Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 44: Kekuatan Dasar, Sejarah dan Rahasia.


__ADS_3

"Wahhh ...." Daya, Maya dan Livia terkaget melihat tulisan yang berada di atas kertas itu secara ajaib muncul dan mengetahui kekuatan dasar mereka.


Nama Pemilik : Daya Adi Madanu.


Umur : 16 Tahun.


Element Dasar : Angin.


Kekuatan Otot : 25/100.


Daya Tahan : 20/100.


Kecepatan : 15/100.


Kelincahan : 15/100.


Keseimbangan : 20/100.


Ketepatan : 10/100.


Kekuatan Penuh : 105/600.


Nama Pemilik : Maya Revina.


Umur : 22 Tahun.


Element Dasar : Angin.


Kekuatan Otot : 50/100.


Daya Tahan : 75/100.


Kecepatan : 45/100.


Kelincahan : 50/100.


Keseimbangan : 10/100.


Ketepatan : 20/100.


Kekuatan Penuh : 250/600.


Nama Pemilik : Livia Dewi Andhini.


Umur : 16 Tahun.


Element Dasar : Air.

__ADS_1


Kekuatan Otot : 10/100.


Daya Tahan : 5/100.


Kecepatan : 10/100.


Kelincahan : 25/100.


Keseimbangan : 50/100.


Ketepatan : 75/100.


Kekuatan Penuh : 175/600.


Setelah memegang masing-masing kertas yang bertuliskan namanya, mereka keluar dari Serikat Penelitian Sihir. Di sela-sela langkahnya Maya membaca kertas itu lalu bertanya kepada Jaka tentang maksud dari kertas yang ia pegang ini, lalu Jaka menjawab,


"Kertas ini berisikan kekuatan paling dasar yang kalian miliki, jangan berpangku pada kertas tua itu, karena kekuatan yang tertulis di atas kertas itu terkadang bisa dipengaruhi oleh faktor luar. Seperti alat-alat berperang yang kalian pakai, emosi dan lainnya sebagainya!"


"Kenapa kita harus mempunyai kertas inih, Jaka?" timpal Livia bertanya dengan pandangan yang masih fokus melihat kertas miliknya.


"Aku tidak tahu, saat aku mendaftarkan diri menjadi pendekar, aku tidak diwajibkan untuk melakukan pengecekan kekuatan di Serikat Penelitian Sihir. Lagi pula serikat ini baru dibanggun beberapa tahun belakang oleh Raja dan aku tidak tahu kegunaan pasti dari serikat Penelitian Sihir ini."


"Hmm ... kemungkinan kita akan dihadapi oleh sesuatu yang hebat, dan kertas yang menunjukkan kekuatan kita ini akan menjadi indikator apa yang akan kita lawan. Semakin besar nilai yang kita miliki, maka semakin kuat juga lawannya!" ucap Maya dengan nada kurang yakin.


"Apa kau yakin dengan yang kau katakan?" tanya Jaka memandang wajah Maya serius.


"Tentu saja aku tidak yakin! Seumur hidup aku baru saja melihat ini!" jawab Maya sedikit menekuk wajahnya setelah mendengar pertanyaan Jaka yang seakan mengira Maya adalah ahli dibidang ini. Mendengar jawaban Maya, Jaka hanya menghela nafasnya pelan.


"Tenang saja, Daya. Kau mempunyai energi yang jarang dimiliki oleh orang lain. Kau bisa menggunakannya dalam keadaan terdesak!" Maya mencoba meyakinkan Daya.


Daya hanya tersenyum dengan apa yang dikatakan Maya.


"Baiklah, sekarang tinggal pergi ke perpustakaan Raja, ayo!" Jaka kembali memimpin langkah teman-temannya.


Ketika dalam perjalanan menuju perpustakaan Raja, Daya menyempatkan untuk bertanya kepada Jaka,


"Apa yang bisa kita temukan di dalam perpustakaan Raja, Jaka?"


"Kemungkinan besarnya seperti data diri rakyat atau sejarah dalam kerajaan. Baik sejarah yang bisa diberikan kepada rakyat maupun sejarah yang tertutup dari rakyat biasa! Apa kau tahu tragedi Morway, Daya?"


"Ya, saya tahu itu. Tragedi Morway adalah tragedi yang mengisahkan tentang Raja kejam pelaku pemerasan pajak, bukan?"


"Benar, dan yang kau sebutkan barusan itu hanya sebahagian kecil dari sejarah tragedi Morway yang dapat diketahui oleh rakyat biasa!"


"Maksudmu cerita itu belum menceritakan semua yang terjadi!?"


"Benar, kemungkinan rakyat biasa yang mengetahui itu semua sudah mati atau benar-benar tidak mengetahuinya lagi. Karena secara turun-temurun hanya itu yang bisa diceritakan kepada rakyat."

__ADS_1


"Bukankah tragedi Morway ini terjadi sekitar lima belasan tahun lalu, kenapa tidak ada yang mengetahuinya?"


"Benar, tetapi menurut kertas yang aku baca di meja kerja ayahku dahulu, sebenarnya tragedi ini sudah berangsur selama lebih dari seratus tahun, namun puncaknya terjadi pada lima belas tahun yang lalu!"


Author Note:


Btw di sini Jaka belum mengetahui bahwa Maya adalah salah satu korban dari tragedi Morway.


"Selain tragedi Morway, masih banyak sejarah kelam yang terjadi di Kerajaan ini, namun tidak dibeberkan kepada rakyat banyak. Baik sajarah yang berhubungan langsung dengan Raja maupun tentang perselisihan dan peperangan!" timpal Jaka dengan tetap memandang ke arah jalan di hadapannya. Daya hanya diam mendengarkannya dan menundukkan kepalanya.


Setelah beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat semacam gedung dengan papan besar bertuliskan 'Perpustakaan Raja'.


"Jika tujuan kita ke sini adalah untuk pengecekan data diri, apakah kita bisa mengecek orang di luar dari nama kita? Misalnya orang yang sudah tiada?" tanya Maya kepada Jaka setelah mereka berhenti berjalan dan memandangi megahnya Perpustakaan Raja.


"Sayangnya tidak bisa. Sama seperti sejarah Kerajaan, pengecekan di luar dari orang yang berkunjung untuk pengecekan data diri sangat dilarang! Mana mungkin rakyat biasa diberikan kekuasaan penuh untuk melihat data diri orang lain!" Jaka menjawab pertanyaan Maya sembari sedikit mengoloknya. Mendengar jawaban Jaka, Maya hanya bisa menundukkan pandangannya.


"Memangnya siapa yang ingin kau cari tahu?" timpal Jaka berbalik bertanya kepada Maya.


"Tidak ada."


"Saya masih bingung, dari pengecekan data diri apa saja yang dapat kita peroleh?" tanya Daya yang sedari tadi masih bingung apa itu pengecekan data diri.


"Pengecekan data diri bertujuan untuk mengetahui data diri seseorang. Seperti nama lengkap, tanggal lahir, golongan darah dan lainnya, Daya." Maya menjawab pertanyaan Daya dengan perlahan.


"Oh ... oke. Misalnya ada anak yang ingin malakukan pengecekan data diri orang tuanya, bisa atau tidak?"


"Sayangnya tetap tidak bisa. Diibaratkan data dirimu adalah sebuah harta karun, maka hanya kau yang mempunyai kunci untuk membuka harta karun itu. Tidak ada yang mempunyai kuasa penuh atas data diri rakyat. Yah ... kecuali Raja dan beberapa anteknya sih."


"Memang kau ingin melihat data diri orang tuamu?" timpal Jaka.


"Ada suara yang menggema di dalam hati ingin mengenal orang tuaku lebih dekat, namun ada juga beberapa suara yang berkata masa lalu biarlah berlalu."


"Kau tidak mengenal kedua orang tuamu?" tanya Jaka bingung.


"Saat aku masih kecil, ayah dan ibuku lebih sering di luar menjalankan misi. Masa kecil saya lebih sering bersama bibi. Ketika umur saya menginjak dua belas tahun, orang tuaku meninggal dalam menjalankan misi."


Mendengar penjelasan Daya, Jaka menjadi tidak enak dan meminta maaf atas pertanyaan konyolnya. Daya hanya tersenyum mendengar permintaan maaf yang Jaka ucapkan lalu berkata,


"Tumben kamu meminta maaf, Jaka. Hahaha, biasanya kamu paling keras kepala dan enggan meminta maaf jika memiliki kesalahan."


"Ada sebuah batasan yang tidak boleh aku langkahi, bahkan dalam keadaan seperti apapun. Dan salah satunya adalah prihal tentang orang tua!"


Setelah terdiam selama beberapa detik, akhirnya mereka berdua kembali tertawa dan merangkul satu sama lain lalu melangkahkan kakinya memasuki Perpustakaan Raja. Saat mereka ingin masuk, tiba-tiba Livia yang sedari tadi hanya diam berteriak sehingga membuat Jaka, Daya dan Maya terkaget. Jaka dan Daya melepaskan rangkulannya dan melihat ke arah Livia lalu bertanya,


"Ada apa Livia?"


"A-ada yang ingin Livia katakan kepada kalian tentang suatu hal yang penting. Sebenarnya, Livia adalah ...."

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2