
Daya dan Maya telah kembali pada posisi awalnya, mata mereka saling berpandangan tajam menyiapkan diri dengan apa yang akan mereka hadapi. Saat ini tombak milik Daya telah lepas dari genggamannya. Daya mengepalkan kedua tangannya kuat bersiap dengan serangan yang akan Maya luncurkan, sedangkan Maya tengah meletakkan anak panahnya di atas busur bersiap menyerang Daya. Di sisi lain Jaka masih tertawa terbahak-bahak teringat kejadian memalukan yang Daya lakukan.
Merasa terganggu dengan suara tertawa Jaka, Maya berteriak padanya, "Kau bisa diam tidak!?" Mendengar teriakan Maya, Jaka hanya mengangkat tangannya menahan tawa di mulutnya.
Susana kembali tenang setelah Jaka menghentikan tawanya. Hembusan angin yang pelan namun pasti bergerak menerpa dedaunan pada pokok pepohonan. Embun sedikit demi sedikit mengalir lalu jatuh ke atas tanah.
Tess.
Suara embun yang jatuh menimpa tanah terdengar pelan. Bersamaan dengan itu Maya langsung menarik dan melepaskan tiga anak panah dari busurnya. Daya memfokuskan pandangannya ke arah tiga anak panah yang Maya lesatkan lalu menghindarinya dengan mudah. Anak panah pertama dihindari dengan bergerak ke arah kanan, anak panah kedua dihindari dengan bergerak ke kiri dan yang terakhir dihindari dengan cara membalikkan badannya.
Ketika Daya menghindari panah ketiga, lebih tepatnya saat posisi Daya membelakangi Maya, Maya langsung bergerak cepat maju ke hadapan Daya. Ketika mengetahui Maya telah berada di hadapannya, Daya kaget kemudian kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Maya berdiri dengan tegap di atas Daya sembari mengarahkan anak panahnya tepat ke kepala Daya.
Dengan nafas yang memburu kecapaian akibat bergerak menghindari serangan Maya, Daya bertanya, "Bagaimana mungkin kamu bergerak begitu cepat, Maya?" Daya bertanya saat posisinya masih berada di atas tanah dan Maya masih mengarahkan busurnya tepat ke kepala Daya.
"Kau tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang kau punya barang sedikit pun, Daya. Jika kau punya waktu untuk bergerak, maka bergeraklah! Gunakan semua kekuatan dan kecepatan yang kau punya! Kau tak akan tahu apa yang terjadi dalam kurung waktu satu detik!" jawab Maya dengan pandangan tajam menatap mata Daya. Beberapa detik mereka berdua dalam posisi ini, kemudian Maya tersenyum dan mengulurkan tangannya membantu Daya untuk bangkit.
Daya dan Maya kembali berdiri tegap dengan jarak beberapa meter, setelah itu mereka menyiapkan kuda-kudanya dan menatap tajam satu sama lain. Daya terpikir tentang apa yang Maya katakan sebelumnya.
"Hmm ...? Tidak boleh menyia-nyiakan waktu? Bergerak jika bisa?" batin Daya berpikir tentang langkah apa yang harus ia lakukan.
Tidak seperti sebelumnya, kini giliran Daya yang bergerak meluncurkan serangan terlebih dahulu. Daya berlari dibantu oleh elemen anginnya, tubuhnya diselimuti oleh angin tipis berwarna putih. Daya bergerak dengan cepat menuju arah Maya, saat jarak Maya dan Daya hanya beberapa meter lagi, Daya mengepalkan tangannya hendak menyerang tulang rahang bawah Maya. Namun Maya dapat menangkis semua serangan yang Daya berikan.
__ADS_1
Serangan demi serangan Daya luncurkan, semua serangan yang Daya berikan tidak memberikan celah sedikitpun kepada Maya untuk memberikan serangan balasan. Namun tetap serangannya tidak dapat memberikan pukulan barang sekali pun kepada Maya.
Daya menutup serangannya dengan mengincar perut Maya, Maya dapat menangkis serangan Daya dengan menendangkan kakinya ke arah depan. Kaki Daya dan kaki Maya saling bertemu mengakibatkan tubuh mereka berdua tercampak tidak terlalu jauh. Daya dan Maya kemudian berdiri lalu membersihkan debu yang berada di badannya dengan nafas yang memburu cepat.
"Hahh ... hahh ... hahh. Sepertinya saya kurang kuat," ucap Daya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kenapa berkata seperti itu?" tanya Maya dengan nafas yang juga terengah-engah, namun tidak separah Daya.
"Saya tidak bisa melayangkan tinjuku walau hanya sekali," jawab Daya yang tengah menyeka keringatnya.
"Kalau begitu keluarkan seluruh kemampuanmu, Daya!" perintah Maya menatap mata Daya dengan tajam.
"Maksudmu?"
Mendengar ucapan Maya membuat Daya dilema. Daya sudah berjanji di dalam hatinya untuk menggunakan Energi Arbitrium hanya untuk keadaan mendesak. Menggunakan energi Arbitrium untuk berlatih hanya akan membuatnya cepat letih. Daya terlihat memandang ke berbagai arah, mulai dari tanah, dedaunan, dan ketiga temannya. Wajah Daya terlihat sangat bingung.
"Hoi! Kenapa malah bengong?" tanya Maya setelah melihat gelagat aneh yang Daya lakukan, teguran Maya membuat Daya tertegun dari lamunannya.
"A-ah, saya k-kurang suka menggunakan energi itu untuk melawan teman sendiri," ucap Daya terbata-bata.
Mendengar ucapan Daya membuat Maya tertawa dengan keras, "Hhahahaha, kukira ada suatu hal penting yang membuatmu tidak menggunakan energi Arbitrium, ternyata hanya itu?"
__ADS_1
"Kau penting bagiku, Maya!" teriak Daya menatap Mata Maya tajam. Teriakan Daya membuat Maya tak sanggup untuk berkata-kata. Kulit coklat Maya kembali memerah mendengar ucapan Daya.
Mengetahui ada yang aneh dari perkataanya, Daya langsung memperbaiki ucapannya dengan kata yang terbata-bata, "M-m-maksudku kalian s-semua penting, k-kok." Kulit Daya terlihat kemerahan ketika memperbaiki kata-katanya.
Jaka dan Livia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Daya, mereka tidak mengira Daya akan mengatakan hal itu. Di lain sisi Maya hanya cengegesan menahan tawa, kulit coklatnya terlihat sangat kemerahan. Beberapa menit mereka berada pada keadaan cangung, namun pada akhirnya mereka kembali pada keadaan semula.
"Daya tidak perlu takut akan melukai Maya, jika itu semua terjadi Livia akan menyembuhkan lukanya menggunakan elemen air," ucap Livia setengah berteriak dari kejauhan.
"T-t-tapi." Daya sepertinya belum yakin menggunakan energi itu kepada temannya.
"Tidak perlu khawatir, Daya. Dunia ini besar, ada kemungkinan di arena nanti aku akan melawan pengguna elemen Arbitrium juga. Jika itu semua terjadi aku sudah siap, karena aku pernah berlatih sebelumnya." Maya mencoba meyakinkan Daya untuk mengeluarkan energi Arbitriumnya.
"Baiklah, Maya."
Mereka berdua kembali pada posisinya, Maya dan Daya berjarak hanya beberapa meter. Daya terlihat tengah mempersiapkan energi Arbitriumnya, Daya menutup matanya terlihat fokus. Sedikit demi sedikit tubuh Daya mengeluarkan aura berwarna hitam. Saat tubuhnya telah siap, Daya langsung membuka matanya dan bergerak lurus maju ke depan. Pergerakan Daya lebih cepat dua kali lipat dari sebelumnya. Maya bahkan hampir tidak bisa melihat pergerakan Daya.
Saat Daya sudah dekat dengan Maya, Daya langsung mengerahkan tinjunya ke arah dagu Maya.
Duagg ...
Pukulan Daya kali ini berhasil mengenai dagunya, tidak berhenti sampai sana, saat tubuh Maya sedikit terangkat akibat pukulan Daya, Daya memutarkan badanya lalu menendang perut Maya. Tendangannya kembali berhasil mengenai perutnya, Maya tercampak beberapa meter dari Daya. Maya menunduk menggunakan kaki dan tangannya untuk menghentikan campakan akibat tendangan Daya, Maya kemudian berdiri dengan tegap seolah tidak terjadi apun padanya.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.