Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 34: Desa Thalas.


__ADS_3

Perjalanan pulang mereka diselingi dengan cerita dan tawa. Hari telah gelap sepenuhnya, tanpa terasa mereka telah sampai di gerbang desa yang ingin Daya dan Jaka tuju.


Desa yang tenang, terlihat dari kejauhan beberapa warga masih bekerja dengan keringat di pipi dan kening mereka. Sekeliling gerbang yang dipenuhi dengan lampu membuat area gelap terpancar cahaya dan petugas perbatasan yang berdiri di bawah lampu dengan sigap memeriksa siapapun orang yang masuk dan keluar desa. Yap, tidak seperti Desa Oregon yang tidak memiliki penjaga, desa ini memiliki dua orang berseragam lengkap dengan pedang di pinggangnya menjaga area perbatasan antara desa dan luar desa.


"Kalian mau menginap dahulu di rumah kakekku?" tanya Maya memandang ke belakang melihat Jaka dan Daya.


"Terima kasih, Maya. Kami terima dengan senang hati," ucap Daya menerima bantuan Maya dengan senyum di bibirnya.


Maya membalas senyuman Daya dan ia menyuruh Daya dan Jaka mengikutinya masuk ke dalam desa. Saat di perbatasan, mereka dihentikan oleh dua orang berseragam lengkap penjaga perbatasan.


"Selamat malam, kami tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Ada keperluan apa di desa


Thalas?" kata salah seorang pria berseragam tegap bertanya kepada Daya karena ia adalah satu-satunya orang di antara Jaka dan Maya yang belum pernah berkunjung ke desa Thalas.


"Saya dan teman saya ingin mendaftarkan diri ke serikat pendekar," jawab Daya sembari menunjuk Jaka.


"Hmm ... bukankah kau sudah mempunyai teman sependekar?" tanya pria berseragam menanyakan teman Jaka dahulu.


"Kau tidak perlu menanyakan itu, biarkan saja kami masuk!" jawab Jaka tegas tidak ingin memberitahu tentang masa lalunya kepada pria tegap itu.


"Hmm ... kalau begitu silahkan masuk."


Mereka bertiga pun masuk ke dalam desa Thalas, sebenarnya untuk masuk ke sebuah desa harus mempunyai surat perjanjian bahwa ia tidak akan melukai warga desa dan membuat keributan, tetapi karena Daya datang bersama Jaka dan Maya, membuat langkahnya dipermudah.


Saat mereka telah sampai di desa, kondisi desa itu sangat tenang dan damai. Berbagai lampu terlihat menyala, beberapa warga masih membuka dagangannya dan beberapa warga masih terlihat berlalu lalang di sekitar desa. Daya dan Jaka mengikuti langkah Maya menyusuri desa untuk pergi ke tempat kediaman kakeknya. Maya melangkahkan kakinya cepat, pada saat yang sama pandangan serta wajahnya menunjukkan kecemasan dan kegembiraan. Maya ingin cepat-cepat memberikan obat hasil buruan mereka ke kakeknya.


Setelah berjalan selama lima menit, akhirnya mereka sampai di suatu gubuk kecil. Gubuk yang terbuat dari bambu dan terletak di pinggiran desa. Di sekitar gubuk itu ada beberapa tanaman dan tempat untuk berteduk. Maya langsung masuk ke dalam gubuknya dan memanggil-manggil kakeknya bahwa ia telah berhasil membunuh monster Verdon dan membawa obat untuknya.


"Kakek ...! Kakek ...! Aku berhasil kek, aku telah membunuh monster Verdon dan membawakanmu obat!" teriak Maya mencari kakeknya dengan air mata kebahagiaan yang membasahi bola matanya.


Melihat Maya yang berlari masuk ke dalam gubuk, Daya dan Jaka memutuskan untuk ikut masuk dan melihat keadaan kakeknya Maya. Terlihatlah Maya sedang memeluk kakeknya yang terbaring lemas di kasur. Wajah kakek Maya sangat pucat, badannya kurus dan pandangannya sayu. Daya dan Jaka yang melihat keadaan kakek Maya merasa bersyukur telah membantunya membunuh monster Verdon. Setelah memeluk tubuh kakeknya selama beberapa menit, Maya bangkit dan terlihat ingin menyiapkan obat untuk kakeknya.


"Kakek minum obatnya, ya. Akan Maya buatkan," kata Maya dengan suara yang sangat lembut berdiri ingin menyiapkan obat untuk kakeknya.


Kakek Maya hanya menganggukkan kepalanya ringan. Maya pun pergi ke dapur dan menyiapkan obat untuk kakeknya.

__ADS_1


"Bisakah kami membantumu, Maya?" usul Daya ingin membantunya menyiapkan obat untuk kakeknya.


"Ah ... makasih bantuannya, Daya. Jaka jangan membantu, biar kami buatkan juga penawar untukmu," ucap Maya melihat ke arah Jaka yang masih terlihat menahan sakit. Maya menyuruh Jaka untuk bersender di dinding gubuk kakeknya untuk beristirahat.


Dayapun membantu Maya menyiapkan obat untuk kakeknya dan Jaka. Terlihat pertama-tama Maya membakar kayu dan panci yang berisi air sebagai tempat untuk memasak cula Verdon, kedua Daya mengambil garam untuk merebus cula monster Verdon, ketiga memasukkan cula monster Verdon ke dalam air yang mendidih, ambil air bekas rebusan cula Verdon lalu masukan ke dalam gelas dan meminumkannya ke kakek Maya. Daya memangku tubuh renta kakek Maya dengan kedua tangannya, sedangkan Maya menuangkan gelas berisi air rebusan ke tenggorokan kakeknya.


Setelah siap memberikan minum ke kakeknya, kini membuat penawar untuk Jaka. Pertama Daya menumbuk serpihan cula monster Verdon yang telah selesai direbus, kedua Maya memasukkan serpihan cula monster Verdon ke dalam kain, dan yang terakhir direndam selama beberapa detik di air hangat lalu dikompres pada luka yang Jaka terima.


Beberapa menit setelah pemberian obat dilakukan, terlihat Jaka dan kakek Maya telah tertidur dengan lelap, sedangkan Daya dan Maya masih terjaga duduk di atas kursi.


"Terima kasih telah membantuku, Daya. Ini sangat berarti bagiku," ucap Maya berterima kasih kepada Daya dengan senyum yang tak kunjung luntur dari bibirnya.


"Tidak apa, kami senang bisa membantu."


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Rencananya besok kami akan mendaftarkan diri ke Serikat Pendekar."


"Oh ...," jawab Maya dengan senyum dan wajah yang gembira. Namun Daya melihat senyum Maya perlahan-lahan berubah. Pandangannya ke arah bawah, matanya sayu dan senyumannya terkesan terpaksa. Daya tidak mengerti kenapa Maya memberikan senyuman seperti itu. Senyuman simpul yang jika diperhatikan memiliki banyak makna di baliknya.


"Ah ... duluan saja, Maya. Aku belum mengantuk," jawab Daya membalas senyum Maya.


Mayapun tertidur duluan di atas permukaan kain yang tipis sedangkan Daya masih terjaga memandang ke arah mereka bertiga. Maya tertidur dengan sangat cepat, terdengar suara dengkuran halus dari arah tidurnya. Jaka tertidur dengan tangan yang memegang kain yang berisi serpihan cula monster Verdon bersender di dinding gubuk dan kakek Maya masih tertidur lelap.


Selagi menunggu rasa kantuk datang, Daya mencoba melatih energi Arbitriumnya sembari duduk di atas kursi. Daya memejamkan matanya mulai mengendalikan energi alam di sekitarnya, aura hitam mulai terlihat menyelimuti dirinya.


Setelah hampir setengah jam Daya berlatih, ia dikagetkan dengan suara pria tua yang memanggil nama Maya. Daya menghentikan latihannya dan membuka matanya melihat ke arah sumber suara itu berasal. Ternyata suara itu berasal dari kakek Maya yang telah banggun dari tidurnya.


"Wah ... ternyata cula monster Verdon sangat efektif menyembuhkan kakeknya Maya," batin Daya melihat kakek Maya yang terlihat sudah sembuh.


Daya bangkit dari posisi duduknya dan mendekati kakeknya Maya.


"Maaf, Kek. Maya sedang tertidur, saya temannya Maya," ucap Daya sopan sembari duduk di hadapan kakek Maya.


Kakek Maya melihat ke arah Daya dan berkata,

__ADS_1


"K-kau temannya Maya?" ucap kakek Maya dengan suara yang pelan.


"Iya, Kek."


"K-kau juga yang telah membantunya membunuh monster Verdon?"


"Iya, Kek. Saya dan teman sayalah yang telah membantu Maya mencari obat untukmu."


Kakek Maya menghela nafasnya pelan dan memejamkan matanya.


"Siapa namamu anak muda?"


"Panggil saja saya 'Daya', Kek."


"Ah, Nak Daya ... di mana cucuku sekarang?" tanya kakek Maya dengan suara serak khas dari pria yang telah uzur.


"Maya sedang tidur, Kek. Sepertinya dia kelelahan."


"Hmm ... kakek ingin menceritakan tentangmu sebuah hal, tapi sebelum itu aku ingin Nak Daya berjanji padaku satu hal."


"Apa itu, Kek?"


"Tetaplah menjadi teman Maya dan lindungilah ia segenap yang engkau bisa."


"Tentu saja, Kakek. Tapi kenapa Anda meminta hal ini tiba-tiba?" tanya Daya heran.


Raut wajah kakek Maya terlihat berubah, terlihat takut, marah dan sedih pada saat yang sama.


"Itulah yang ingin aku ceritakan padamu, apa kau ingin mendengarkan cerita tentang cucuku 'Maya', Nak Daya?"


"Tentu saja, Kek."


"Beginilah ceritanya ..... "


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2