Abdi keluar dari kamar melalui pintu dan menutupnya pelan. Saat Tuan Abdi mencari Daya, terlihat Daya sedang berdiri di pintu menikmati hembusan angin malam.


"Hei, Daya," tegur Tuan Abdi menyentuh pundaknya dari belakang.


Daya pun melihat ke belakang dan menyapa Tuan Abdi juga.


"Ah ... Maafkan aku Tuan Abdi, sepertinya decitan suara saya saat berjalan di lorong membangunkan anda, dan maaf atas diri saya yang meragukan anda. Namun, saya hanya manusia biasa yang lemah. Ucapkanlah apa yang harus saya lakukan jika itu demi kebaikan saya!" kata Daya menundukkan wajahnya.


"Angkat lah kepala mu Daya," -Daya mengangkat wajahnya- "Kau masih kecil Daya, wajar kalau kau sering melakukan kesalahan, wajar kalau kau tidak bisa melakukan sesuatu dan wajar kalau pemikiran kau masih dangkal.


"Kita bukanlah manusia hebat yang bisa melakukan apapun dalam sekali pandang, kita bukanlah manusia yang hidup dalam dongeng malam dan kita bukan pula manusia yang memiliki kekuatan terpendam!


"Kita hanya manusia biasa yang bisa menjadi hebat dan kuat hanya dengan melalui proses! Kita belajar untuk menjadi pintar, kita berlatih untuk menjadi kuat dan kita bertarung untuk melindungi sesuatu hal yang berharga! Jangan pernah berkata dirimu lemah Daya, teruslah berjuang dan berdo'a!" ucap Tuan Abdi dengan pandangan menatap mata Daya serius.


"Terima kasih atas ucapannya Tuan Abdi, saya akan berusaha!"


"Baiklah sekarang kau tidur sana cepat! Orang bodoh macam apa yang saat tulangnya patah malah berjalan keluar!" perintah Tuan Abdi sembari memukul kepala Daya pelan.


"Baik tuan," ucap Daya tersenyum.


Daya masuk ke dalam kamarnya dengan perlahan, Daya membuka pintu dan menutupnya. Naik ke atas kasurnya lalu tertidur. Suasana pondok sangat sepi, para penghuni pondok tertidur sunyi dengan perasaan yang berbeda-beda saat menjalani hari. Ada yang tertidur dengan nyaman, ada juga yang tertidur dengan luka di sekujur badan. Namun mereka semua memiliki satu tujuan, yaitu hari yang cerah di esok hari.


Daya membuka matanya dan bergegas untuk bangun, namun dia lupa kalau di sekujur badannya memiliki luka.


"Akh ... aku lupa kalau badanku masih sakit," ucap Daya dengan nada sedikit meringis.


Tidak lama setelah itu, terdengar Dewi mengetuk pintu sembari memanggil namanya.


*tok tok tok tok


"Daya ... apakah kamu sudah bangun?" tanya seseorang wanita yang ia yakini itu adalah Dewi.


"Sudah Dewi, jika ingin masuk silahkan,"


Dewi pun masuk ke dalam kamar Daya. Seperti biasa, Dewi terlihat mengenakan pakaian pelayan dan membawa makanan dengan troli nya. Dewi menyusun makanan di meja kecil yang telah disediakan.


"Terima kasih Dewi," ucap Daya ramah.

__ADS_1


"Tak apa, ini adalah tugasku. Hmm ... karena kamu masih belum bisa menggerakkan tangan kanan, aku akan menyuapi makanan untuk mu!" kata Dewi duduk di pinggir kasur Daya sembari menyiapkan makanan untuk Daya.


Daya mempunyai empat tulang yang patah. Di pergelangan tangan dan rusuknya. Sebanyak tiga tulang rusuk patah dan satu tulang patah di bagian tangan kanannya.


"Apakah menyuapi juga termasuk tugas mu?" tanya Daya dengan polos.


"Hehe ... sudahlah. Makan saja! Aaaa ..." ucap Dewi sambil menyuapi Daya.


Selama beberapa menit Dewi menyuapi Daya makan, Dewi pun melanjutkan tugasnya memberikan makanan ke penghuni pondok yang lainnya. Setelah Dewi meninggalkan Daya, Tuan Abdi masuk ke dalam kamarnya.


"Hei bocah, bagaimana keadaan mu?" tanya Tuan Abdi.


"Yaa ... begitulah tuan, Dewi menyuapi ku makan. Sepertinya dia sangat baik kepada penghuni pondok,"


"Dasar bocah tidak peka ...."


"Eh, kenapa?"


"Lupakan saja perkataan ku tadi!"


"Baik tuan,"


"Soal kelompok Jaka, aku berniat untuk mengeluarkan mereka dari pondok ku. Bagaimana menurutmu Daya?


"Itu semua kembali pada Tuan Abdi, tapi kalau aku diizinkan untuk memberikan usul, maafkanlah mereka Tuan Abdi. Berilah mereka kesempatan sekali lagi!"


"Hei bocah, aku tidak memiliki masalah dengan mereka. Tapi mereka lah yang mempunyai masalah dengan mu. Kalau kau memaafkan mereka, apa mau dibilang. Kau terlalu lembek!"


"Terima kasih Tuan Abdi, ngomong-ngomong apakah ada yang bisa saya lakukan sembari menunggu proses penyembuhan saya?"


"Hmm ... ada satu hal yang bisa kau lakukan sembari tidur,"


"Hah ...? Apa itu tuan?"


"Mengendalikan energi dalam dirimu!"


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2