Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 57: Adi vs Monster Tagula (4/4).


__ADS_3

"Ehh ...!?" Melihat Adi mengeluarkan elemen airnya membuat Livia terbelalak kaget.


Mendengar Livia yang duduk di sampingnya terkaget setelah melihat Adi yang mengeluarkan elemen air, Daya yang penasaran langsung bertanya tentang kekuatan macam apa Adi gunakan.


"A-ada apa, Livia? Kenapa dengan elemen yang pria itu gunakan?" Daya bertanya dengan raut wajah penasaran. Daya sangat menantikan jawaban Livia, karena Daya mengira elemen air yang digunakan Adi adalah salah satu elemen tingkat tinggi.


"Sungguh pemborosan energi! Kenapa sih dia mengeluarkan air sebanyak itu tanpa bisa mengontrol elemen yang digunakannya!" Livia mendengus kesal melihat apa yang dilakukan Adi.


"Huh ...?" Mendengar jawaban Livia, Daya semakin bingung dibuatnya. Daya mengira bahwa air yang dikeluarkan Adi adalah elemen tingkat tinggi, namun setelah mendengar jawaban Livia, kini Daya berpikir sebaliknya.


"Daya tahu? Dalam mengeluarkan elemen itu memerlukan energi, semakin banyak atau besar elemen yang ingin Daya gunakan, maka semakin besar juga energi yang harus disiapkan. Namun dalam kasus pria itu, ia hanya mengeluarkan elemen yang besar tanpa mampu mengontrolnya!


"Livia sangat yakin dengan elemen tanpa kontrol seperti itu, ia bahkan tidak bisa memotong batang pohon pisang!" Livia terlihat kesal melihat cara Adi mengeluarkan elemennya.


"Jadi ibaratnya pria itu hanya membasahi monster Tagula dengan air tanpa bisa melukainya?" Daya mencoba menerka dengan nada kurang yakin.


"Iyah ... seperti itu, Daya!" Livia membenarkan ucapan Daya lalu kembali memperhatikan arena pertandingan dengan wajah cemberut. Livia masih kesal dengan cara pengontrolan Adi.


"Elemen itu dapat digunakan oleh suatu ras dengan beberapa tujuan. Seperti melindungi dirinya sendiri dari serangan ataupun menunjang kegiatan ekonomi. Kita bisa menggunakan air untuk memotong benda setajam baja, namun kita juga bisa menggunakan air untuk melepas dahaga. Semua itu tergantung dari bagaimana si pengguna mengontrol elemennya.


"Bahkan ada satu kasus di mana si pengguna melukai dirinya sendiri karena tidak dapat mengendalikan elemen yang di digunakannya!" timpal Maya tanpa memalingkan pandangannya dari arah arena pertandingan.


"Ohh ... oke." Daya manggut-manggut mulai mengerti pentingnya pengontrolan dalam menggunakan elemen.


***

__ADS_1


*Cplass ....


Air dengan volume besar itu telah membasahi sekujur tubuh monster Tagula, tanpa di duga air itu juga yang telah mencabut panah dari kepala monster Tagula dan membilas luka yang berada di atas kepalanya. Bukannya melukai tubuh monster Tagula, serangan air yang Adi berikan malah membuat luka yang berada pada tubuh monster Tagula sembuh seketika.


Adi telah merasakan perasaan tidak nyaman dan sesak yang seakan mencengkram dadanya kuat setelah mengetahui fakta bahwa serangannya telah menyembuhkan luka-luka yang berada pada monster Tagula.


Bersamaan dengan adanya perasaan tidak nyaman, Abi terlihat tengah bersiap untuk melompat bertujuan untuk menambah luka yang diderita monster Tagula dengan menyerangnya tepat di mana panah Haira berada. Tubuh Adi bergetar, keringat membasahi tubuhnya dan sekelebat bayangan kematian Adi rasakan setelah melihat temannya Abi telah melompat.


"Tidak ... jangan menyerang monster itu, Abi!" Adi berteriak dengan suara sangat lantang, namun semua sudah terlambat. Abi telah melompat dan menyiapkan dirinya menyerang monster Tagula dari atas udara.


Abi memfokuskan pandangnya ke arah kepala monster Tagula, namun secara tiba-tiba mata merah monster itu bergerak memperhatikan Abi yang tengah bersiap menyerang kepala si monster dari atas udara.


Melihat mata monster Tagula membuat tubuh Abi kaku, Abi tak mampu menggerakkan tubuhnya sendiri. Tubuhnya seakan beku, tangannya tak bisa digerakkan dan seluruh anggota badannya terasa seakan terbelenggu. Abi merasa bahwa ia telah melawan monster yang sangat berbeda.


*Sraakk Duagg ....


Semua penonton terbelalak kaget, Raja Zake mengernyitkan dahinya, pendekar dengan Tier Calestial Dragon tersenyum sinis, dan keempat teman Abi berteriak histeris setelah melihat di depan matanya sendiri, salah satu kaki Abi terpotong dan tubuhnya tercampak hinga membentur dinding arena pertandingan.


Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, hanya darah yang bersimbah dan kaki yang terlepas dari badan, serta tubuh Abi yang tersender di dinding arena dengan kaki telah terputus yang bisa mereka lihat.


"Kyaaaaa ...!"


Ratusan pasang mata berteriak histeris mengetahui bahwa monster itu telah membunuh salah satu calon pendekar dengan gerakan yang bahkan tidak bisa mereka lihat. Adi yang melihat temannya sudah tersender di dinding tidak lagi memperdulikan keadaan sekitarnya, ia berlari sekuat tenaga mendekati temannya dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Tidak! Tidak! Tidak! A-abi!" teriaknya dengan langkah yang bergetar.

__ADS_1


Monster Tagula tentunya tidak hanya tinggal diam, seperti gerakan cahaya, monster Tagula mengangkat tangannya dan berkeinginan untuk memengal kepala Adi yang tengah berlari membelakangi tubuh sang monster.


*Sraakk Duaggg ....


Bersamaan dengan serangan yang monster itu lakukan, debu beterbangan memenuhi arena pertandingan. Suara seperti sebuah besi yang saling bertubrukan itu terdengar begitu kuat dan lantang. Para penonton yang melihat jalannya pertandingan ini merasakan getaran pada tubuh dan denyut jantung yang berdetak kencang. Beberapa penonton bahkan terlihat mengigit kuku dan menutup kedua bola matanya karena tidak tega dan tidak sanggup melihat kelanjutan dari jalannya pertandingan ini.


Sedikit demi sedikit debu yang beterbangan itu kian memudar, terlihat sesosok pria tengah menahan serangan milik monster Tagula. Jantung para penonton berdetak semakin kuat dan kuat, mereka saling berpandang menerka siapa orang yang telah berhasil menghentikan serangan dengan kecepatan seperti cahaya itu.


*Deg Deg Deg Deg Deg Deg ....


Sebagian penonton menduga bahwa sesosok itu adalah juru pisah yang akan menghentikan jalannya pertandingan, namun ada juga sebagian penonton yang beranggapan bahwa itu adalah Adi. Saat ini Adi berada dalam emosi yang tidak stabil, mereka beranggapan bahwa sesosok itu adalah Adi karena para penonton teringat tentang orang yang sangat lemah, namun karena melihat temanya dibunuh di depan mata sendiri membuat pria lemah itu berubah menjadi pribadi yang sangat kuat. Namun dari semua terkaan itu, hanya waktu yang dapat menjawab.


Setelah beberapa detik telah berlalu, hilanglah semua debu itu, ternyata yang menghentikan serangan monster Tagula adalah Evan, si juru pisah. Juru pisah itu terlihat dengan mudahnya menahan serangan monster Tagula menggunakan sebuah besi dan batangan berwarna merah.


Monster Tagula terlihat masih berusaha membelah besi merah milik Evan menggunakan kaki depannya yang tajam, namun sekuat apapun monster itu mencoba, monster Tagula tidak mampu memotong besi milik sang juru pisah, bahkan untuk menggoresnya pun sang monster tak kuasa.


Adi tersungkur dengan wajah yang sangat ketakutan melihat dengan tatapan sayu ke arah juru pisah. Evan membalikkan pandangannya ke arah Adi dan berkata,


"Pergilah, selamatkan temanmu itu! Sebelum terlambat!"


Adi mengangguk, mencoba untuk bangkit dan berlari dengan satu kaki terpincang-pincang mendekati Abi yang tengah tersender di dinding arena pertandingan. Cahya dan Disa membantu langkah kaki Adi mendekati Abi. Pintu yang menjadi penghubung antara bangku penonton, arena pertandingan dan pintu keluar itu telah terbuka, lewat pintu itu juga beberapa orang berbaju putih datang dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa Abi, mereka adalah tabib terpercaya Kerajaan.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2