Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 50 - Arc 3: Teman Ketiga dan Menuju Impian Bersama.


__ADS_3

Pria tua itupun memberikan surat itu kepada Livia lalu mereka bertiga keluar dari Perpustakaan Raja dan mencari keberadaan Jaka. Surat itu bertuliskan,


Nama : Daya Adi Madanu.


Umur : 16 Tahun.


Gol.Darah : A.


J.Kelamin : Laki.


Lahir : Area Kerajaan, Beliron, 01 Agustus.


Status : Penduduk Pemukiman.


Orang Tua : Jandra Adi Salman - Silva Rani Madania.


Nama : Maya Revina.


Umur : 22 Tahun.


Gol.Darah : O.


J.Kelamin : Perempuan.


Lahir : Area Desa, Thalas, 12 September.


Status : Penduduk Pemukiman.


Orang Tua : Argani - Bena Puteri.


Nama : Livia Dewi Andhini.


Umur : 16 Tahun.


Gol.Darah : B.


J.Kelamin : Perempuan.


Lahir : -


Status : Budak.


Orang Tua : -


Setelah masing-masing dari mereka mendapatkan surat pengecekan data diri, Daya dan teman-temannya memutuskan untuk keluar dari Perpustakaan Raja dan berkeinginan untuk mencari keberadaan Jaka.


"Kira-kira dia di mana, ya?" tanya Daya di sela-sela langkah kakinya.


"Mungkin Jaka sudah pulang ke penginapan." jawab Livia menebak lokasi Jaka.


"Hmm ... kalau begitu kita berpencar. Livia pergi ke penginapan, Daya pergi ke gerbang perbatasan, dan aku pergi ke sekitar sini! Beberapa menit lagi kita semua harus sudah berada di penginapan ini, baik dengan Jaka, atau tidak!" usul Maya setelah berpikir selama beberapa detik.

__ADS_1


"Kenapa di gerbang perbatasan?" tanya Daya heran.


"Tugas Jaka adalah untuk melihat apakah ada suruhan dari Kerajaan yang datang atau tidak, kemungkinan besarnya dia ada di sana!" jawab Maya dengan tegas. "Ayo, cepat bergerak!"


Merekapun memutuskan untuk berpencar menuju masing-masing lokasi yang telah di tentukan. Daya menuju gerbang perbatasan, Livia menuju penginapan dan Maya mencari ke sekitar desa. Selama beberapa menit mereka mencari Jaka ke segala penjuru, setelah beberapa menit mencari, akhirnya Daya melihat Jaka yang sedang tertidur di atas gentong air dekat gerbang perbatasan sesuai yang Maya pikirkan. Daya mendekati Jaka dan menggerakkan badannya,


"Hei, Jaka! Bangun! Kenapa malah tertidur di sini?"


Merasakan badannya digerakkan dan suara yang memanggilnya, Jaka membuka matanya dan langsung tertegun karena dirinya tertidur.


"Hah ...? Sialan aku tertidur!" Jaka bangkit dari tidurnya lalu melihat wajah Daya. "Bagaimana balasan Raja!?"


"Balasan Raja sudah sampai dan status budak Livia telah dicabut."


Mendengar jawaban Daya, Jaka yang awalnya panik kini merasa tenang dan dapat menghirup udara dengan baik lalu menghela nafasnya pelan.


"Sebelum mencarimu, kami juga sudah mengurus surat pengecekan data diri," timpal Daya sembari memperlihatkan surat miliknya kepada Jaka.


Jaka membaca surat itu, sekilas ia merasa pernah mendengar nama orang tua Daya sebelumnya,


"Jandra!? Silva!? Di mana aku pernah membaca tentang mereka berdua, ya?" batin Jaka bingung merasa pernah mengetahui nama kedua orang Daya sebelumnya. "Mungkin hanya halusinasiku saja!"


"Hei, Jaka!"


"A-apa?"


"Kenapa malah bengong? Kita harus kembali ke penginapan untuk bertemu dengan yang lain!"


"Jangan lama-lama, ya! Masih ada yang harus dipersiapkan!"


"Ya, ya. Baiklah."


Setelah berjumpa, mereka memutuskan untuk berpisah karena Jaka masih ingin membeli sebuah pedang, mereka memutuskan untuk kembali berkumpul di penginapan beberapa menit lagi.


\=\=


Saat mereka semua telah berkumpul di kamar penginapan, mereka mulai berdiskusi tetang hal yang akan mereka lakukan untuk memudahkan tes. Masing-masing di antara mereka memegang sebuah kertas pengecekan data diri, kecuali Jaka. Jaka yang melihat kertas milik Daya bertanya dengan nada bingung,


"Kau lahir di Beliron, Daya? Eh ... Danu!?" Jaka memandang wajah Daya dengan tatapan tajam.


Maya dan Livia yang mendengar pertanyaan Jaka tertegun, mereka berdua sebenarnya mempunyai pertanyaan yang sama juga, namun belum sempat untuk menanyakanya.


"Saya tidak tahu, saya bahkan tidak kenal dekat dengan orang tua saya sendiri. Tapi kemungkinan ayah dan ibu saja adalah seorang pendekar juga."


"Apa dugaanku benar? Ah ... itu tidak mungkin! Itu pasti bukan orang tua Danu!" Jaka masih bingung dengan sesuatu hal.


"Kenapa Daya pindah ke desa?" Livia menaruh kertas miliknya karena ikut penasaran dengan asal Daya.


"Dari yang saya dengar, orang tuaku gagal dalam menjalankan misi. Karena saya tidak memiliki keluarga seorang pendekar dengan Tier Sextus hingga Octo, jadi saya diusir dari area itu dan ditempatkan ke pinggiran desa."


"Ohh ... jadi selain pendekar, keluarga dari pendekar itu juga tinggal di area Beliron, yah?" terka Livia.

__ADS_1


"Kemungkinannya begitu," jawab Daya membenarkan.


"Selain tempat tinggal Daya, aku juga masih bingung kenapa orang tua dan tempat lahir Livia tidak tertera di kertas ini!?" Maya melihat kertas milik Liviu memandang ke arah teman-temannya.


"Livia sediri tidak tahu, kemungkinan data diri seorang budak tidak terlalu penting sehingga tidak tertulis," ucap Livia menundukkan pandangannya.


"Ya sudah, kembali ke topik! Kita berkumpul di sini karena ingin membahas tentang tes yang akan dilakukan sebentar lagi. Apa kalian mempunyai sebuah rencana?" Maya melirik ke arah teman-temannya.


Mendengar pertanyaan Maya, teman-temannya hanya mengangkat bahunya tidak tahu apa yang ingin dikatakan.


"Hmm ... sangat sulit memang untuk membuat sebuah rencana jika kita sendiri tidak mengetahui apa yang akan dihadapi. Tapi yang pasti dalam kelompok kita mempunyai dua busur dan satu tombak!"


"Kenapa aku tidak termasuk?" Jaka marah kepada Maya karena merasa tidak diikut sertakan.


"Kaukan sudah menjadi pendekar!" balas Maya dengan sedikit kesal. Medengar balasan Maya, Jaka hanya memalingkan pandangannya.


"Pendekar dibuat dengan tujuan melindungi semua penduduk dari ancaman monster dan Ras lain. Kemungkinan besarnya kita akan melawan monster, jika itu terjadi, sepertinya akan lebih mudah tentang apa yang harus kita lakukan!" Daya memberikan pendapatnya.


"Hmm ... kau ada benarnya, Daya. Jika itu terjadi, kita hanya perlu bekerja sama dalam menjatuhkan monster yang akan kita lawan!" Maya setuju dengan pendapat yang Daya ucapkan.


"Itupun kalau kita semua diposisikan sesuai kelompok, bagaimana jika nanti kita harus mengalahkan monster sendirian?" Livia yang sedari tadi diam mulai memberikan pendapatnya.


"Ya sudah, tinggal ambil senjata kau, tarik busurnya dan bunuh!" timpal Jaka menjawab pertanyaan Livia.


"Tidak bisa semudah itu, Jaka! Kita tidak tahu monster seperti apa yang kita lawan, kita tidak tahu kelebihan dan kelemahan yang dimiliki monster itu jika tidak mempunyai pengetahuan atau melawannya secara langsung!" Maya membantah ucapan Jaka yang terkesan menganggap remeh.


"Terus apa yang kalian lakukan? Menerka-nerka masa depan? Tidak akan bisa! Dari pada kalian membuang waktu membicarakan hal yang buram, lebih bagus kalian tidur untuk mempersiapkan tes di hari esok, jika hari esok telah tiba, kalian mengetahui apa yang kalian lawan, kalian berada pada satu tim dan diberikan kesempatan untuk berdiskusi, maka lakukanlah di sana!" Jaka mengucapkan itu lalu berdiri keluar dari kamar penginapan.


*Bragg ....


Suara pintu yang terbanting saat Jaka keluar dari kamar penginapan. Livia, Daya dan Maya saling berpandangan. Dalam hati mereka sama-sama beranggapan kenapa Jaka tiba-tiba menjadi pintar.


\=\=


Hari ujian telah tiba, pagi yang cerah dengan burung-burung yang terbang beriringan. Daya, Livia dan Maya mempersiapkan barang yang sekiranya mereka butuhkan demi memudahkan mereka dalam mengikuti tes menjadi pendekar. Jaka, Daya, Maya dan Livia bergerak menuju Serikat pendekar untuk memulai tesnya.


Setelah sampai di Serikat pendekar, terlihat beberapa orang yang sepertinya berkeinginan untuk mengikuti tes menjadi pendekar. Jika dihitung-hitung ada 100 orang termasuk Daya dan teman-temannya yang berada di sana. Para calon pendekar terlihat memiliki wajah dan badan yang sangat mengerikan. Ada yang badannya kekar, membawa senjata-senjata yang belum pernah mereka liat sebelumnya, dan masih banyak lagi.


"Sudah kuduga, tidak banyak orang yang mengikuti tes menjadi pendekar kali ini." Jaka memandang kerumunan calon pendekar yang berdiri secara berkelompok itu.


"Bukankah ini sudah banyak? Memang biasanya ada berapa orang yang mengikuti tes menjadi pendekar?" tanya Daya heran.


"Lebih dari seribu orang!"


Livia dan Daya terkejud dengan apa yang dikatakan Jaka. Mereka tidak mengira bahwa banyak sekali yang ingin menjadi pendekar.


Merekapun berbicara selama beberapa menit di halaman Serikat Pendekar, mereka belum masuk karena Serikat Pendekar belum dibuka. Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya mereka mendengar teriakan yang mereka tunggu,


"Bagi para calon pendekar yang telah melengkapi persyaratan, silahkan masuk dengan membawa kertas yang telah dipersiapkan!" Suara seseorang menggema di sekitar Serikat menyuruh para calon pendekar untuk masuk.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2