
Arena pertandingan telah bersih seluruhnya, para calon pendekar tengah menyiapkan diri untuk pertandingan yang akan datang. Terlihat Evan sang juru pisah tengah melangkahkan kakinya menuju arena pertandingan. Ia berdiri tegap di tengah-tengah arena memandang seluruh penonton.
"Baiklah, karena arena telah dibersihkan, pertandingan akan kita mulai kembali. Kali ini calon pendekar yang akan melakukan pertandingan adalah Sigit Cakrawangsa!" ucap Evan setelah beberapa menit memandang ke arah para penonton.
Para penonton yang mendengar nama Sigit langsung bersorak meriah, tepukan tangan menggema ke seluruh arena pertandingan. Terlihat seorang pria muda dengan baju berwarna hitam tanpa lengan bergambar tengkorak dan bercelana hitam pendek tengah berjalan menuju arena pertandingan. Tepukan tangan dan sorakan meriah mengiringi langkah Sigit menuruni tangga menuju arena.
Setelah berada tepat di tengah arena, Sigit tidak melakukan apapun kecuali menatap tajam mata Raja George. Ia tetap memberikan tatapan tajam itu walaupun telah di tegur oleh Evan sang juru pisah. Merasa semua persiapan sudah siap, pintu besi besar yang mengurung monster di dalamnya kembali dibuka. Decitan kuat kembali terdengar dan para penonton menutup telinganya.
Sedikit demi sedikit monster yang mengisi tempat yang telah terbuka itu terlihat. Monster itu melompat dan mengeluarkan suara yang sangat kuat, sampai-sampai debu di sekitarnya ikut bergerak akibat gema yang dihasilkannya.
"Wrebekk, wrebekk, wrebekk." Suara yang dihasilkan monster itu begitu kuat, beberapa orang merinding dibuat.
Monster itu melompat dengan lompatan yang tinggi berdiri tepat di hadapan Sigit. Terlihat tubuh monster itu lebih tinggi dari tubuh Sigit. Kulitnya berwarna terang campuran antara biru, kuning dan merah. Beberapa penonton yang melihat monster itu terkaget.
"B-bukankah monster itu terlihat seperti katak panah emas beracun?" ucap salah satu penonton terkaget melihat penampakan monster itu.
"Kau benar, aku tidak bisa membayangkan betapa berbahayanya hewan itu jika sudah menjadi monster! Bahkan sebelum menjadi monster pun hewan itu sudah sangat berbahaya!"
"Hal yang menakutkan dari monster itu adalah racun yang berada di permukaan kulitnya. Jika saja calon pendekar bernama Sigit itu menyentuhnya, maka berakhirlah sudah! Aku yakin racun yang ada pada hewan itu sudah semakin mematikan semenjak berubah menjadi monster."
"Aku harap calon Sigit dapat mengalahkan monster itu!"
***
"Berisik sekali mereka ini!" gumam sigit sembari mengorek telinganya menggunakan jari kelingking.
Tanpa menunggu waktu lama, monster itu langsung melancarkan serangannya ke arah Sigit. Monster katak berniat memukul wajah Sigit menggunakan telapak tangannya yang beracun.
"Aku tidak ada urusan dengan kau, monster sialan!" dengus Sigit melompat ke atas kepala monster katak lalu mengeluarkan elemennya.
__ADS_1
"Elemen Petir: Sambaran petir!"
Jdeerrrr
Dalam satu kali serangan, monster katak itu berhasil dilumpuhkan. Kepala monster itu bolong dan keluar asap yang mengepul banyak. Para penonton tak dapat berkata apa-apa, mereka hanya bisa membuka mulutnya lebar menganga tercengang.
"T-t-tidak mungkin!? E-elemen itu!?"
"I-ini pasti mimpi, tolong pukul kepalaku!"
"D-dari mana dia mempelajari elemen itu!" Para penonton sangat kaget melihat elemen yang dimiliki oleh Sigit.
Livia yang bingung langsung bertanya kepada Daya dan Maya, "Ada apa dengan elemen petir itu?"
"Setiap ras memiliki elemen dasarnya masing-masing, Livia! Manusia mampu mengeluarkan elemen api, tanah, air, dan udara. Namun untuk elemen petir, itu bukan milik manusia!" jawab Maya menatap mata Livia tajam.
"Lantas milik siapa?" timpal Livia yang masih penasaran.
***
Selepas menumbangkan monster katak dengan satu kali serangan, Sigit kembali menatap mata Raja George dengan tajam. Setelah beberapa menit menatap, Sigit mulai berkata dengan ucapan yang terkesan tidak sopan dan nada yang tinggi.
"KENAPA RAJA!? KENAPA!? KENAPA KAU PERMAINKAN TRADISI SEDA! KAU TAK PANTAS MENJADI RAJA KERAJAAN NAGA HIJAU! KAU PENGECUT, KAU TERLALU LEMBEK DAN KAU TIDAK MEMILIKI KETEGASAN DALAM MEMIMPIN!!"
Mendengar ucapan yang tidak sopan dari Sigit, pendekar dengan Tier Celestial Dragon itu terlihat marah dan berniat menghampiri lalu menamparnya. Namun pendekar itu ditahan oleh Raja George.
"Apa arti tradisi Seda sudah kau lupakan, wahai Raja!? Kenapa kau lakukan ini!? Tradisi Seda erat dengan kesulitannya, tradisi Seda erat dengan kegelapan dan erat dengan pengorbanannya! Jika hanya seperti ini, lebih bagus kau tidak menggunakan nama tradisi Seda dalam ujian ini!
"Kau tidak akan mendapatkan apapun dari ujian ini! Kau tidak akan mendapatkan pendekar yang lebih hebat dari ujian ini! Kenapa kau begitu bodoh, Yang Mulia Raja!" teriak Sigit sembari menatap mata Raja George dengan tajam.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sigit yang sudah melampaui batas, Evan menampakkan dirinya lalu berniat menyerang Sigit. Namun dirinya tertahan seketika mendengar ucapan Raja George.
"Evannn! Dia adalah rakyatku! Apa yang ingin kau lakukan!?"
"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi dia sudah keterlaluan, dia menjelekkan Anda, dia menginjak harkat dan martabat pada diri Anda! Dalam menjadi rakyat pun memiliki batas! Dia sombong, dia bodoh, dan dia meremehkan Anda, Yang Mulia. Izinkan hamba mengajarinya arti dari sebuah kesakitan dan arti dari sebuah keputusasaan!" dengus Evan dengan nada yang berapi-api.
"Kuperintahkan kau untuk tidak macam-macam, Evan! Calon pendekar itu pasti memiliki alasan, biarkan ia menjelaskan alasannya!"
"Maafkan hamba, Yang Mulia."
Raja menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap wajah Sigit kemudian berkata, "Apa yang ingin kau katakan, anak muda?"
Sigit tidak berkata apapun, hanya wajah yang tampak memerah menahan amarah yang bisa ia perlihatkan. Sigit memalingkan pandangannya, sekarang ia melihat ke arah para penonton yang tengah tegang dengan apa yang ia lakukan.
"Kalian pasti bingung dengan apa yang terjadi, bukan!? Tentang kenapa monster begitu lemah, kenapa sekujur tubuh monster terdapat luka dan kenapa seseorang dapat mengalahkannya walau hanya dengan satu kali pukulan biasa!?
"Apakah kalian pernah melihat pergerakan monster Tagula di alam bebas sebelumnya? Pergerakannya begitu cepat, mata yang tidak terlatih tak akan pernah bisa melihat pergerakannya! Namun yang kalian lihat di sini hanyalah pembodohan dan kebodohan Raja!
"Namun ada yang lebih bodoh! Yaitu bocah yang tak sanggup mengontrol energi airnya sehingga menyembuhkan luka yang berada pada diri monster Tagula. Itulah kecepatan monster Tagula yang sesungguhnya, tak bisa dilihat dan sangat cepat!
"Apakah kalian pernah melawan monster Lanhak di alam bebas sebelumnya? Monster Lanhak begitu kuat, duri-durinya sangat banyak dan selalu melemparkan durinya jika kita berada di jarak yang jauh! Namun di sini, monster itu hanya bisa melompat ke sana dan ke sini dan melemparkan durinya ketika akan mati!
"Kau mempermainkan arti trasisi Seda, wahai Raja! Aku tak habis pikir kenapa kau melakukan ini! Kau memberikan monster yang masih terluka akibat melawan si juru pisah! Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain pendekar yang lemah dan beranggapan bahwa melawan monster itu perkara yang mudah!" Sigit begitu marah, kata-katanya terkesan sangat tidak sopan dan berapi-api. Setelah melepaskan semua unek-uneknya, Sigit terlihat kelelahan dan kehabisan nafas.
Sesudah mendengar semua ucapan Sigit, Raja berdiri dan menatap mata Sigit dengan tajam. Para penonton tegang dibuatnya, mereka tidak bisa membayangkan hukuman macam apa yang akan menimpa Sigit akibat ucapannya yang tidak sopan kepada seorang Raja.
Deg deg deg deg deg
Suara detak jantung penonton terdengar begitu kuat saat melihat Raja bangkit dari kursinya dengan tatapan tajam memandang ke arah Sigit.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.