Legenda Daya

Legenda Daya
Epa 18: Pengetahuan dan Latihan (11/15).


__ADS_3

Daya terlihat kesakitan dengan perban yang tampak robek. Di sekujur perban yang putih tersebut, terlihat bercak aneh bewarna hitam seperti habis terkena ledakan.


"Apa yang terjadi pada mu Daya?" tanya Tuan Abdi kaget melihat keadaan Daya lalu pergi menghampiri nya.


"Akh ..., t-tuan, sepertinya saya sudah kelewatan saat belajar energi ...," ucap Daya menahan sakit.


"Energi macam apa yang kau pelajarin ini, huh? Mana ada energi yang bisa melukai kau seperti ini!" kata Tuan Abdi sembari melihat luka yang Daya terima.


"S-saya mencoba untuk mengendalikan dan merasakan energi yang berada dalam diriku. Saat saya sudah terbiasa mengendalikannya, s-saya merasakan ada aliran energi yang bukan berasal dari dalam tubuhku. Karena saya pikir itu juga energi, saya pun mencoba untuk mengendalikannya.


"Awalnya berjalan dengan baik, namun tiba-tiba saya kehilangan fokus dan inilah yang terjadi," jelas Daya terbata-bata menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Dasar bodoh ..., itu bukan energi, pantas kau seperti ini! Pejamkan matamu cepat!" perintah Tuan Abdi.


Daya pun memejamkan matanya, saat Daya telah


memejamkan matanya, Tuan Abdi meletakkan tangan kanannya di atas kepala Daya. Rasa sakit yang Daya terima secara berangsur-angsur menghilang. Setelah Tuan Abdi merasa Daya sudah lebih baik, Tuan Abdi mengangkat tangan yang berada di atas kepala Daya. Daya membuka matanya dan kebingungan atas apa yang tejadi, Daya bertanya kepada Tuan Abdi,


"Hah ..., kenapa rasa sakitnya sudah hilang?" tanya Daya bingung.


"Apa yang tuan lakukan? Dan tuan bilang itu bukanlah energi, lantas apa itu tuan? Aliran itu terasa seperti energi juga!" timpal Daya bertanya kepada Tuan Abdi.


Tuan Abdi duduk di kursi dan menggelengkan kepalanya bingung, tentang kenapa Daya bisa merasakan energi yang berada di sekelilingnya.


"Ketika kau merasakan energi yang berada di sekelilingmu dan bukan berada di dalam dirimu, energi itu bernama Arbitrium. Arbitrium sangat bertolak belakang dengan energi biasa. Namun aku bingung, kenapa kau bisa merasakan keberadaan energi itu?" Tuan Abdi menjelaskan dan bingung dengan apa yang terjadi.


"Ketika tuan pergi meninggalkan saya sendiri, saya mencoba untuk merasakan keberadaan energi di dalam diri saya, semua hal telah saya lakukan, tetapi gagal. Hinga saat di mana saya membuka jendela dan membiarkan angin masuk ke dalam kamar, saya merasakan ada aliran energi yang mulai mengisi diri saya. Sayapun belajar untuk membedakan dan mengendalikan energi itu selama berjam-jam.


"Namun ketika saya merasa sudah terbiasa mengendalikannya, saya merasa aneh dengan energi yang saya rasa bukan berasal dari dalam diri saya. Karena saya pikir itu juga energi, saya mencoba untuk mengendalikannya. Tetapi untuk mengendalikannya sangat sulit dan berat, tidak seperti energi biasanya. Hingga saat saya kehilangan fokus dan energi yang sudah saya coba kendalikan meledak! Tolong beritahu saya tentang energi Arbitrium itu tuan!" jelas Daya dan meminta Tuan Abdi memberitahukan tentang Arbitrium.

__ADS_1


"Arbitrium merupakan medan energi yang berada di alam, Arbitrium ini sangat bertolak-belakang dengan energi biasa. Jika energi biasa itu terdapat dari dalam diri manusia, maka Arbitrium ini berasal dari alam di sekitar mu. Ketika kau bisa merasakan dan mengendalikan energi alam, maka kau akan menghasilkan aura di sekujur tubuhmu.


"Biasanya, berbeda orang maka berbeda juga warna Arbitrium nya. Aura di sekitar tubuhmu memiliki kelebihan dan juga memiliki kekurangan. Kelebihan Arbitrium adalah sebagai pelindung diri dari serangan luar, menyembuhkan luka luar, menguatkan pukulan, elemen dan senjata. Lalu untuk kelemahan dari Arbitrium adalah jika digunakan secara terus menerus maka energi itu dapat melukaimu dari dalam dan jika tubuh pengguna yang lemah menggunakan Arbitrium dengan skala besar, maka dapat dipastikan, tubuhnya akan hancur berkeping-keping karena tekanan yang dihasilkan oleh Arbitrium!" jelas Tuan Abdi dengan serius.


"Lantas apa perbedaan dasar ketika memakai kedua energi itu tuan?" tanya Daya penasaran.


"Ketika kau menggunakan energi, maka kau akan mengendalikan aliran energi dalam dirimu. Saat kau tidak bisa mengendalikannya, maka kau tidak akan bisa mengeluarkan elemen. Sedangkan, Arbitrium adalah energi alam yang kau kendalikan. Ketika kau gagal mengendalikan energi alam di sekitarmu, maka energi itu akan meledak. Itulah yang menyebabkan kau terluka. Saat ledakan Arbitrium kecil terjadi, semua aliran energi dalam dirimu akan terkuras habis karena ledakannya. Maka dari itu aku memberikan sedikit energiku padamu! Lain kali ketika kau ingin mengendalikan Arbitrium, berbicaralah padaku!" ucap Tuan Abdi.


Tuan Abdi pun membuka perban yang telah terkena


bercak hitam dan menggantinya dengan perban yang baru.


"Maafkan saya tuan, saya telah belajar di pondok ini dengan gratis, makan makanan lezat dengan gratis dan dapat bernaung di pondok yang nyaman ini dengan gratis juga. Sedangkan Tuan Abdi, Ben dan Dewi bekerja keras untuk bisa mendapatkan


itu semua, izinkan saya untuk membantu juga tuan, walau sedikit," pinta Daya dengan suara dan wajah yang sedih.


setelah beberapa waktu memikirkannya, akhirnya Tuan Abdi mengizinkan Daya untuk ikut bekerja.


"Baiklah jika itu mau mu, kau akan membantu kami dalam pekerjaan sehari hari. Membantu aku untuk mengurus berkas-berkas. Membantu Ben membersihkan pondok dan membantu Dewi pula untuk memasak makanan!" ucap Tuan Abdi.


Sedih dan perasaan tidak enak seakan menghilang secara tiba-tiba ketika Tuan Abdi mengizinkannya untuk bekerja di pondok.


"Terima kasih tuan, terima kasih. Saya akan bekerja sebaik yang saya bisa,"


"Hmm ..., untuk sekarang fokus saja dengan kesehatanmu!"


"Baik, Tuan. Terima kasih."


Tuan Abdi pun keluar dari kamar Daya dan pergi menjumpai Ben untuk mengurus berkas seperti biasa. Selama satu minggu Daya terbaring di atas kasurnya menunggu pemulihan dirinya. Namun selama satu minggu itu juga, Daya tidak hanya menghabiskan waktunya dengan tidur. Selama satu minggu Daya mempelajari dan mengontrol energi dan Arbitrium bersama Tuan Abdi. Setelah Daya merasa tubuhnya sudah lebih baik, Daya akhirnya keluar dan berdiri dari kasurnya. Daya membuka pintu dan berkeinginan untuk menjumpai Tuan Abdi. Seperti biasa, pada pagi hari Tuan Abdi dan Ben berada di ruangan keluar mengurus berkas-berkas.

__ADS_1


"Bagaimana Daya? Apakah kau sudah baikan?" tanya Ben mengkhawatirkan keadaan Daya.


"Aku sudah lebih baik Ben, ini semua berkat bantuan kalian! Saya harap bisa membalas kebaikan kalian secepatnya," tutur Daya dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Sudahlah, lebih bagus kalau kau membiasakan dirimu saja dahulu, setelah itu baru membantu kami!" perintah Tuan Abdi dengan tangan yang masih sibuk mengurus berkas-berkas.


"Saya selalu ingin tau tentang berkas yang Tuan Abdi dan Ben kerjakan selama ini, berkas apa itu tuan?"


"Hanya berkas pondok biasa. Seperti pemasukan dan pengeluaran yang harus diurus setiap hari," jelas Tuan Abdi.


"Ooo ...," sahut Daya dengan bibir maju kedapan membentuk huruf O.


"Ah ..., bagaimana tentang latihan saya dan murid lainnya tuan?" timpal Daya menanyakan tentang kelanjutan latihan selama ia sakit.


"Para muridku yang lain sudah berburu dan berlatih dengan caranya sendiri, bahkan mungkin ada yang sudah menjadi pendekar. Kau sudah jauh tertinggal, nanti siang kau akan latihan!"


"Hanya saya sendiri?"


"Iya ... kenapa, ada masalah?" tanya Tuan Abdi.


"Ah ... tidak ada tuan ...," jawab Daya sedikit takut.


"Aku harus bisa mengejar ketertinggalan ku," batin Daya dalam hati kecilnya.


Daya pun keluar untuk melihat keadaan sekitar, tampak langit yang semakin lama semakin cerah dan embun yang sudah keluar dari tempat keberadaannya. Daya pergi keluar pondok untuk sekedar berjalan-jalan. Di jalan setapak dari kejauhan tampak Dewi kesulitan membawa beberapa bahan makanan. Tanpa menunggu lama lagi, Daya langsung bergegas menghampiri Dewi dan membantunya.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2