
"Pertandingan selanjutnya akan segera dimulai! Kepada siapa yang saya panggil, harap ia dan teman sependekar nya memasuki arena pertandingan! Nama calon pendekar berikutnya yang akan bertarung adalah Laksana Da Mana!"
Tepuk tangan kembali terdengar riuh menghiasi Stadion Perpend, terlihat lima orang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju arena pertandingan. Terdapat tiga orang lelaki dan dua orang perempuan, mereka semua mengenakan pakaian panjang dan salah satu wanita menggunakan kacamata bulat besar.
Langkah kaki mereka diiringi oleh tepukan para penonton. Beberapa penonton ada yang terlihat bingung, karena tidak seperti sebelumnya, kelompok kali ini tidak terlihat membawa senjata apapun.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya sampailah kelima calon pendekar itu di arena pertandingan. Evan terlihat kembali menanyakan tentang keyakinan kelima calon pendekar itu, apakah mereka benar-benar ingin melanjutkan ujian ini atau tidak.
"Kalian masih bisa untuk mundur, pikirkanlah sebelum semua terlambat!" Sama seperti Raja, kelima calon pendekar itu tidak menanggapi peringatan Evan dengan serius. "Baiklah jika itu pilihan kalian!" timpal Evan.
Juru pisah itu berjalan menuju pinggir arena dan kembali menghilang, pada saat yang sama pintu besi besar itu kembali terbuka. Kali ini pintu yang terbuka adalah pintu nomor dua, pintu yang sama besarnya itu terlihat tertarik menggunakan besi besar.
Suara decitan pintu besi kembali terdengar, para penonton menutup telinganya menggunakan kedua tangan. Akhirnya pintu besi itu telah terbuka sempurna, sama seperti sebelumnya, pintu itu mengeluarkan debu yang mengepul terbawa angin.
Sudah beberapa menit mereka menunggu, namun monster dari balik pintu besi nomor dua tak kunjung menampakkan wujudnya. Kelima calon pendekar dan para penonton mulai kebingungan, monster seperti apa yang tidak keluar saat pintu besi telah terbuka.
Salah satu dari kelima calon pendekar yang berdiri di atas arena pertandingan melihat ke arah Raja dan pendekar terkuat di sampingnya. Calon pendekar yang berdiri di arena melihat pendekar terkuat itu menunjukkan gelagat yang aneh, ia menunjuk ke sebelah matanya yang buta menggunakan jari telunjuk lalu menajamkan pandangannya.
***
"Laksana, kenapa kau malah memperhatikan pendekar dengan Tier Celestial Dragon itu?" Kantata terlihat bingung, bukannya memfokuskan pandangan ke arah pintu besi yang telah terbuka, temannya malah melihat ke arah Celestial Dragon.
"Tidak ada, aku hanya merasa aneh, kenapa monster itu tak kunjung keluar," jawab Laksana memalingkan wajahnya ke arah Kantata. Laksana melihat ke arah pintu yang gelap itu lalu memandang wajah Cayapata. "Cayapata, gunakan elemen tanahmu dan serang dia dari jauh!"
"Baik, Laksana." Cayapata langsung memasang kuda-kudanya dan menghentakkan kakinya ke atas tanah. Bersamaan dengan itu keluar batu besar dan Cayapata menendangnya kuat.
Duag ....
__ADS_1
Suara tendangan Cayapata terdengar begitu kuat, beberapa penonton saling berpandang bingung. Kenapa Cayapata yang seorang perempuan itu dapat menendang batu besar hanya menggunakan telapak kakinya.
Benar saja, saat serangan Cayapata hampir memasuki pintu besi, serangannya berhasil dipatahkan oleh monster yang berada di dalam pintu yang telah terbuka itu.. Sedikit demi sedikit wujud monster itu terlihat, kelima calon pendekar dan para penonton berdecak kaget.
Monster itu sangatlah menyeramkan, tubuhnya dipenuhi oleh rambut berbentuk duri tajam, masing-masing duri itu terlihat ada cairan berwarna hijau. Siapapun yang melihatnya langsung meyakini bahwa cairan itu merupakan racun.
Tak luput gigi-giginya yang tajam tidak beraturan itu terlihat dapat merobek kulit mangsanya dengan mudah. Laksana dan teman-temannya terlihat bingung dengan penampakkan monster itu, pasalnya tubuh monster itu terlihat memiliki luka dan beberapa durinya pun telah patah.
Monster itu bernama Lanhak. Benar, monster kali ini terlihat begitu mirip dengan hewan yang bernama landak. Tubuh monster Lanhak begitu besar, hampir seukuran rumah penduduk.
***
"Psst ... menurut yang aku dengar, landak memiliki penghilatan yang buruk. Namun hebat dalam pendengaran dan penciuman." Wirya berbisik mendekati kuping Laksana.
"Hmm ... kita gunakan itu dalam menumbangkannya! Namun jangan terlalu dekat dengannya, aku sedikit was-was dengan duri-duri dan cairan berwarna hijau itu!"
Syuuut ....
Bersamaan dengan itu muncullah tekanan angin yang bergerak cepat ke arah monster Lanhak, monster itu hanya diam dan terlihat sesekali menggerakkan hidungnya. Namun saat serangan Wirya hampir mengenai tubuh monster Lanhak, monster itu dapat menghindar dengan mudah menggerakkan kakinya ke arah kanan.
Tanpa Wirya duga, bersamaan dengan menghindar, monster itu langsung melompat dan akan menerjang tubuh Wirya dengan duri-durinya yang tajam.
Beruntungnya Wirya dapat menghindari serangan monster itu dengan mengeluarkan angin dari kakinya. Tidak tinggal diam, Cayapata yang melihat monster Lanhak tengah berada di atas udara itu langsung mengeluarkan elemen tanahnya lagi.
Kali ini Cayapata menghentakkan kedua tangannya ke
atas lantai, bersamaan dengan itu muncullah tanah yang berderet menerjang tubuh monster Lanhak. Namun lagi-lagi dengan menggerakkan hidungnya, monster Lanhak dapat menghindari serangan Cayapata dengan memutarkan tubuh besarnya itu di udara.
__ADS_1
Tidak sampai situ, saat monster Lanhak hendak mendarat, Cayapata kembali mengeluarkan elemen tanah berbentuk duri tepat di mana monster Lanhak hendak mendarat. Namun lagi, lagi dan lagi setelah menggerakkan hidungnya, monster Lanhak kembali menghindari serangan Cayapata.
Cayapata terlihat kecapaian, ia juga hampir menghabiskan energinya tanpa bisa melukai tubuh monster Lanhak sedikit pun. Laksana menyuruh Cayapata menyimpan sisa energinya,
"Kalian lakukan pengait dan aku akan mengeluarkan elemenku!" ucap Laksana dengan nada yakin.
Kantata dan Wirya mulai berlari, disusul oleh Laksana, Cayapata dan Nala. Mereka terlihat sedang menyusun formasi melingkari tubuh monster Lanhak. Kantata dan Wirya melompat menggunakan elemen angin mendarat tepat di belakang tubuh monster Lanhak.
Monster Lanhak terlihat memalingkan tubuhnya menghadap Kantata dan Wirya yang telah berada tepat di belakang tubuh monster itu. Sedangkan Laksana, Cayapata dan Nala berada tepat di depan monster Lanhak. Beberapa detik setelah menginjakkan kakinya ke tempat yang tepat, Kantata dan Wirya meluruskan tangannya ke arah depan menghadap kepala monster Lanhak.
Para penonton dibuat penasaran dengan serangan seperti apa yang akan mereka lakukan.
"Sekarang!" teriak Laksana dengan lantang. Teriakan itu membuat monster Lanhak terlihat kebingungan, monster itu merasakan ada tiga orang di depannya dan ada dua orang di belakangnya.
Saat melihat monster Lanhak mulai kebingungan, Kantata dan Wirya menembakkan semacam jaring besi dari sela-sela baju panjang mereka. Para penonton terbelalak kaget, ternyata baju panjang itu menyimpan semacam senjata jaring yang terbuat dari besi.
Laksana, Cayapata dan Nala yang berada di depan menangkap ujung jaring besi itu menggunakan tangannya dan menariknya kuat. Benar saja, monster Lanhak terlihat telah terkurung dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.
Para penonton saling bersorak riang, mereka semua sangat bersemangat mengetahui Laksana dan teman-temannya telah berhasil menangkap monster Lanhak. Tentunya serangan mereka tak hanya sampai situ. Dari masing-masing ujung jaring yang mereka pegang, mereka semua mengeluarkan elemennya membalut jaring besi itu.
Laksana mengeluarkan api yang sangat besar, Kantata dan Wirya menguatkan api milik Laksana dengan elemen anginnya, sedangkan Cayapata menambah elemen tanah dan Nala mengeluarkan elemen airnya.
Kekuatan dari kelima calon pendekar itu bergabung membuat sebuah elemen baru, sebuah lahar panas terlihat membakar tubuh monster Lanhak. Gemuruh suara para penonton kembali terdengar, semua penonton sangat yakin bahwa elemen gabungan itu pasti telah menumbangkan monster Lanhak.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
__ADS_1