Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 19: Pengetahuan dan Latihan (12/15).


__ADS_3

Daya yang melihat Dewi kesulitan mengangkat barang-barang, tanpa menunggu lama langsung menghampiri Dewi dan membantunya.


"Hei, Dewi ... sepertinya kamu kesulitan, biarkan saya membantumu," pinta Daya mengulurkan tangannya.


Dewi menjauhkan barang yang dibawanya dari tangan Daya dan berkata,


"Eh ... tidak usah repot-repot, kamu kan baru saja sembuh," tolak Dewi dengan nada halus.


"Tidak apa-apa Dewi ... saya sudah merasa baikan, izinkan saya membantumu. Selama ini saya yang selalu menyusahkanmu, untuk kali ini, izinkan saya membalas kebaikanmu," pinta Daya memohon untuk membantu Dewi.


"Ya sudah ... tolong ya Daya," jawab Dewi memberikan barang-barangnya kepada Daya.


Saya Pun menerima dua kantong berwarna coklat yang berisikan bahan-bahan makanan. Mereka berdua berjalan berdampingan, di sepanjang jalan Daya dan Dewi saling bercerita.


"Tumben sekali Dewi belanja kebutuhan makan saat pagi hari, biasanya Dewi belanja saat siang?" tanya Daya membuka pembicaraan.


"Iyah Daya ... bahan-bahan untuk memasak hampir habis, jadi aku langsung beli deh bahan-bahannya."


"Jadi kamu ingin masak pagi ini? Mau masak apa?" tanya Daya lagi penasaran.


"Saya mau masak beras dan ikan sebagai lauknya."


"Ah ... Apakah saya boleh mambantumu memasak beras? Saya bisa memasaknya," usul Daya memandang bola mata Dewi yang sedikit menonjol.


Dewi memalingkan pandanganya, bibir kecil tipisnya seperti membisikkan sesuatu dan rambut pendek sebahu berkibas mengikuti langkah kakinya. Setelah beberapa detik akhirnya Dewi mengizinkannya.


"Baiklah ... terima kasih bantuannya Daya," ucap Dewi dengan senyum ramah merekah di bibir tipisnya.


Mereka pun sampai di pondok dan memulai untuk memasak makanan untuk keperluan pondok. Daya membantu Dewi memasak beras dan Dewi memasak ikan. Saat Daya hampir selesai memasak beras, Tuan Abdi menghampirinya di dapur dan berkata,


"Hoi ... sudah siap masaknya? Ini saatnya kau berlatih, Daya!" tanya Tuan Abdi yang berdiri di pintu masuk dapur.


"Sebentar lagi siap tuan," sahut Daya dengan tangan masih mengaduk beras yang hampir menjadi nasi itu.


"Sudahlah Daya, biar aku yang melanjutkan. Ini saatnya kamu berlatih," ucap Dewi yang berkeinginan mengambil alih semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab nya.


"Tak apa Dewi, latihanku dapat menunggu. Tidak apa kan Tuan Abdi?" tanya Daya dengan mata yang berbinar-binar memohon keringanan kepada Tuan Abdi.


"Cih ... pandangan kau itu menggangu sekali. Baiklah-baiklah, cepat selesaikan pekerjaanmu di sini! Aku akan menunggu mu di lapangan," jawab Tuan Abdi dan meninggalkan mereka berdua di dapur.


"Hehehe ... " kekeh Dewi sembari menutup mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa tertawa Dewi?" tanya Daya bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pandangan matamu itu ... aku rasa jika kamu meminta sesuatu menggunakan pandangan memelasmu itu, kamu bisa mendapatkan apapun hehehe ..." lanjut Dewi dengan kekeh yang masih tergambar di bibirnya.


"Ah ... kamu ini hahaha." Daya pun ikut tertawa dengan ucapan Dewi.


Daya dan Dewi mempercepat gerakan mereka, setelah selesai memasak Daya berpamitan dengan Dewi dan pergi ke lapangan untuk menjumpai Tuan Abdi. Sesampainya di lapangan, Daya melihat Tuan Abdi sedang duduk bersila di atas batu besar dengan mata yang tertutup.


"Tuan Abdi, saya sudah siap!" panggil Daya sedikit teriak.


Tuan Abdi membuka matanya dan lompat dengan gaya yang keren dari batu besar yang tingginya sekitar 350 cm. Tuan Abdi mendarat dengan kedua kakinya, namun sayang yang terjadi tidak seperti yang Daya duga.


KRREEAAK ....


Suara tulang yang retak terdengar kencang saat tuan abdi mendarat.


"Ahh ... Punggungku ...!" Tuan Abdi teriak dan memegang punggungnya, Tuan Abdi kesakitan dengan posisi membungkuk.


"Ah ... saya kira tuan akan mendarat dengan keren," ucap Daya kecewa dalam hatinya.


Daya berlari mendekati Tuan Abdi dan membantunya berdiri.


"Tidak apa-apa gundul mu!" gerutu Tuan Abdi dengan tangan yang masih berada di punggungnya.


"Eh ....


"Kok malah 'Eh', murid bodoh! bantuin aku!" rintih Tuan Abdi menahan sakit.


"Ah ... maaf tuan," ucap Daya sembari membantu Tuan Abdi untuk berdiri dan meletakkannya di batang pohon dekat pondok.


"Aduh ... sepertinya aku tidak lagi cocok untuk hal seperti itu," ucap Tuan Abdi kesal.


"Baiklah, aku akan mengajarimu dari sini saja," kata Tuan Abdi dengan nafas yang sedikit terengah-engah.


"Baik tuan," sahut Daya berdiri di hadapan Tuan Abdi.


"Kali ini kau akan belajar lebih jauh tentang energi dan Arbitrium untuk mengeluarkan elemen dan penguatan serangan. Terbagi dalam dua tahap, elemen dengan energi dan elemen dengan Arbitrium," jelas Tuan Abdi.


"Eh ... mengeluarkan elemen bisa juga dengan Arbitrium tuan?" tanya Daya kebinggungan.


"Tentu saja bisa, tapi kau harus mengetahui lebih jauh tentang Arbitrium dahulu sebelum bisa mengeluarkan elemen menggunakan nya. Untuk sekarang, mengeluarkan elemen menggunakan energi saja dahulu."

__ADS_1


"Baik tuan."


"Ketika kau merasakan dan mengendalikan energi, apa yang tubuhmu rasakan, Daya?"


"Ketika saya mengendalikan energi, saya merasakan perasaan saya ikut bergerak sesuai aliran energi yang saya kendalikan, tuan!" jawab Daya mengingat momen latihan energinya.


"Bagus ... ketika kau merasakan perasaan dan aliran itu, kendalikan lah alirannya ke luar dari dalam tubuhmu dengan membayangkan elemen yang kau inginkan!" perintah Tuan Abdi.


"Keluar lewat mana tuan?"


"Terserah, karena pada dasarnya elemen berada pada dirimu. Bukan hanya ada pada bagian tubuh tertentu, maka keluarkanlah energi itu melewati bagian yang kau inginkan!


"Kau menyukai elemen udara, maka bayangkanlah dari tanganmu keluar sebuah angin sejuk yang dapat menerpa siapapun yang kau kehendaki," perintah Tuan Abdi mengarahkan Daya.


"Hmm ... keluar lewat bagian tubuh. Mengendalikan energi. Lalu energi berubah menjadi elemen sesuai yang kita kehendaki," pikir Daya dalam hatinya sembari melihat kedua tangannya.


Daya pun mencoba apa yang diperintah Tuan Abdi dan mempraktekkannya. Daya mencoba fokus dan mengendalikan energi yang keluar melalui tangannya. Namun tidak terjadi apapun, yang ada hanya Daya yang terlihat seperti orang bodoh. Namun Daya tidak berhenti sampai situ, Daya terus berusaha dengan segenap hati dan usahanya. Detik berganti detik, menit bergulir pelan dan jam pun bergerak dengan pasti.


Tuan Abdi yang duduk bersandarkan pohon sampai ketiduran menunggu muridnya bisa megeluarkan elemen pertamanya. Saat Tuan Abdi masih dalam lelapnya tidur, Tuan Abdi di kagetkan dengan suara teriakan Daya.


"Tuan! Tuan!" panggil Daya dengan setengah teriak.


"Akh ... a-apa?" jawab Tuan Abdi bangun sambil mengelap air liur di bibirnya.


"Aku bisa mengeluarkan elemen itu tuan, lihat ini!" jawab Daya dengan nada yang serius dan yang bangga terukir di matanya.


Daya mengeluarkan kuda-kudanya, kedua kaki nya setengah jongkok dan tangan kanannya mengepal. Saat Daya mengayunkan tangan kirinya horizontal, keluarlah angin kecil dan pelan.


Duud ....


Suara angin kecil yang keluar dari tangannya.


"Pfft ... Khahahahaha, Itu elemen atau suara kentut. Kok begitu suaranya. Khahaha," kekeh Tuan Abdi dengan tawa yang besar. Sedikit air mata tampak keluar dari matanya menahan tawa.


"Berhenti tertawa tuan! Aku menjadi malu." Tampak pipi Daya kemerahan seperti buah jambu menahan malu.


"Khahaha ... Bodoh, khahaha ...." kekeh Tuan Abdi terdengar kuat.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2