
"A-ada yang ingin Livia katakan kepada kalian tentang suatu hal penting. Sebenarnya, Livia adalah seorang budak." Livia menundukkan pandangannya dangan air mata yang mulai mengalir membasahi matanya.
"Hahh ...?" Mereka yang mendengar ucapan Livia terkaget dengan sangat. Mereka tidak mengira bahwa Livia adalah seorang budak setelah melihat penampilannya yang begitu cantik, kulit dan baju yang putih dan bersih. Malahan Jaka dan Maya mengira Livia adalah anak dari seorang yang penting di desa.
Maya, Jaka dan Daya hanya diam berdiri di depan Perpustakaan Raja mencoba mencerna perkataan yang Livia ucapkan, mereka masih tidak percaya bahwa Livia adalah seorang budak.
"W-walaupun kamu adalah seorang budak, kami tetap akan menerimamu sebagai teman kok, Livia," ucap Daya dengan pandangan yang memancarkan rasa sedih dan kasihan.
"Apa statusmu sekarang masih sebagai budak?" tanya Jaka memandang tajam ke arah Livia.
Livia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Jaka. Maya dan Jaka menggelengkan kepalanya beberapa kali setelah mengetahui bahwa status Livia saat ini masih menjadi seorang budak.
"Kenapa? Apa yang salah dari seorang budak!?" Daya terlihat mulai marah karena mengira teman-temannya tidak ingin menerima Livia karena status budaknya.
"Bukan seperti itu, Daya. Masalahnya adalah kita tidak bisa membuat sebuah kelompok jika salah satu di antara kita adalah seorang dengan status budak. Itu sudah peraturannya, sebuah peraturan yang dibuat oleh sang Raja." Maya mencoba menjelaskannya kepada Daya.
Mendengar penjelasan Maya, Daya merasa sedih dan marah karenanya. Daya baru saja bertemu dengan Livia dan ada kemungkinan ia akan berpisah kembali darinya.
"Apakah sedari kita bertemu saat itu kamu sudah menjadi seorang budak, Livia?" tanya Daya dengan nada yang sangat halus.
Angin berhembus pelan menerpa poni milik Livia, matanya yang dipenuhi dengan air mata itu terlihat dengan jelas saat itu. Livia membenarkan posisi poninya, menggengam kedua tangan milik Daya lalu mulai bercerita tentang masa lalunya,
"Daya adalah penyelamat Livia. Bagi Livia, Daya adalah sebuah mentari yang menyinari celah reruntuhan rumah. Tolong jangan menjauh dari Livia, tolong jangan tinggalkan Livia setelah mengetahui fakta Livia adalah seorang budak." Air mata yang Livia coba tahan pecah saat memikirkan bahwa Daya akan meninggalkannya. Livia menangis pada posisi sedikit membungkukkan badannya dengan wajah yang mencium tangan milik Daya.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Daya, Jaka bahkan Maya sedih mendengarkannya.
"Kami tidak akan meninggalkan kamu, Livia. Kami berjanji." Daya memeluk badan Livia dengan erat dan mencoba menenangkan tangisan Livia.
Selama beberapa menit Livia berada pada pelukan Daya. Walau tangisnya sudah berhenti, namun isaknya masih terdengar menggebu di dalam dadanya. Livia melepaskan pelukannya dengan pandangan yang sayu memandang wajah Daya.
"Benar, Daya. Saat kita bertemu waktu itu Livia sudah menjadi seorang budak."
Mendengar pengakuan Livia membuat Daya mengernyitkan dahinya dan mengepalkan tangannya kuat. Daya tak habis pikir bagaimana mungkin seorang anak kecil dijadikan budak.
"Kenapa ini bisa terjadi, Livia? Ke mana orang tuamu?"
"Livia merasa sedikit kurang nyaman jika harus bercerita di sini. Bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih sunyi, Daya?"
"Tentu saja, Livia."
"Bisa dibilang Livia adalah anak yang tidak diinginkan, saat Livia berumur lima tahun, kedua orang tua menjual Livia ke Serikat Budak. Livia dipekerjakan secara paksa di sana, mulai dari siang hingga tengah malam. Semua orang dipekerjakan dengan kasar di sana, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kami hanya diizinkan untuk tidur selama dua jam dalam satu hari dan hanya diberikan satu roti yang hampir membusuk untuk mengisi perut. Tidak ada yang peduli pada Livia, semua orang memukuli Livia tanpa alasan yang jelas. Livia merasakan sakit, Livia merasakan pedih dan rasanya Livia sangat ingin menangis meluapkan semua kesedihan ini.
"Namun, jika saja para penjaga mendengar atau melihat Livia menangis. Maka Livia akan merasakan sebuah pukulan rotan yang secara terus-menerus menghantam badan Livia. Di sana Livia harus selalu bekerja dengan perut kosong dan rasa yang melelahkan ditambah Livia harus berpura-pura menyukai pekerjaan itu dengan tersenyum saat bekerja!
"Apakah Daya bisa membayangan betapa sesak, sakit dan tersiksanya Livia saat itu!?" Livia kembali menangis saat menceritakan masa lalunya. Daya mencoba menenangkan Livia dengan memberikan pundaknya sebagai tempat untuk meluapkan emosinya. Namun Livia menahan tangisnya dan berkata ia masih kuat untuk menceritakan masa kelamnya. Setelah tangisnya mulai mereda, Livia kembali menceritakan masa lalunya,
"Saat itu terjadi kericuhan di Serikat Budak, entah kenapa saat itu pintu yang menutup ruangan para budak terbuka. Livia dan beberapa budak lainnya memutuskan untuk melarikan diri. Saat Livia sudah berada di luar, ada sekelebat bayangan yang tersenyum ke arah Livia lalu hilang di gelapnya malam. Livia berpikirr bahwa ia adalah orang yang telah menyelamatkanku dan beberapa budak lainnya.
__ADS_1
"Pagi itu Livia memutuskan untuk beristirahat di sebuah gang kecil di sekitar desa, di sanalah Livia bertemu dengan Daya. Daya membantu Livia di saat semua orang memperlakukan Livia bagaikan sebuah barang yang tidak layak untuk digunakan, ditambah saat itu Daya sendiri dalam keadaan kesulitan. Sebuah perbuatan yang tidak pernah Livia dapatkan seumur hidup. Lalu Livia berfikir, 'jika Daya bisa maka Livia juga harus bisa.'
"Setelah mengisi tenaga dengan dua buah appel yang Livia beli menggunakan uang Daya, Livia kembali bergerak tanpa berhenti. Livia dipertemukan dengan kakek yang sangat baik, Kakek Eko namanya. Kakek itu adalah orang yang memberikan semua ini padaku." Di akhir perkataannya, Livia tersenyum mengingat kakek Eko.
Mendengar penjelasan Livia, membuat Maya merasa iba padanya. Rasa kesal dan benci yang berada pada diri Maya berangsur-angsur tenggelam dalam rasa sedih pada Livia. Maya kini mengetahui alasan kenapa Livia sangat ingin dekat dengan Daya. Saat ini Livia masih berada pada pelukan Daya.
"Mengingat keadaan Livia adalah budak yang melarikan diri, kemungkinan untuk pembebasan statusnya akan sangat sulit." Maya mencoba berpikir tentang cara mengeluarkan Livia dari statusnya. Mendengar ucapan Maya, Daya mulai bertanya,
"Apa yang harus dilakukan agar Livia bebas dari status perbudakannya, Maya?"
"Ada tiga cara agar Livia bisa dibebaskan dari status budaknya. Yang pertama adalah dengan menebusnya, yang kedua menyelesaikan misi dan yang ketiga meminta langsung kepada Raja!"
"Maksudnya?" tanya Daya bingung.
"Kita bisa menebus budak menggunakan uang, kita bisa menyelesaikan misi lalu memilih budak sebagai hadiahnya, dan yang terakhir tentunya meminta langsung kepada Raja. Jika ia berkanan berapapun atau siapapun budaknya pasti akan diberikan. Namun itu adalah syarat dasar bagi seorang budak yang masih berada di Serikat Budak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ada seorang budak yang yang melarikan diri.
Jaka, Daya dan Livia tertunduk lesu mendengarkan penjelasan Maya.
"Memangnya apa hak yang diambil darinya jika ia adalah seorang budak?" tanya Daya penasaran dengan status budak yang sedang dibicarakan.
"Banyak yang diambil, Daya. Seperti tidak boleh menjadi pendekar, tidak boleh menikah, tidak boleh berkeliling ke semua area lalu, ehmm ...." Saat Maya masih memikirkan apa lagi hak seseorang yang diambil jika menjadi budak, perkataan Maya dipotong oleh Jaka.
"Tidak boleh mengunjungi area istana, tidak boleh bertemu keluarga kerajaan dan lainnya! Aku benci sekali dengan peraturan itu! Sebuah diskriminasi yang sangat nyata dari seorang Raja!"
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.