
Ketegangan dirasakan oleh Jaka dan ketakutan menghampiri teman-temannya. Jaka seorang diri mencoba untuk mengalahkan monster kalajengking yang berada tepat dihadapannya yang kapan saja siap untuk menyerangnya. Dengan kewaspadaan yang tinggi, Jaka berlari menuju monster kalajengking itu, saat jarak Jaka tinggal beberapa meter dari monster, tanpa diduga monster itu menggerakkan sengatnya ke arah Jaka. Dengan sigap Jaka menghindar dari sengatannya. Serangan itu mengakibatkan tanah di sekitar bekas serangannya bolong dan mengeluarkan asap.
"Tsk ... bahkan tanah pun bolong dibuatnya, sekuat apa sengatannya itu," pikir Jaka dalam hati menerka kekuatan serangan si kalajengking.
Jaka mencoba menjaga jarak dengan serangan kalajengking itu dengan mundur beberapa langkah dari bekas serangannya.
"Hmm ... apakah serangan itu adalah batas si kalajengking bisa menyerang? Bisa gawat kalau ternyata serangan itu bisa lebih panjang dari serangan sebelumnya!"
Jaka mencoba mencari celah dari serangan kalajengking, namun dia tidak menemukan cara apapun kecuali membakar kalajengking itu dengan elemen apinya hingga gosong.
"Ah ... tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh sembarangan saat menggunakan energi! Sialan, ayolah berfikir otak!"
Namun tentu saja, Jaka tidak diberikan waktu untuk berfikir. Kalajengking itu merayap mendekati Jaka dengan kecepatan yang luar biasa. Kalajengking itu mengeluarkan serangan sengatannya mengarah ke badannya. Jaka dapat menangkis sengatan kalajengking itu dengan mengayunkan pedangnya, namun ternyata bukan hanya serangan itu yang diluncurkan oleh kalajengking. Tanpa Jaka duga,
kalajengking itu menyerang perutnya dengan capitnya yang tajam.
Srek ....
Serangan capit yang tidak Jaka duga mengenai perutnya. Bajunya robek dan kulit yang terkena serangan kalajengking memuncratkan darah yang tidak sedikit.
"Akh ...!" jerit Jaka kaget tidak mengetahui ternyata serangan kalajengking itu bukan hanya pada sengatannya.
Jaka meloncat ke belakang menjauhi kalajengking itu dengan cepat, namun saat Jaka ingin menjauhi si monster, kalajengking itu tidak memberikan celah kepada Jaka untuk berfikir langkah apa yang harus
dilakukan ataupun membiarkan Jaka menyembuhkan dirinya. Monster itu mengeluarkan tiga serangan jarum dari sengatannya, jarum itu melesat cepat mengikuti Jaka yang mencoba mundur dari kalajengking.
Jaka ingin menghindari semua serangan dari kalajengking, namun luka di perutnya membatasi pergerakan Jaka. Jaka hanya bisa menangkis
jarum dengan pedangnya.
Trang ... Trang ... Trang ....
Suara pedang Jaka bertubrukan dengan ketiga jarum kalajengking yang ditujukan kepada tubuh Jaka terdengar lantang. Ketiga jarum itu dengan tubuh Jaka bersamaan jatuh ke tanah. Saat Jaka terduduk di tanah, dalam hati Jaka berfikir,
"Sialan, kenapa monster-monster ini sangat pintar dalam bertarung? Terlebih dia tidak mengizinkanku untuk beristirahat walau hanya sejenak."
Jaka melihat luka yang menggores perutnya, walau luka itu tidak dalam, tetapi perih yang dirasakan Jaka sangatlah luar biasa.
__ADS_1
"Aku harap tidak ada racun di capitnya," batin Jaka mencoba untuk bangkit karena tau, monster itu tidak akan hanya diam melihatnya yang terduduk.
Dengan tangan kiri yang mencoba menahan darah yang mengalir dan tangan kanan yang memegang pedang, Jaka mencoba berlari mendekati monster itu. Sedikit demi sedikit kecepatan Jaka bertambah cepat seiring dekatnya dengan monster. Saat Jaka sudah dekat dengan sang monster, monster itu menghujamkan sengatannya lagi ke arah tubuh Jaka, namun Jaka dapat menghindari serangan monster itu dan lompat ke atas si monster dan mengarah kan pedangnya ke ekor si monster lalu menebas ekornya dengan tebasan yang cepat dan kuat.
Crang ....
Serangan Jaka berhasil mengenai ekor si kalajengking, namun tebasannya tidak cukup kuat untuk memutuskan ekornya. Jaka kaget ternyata serangannya tidak bisa memutus ekor si kalajengking itu. Saat Jaka masih berada di atas tubuh kalajengking, monster itu menghempaskan tubuh Jaka menjauh darinya menggunakan punggung ekornya dengan kuat. Tubuh Jaka terhempas lalu membentur batang pohon.
"Akh ...," teriak Jaka saat tubuhnya membentur batang pohon. Saat itu juga cairan darah keluar dari mulutnya.
"Sialan, itu ekor atau logam. Keras banget!" keluh Jaka bersandar di pohon dan menancapkan pedangnya ke tanah.
"Sepertinya aku harus mengeluarkan sedikit elemenku," ucap Jaka mencoba bangkit dan mengangkat pedangnya dari tanah.
Jaka menggenggam pedangnya erat, saat itu juga pedangnya dikelilingi oleh kobaran api berwarna biru. Jaka mengacungkan pedangnya ke arah si monster itu dan berkata,
"Kematian akan menjemput kau monster biadab!"
Saat monster itu mengetahui ada ancaman yang mengancam dirinya, dari kejauhan monster itu mengeluarkan jarumnya yang diselimuti oleh
racun berwarna hijau sebanyak lima buah mengarah ke arah Jaka dengan cepat. Tidak seperti sebelumnya yang mana Jaka harus mengeluarkan tenaganya untuk menangkis serangan jarum dari sang monster, kini ayunan serangan Jaka dapat membelah dua jarum si monster dengan mudah.
"Kali ini kau akan mati! Hyaa ...!" ucap Jaka lantang saat berada dekat dengan si monster, Jaka lompat dan memotong tubuh si kalajengking dari atas.
Terbelahlah tubuh si monster itu menjadi dua bagian, pemandangan mengerikan terlihat saat isi perut si monster keluar dari badannya. Dengan ekor kalajengking yang telah menjadi dua, Jaka berpijak
padanya dan meloncat ke belakang. Jaka tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk mendarat, mengakibatkan dia jatuh dari udara dan
pingsan. Pedangnya juga terjatuh tidak jauh dari tubuh Jaka yang tergeletak tak sadarkan diri. Api dari pedangnya perlahan redup dan menghilang.
Mengetahui monster kalajengking itu sudah dikalahkan oleh Jaka, teman-temannya keluar dari lokasi persembunyiannya dan melihat kondisi Jaka.
"Wah ... serpertinya itu sakit, hahaha," ucap salah satu temannya melihat Jaka yang tergeletak lemas di tanah.
"Cepat bopong tubuhnya! Jangan lupa bawa juga pedangnya, aku akan memotong ekor monster ini dan menjualnya ke Serikat Pendekar. Pasti harganya mahal, khahaha."
ketiga temannya pun membopong tubuh Jaka untuk kembali ke pondok sedangkan satu temannya lagi memotong ekor si monster kalajengking. Saat mereka sudah sampai di desa, teman Jaka yang memotong ekor kalajengking itu berpisah dari teman-temannya untuk menjual hasil buruan. Sampailah ia di Serikat Pendekar. Tempat yang sangat besar untuk ukuran orang-orang desa. Tempat ini adalah tempat yang paling besar yang bisa dilihat di sekitar desa Oregon.
__ADS_1
Tempat yang besar dan memiliki patung bergambar naga di pintu masuk. Ia pun masuk ke dalam Serikat Pendekar dengan membawa ekor kalajengking yang dibungkus dengan kain dan diikat dengan tali yang
tebal. Di dalam sana banyak sekali pendekar dengan banyak tujuan. Seperti menjual hasil buruan, ingin membentuk tim, ataupun ingin menjalankan misi yang diberikan oleh orang-orang sesuai tiernya.
Tempat itu dibagi menjadi beberapa bagian. Kanan untuk pendekar yang ingin membuat tim, tengah untuk orang yang ingin melakukan misi, dan yang kiri untuk menjual hasil buruannya. Teman Jaka bergerak ke arah kiri untuk menjual hasil buruannya dan meletakkan ekor kalajengking di tempat yang telah disediakan.
"Bagian monster apa yang kau bawa?" tanya orang yang bertugas sebagai penjaga tempat penjualan hasil buruan.
"Ekor ...."
"Dari monster apa?"
"Aku tidak tau namanya, tapi ini ekor dari kalajengking."
Saat orang-orang mendengar kata kalajengking, mereka semua memperhatikan teman Jaka dengan tatapan tidak percaya.
"Huh ...?" kaget panjaga dan membuka ikatan dan kain yang menutup ekor kalajengking itu.
"T-tidak mungkin, apa anda yang membunuh monster ini, tuan?" tanya penjaga dengan nada tidak yakin dan sikap yang berubah 180°.
"Tentu saja aku yang membunuhnya, kau pikir siapa lagi," ucap teman Jaka berbohong dengan nada yang mayakinkan penjaga.
"Tier anda masih Secundus tapi bisa membunuh monster yang digandang-gadang pendekar dengan Tier Quantus saja kesulitan untuk mengalahkannya," kagum penjaga dengan mata yang berbinar-binar.
"T-t-tentu saja, haha."
"Sialan aku tidak tau kalau monster ini sangat kuat."
"Ekor mosnter ini berharga tiga koin emas, tuan," ucap penjaga mengambil bungkusan berisi ekor monster dan memberikan tiga koin emas kepada teman Jaka.
"Terima kasih," ucap teman Jaka mengambil koin dari tangan penjaga dan buru-buru meninggalkan Serikat pendekar.
"Ah ... tunggu, tuan!" teriak penjaga mencegah kepergian teman Jaka.
Teman Jaka tidak memperdulikan teriakan penjaga dan hanya terus berlari keluar. Saat teman Jaka telah keluar menjauh dari Serikat Pendekar, teman Jaka mengumpat di balik bangunan milik penduduk dan berkata,
"Hah ... hah ..., aku tidak tau kalau monster ini sangat kuat. Terlebih ekornya dihargai tiga koin emas. Ini adalah uang terbanyak yang pernah aku pegang. Aku yakin mereka pasti menyuruhku untuk berburu monster seperti ini di luar sana. Jika itu terjadi, bisa mati aku," ucap teman Jaka dengan nafas yang memburu cepat.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.