
Kembali ke cerita Daya dan Tuan Abdi. Pagi itu, Daya dan Tuan Abdi terlihat sedang membicarakan sesuatu hal. Daya duduk bersila di atas permukaan tanah dan Tuan Abdi duduk di atas batu yang besar. Tuan Abdi terlihat sangat serius menjelaskan dan Daya tampak antusias mendengarkan penjelasan Tuan Abdi.
"Apa yang kau rasakan setelah bangun dari tidur, Daya?" tanya Tuan Abdi duduk di atas batu menyilangkan tangannya bertanya kepada Daya.
"Hmm ... ngantuk, tuan," ucap Daya polos dengan tangan yang menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Bukan masalah kantuknya, hoi!"
"Eh ... kemarin saya bergadang mengendalikan Arbitrium. Ada saat di mana saya kehilangan fokus karena rasa kantuk yang luar biasa. Gara-gara itu
saya kehilangan fokus dan energi yang saya coba kontrol meledak. Ini semua gara-gara Anda, tuan. Anda tidak membiarkan saya tidur," gerutu Daya melipat bibirnya manyun.
"Bukan itu juga, maksudku bagaimana respon tubuhmu saat ini jika dibandingkan dengan kemarin saat mencoba mengendalikan energi Arbitrium!" Tuan Abdi menjelaskan maksud dan tujuannya menanyakan pertanyaan ini.
"Ohh ... saat ini saya merasa lebih mudah ketika mengendalikan Arbitrium, tuan. Dan juga tidak seperti sebelumnya yang mana jika saya terkena ledakan Arbitrium, saya langsung lemas. Kali ini saya merasa baik-baik saja walau telah terkena ledakan Arbitrium lebih dari sekali."
"Hmm ... bagus-bagus," ucap Tuan Abdi memuji kemajuan muridnya.
"Tapi terkadang saya merasa aneh, tuan. Saat saya merasakan hembusan angin malam, saya merasakan energi alam yang tenang, menyejukkan, indah dan baik. Tetapi ada kalanya saya juga merasakan energi yang sangat memilukan, terasa sakit, menyesakkan dan terkadang campuran kemarahan dan kesedihan." Daya menjelaskan kepada Tuan Abdi tentang keheranannya terhadap energi yang dirasakannya saat mengendalikan energi di malam itu.
"Hmm ... baiklah, aku akan menjelaskan lagi tentang pembagian energi yang kutahu. Jadi perhatikan apa yang kuucapkan, Jaka!" ucap Tuan Abdi serius dengan pandangan yang tajam.
"Baik, tuan."
"Seperti yang kau ketahui, energi itu terbagi menjadi dua golongan besar. Yaitu energi Dalam dan energi Arbitrium. Energi Dalam adalah energi yang berasal dari dalam dirimu, sedangkan energi Arbitrium adalah energi yang berada di alam.
"Masing-masing energi memiliki kelebihan serta kekurangan yang mengikutinya. Untuk energi Dalam, salah satu kelebihannya adalah gampang untuk di pelajari, sedangkan untuk kekurangannya itu berdampak pada orang yang menggunakannya!"
__ADS_1
"Maksud dari berdampak pada orang yang menggunakannya apa, tuan?" tanya Daya bingung menatap Tuan Abdi.
"Jika kau menggunakan energi Dalam dengan semena-mena, kau akan kehilangan pijakan untuk menjelajah dunia."
Daya terlihat semakin bingung dengan apa yang dijelaskan Tuan Abdi. Pandangannya mengarah ke atas langit-langit gua, wajahnya memancarkan kebingungan dan jari telunjuk menekan dagunya pelan.
"Tsk, kalau energi dalam kau habis, kau akan lemas, jika kau lemas, kau tidak bisa bergerak, dan jika kau tidak bisa bergerak, kau bakal mati!" jelas Tuan Abdi dengan nada yang sedikit kesal karena muridnya sangat lama dalam berfikir.
"Ohh ... oke-oke," ucap Daya dengan mata yang berbinar dan senyum yang melingkari wajahnya.
"Tsk ... aku tidak tau harus merasa kesal atau kasihan dengannya," batin Tuan Abdi saat mengetahui keterbatasan pemahaman Daya.
"Oke, sekarang adalah energi Arbitrium. Energi Arbitrium adalah jenis energi yang sangat unik dan hanya sebagian orang yang memilikinya. Salah satu kelebihan dari energi Arbitrium adalah aura yang
mengelilingi tubuh si pengguna. Dari aura itu, banyak sekali kelebihan yang bisa dirasakan oleh orang yang menggunakannya. Salah satunya adalah: penguat elemen, penguat serangan, menakuti lawan bahkan menyembuhkan luka yang diterima seseorang!"
"Jadi Arbitrium bisa menyembuhkan luka juga, tuan?" ucap Daya senang dengan mata yang berbinar-binar senang karena dia bisa menyembuhkan luka dengan Arbitrium.
"Aku tau, kau pasti bingung dengan ucapanku yang terakhir, kan!?" ucap Tuan Abdi yakin.
"Hehe, tuan tahu saja," kata Daya dengan tawa cengegesan.
"Setahuku, energi itu tidak bisa dirasakan apa lagi dilihat oleh manusia kebanyakan. Manusia hanya bisa merasakan ataupun melihat energi itu setelah dikeluarkan menjadi sebuah hal. Seperti elemen atau aura misalnya."
"Tunggu, tunggu. Lantas kenapa saya bisa merasakan energi itu, tuan? Apakah saya tidak normal?" tanya Jaka ketakutan.
"Bukan, bodoh! Itu berarti kau memiliki kelebihan dalam merasakan energi. Karena kau bisa merasakan energi, aku yakin pelajaran kali ini akan mudah karena kau paham tentang yang akan kita pelajari," ucap Tuan Abdi yakin dengan ucapannya.
__ADS_1
"Selain pembagian energi, energi terbagi lagi menjadi dua tipe. Yaitu energi positif dan energi negatif. Energi positif dihasilkan oleh manusia ketika mengeluarkan energi dalam keadaan setabil atau senang, sedangkan energi negatif terjadi ketika manusia mengeluarkan energi dengan niatan untuk membunuh atau saat mahluk itu dalam keadaan marah ataupun sedih. Dari banyak kasus yang terjadi, energi negatif itu lebih kuat dari pada energi positif."
"Ah ... oke sekarang saya mengerti, tuan!"
"Bagus kalau kau paham, karena jika tidak, akan kupentung kepala kau dengan botol ini!" canda Tuan Abdi mengangkat botol minum yang selalu
dibawanya.
"Hehe ...." Daya tertawa pelan dengan lidah yang menjulur pendek saat mendengar candaan Tuan Abdi.
"Tapi ingatlah ini, Daya! Energi negatif memang memberikan kau kekuatan yang luar biasa, namun itu hanya kekuatan sementara yang bisa merusak tubuhmu dari dalam! Maka dari itu, janganlah mengambil suatu keputusan saat kau dalam keadaan: marah, sedih, kesal, pengaruh alkohol ataupun saat emosimu sedang tidak stabil!"
"Terima kasih penjelasannya, tuan," ucap Daya menundukkan kepalanya.
"Hmm ... kau telah bisa mengeluarkan dan mengkontrol energi Dalam, Arbitrium dan elemen. Kau telah menguasai dasar bela diri tangan kosong dan dasar menggunakan tombak. Kau telah lulus, Daya. Mulai besok kau sudah bisa menginjakkan kakimu ke dunia pendekar. Aku harap apa yang telah kau pelajari tidak pernah kau lupa, dan teruslah belajar tentang semua hal," ucap Tuan Abdi tersenyum dengan wajah yang terlihat menahan kesedihan.
"Terima kasih atas kebaikan dan pembelajaran yang telah Tuan Abdi berikan kepada saya, saya tidak akan pernah melupakan semua yang telah tuan ajarkan," ucap Daya dengan menundukkan kepalanya hormat.
Melihat dan mendengar ucapan dari Daya, Tuan Abdi semakin sedih mengetahui bahwa muridnya akan pergi meninggalkanya
"Sebelum kau pergi, apakah ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Ah ... aku selalu ingin bertanya tentang bagaimana cara tuan secara tiba-tiba memunculkan monster dari gengaman tangan dan bagaimana cara tuan
mengetahui setiap apa yang ingin kukatakan dan akan kulakukan,"
"Hahaha ... terlalu cepat untuk kau mebelajar itu, Daya. Kau akan mengetahuinya cepat atau lambat.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.