Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 40: Teman Kedua.


__ADS_3

Dahulu aku pernah merasakan arti dari sebuah kehilangan. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi mereka. Aku lemah, aku bodoh, aku naif dan aku tak berdaya. Namun kali ini aku pastikan akan berbeda, aku akan melawan dan bergerak maju ke barisan paling depan jika orang yang kucintai terluka!


-Maya Revina.


\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=


Terdengar ranting pohon terpaan angin menggores dinding gubuk, suasana sunyi dan lampu redup yang menerangi gelapnya malam terpasang di sekitar dinding. Daya duduk bersila di hadapan Kakek sembari menundukkan kepalanya sedih melihat tubuh Kakek yang terlihat semakin lemah dan tak berdaya. Di ujung gubuk Maya masih menahan tangisnya dengan sesenggukan yang masih terasa di dada.


Melihat Daya yang masih menunggunya, Kakek berbicara padanya,


"Apa yang kau tunggu, Nak Daya? Tidurlah, hari sudah malam," ucap Kakek Maya lirih memandang mata Daya dengan pandangan yang sayu.


Daya hanya mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Kakek lalu tertidur di pojok ruangan.


Pagi hari telah tiba, Daya membuka matanya perlahan dan melihat Maya duduk bersimpuh di hadapan Kakek sembari melihat wajah Kakeknya yang telah pucat.


"Hahh ... malangnya nasibmu, Maya," batin Daya sembari mendekati Maya yang tengah duduk di hadapan Kakeknya.


Setelah Daya duduk di sampingnya, mereka hanya berdiam diri selama beberapa menit memandang wajah Kakek yang telah tenang. Daya yang melihat kesedihan Maya dan nafas Kakek yang sudah tak berhembus lagi sudah mengira bahwa Maya telah mengetahui fakta Kakeknya telah tiada. Saat Daya ingin memberitahukan alasan kematian Kakeknya kepada Maya, tanpa Daya duga ucapannya dipotong oleh Maya,


"Aku sudah mengetahui apa yang terjadi, Daya. Kau tidak perlu memberitahu apa yang terjadi padaku. Malam itu ketika kalian berdua masih mengobrol, aku belum tertidur."


Daya hanya mengaggukan kepalanya pelan, mereka kembali memandang wajah Kakek tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kesunyian dan keheningan dipatahkan oleh permintaan Maya,


"Maukah kau membantuku meletakkan tubuh Kakek di tempat peristirahatannya yang terakhir, Daya?" pinta Maya memalingkan pandangannya ke arah Daya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Maya," jawab Daya mengengam tangan Maya lembut sembari menganggukan kepalanya dengan senyum tipis yang merekah di bibirnya.


Merekapun bangun dan mempersiapkan alat-alat yang sekiranya dibutuhkan untuk mengubur mayat Kakek. Daya mengambil cangkul dan menggali tanah di sekitar gubuk sesuai dari wasiat Kakek, sedangkan Maya mengelap badan Kakek menggunakan air hangat dan mengganti baju Kakek dengan baju yang lebih bersih. Setelah semua telah siap, tiba saatnya Maya dan Daya membopong tubuh Kakek. Mereka meletakkan tubuh Kakek di tempat peristirahatan terakhirnya lalu menutup kuburnya menggunakan tanah bekas galian.


Maya dan Daya duduk bersimpuh di hadapan makam Kakek, Maya sedikit mengenang saat-saat dahulu Kakeknya masih hidup. Selama beberapa menit mereka berdiam pada posisi ini. Angin pagi berhembus menggerakkan dedaunan dan embun terlihat jatuh ke atas permukaan. Dengan wajah yang tertunduk Maya berkata pelan pada Daya,


"Satu-satunya keluarga yang kumiliki telah meninggal, aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi." Maya mengeser posisi duduknya yang semula menghadap makam Kakek sekarang menghadap Daya lalu berkata, "Untuk permohonanku yang terakhir, izinkan aku untuk ikut berpetualang bersama kalian, Daya!" pinta Maya dengan posisi duduk bersimpuh dan menundukkan kepalanya hormat.


Mendengar permohonan Maya, Daya berdiri dari posisi duduknya dengan senyum di bibirnya lalu meminta Maya untuk mengankat kepalanya,


"Kau memang tidak mempunyai keluarga kandung lagi, tetapi kau masih mempunyai kami. Kami tidak akan mengkhianati maupun membuatmu menangis. Ayo menjadi apa yang kita impikan bersama!" ucap Daya yang telah berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Maya.


Maya tersenyum mendengar ucapan Daya sembari menerima uluran tangannya. Merekapun masuk ke dalam gubuk untuk membangunkan Jaka dan menyiapkan barang-barang untuk pergi menuju apa yang mereka impikan.


"Hei, Jaka. Ayo bangun, masih ada yang harus kita lakukan!" ucap Daya sembari menggoyangkan badan Jaka mencoba membangunkannya.


"Ayo bangun, kita harus mendaftarkan diri ke serikat pendekar! Kamu lupa!?"


"Hahhh ... sudah pagi ya?" ucap Jaka sembari mengucek kedua bola matanya dan mencoba untuk menggerakkan badannya.


Melihat Jaka yang sudah bangun, Daya langsung mengambil barang-barangnya dari tempat Maya. Mulai dari tas hingga tombak yang telah dibalut dengan kain berwarna hitam. Saat Daya sedang memasang tasnya, Jaka bertanya,


"Ke mana si Kakek dan Maya? Oh ... jangan-jangan mereka sedang menari-nari di luar merayakan kesembuhan Kakekkan? Hahaha," cetus Jaka sembari tertawa tanpa mengetahui kebenarannya.


"Tidak! Kakek sudah meninggal, Jaka!" sanggah Daya menatap mata Jaka.

__ADS_1


Tawa dan bangga yang berada pada diri Jaka lenyap seketika Daya memberitahu kebenaranya. Jaka mengernyitkan alisnya bingung dengan apa yang terjadi.


"A-apa maksut kau, Daya? Kakek Maya mati? A-aku tidak mengerti!?"


"Aku dan Maya akan menceritakan semua padamu nanti dalam perjalanan, sekarang kamu bersiap saja untuk pergi!"


Jaka hanya diam terpaku mendengarkan apa yang Daya ucapkan. Pikiran Jaka masih mencoba untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Di lain sisi Daya melihat Maya yang sepertinya ingin mengambil sesuatu. Ternyata Maya sedang mengambil tiga toples berisi cairan kental berwarna merah yang terlihat seperti darah.


"Apa itu, Maya?" tanya Daya bingung dengan apa yang Maya bawa.


"Inilah yang kita butuhkan untuk menjadi pendekar, Daya!"


"Apa itu darah Monster Bee?"


"Yap, seperti yang kau kira. Darah inilah salah satu syarat untuk menjadi pendekar!"


"Oh ... oke."


Setelah semua yang dibutuhkan telah siap, mereka bertiga pun keluar dari rumah dan bersiap untuk pergi menuju Serikat Pendekar, masing-masing dari mereka memegang sebuah toples berisikan darah Monster Bee. Sebelum pergi Maya menyempatkan untuk melihat rumah gubuknya untuk yang terakhir kali. Saat Maya melihat gubuknya, Maya terbayang saat-saat ia dan Kakeknya bermain, bekerja dan tertawa bersama di rumah gubuk tua itu. Walaupun gubuk itu telah rusak dan tua, tetapi di dalam gubuk itu menyimpan kenangan yang sangat berharga.


"Selamat tinggal Kakek, tenanglah di alam sana," batin Maya lalu berbalik dan melangkahkan kaki pergi dari gubuknya. Jaka dan Daya mengikuti langkah kaki Maya.


Selama perjalanan menuju Serikat Pendekar, Jaka selalu bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jaka bingung dan merasa aneh kenapa Kakek Maya meninggal padahal telah diberikan obat oleh Maya. Akhirnya Mayapun menceritakan semua yang ia tahu kepada Jaka. Saat Jaka telah mendengar semua penjelasan Maya, Jaka hanya bisa menghela nafasnya dan menunduk tanpa reaksi di wajahnya.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2