Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 51: Stadion Perpend.


__ADS_3

"Bagi para calon pendekar yang telah melengkapi persyaratan, silahkan masuk dengan membawa kertas yang telah dipersiapkan!" Suara seseorang menggema di sekitar serikat menyuruh para calon pendekar untuk masuk.


Para calon pendekar yang mendengar suara itu langsung beranjak dari tempatnya pergi masuk ke dalam Serikat Pendekar. Daya, Livia bahkan Maya terlihat sedikit gelisah dan gugup ketika ingin masuk ke dalam serikat setelah melihat calonnya yang sangat seram.


"Jangan takut, saat aku mendaftar menjadi pendekar dulu pesertanya lebih banyak." Jaka mencoba menenangkan Daya, Livia dan Maya.


"Benarkah?" Daya yang mendengar ucapan Jaka mulai tenang.


"Benar, tapi setelah dilihat-lihat peserta kali ini lebih seram dan kuat dari pada waktu dulu, hahaha." timpal Jaka tertawa terbahak-bahak menepuk pundak Daya dan pergi meninggalkan mereka.


"Sialan!" Daya yang kesal langsung mengucapkan sumpah serapah untuk yang pertama kalinya.


"Aku akan melihat kalian dari stadion Perpend! Jangan sampai kalah!" timpal Jaka setengah berteriak dengan tangan yang melambai-lambai dari arah belakang.


Author Note:


Stadiom Perpend adalah bangunan yang dibangun oleh Raja Kerajaan Naga Hijau yang kesepuluh,(Raja Zake adalah Raja ketiga belas). Pada dasarnya bangunan ini ditujukan sebagai tempat para pendekar/calon pendekar untuk bertarung merebutkan suatu hal. Bangunan ini dipakai atas izin Raja yang berkuasa pada saat ini.


"Ayo, kita masuk!" Maya melangkahkan kakinya lalu diikuti oleh Daya dan Livia.


Mereka berbaris di dalam antrian para calon pendekar, setelah menunggu beberapa menit akhirnya kini giliran mereka.


"Perlihatkan izin-izin yang telah kalian urus!" ucap lelaki dengan tampang seram itu.


Daya, Livia dan Maya pun memberikan surat-surat yang telah mereka urus beberapa hari yang lalu. Seperti yang Livia duga, lelaki itu akan menyinggung tentang status budaknya,

__ADS_1


"Kenapa seorang budak sepertimu berani-beraninya mencalonkan diri menjadi pendekar? Apa kau tidak tahu peraturannya, huh!?"


Livia tidak membalas perkataan lelaki itu, Livia hanya memberikan surat pencabutan status budaknya sebagai bukti bahwa ia layak dan legal menjadi calon pendekar. Lelaki itu mengambil dan membaca surat itu secara teliti. Setelah siap membacanya, lelaki itu langsung mengambil semua surat milik Daya, Livia dan Maya lalu memberikan mereka masing-masing sebuah nomor. Melihat itu, Daya, Livia dan Maya bingung karena surat pencabutan status budak milik Livia juga ikut diambil, Livia langsung teringat perkataan pak tua penjaga Perpustakaan Raja tentang jangan memberikan kepada siapapun surat pencabutan itu.


"Maaf, Tuan. Apakah surat pencabutan itu juga ikut diambil?" tanya Livia dengan sangat hormat.


"Iya, kenapa? Ada masalah!?" Lelaki itu memandang wajah Livia dengan sangat tajam. Melihat tatapan lelaki itu membuat nyali Livia langsung ciut, namun tidak untuk Daya dan Maya. Melihat kecurangan yang dilakukan lelaki itu kepada temannya membuat mereka berdua marah dan geram.


"Hei, Pak tua! Dalam selembaran tidak diwajibkan kepada calon pendekar untuk memberikan surat pencabutan status! Jangan menipu kamu, Pak tua!" Daya memandang wajah lelaki itu dengan tajam.


"Benar, tapi tidak jika dia adalah seorang budak! Kau paham!?" Lelaki itu mengembalikan sorotan mata tajam kepada Daya.


"Hei, sialan! Kalau kau mau menipu jangan dengan kami! Kami sudah tahu perihal surat pencabutan status itu karena telah langsung bertanya kepada pria tua penjaga di Perpustakaan Raja!" Seolah tidak ingin kalah, Maya juga memandang wajah lelaki itu dengan


Melihat ada orang yang lebih muda dari padanya mencengkram bajunya seperti itu membuat lelaki itu marah dan berniat melepaskan tangan Maya dari kerah bajunya. Namun wajah pria itu berubah kecut saat mengetahui kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan milik Maya. Saat perselisihan itu terjadi, para calon pendekar yang berada tepat di belakang Daya, Maya dan Livia hanya tertawa kecil menikmati perdebatan yang Dana dan Maya lakukan.


Pria itu memandang wajah marah Maya, tiba-tiba raut pria itu berubah menjadi sedikit lebih tenang dan terlihat mencoba menutupi ketakutan dalam dirinya. Karena merasakan bahwa dirinya dalam bahaya, akhirnya pria itu memberikan surat Pencabutan Status kepada Livia. Melihat surat milik Livia telah dikembalikan, Maya melepaskan gengamannya dan mereka pergi dari Serikat Pendekar. Wajah lelaki itu masih terlihat marah padam dan terlihat menyimpan dendam atas perlakuan Daya dan Maya padanya.


Mereka melihat bagian belakang kertas bertuliskan nomor itu bahwasannya mereka harus pergi menuju stadion Perpend tempat Jaka pergi. Maya mempunyai nomor delapan puluh, Livia mempunyai nomor tiga puluh dua dan Daya mendapatkan nomor tujuh puluh empat. Dalam perjalanan menuju stadion Perpend Livia terlihat khawatir atas perlakuan yang Daya dan Maya lakukan kepada penjaga Serikat Pendekar itu,


"Apakah tidak apa kita memperlakukan petugas seperti itu?"


"Lelaki itu duluan yang memulai!" tandas Maya setelah mendengar pertanyaan Livia.


"Lagi pula tidak seharunya penjaga mencurangi calon seperti itu!" timpal Daya membenarkan perlakuan mereka.

__ADS_1


Mendengar ucapan kedua temannya, Livia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan merasakan sebuah kehangatan dan perlindungan dari seorang teman.


"Livia harap bisa menjadi sosok kuat seperti Daya dan Maya di kemudian hari," batin Livia memandang bagian pungung Daya dan Maya yang kebetulan posisi Livia berada paling belakang dengan senyum yang ia coba sembunyikan.


"Omong-omong stadion itu di mana, Maya?" tanya Daya di sela langkah kakinya.


"Stadion itu berada di paling ujung desa Thalas, ikuti saja aku!" jawab Maya tanpa menoleh sedikitpun.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, (Sekitar tujuh menit) akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang sangat besar tanpa atap dan memiliki jeruji besi di sekelilingnya. Stadion ini berbentuk bundar dan memiliki ukuran yang lebih besar beberapa meter dari pada bangunan serikat yang menurut beberapa orang sudah sangat besar. Bisa dibilang bangunan stadion ini adalah salah satu bangunan terbesar yang bisa ditemui di Kerajaan Naga Hijau. Stadion yang terlihat terbuat dari bebatuan dan beberapa tulang monster itu berdiri dengan kokoh di atas permukaan tanah.


Author Note:


Kalian bisa membayangkan stadiom Perpend berbentuk seperti Colosseum. Karena bangunan ini terinspirasi dari sana.


"Wahh ... besar banget bangunannya, bahkan lebih besar dari Serikat Pendekar dan Serikat Perhubungan!" ucap Daya terkagum dengan kebesaran dari ukuran stadion Perpend.


"Mari masuk!" ucap Maya melangkahkan kaki masuk mengikuti beberapa calon pendekar.


Saat melangkahkan kakinya memasuki stadion Perpend, perasaan Livia, Daya dan Maya bercampur aduk. Sebuah perasaan yang membara dan gugup bercampur aduk menjadi satu.


"Saya akan membalaskan hutang saya, tuan Anthony!" batin Daya ketika melangkahkan kakinya memasuki stadion Perpend.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2