Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 63: Yakin dan Bergeraklah!


__ADS_3

Laksana dibawa ke ruang pengobatan, dibaringkan di atas kasur yang empuk tepat di sebelah Abi. Kasur milik Abi dan Laksana hanya dibatasi oleh sehelai kain tipis berwarna biru muda. Saat ini para tabib tengah mencabut duri besar yang menancap tepat di pangkal paha Laksana. Seusai mencabut duri besar monster Lanhak, para tabib langsung menutup luka Laksana menggunakan gigitan semut.


Melihat para tabib yang menggunakan semut untuk menutup luka bekas duri monster Lanhak, Kantata menatapnya dengan tatapan bingung kemudian mengajukan pertanyaan, "Kenapa menggunakan semut? Bukankah akan menghasilkan rasa sakit dan gatal?"


"Kita tidak mempunyai cukup alat untuk menutup luka sebesar ini. Hanya gigitan semut inilah yang bisa menyelamatkan nyawa teman kalian!" jawab salah satu tabib yang tengah memegang semut di tangannya.


"Apa nama semut ini?" tanya Wirya sembari melihat semut itu dari dekat membuat tabib kesulitan untuk menyembuhkan luka Laksana. Melihat Wirya yang menggangu jalannya proses penyembuhan, Cayapata langsung menarik kerah baju milik Wirya.


"Semut ini bernama semut Saifu! Memiliki rahang yang kuat dan sangat sulit untuk melepaskan gigitannya jika sudah mengigit korbannya. Bahkan ketika kepalanya putus dari badannya, gigitannya akan tetap berada pada mangsanya!" jawab salah satu tabib yang memulai proses penyembuhan lagi setelah Cayapata menarik tubuh Wirya.


"Hmm ... jadi kepalanya lah yang akan menjadi pengganti benang?" Kantata memegang dagunya berpikir tentang cara kerja semut Saifu.


"Lebih tepatnya kepala dan rahangnya yang kuat!"


***


Beberapa menit telah berlalu, kini penyembuhan Laksana telah selesai. Para tabib terlihat menyudahi penyembuhan Laksana dan berniat untuk keluar dari ruang penyembuhan. Kantata yang merasa kekurangan sesuatu langsung menanyakan prihal itu kepada tabib,


"Bagaimana dengan racun berwarna hijau milik monster itu?"


"Racun itu tidak terlalu mematikan, cukup berikan rempah-rempah yang telah kami taruh di atas maja itu!" Salah satu tabib yang terlihat lebih tua menunjuk ke arah meja kecil di samping tempat tidur Laksana. "Ketika teman kalian sudah siuman, berikan saja rerempahan itu!" timpalnya lagi.


"Terima kasih, Tuan." Kantata, Cayapata dan Nala menundukkan kepalanya berterima kasih kepada para tabib.


Wirya tidak menundukkan kepalanya, ia terlihat acuh tak acuh kepada para tabib. Melihat Wirya yang tidak sopan, Cayapata langsung menarik tangan Wirya kuat agar menundukkan kepalanya.


"Hahaha ... tidak usah memuji begitu, ini sudah menjadi tugas kami sebagai tabib untuk mengobati kalian. Sampai jumpa." Para tabib terlihat mulai pergi keluar dari ruang pengobatan.


Saat semua tabib itu telah meninggalkan mereka, Cayapata menyilangkan tangannya dan menatap tajam mata Wirya. "Kenapa kau tidak berterima kasih kepada para tabib itu, Wirya?"

__ADS_1


"Maaf."


"Tsk ... dasar."


"Sudah-sudah, yang terpenting adalah kesembuhan Laksana. Kita telah menyelesaikan ujian tahap pertama, hanya ada satu ujian lagi untuk membuka pintu menjadi pendekar." Kantata mencoba meleraikan perkelahian Cayapata dan Wirya.


"Omong-omong ujian tahap dua itu ujian apa?" tanya Nala memandang wajah Kantata.


"Kalau aku tidak salah dengar, ujian tahap dua adalah melawan para calon pendekar yang telah lulus ujian tahap pertama. Pastinya ujian itu akan jauh lebih sulit dari hari ini! Kita harus menyiapkan taktik dan strategi yang bagus untuk pertarungan satu lawan satu nanti!


"Tidak ada lagi kerjasama, tidak ada lagi saling membantu dan tidak ada lagi yang namanya pengorbanan!" ucap Kantata dengan raut wajah serius sembari membuka tirai yang membatasi kasur milik Laksana dan Abi yang berada di sebelahnya.


"Hiyahh ...! Aku tidak sabar untuk melawan para calon pendekar itu! Akan kukeluarkan seluruh kemampuanku! Hiyah!" Wirya terlihat sangat bersemangat.


Saat Kantata membuka tirai pembatas, mereka melihat kelompok Adi yang tengah duduk mengitari kasur milik Abi. Mata kelompok Adi terlihat memerah menangisi kondisi Abi. Saat tirai pembatas telah terbuka sempurna, Adi memandang wajah Kantata dengan senyum yang terkesan terpaksa.


"Aku mendengar kalian telah lolos ujian tahap pertama, a-aku harap kalian bisa lolos di ujian yang kedua." Adi mencoba menutupi kesedihannya menyambut kemenangan kelompok Kantata.


Kantata tersenyum sedih, ia mendekati Adi kemudian menepuk pundaknya pelan tanpa mengucap sepatah katapun. Hanya senyuman kesedihan yang bisa Kantata berikan. Mereka semua berkumpul tanpa mengatakan apapun, kesunyian datang menghampiri dan rasa sedih memanjat palung hati.


Dalam kesunyian, Kantata mulai berkata pelan, "Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk bisa menegarkan hati kalian. Aku orang luar, aku orang asing dan aku tidak mempunyai hak untuk menasihati kalian. Namun aku hanya ingin berkata satu hal.


"Hidup adalah pilihan, ada kanan, kiri, maju dan mundur. Jangan sampai kalian salah menggambil jalan yang nantinya akan kalian sesali! Jangan pedulikan kerikil dan batu yang menghalangi kalian di sepanjang perjalanan!" Saat Kantata mulai berbicara, Adi, Disa, Cahya dan Haira melihat Kantata dengan tatapan sedih.


Saat Kantata telah mendapatkan semua perhatian, ia mulai berbicara lagi, "Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jika temanku memiliki kondisi yang sama seperti teman kalian. Aku tidak tahu kesedihan seperti apa yang akan kurasakan, aku tidak tahu kemarahan apa yang akan kubebankan dan aku juga tidak tahu kebencian apa yang akan kudapatkan!" Kantata memandang wajah Adi dengan tatapan sayu, menghela nafasnya pelan kemudian kembali berkata, "Yakin dan bergeraklah!"


Kantata menyuruh Cayapata dan Nala untuk menjaga Laksana, sedang dirinya dan Wirya memohon pamit dan pergi keluar dari ruang pengobatan. Kantata dan Wirya mencari udara segar dan ingin melihat jalannya pertandingan.


***

__ADS_1


Setelah duduk kembali di bangku penonton, Wirya memandang wajah Kantata dari dekat. Merasa risih, Kantata langsung mendorong wajah Wirya kuat.


"Kenapa kau memandang wajahku seperti itu!?" Kantata terlihat kesal dengan apa yang Wirya lakukan.


"Khahaha ... ternyata kau jago juga dalam bersilat lidah, Kantata!" Wirya tertawa terbahak bahak menahan perutnya.


"Apa maksudmu?" Kantata menaikkan salah satu alisnya bingung dengan apa yang dikatakan Wirya.


"Kau hebat mengobati jiwa yang telah sepenuhnya rusak, dari pada menjadi pendekar, lebih bagus kalau kau menjadi tabib tentang urusan hati. Khahaha."


"Ha-ha-ha ... sangat lucu!" Kantata terlihat kesal dengan apa yang diucapkan Wirya.


"Tapi serius! Kau akan benar-benar dicari jika ingin menjadi tabib urusan hati. Karena tabib biasa tidak bisa memperbaiki hati yang rusak dari dalam!"


Merasa sudah cukup dengan ucapan Wirya, Kantata langsung mencengkram mulut Wirya dengan kuat.


"Diam! Atau kupatahkan rahangmu!" Kantata menatap mata Wirya tajam.


"Bhaihk-bhaihk, akhu minghta mahaf." Wirya terlihat kesulitan berbicara saat tangan Kantata mencengkram mulutnya kuat.


***


Saat ini arena sedang dibersihkan oleh beberapa orang ahli. Ada yang sedang mengeruk lahar yang telah mengeras dan ada juga yang tengah membersihkan debu-debu dan darah yang menempel di tanah. Setelah semua telah bersih, sang juru pisah terlihat kembali memasuki arena dan berdiri di tengah arena pertandingan.


"Terima kasih kepada seluruh penonton yang telah menunggu dan selamat kepada Laksana Da Mana beserta teman-teman atas kemenangannya! Tanpa berlama-lama lagi saya akan memanggil nama calon pendekar selanjutnya yang akan memasuki arena pertandingan. Namanya adalah Rajaendra Permana!"


Para penonton kembali bergemuruh bertepuk tangan menyambut nama calon pendekar yang akan melaksanakan ujian.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2