
Suara jantung para penonton terdengar begitu kuat saat melihat Raja bangkit dari kursinya dengan tatapan tajam memandang ke arah Sigit.
"Kerajaan ini negara yang keras, namun butuh jiwa yang lebih kuat untuk bisa menaklukannya. Faktanya kau bisa sampai sejauh ini, kau bisa berdiri di arena pertandingan ini, kau menatapku dengan tatapan tajam, dan kau beranggapan buruk padaku. Itu menandakan kau memiliki jiwa seorang pejuang di dalam dirimu. Berjuang menegakkan idiologi yang kau anggap benar.
"Namun jangan sampai pikiranmu membuyarkan kerja keras yang telah kau lakukan selama ini! Saya adalah Raja, bukan seorang Ketua! Saya seorang pesuruh, bukan seorang pekerja! Saya memerintah, dan bukan melatih! Saya mampu melakukan apapun yang saya mau, namun saya tidak ingin melakukan apa yang saya mau! Saya ingin melakukan apa yang dibutuhkan oleh rakyatku!
"Jika kau mengira apa yang saya lakukan tidak memiliki maksud, maka kau salah besar, anak muda! Menggunakan keberanian melawan pemerintah itu sulit dilakukan, namun itu yang menjadikan kita manusia. Tapi keberanian saja tidak cukup!" Raja terlihat menghentikan ucapannya, mengontrol nafas kemudian kembali duduk di atas kursinya. Raja memandang pendekar dengan Tier Celestial Dragon, kemudian pendekar itu mengangguk dan memandang wajah Sigit.
"Dengarkan aku, wahai bocah!" dengus pendekar dengan Tier Celestial Dragon itu.
"Sungguh kau tidak akan mampu menahan beban yang ada pada diri Raja. Kau boleh menyanggah kata-katanya, kau boleh tidak setuju dengan rencananya, dan kau boleh tidak suka pada ucapannya. Namun sampaikan ketidak-sukaanmu dengan cara yang baik!
"Akan kujelaskan padamu secara singkat, agar kau dan orang-orang yang pendek akalnya dapat menyerap! Tradisi Seda pada waktu dahulu adalah neraka, hanya sedikit orang yang berhasil menjadi pendekar lewat tradisi itu! Saat tradisi Seda diberlakukan, banyak orang yang harus kehilangan nyawanya, kehilangan adik, abang, anak, bahkan ayah dan ibu!
"Aku adalah salah satu dari beberapa orang yang berhasil melewati tradisi Seda, dan ini ...!" ucap pendekar terkuat itu sembari menunjuk bekas luka di matanya. "Ini adalah luka yang dihasilkan oleh tradisi Seda!
"Saat Raja George berusia lima belas tahun, ia menentang tradisi ini karena terlalu sulit sehingga menimbulkan ratusan bahkan ribuan korban jiwa. Raja George langsung menyampaikan ketidaksukaannya terhadap tradisi Seda kepada Raja terdahulu, namun karena dianggap melawan pemerintahan, Raja George di masa muda dimasukkan ke dalam penjara.
"Beberapa tahun telah berlalu, kini ia telah menjadi Raja. Raja George sekarang memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu yang telah ada. Maka jadilah tradisi Seda yang sekarang.
Raja ingin mencari calon pendekar dengan tier Primis, bukan Octo! Raja ingin mencari calon pendekar yang dapat berkembang di kemudian hari menjadi lebih kuat, bukan orang yang sudah terlahir menjadi hebat! Aku harap kau paham, bocah!"
Sigit menundukkan pandangannya sembari mengepalkan tangannya. Setelah beberapa detik ia berdiam, akhirnya ia mengakui kesalahannya. Sigit membungkukkan pandangannya ke arah Raja menghormatinya.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku hanya bingung dengan semua ini, aku telah diceritakan kedahsyatan tradisi Seda dari mendiang kakekku. Namun setelah mendengar penjelasan Anda dan pendekar dengan tier tertinggi, aku memahami mengapa Anda melakukan ini. Aku rela Anda hukum, Yang Mulia," ucap Sigit meringis setelah mengetahui yang terjadi.
"Angkat kepalamu, anak muda!" perintah Raja George. Setelah Sigit mengangkat kepalanya, Raja kembali berkata, "Kau masih muda dan pikiranmu masih sempit. Aku terima permohonan maaf-mu, namun kau tetap akan dihukum! Sekarang kembali ke bangkumu!"
"Baik, Yang Mulia." Sigit tersenyum lalu langsung pergi menuju tempat duduknya.
__ADS_1
Mengetahui ketegangan antara Raja dan Sigit telah berakhir, semua penonton berteriak meriah. Tepukan tangan kembali terdengar menghiasi kemenangan Sigit. Bersitegang telah dilalui, para penonton tetap semangat menunggu kelanjutan pertandingan ini.
Beberapa nama calon pendekar terus menerus dipanggil, mulai dari yang muda hingga ke orang tua, dan mulai dari yang kuat hingga yang lemah. Hari sudah semakin malam, ujian tahap pertama telah selesai. Dari lima puluh orang calon pendekar yang mengikuti ujian tahap pertama, kini hanya tersisa dua puluh tiga orang yang telah menyelesaikannya, termasuk Daya, Maya dan Livia.
***
Selepas berbicara selama beberapa menit dengan Raja George, Evan kembali pada posisi awalnya pergi ke tengah arena. Setelah berdiri tegap, ia mulai berbicara dengan suara yang lantang.
"Selamat bagi para calon pendekar yang telah berhasil melewati ujian tahap pertama, dan untuk yang tidak berhasil jangan patah semangat! Sesungguhnya keberuntungan menyertai mereka yang berusaha!
"Ujian tahap pertama telah selesai, kini tiba saatnya ujian tahap kedua yang akan kalian hadapi. Kalian akan berhadapan satu lawan satu dengan orang yang juga telah lulus dari
ujian tahap pertama. Tidak ada kekalahan pada ujian kedua, hanya ada orang yang mendapatkan poin dan yang tidak.
"Jika kalian dapat mengalahkan satu orang, maka kalian akan mendapatkan satu buah poin. Pertandingan akan dilakukan dengan cara acak, kalian tak akan pernah tahu siapa lawan yang akan kalian hadapi. Bisa dari kelompok lain, bahkan bisa dari kelompok kalian sendiri!"
Mendengar penjelasan Evan, semua calon pendekar terkaget dibuatnya.
"Jika nama kalian tertera, maka iya! Kalian harus melawan teman sependekar kalian! Namun kemungkinannya itu terjadi sangatlah kecil, jadi jangan khawatir," jawab Evan dengan nada santai.
"Ujian tahap kedua akan dilaksanakan satu minggu lagi, saya harap kalian dapat menggunakan waktu satu minggu itu untuk memperdalam kekuatan kalian! Baiklah, sampai jumpa pada ujian tahap kedua!" ucap Evan lalu melangkahkan kakinya pergi dari arena pertandingan.
Semua orang mulai bangkit dari tempat duduknya. Mulai dari penonton, calon pendekar hingga para keluarga kerajaan. Semua keluarga kerajaan berjalan begitu anggun, mereka
melangkahkan kakinya perlahan dikawal oleh pendekar dengan Tier Celestial Dragon.
***
Di lain sisi Daya, Maya dan Livia juga ikut berdiri keluar dari Stadion Perpend ini. Saat mereka telah berada di luar, mereka dikagetkan dengan suara Jaka yang tiba-tiba terdengar.
__ADS_1
"Hoi! Selamat atas kemenangannya, ya!"
"Ihhh ... bikin kaget aja Jaka ini!" gerutu Livia yang terkaget dengan kedatangan Jaka yang tiba-tiba.
"Khahaa .... Kalian ingin langsung ke penginapan?" tanya Jaka.
"Rencananya sih begitu," jawab Maya mempercepat langkahnya.
"Kenapa cepat-cepat? Kita harus merayakannya! Kita akan minum anggur sepuluh gelas!" Jaka terlihat begitu bersemangat.
"Maaf, Jaka. Saya tidak minum anggur. Lagi pula badanku sudah sangat lelah, saya ingin langsung tidur di penginapan," ucap Daya menolak ajakan Jaka..
"Tsk ... dasar, dengan meminum beberapa anggur lelah yang kalian rasakan akan hilang seketika!" Jaka tetap bersikeras menyuruh Daya, Maya dan Livia untuk pergi merayakan
kemenangan mereka. Namun Daya tetap menolaknya, begitu pula dengan Maya dan Livia.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
Author Note:
Q: Kenapa pertarungan kelompok Daya tidak ditunjukkan?
A: Ujian tahap pertama bertujuan untuk menunjukkan kekuatan karakter baru kepada para pembaca.
Q: Lantas kenapa tidak semua pertempuran diperlihatkan?
A: Biar suprise :)
__ADS_1
Untuk ujian tahap kedua semua karakter baru dan kekuatannya akan diperlihatkan. Jadi tetap dukung novel ini, yah.