Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 68: Latihan Bersama, Daya vs Maya (1/3).


__ADS_3

Di penginapan tepat di ruang tengah, Daya, Livia, dan Maya tengah beristirahat di atas kursi yang panjang. Mereka bertiga terlihat sangat kelelahan dan kecapaian. Nafas mereka memburu, keringat masih menetes dan energi mereka telah terkuras habis. Di lain sisi Jaka melihat mereka dengan tatapan kasihan dan senang pada waktu yang sama.


"Tsk ... masih melawan monster begitu saja kalian sudah kelelahan. Apa lagi kalau lawan monster di alam bebas nantinya!" ucap Jaka memancing emosi teman-temannya.


"Saya tidak tahu harus berkata apa. Seperti yang kita tahu sebelumnya, monster pada ujian tahap pertama itu tidak memperlihatkan seluruh kekuatannya karena dalam kondisi yang terluka. Namun sudah sangat sulit untuk mengalahkannya! Saya harap kita bisa melawan monster di habitat aslinya kelak." Daya terlihat sangat kecapaian, butuh


beberapa tarikan nafas untuk dapat menyelesaikan kata-katanya.


"Kalian akan terbiasa dengan semua ini, berlatih saja terus!" ucap Jaka dengan nada yang seakan mempermudah semuanya.


"Livia laper, nih. Kita makan, yuk!" pinta Livia sembari memegang perutnya yang kecil.


"Sudah kubilang, kita pergi ke tempat makan, memesan beberapa potong daging dan beberapa gelas anggur!" Seakan tidak menyerah, Jaka terus memaksa teman-temannya untuk meminum anggur.


Mendengar ucapan Jaka, Maya bangkit kemudian berbisik pelan kepada Jaka, "Jangan kau rusak kesucian mereka dengan minuman setan itu, Jaka!"


"Ayo Daya, Livia! Kita pergi memakan sesuatu," ucap Maya sembari mengulurkan tangannya. Daya dan Livia pun mengangguk kemudian mereka pergi meninggalkan Jaka seorang diri.


"Hah ...? Sejak kapan anggur adalah minuman setan? Anggur adalah minuman surga!" celoteh Jaka kemudian berlari mengajak Daya dan yang lain.


***


Matahari telah tenggelam sempurna, jam menunjukkan pukul 20:00. Daya, Livia, Jaka dan Maya telah memasuki sebuah tempat untuk mengisi perut mereka. Saat mereka masuk ke dalam tempat itu, sudah terlihat banyak orang yang tengah menyantap makanan beserta minuman mereka. Jaka, Livia, Daya dan Maya duduk di tempat yang kosong lalu meminta makanan dan minuman yang mereka inginkan.


"Bawakan kami empat potong daging terbaik yang kalian punya, tak lupa empat gelas anggur merah!" ucap Jaka dengan penuh semangat.


"Anggurnya satu saja!" potong Maya.


"Baik, silahkan ditunggu."


Setelah beberapa menit mereka menunggu, hidangan pun datang. Mereka menyantap makanan di hadapan mereka dengan lahap. Sembari makan, mereka membahas tentang rencana mereka untuk menjalani ujian tahap kedua.

__ADS_1


"Apa kalian mempunyai rencana untuk ujian tahap dua?" tanya Jaka sembari menyantap daging di tangannya dengan lahap.


"Memperkuat Arbitrium dan pengontrolan elemen!" jawab Daya dengan yakin.


"Membiasakan diri pada pertempuran," jawab Livia singkat setelah menelan daging di mulutnya dengan anggun.


"Menurut pengetahuan dasar yang kita dapat sebelumnya, aku sangat lemah dalam ketepatan. Kemungkinan aku akan belajar kembali cari memanah!" jawab Maya.


"Bagaimana kalau besok kita pergi latihan bersama? Kita akan simulasikan ujian tahap dua dengan melawan satu sama lain?" usul Jaka menghentikan aktivitasnya.


"Ide yang sangat bagus dari seorang Jaka," ucap Maya dengan nada yang mengejek.


"Huhh ...? Apa maksudmu berkata seperti itu, huh?"


"Baiklah, kita akan lakukan itu besok." Melihat Daya dan Jak akan berkelahi, Daya langsung memotong perkataan Jaka.


Setelah siap mengisi perut dan energi mereka, Daya beserta teman-temannya keluar dari tempat itu dan pergi menuju penginapan untuk menutup hari. Mereka berjalan dengan mata yang terasa sangat berat, saat telah sampai di kasur, mereka langsung tumbang terjatuh lalu tertidur.


Pagi hari telah tiba, setelah beberapa jam menyiapkan diri, Jaka, Livia, Daya dan Maya telah siap untuk memulai latihan bersama. Mereka berjalan pergi menuju lapangan yang luas, karena di penginapan tidak memiliki tempat yang pas untuk bertarung. Daya, Livia, Maya dan Jaka berdiri saling berpandangan mendiskusikan siapa yang akan jadi lawan siapa.


Maya dan Daya berdiri sejajar sejauh beberapa meter, Maya menyiapkan panahnya sedang Daya telah memegang tombaknya kuat. Pandangan mata mereka terlihat tajam bersiap akan serangan yang akan datang.


***


"Mulai!" pekik Jaka dari kejauhan.


Mendengar pekikan Jaka, Maya langsung melepaskan dua anak panah dari genggamannya, melompat ke kiri lalu kembali melepaskan dua anak panahnya.


Ctak ctak ... ctak ctak.


Total ada empat buah anak panah yang melesat cepat mengincar tubuh Daya. Dengan satu gerakan memutarkan tombaknya, Daya dapat mematahkan keempat anak panah yang Maya luncurkan dengan sangat mudah. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, saat Daya ingin memutarkan tombaknya hendak mematahkan keempat anak panahnya, Maya meletakkan busur panah miliknya di pundak lalu langsung berlari bergerak menuju arah Daya.

__ADS_1


Alhasil saat fokus Daya telah kembali pada Maya, Maya sudah berada tepat di hadapan Daya hendak menyerang tubuh Daya menggunakan kepalan tangannya.


"Hiyaat!" pekik Maya saat hampir menyerang tubuh Daya menggunakan kepalan tangannya.


Mengetahui Maya yang akan menyerangnya dari arah depan, Daya tak hanya tinggal diam. Daya mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghindari serangan Maya.


"Terpaksa saya harus menggunakan energi," batin Daya saat tahu jika hanya menggunakan kekuatan fisik saja tidak akan mampu untuk menghindar dari kecepatan serangan Maya.


Daya menghindari pukulan Maya dengan melompat ke arah belakang dibantu oleh elemen anginnya. Daya terlihat sangat fokus pada pertarungan yang ia sedang lakukan. Sembari


membersihkan debu yang melekat pada bajunya, Daya berkata kepada Maya dengan santai.


"Pukulan yang digabungkan dengan energi angin, yah? Menarik," ucap Daya sembari tersenyum.


"Haha ... tentunya kau harus bisa menerapkan seluruh kemampuan yang kau punya pada pertempuran yang sesungguhnya. Bukan begitu, Daya?"


"Hahaha, tentunya begitu," ucap Daya lalu berlari ke arah Maya sembari memegang tombaknya ke arah belakang.


Saat jarak Daya hampir dekat dengan Maya, Daya mengayunkan tombaknya ke arah depan hendak menyerang Maya. Maya menghindari serangan Daya dengan melompat ke arah belakang, mengambil busurnya lalu menyerangnya kembali. Daya kembali menghindari serangan Maya dengan memutarkan tombaknya. Lagi dan lagi saat Daya tengah memutarkan tombaknya, Maya kembali bergerak dengan cepat menuju arah Daya.


Daya yang mengetahui ia tidak dapat lagi menghindar lebih memilih menusukkan tombaknya ke arah depan menyerang Maya. Namun karena pergerakan Maya yang begitu cepat, ia dapat menghindari serangan Daya. Maya memegang batang tombak milik Daya dan menariknya kuat lalu melemparkannya menancap pada batang pohon.


Saat tubuh Maya masih dekat dengan tubuhnya, Daya mengepalkan tangan hendak menyerang jantung Maya dari dekat. Daya menggabungkan kekuatan fisik dengan elemen angin yang menghasilkan sebuah pukulan yang sangat cepat dan kuat. Mengetahui Daya akan menyerangnya, Maya dengan sigap menghindari serangan Daya dengan menggeserkan tubuhnya ke arah kiri.


Namun sayangnya pukulan Daya tetap mengenai sebagian dada Maya yang besar. Merasakan dadanya terkena pukulan, Maya melompat ke arah belakang sembari memegang dadanya menggunakan kedua tangannya. Wajah coklat Maya terlihat kemerahan menahan malu.


Mengetahui apa yang telah diperbuat, Daya melihat ke arah kepalan tangannya lalu dengan terbata-bata meminta maaf, "A-ah ... m-maaf, Maya. S-saya tidak sengaja."


"T-tidak apa, Daya. Hal itu s-sudah biasa dalam pertempuran, kok" jawab Maya dengan tangan yang masih memegang dadanya dengan wajah yang tersipu malu.


Melihat apa yang telah Daya perbuat, Livia hanya menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dengan wajah yang juga memerah. Sedangkan Jaka hanya tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya.

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2