Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 74: Latihan Bersama, Jaka vs Livia (4/4).


__ADS_3

Saat Livia baru ingin mengeluarkan elemen airnya untuk menghentikan sang manusia api, tiba-tiba Jaka sudah berada di atas kepala manusia api buatannya tengah melompat sembari menghunuskan pedangnya ke arah Livia. Saat itu Livia kaget bukan kepalang, rencananya buyar seketika melihat Jaka dan manusia api miliknya telah berada di hadapannya.


Saat ini Livia benar-benar tak berdaya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Keadaan semakin diperparah ketika Livia hendak memundurkan tubuhnya ke belakang, namun sialnya ia tergelincir sehingga dirinya terjatuh.


Saat Livia terjatuh, ia merasakan gaya gravitasi mengumpul di area belakang punggungnya. Palu milik manusia api dan pedang api biru milik Jaka semakin lama kian mendekat ke arah tubuh Livia. Manusia api tengah bersiap mengayunkan palunya akan menghantam pinggang Livia, sedangkan Jaka akan menusukkan pedangnya tepat ke perut Livia.


Saat detik-detik terakhir dirinya akan kalah, Livia merasakan dan mendengar suara detakan jantungnya yang berdetak begitu kuat dan cepat. Ketika Livia sudah tak sanggup untuk melakukan apa pun, ia teringat pesan kakeknya ketika masih tinggal bersamanya.


Sedikit Flashback Livia Aulia Andien.


Di sebuah gubuk kecil tempat Kakek Eko dan Livia berada, Kakek Eko tengah mengajari Livia cara pengontrolan elemen air.


"Ingatlah ini cucuku yang cantik," ucap Kakek Eko sembari membelai rambut Livia pelan. "Elemen dasar manusia merupakan suatu hal yang unik, kau bisa mempelajarinya dengan mudah saat kau mempunyai bakat di dalamnya. Kakek tahu kau akan menjadi pengendali elemen air yang hebat suatu hari nanti."


Mendengar ucapan kakeknya, Livia hanya mengangguk pelan kemudian senyum merekah di bibir mungilnya.


"Kau mempunyai bakat dalam mengendalikan elemen air, Livia. Maka gunakan elemen itu! Namun jangan gunakan elemen air yang kau punya dengan seenak jidat! Gunakan seperlunya dan kontrol sekuat yang kau bisa!"


"Maksud Kakek bagaimana?"


"Tsk ... cepat atau lambat kau akan mengerti, Livia. Ingatlah selalu perkataan kakekmu ini," ucap Kakek Eko menahan kesal saat sedang mengajari Livia kecil.


Akhir Flashback Livia Aulia Andien.


Jarak antara Livia, manusia api dan Jaka hanya 3 meter lagi. Saat palu dan pedang hampir melukai tubuhnya, Livia terlihat menutup kedua matanya dan merapalkan elemennya.


"Elemen air: Kurungan air kematian!" rapal Livia sembari merenggangkan kedua tangannya ke depan.


Sesaat setelah merapalkan elemennya, secara tiba-tiba muncullah air berbentuk lingkaran yang mengurung Livia, Jaka dan manusia api di dalamnya. Keadaan telah berubah 180° setelah Livia mengeluarkan elemen barunya. Seolah ia dapat bernafas di dalam air, Livia tidak memperlihatkan gelagat aneh selama berada di dalam elemen air miliknya, tidak seperti manusia api dan Jaka.

__ADS_1


Manusia api merah milik Jaka perlahan-lahan padam akibat terendam di dalam lingkaran elemen air. Walau manusia api telah padam, namun palu api biru miliknya masih berkobar dengan terang. Sedikit demi sedikit palu biru itu tenggelam kemudian keluar dari lingkaran air milik Livia kemudian padam dengan sendirinya. Sementara wajah Jaka terlihat kemerahan akibat tidak mendapatkan oksigen di dalam lingkaran air milik Livia.


Jaka terlihat berusaha menggerak-gerakkan kakinya agar dapat keluar dari lingkaran air milik Livia, namun sekuat apapun Jaka berusaha, ia tetap tidak dapat keluar dari kurungan air itu.


Satu menit telah berlalu, dua menit telah beranjak dan tiga menit telah tiba. Sudah tiga menit lebih Jaka terkurung di dalam elemen air milik Livia, terdapat perubahan yang sangat mencolok dari tubuh Jaka. Seperti kulitnya yang mulai berubah menjadi keputihan, telah terlihat keriput di kulitnya dan Jaka sudah tidak lagi menggerakkan tubuhnya.


Merasa Jaka sudah tidak sanggup untuk melawan lagi, akhirnya Livia melepaskan elemennya sehingga Jaka dapat kembali menghirup udara. Selepas Livia melepaskan elemennya, Jaka langsung menghirup udara sedalam-dalamnya kemudian terbatuk beberapa kali.


"Perempuan sialan! Kau ingin membunuhku, ya?" pekik Jaka sembari terbatuk-batuk dengan nafas yang tidak beraturan.


"M-m-maafkan Livia, Jaka. Livia pikir Jaka masih kuat."


"Kuat apanya, aku benar-benar tidak bisa bernafas di dalam sana!"


"Wah, elemen baru ini sangat ampuh untuk membatasi pergerakan lawan. Tapi sepertinya elemen ini banyak menggunakan energi," batin Livia sembari memegang dadanya yang terasa sesak.


Terlihat Daya dan Maya datang menghampiri untuk melihat kondisi Jaka. Daya menepuk-nepuk punggung Jaka pelan dengan tujuan agar air yang terminum Jaka dapat segera keluar sepenuhnya. Melihat ada perbedaan antara Livia dan Jaka setelah keluar dari lingkaran air, Maya langsung bertanya kepada Livia.


"Ah ... itu karena Livia membuat sedikit rongga agar udara dapat masuk ke dalam lingkaran air yang Livia buat."


"Lantas kenapa Jaka tidak dapat bertahan sepertimu?"


"Itu karena Livia hanya memberikan rongga udara itu ke arah Livia saja."


"Perempuan sialan!" Jaka terlihat masih kesal kepada Livia.


Livia dapat merasakan kemarahan yang amat besar pada diri Jaka, terdorong rasa bersalah, Livia kemudian berjongkok dan mencoba mendapatkan maaf dari Jaka.


"Maafkan aku, Jaka. Aku tidak peka terhadap kondisi Jaka," ucap Livia lirih dengan mata yang berkaca-kaca. "Sebagai permintaan maaf, Livia akan membelikan makanan yang Jaka suka, deh!" timpal Livia tetap mencoba mendapatkan maaf darinya.

__ADS_1


Merasa direndahkan dan mudah disuap, Jaka bangkit dari duduknya kemudian menatap tajam mata Livia.


"Kau kira aku bisa dipermainkan dengan makanan, huh!? Teman macam apa yang tega menyakiti temannya sendiri!?" Kali ini Jaka terlihat benar-benar marah.


Livia tertunduk kemudian teringat suatu minuman yang sangat Jaka sukai. Livia pun kembali bernegosiasi kepadanya.


"Bagaimana kalau Livia belikan minuman anggur?"


Pertama kali Jaka mendengar Livia masih ingin membujuknya, Jaka langsung berniat untuk membantahnya. Namun sesaat setelah mendengar nama anggur, raut wajah Jaka berubah drastis.


"Baiklah! Tapi belikan aku sepuluh gelas!" Jaka mencoba menahan wajah malunya.


"Hihihi, baiklah."


Mereka berempat pun tertawa lepas. Sebenarnya Jaka tidak terlalu marah, ia hanya ingin mempermainkan Livia. Namun melihat ada kesempatan meminum anggur sepuluh gelas, tanpa pikir panjang ia langsung menerimanya. Hari sudah sore, mereka berjalan kembali ke desa untuk pergi mencari makanan dan minuman.


Di tengah perjalanan Maya sempat bertanya ke pada Jaka.


"Jak, saat kau berada di dalam elemen air milik Livia, kenapa kau tidak menggunakan api birumu? Aku yakin api biru milikmu dapat mengenai melukai Livia."


"Energiku sudah hampir habis, lagi pula aku tidak ingin menghabiskan seluruh energi yang aku punya hanya untuk latihan."


Mendengar ucapan Jaka, Livia langsung cemberut dan memandang wajah Jaka, "Ihhh ... katanya mau bertarung dengan serius!?"


"Tidak perlu bertarung dengan serius untuk bisa mengalahkanmu!" jawab Jaka tanpa memalingkan pandangannya dari arah depan. Livia hanya merenggut mengetahui Jaka masih belum serius ketika berhadapan dengannya.


"Hahaha, tadi itu pertempuran yang sangat seru, bukan. Saya harap kita dapat berkembang dan berlatih bersama lagi," ucap Daya sembari tersenyum lebar.


Dengan ini latihan besama telah selesai. Daya, Maya dan Livia telah mengetahui kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk Livia, ia mengetahui bahwa pengontrolan energinya masih sangat kurang, ia harus melatih elemen airnya lebih dalam agar bisa memudahkan pertarungannya kelak.

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2