
*Sreeek ....
Suara tebasan pedang terdengar lalu beberapa detik kemudian teriakan Po menggema menahan sakitnya tebasan di dada. Sepertinya serangan pendekar yang berniat menebas lehernya itu gagal. Ketika pendekar itu mengetahui serangannya telah gagal, pendekar itu berniat untuk menebasnya sekali lagi. Namun para pendekar yang lain menahan aksinya karena waktu para pendekar untuk berkumpul ke tempat Tetua sudah semakin dekat.
Akhirnya ketiga pendekar itu melangkahkan kakinya keluar dari kebun milik Po, meninggalkannya dalam keadaan yang mengerikan setelah menyiksanya dengan kejam. Mengetahui para pendekar yang akan keluar dari gerbang depan, dengan sigap Maya mengerahkan sisa tenaganya untuk bersembunyi. Setelah beberapa detik Maya bersembunyi dan tidak lagi melihat keberadaan para pendekar barulah ia keluar dari tempat persembunyiannya lalu melangkahkan kakinya memeriksa keadaan Po.
Saat Maya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kebun, Maya melihat kebun Po yang telah hancur berantakan. Alat-alat yang tersusun rapih kini berantakan, bunga-bunga indah yang tertanam kini telah terpotong dan terinjak serta Maya melihat tubuh Po terbaring lemah dengan luka tebasan yang terbuka lebar di dadanya. Maya yang melihat Po dalam keadaan mengerikan itu langsung menghampiri Po.
"P-po, kamu m-masih hidup kan?" tanya Maya ketakutan melihat kondisi Po yang dipenuhi oleh luka dan darah.
Po yang mendengar suara Maya langsung membuka matanya, memandang wajah Maya dan tersenyum,
"Akh ... kau datang pada waktu yang salah, Maya," jawab Po sembari menahan sakitnya tebasan di dada.
"A-ayo berdiri Po! Aku akan membawamu ke tabib di desa!" pinta Maya melingkarkan tangan Po pada lehernya berniat untuk membopong tubuh Po.
"Tidak perlu Maya, aku merasa sudah tidak kuat lagi." Po menolak rangkulan serta permintaan Maya.
"K-kau bisa saja sembuh jika pergi ke tabib, Po!" paksa Maya dengan terus memintanya untuk pergi ke tabib desa.
Namun berapa kali pun Maya memintanya pergi, Po bersikeras untuk tetap tinggal.
__ADS_1
"Walaupun sudah sampai sana mungkin nyawaku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Biarkan saat-saat terakhirku ini mengobrol denganmu, Maya," ucap Po tersenyum sembari menggenggam tangan kanan Maya.
Setelah mendengar ucapan Po, Maya hanya bisa menitihkan air matanya lalu duduk bersimpuh di samping tubuh Po. Mereka berdua terdiam selama beberapa detik, Po terlihat tersenyum dengan tangan yang masih menggenggam tangan kanan Maya sedangkan Maya masih menahan air mata menggunakan tangan kirinya terduduk di sebelah tubuh lemah Po. Dengan air mata yang masih mengalir dan nafas sesenggukan Maya berkata pada Po,
"Ma-ma-maafkan aku, Po," ucap Maya dengan suara yang tertahan sesenggukan di dadanya.
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Po heran melihat wajah Maya yang memerah dengan air mata yang membasahinya.
"A-aku tidak bisa melakukan apapun s-saat kau akan dilukai o-oleh para pendekar itu. A-aku ha-hanya melihat tanpa b-bisa melakukan apapun unuk membantu, a-aku merasa menjadi teman yang t-tidak berguna!" rengek Maya mencela dirinya sendiri dangan suara yang terbata-bata oleh sesenggukan di nafasnya.
"Tidak perlu meminta maaf, Maya. Aku tahu hari ini akan terjadi, terima kasih telah menganggap diriku teman. Ambillah ini," ucap Po lalu memberikan Maya sepucuk surat berwarna coklat.
"Apa ini, Po?" tanya Maya ketika telah mengambil sepucuk surat dari tangan Po.
sembari memanggil-manggil namanya dengan air mata yang menetes membasahi wajah Po. Namun seberapa kuat pun Maya mencoba mengguncang tubuh Po, ia tidak membalasnya. Tubuh Po telah kaku, kulitnya mulai dingin dan sedikit demi sedikit wajahnya terlihat memucat. Maya hanya bisa memeluk tubuh Po yang telah menjadi mayat itu dengan suara tangis yang sangat kuat. Air mata yang Maya coba tahan pecah ketika mengetahui fakta bahwa Po telah pergi untuk selamanya.
Setelah tangisnya mereda, Maya meletakkan surat pemberian Po di dalam kantongnya, berdiri dan mencari sekop besar yang sekiranya bisa untuk menggali tempat peristirahatan terakhir untuk Po. Setelah menemukannya, Maya menggali tanah di dalam kebun milik Po dengan sekop yang telah ia temukan. Sedikit demi sedikit tanah telah tergali, tangan kecil Maya memerah dengan nafas yang sudah mulai tidak beraturan. Namun Maya tidak berhenti ataupun memperlambat gerakannya ketika menggali tanah. Setelah sekiranya tanah yang Maya gali sudah cukup dalam, Maya menancapkan sekop yang ia pegang ke tanah lalu menyeret tubuh Po masuk ke dalam tanah dan menutupnya kembali dengan tanah yang telah ia gali.
Maya berdiri di depan kuburan Po sembari merogoh kantung sakunya mencari surat pemberian Po. Maya membuka surat itu dan membacanya perlahan di dalam hati. Surat itu berbunyi,
"Hei Maya! Jika kau membaca surat ini mungkin aku sudah mati ya, hahaha. Aku tidak tahu apakah kau akan bersedih atas kepergianku atau tidak merasakan apapun, karena kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu sih. Mungkin kau bingung tentang beberapa hal, seperti di mana orang tuaku atau mengapa aku memberikan surat ini padamu. Kalau aku ceritakan semua mungkin aku membutuhkan lima lembar surat untuk memberitahukanmu ya, hahaha. Tapi yang pasti ayahku adalah seorang pendekar yang tidak suka dengan kebijakan Raja dalam menjalankan pemerintahanya. Ayahku membangkang dan lebih memilih untuk membantu para warga, mengetahui hal itu membuat Raja murka dan memberikan titah untuk membunuh semua keluarga Ayahku.
__ADS_1
"Aku tidak merasa kesal ataupun benci pada ayahku atas perbuatannya, aku bangga akan apa yang ia lakukan, bahkan aku memiliki cita-cita untuk menjadi pendekar seperti dirinya suatu hari kelak. Aku adalah keluarga terakhir dari ayahku yang masih hidup, kemungkinan besar aku akan mati karena para pendekar itu telah membunuhku. Aku tahu, keluarga yang kita cintai terbunuh oleh para pendekar dan Raja bengis itu. Tapi jangan pernah membenci para pendekar dan Raja yang lain yah, Maya. Aku harap kau bisa menjadi apa yang kau impikan, terima kasih atas waktunya. Tertanda, Po.
Setelah membaca surat pemberian Po, Maya hanya bisa menahan tangisnya. Maya mencengkram erat surat pemberian Po, mengadahkan kepalanya dengan mata tertutup dan berjanji di dalam hatinya,
"Po, aku berjanji akan menunaikan apa yang belum kau laksanakan!"
Maya melihat ke sekelilingnya dan memetik sebuah bunga mawar kecil yang tampak masih bersih dan bagus lalu meletakkannya di atas tanah kubur Po.
"Beristirahatlah dengan tenang, Po," ucap Maya lirih lalu beranjak pergi dari kebun miliknya.
Selama perjalanan pulang, Maya sangat ingin menumpahkan kesedihannya ke dalam air mata. Namun Maya menahan semua itu, Maya mengetahui ia harus bisa menjadi lebih kuat dalam menghadapi semua hal. Semakin kuat batinnya maka semakin kuat pula dirinya.
Saat Maya pulang, Kakek merasa bingung dan khawatir melihat cucunya yang datang dengan
wajah seperti sehabis menangis. Kakek bertanya padanya, namun Maya tidak memperdulikan pertanyaan Kakek dan hanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Kakek memutuskan
untuk membiarkan cucunya untuk menyendiri menumpahkan kesedihannya di dalam kamar. Saat malam hari tiba, Maya keluar dari kamarnya dan menceritakan semua kepada Kakeknya. Kakek hanya bisa memeluk dan mengusap punggung cucunya itu.
Hari telah berganti dan minggu telah dilalui, kini Maya telah bisa bergerak maju ke depan. Semenjak kepergian Po, kini Maya memiliki tujuan yang ingin digapainya, yaitu menjadi 'pendekar yang melindungi orang yang harus dilindungi'. Setiap hari kegiatan Maya selalu diisi dengan latihan dan membantu pekerjaan Kakeknya. Pernah pada suatu ketika Maya menceritakan apa yang ia impikan kepada beberapa temannya, namun teman-temannya hanya mengolok-olok dan mencaci apa yang Maya impikan. Semenjak saat itu Maya tidak pernah lagi bermain bersama teman-temannya dan memilih untuk menutup dirinya dari orang luar.
*Akhir Flashback Masa Kecil Maya.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.