Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 36: Maya Revina (2/5).


__ADS_3

Maya mencubit pahanya agar tangisnya mereda, namun berapa kuatpun Maya mencubit dirinya sendiri, rasa sakit itu tidak sebanding dengan kesedihan yang ia rasakan sekarang.


"Sekarang aku akan bercerita sedikit tentang masa kecil Maya. Saat kecil, Maya selalu sendiri dan tidak pernah ingin bermain dengan anak seumurannya, aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Tapi satu hal yang pasti, dia senang di saat sendiri. Apakah saat kalian bersama Maya, ia pernah marah atau tertawa bersama kalian?" tanya Kakek Maya yang masih tertidur lemas di kasurnya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Kami saling tertawa ketika mengingat saat-saat memburu monster dan kami terkadang saling mencela saat ada yang melakukan tindakan bodoh."


"Kedua hal itu adalah sesuatu yang jarang Maya tunjukan kepada orang lain selain diriku, aku tidak salah memintamu untuk menjaga Maya. Saat aku mati nanti, tolong kuburkan aku di dekat gubuk ini ya, Nak Daya," pinta Kakek Maya memandang bola mata Daya.


"Kenapa Anda melakukan ini, Kek? Apa yang harus kukatakan pada Maya di saat ia yang mengira Kakeknya akan sembuh di hari esok malah meninggal? Membayangkannya saja saya tidak sanggup!"


Tangis Maya yang telah mereda kembali meledak setelah mendengar perkataan yang Daya lontarkan. Maya sebisa mungkin menahan suara yang keluar dari mulutnya.


"Maya adalah anak yang pintar, Nak Daya. Jelaskan saja padanya dan aku yakin ia 'kan mengerti."


Daya tidak menjawab permintaan Kakek Maya, Daya hanya bisa menundukkan kepalanya menahan air mata yang akan membasahi pipinya. Melihat reaksi Daya, Kakek Maya hanya tersenyum melihatnya, Kakek Maya merasa senang dan sedih pada saat yang sama. Bebannya seakan hilang melihat Maya sekarang memiliki teman yang akan melindunginya dan Maya bisa menjadi apa yang ia impikan.


Maya masih meneteskan air matanya, baju dan kain yang menjadi alasnya basah akibat air mata yang mengalir menjatuhinya. Pikiran Maya bergerak maju dan mundur. Ia berfikir tentang hari esok tanpa ada lagi kakeknya dan ia teringat saat-saat masih kecil.


*Flashback Masa Kecil Maya.


Beberapa bulan telah berlalu semenjak Kakek dan Maya pindah ke gubuk bambu, gubuk mereka masih bagus dan belum terdapat tanaman di halaman. Saat itu maya masih berumur lima tahun, namun dengan umur yang masih muda, Maya telah banyak melalui rintangan yang menghampirinya. Terlihat Maya sedang membantu Kakeknya memasak segenggam beras untuk sarapan mereka berdua. Setelah beras menjadi nasi, Kakek meletakkan semua nasi itu ke piring milik Maya. Maya mengernyitkan alisnya dengan apa yang Kakeknya perbuat.


"Kenapa Kakek meletakkan semua di piring Maya? Kakek tidak makan?" tanya Maya kecil dengan polos.


"Tidak, Nak. Makanlah agar badan kecilmu itu menjadi besar," jawab Kakek sembari membelai rambut pendek Maya pelan.

__ADS_1


Maya melihat ke arah piring dengan nasi putih yang masih mengepulkan uapnya di tangan. Selama beberapa bulan ini Maya dan Kakek hanya makan menggunakan nasi putih. Maya meletakkan piring yang berada di genggamannya dan berdiri. Kakek terbingung melihat apa yang dilakukan cucunya itu, Maya melangkahkan kakinya pelan dan keberadaannya hilang berbelok ke ruangan kanan. Saat kembali lagi, Maya membawa sebuah piring kosong dan meletakkan setengah nasinya ke piring kosong itu lalu memberikannya ke hadapan Kakeknya.


Melihat apa yang dilakukan cucunya membuat hati Kakek sangat senang, Kakek memeluk tubuh kecil Maya dengan erat sembari berkata,


"Ahhhh ... baiknya cucuku ini ...."


"Aw, aw, Kek sakit!" rengek Maya merasa sesak dengan pelukan Kakeknya.


"Hahaha, mari kita makan. Maaf Kakek hanya bisa membelikanmu segenggam nasi tanpa ada lauknya, Maya."


"Tidak apa, Kakek."


"Kakek janji saat ulang tahunmu tiba, Kakek akan membelikan nasi dan lauk yang enak," janji Kakek dengan nada yang serius.


Maya tersenyum dengan janji yang Kakeknya berikan lalu mereka berdua pun memakan nasi dihadapannya dengan lahap. Setelah sarapan, Kakek Maya pergi ke depan gubuknya berencana membuat tempat untuk menanam umbi-umbian agar Maya bisa memakannya. Sedangkan Maya pergi berjalan-jalan ke sekitar desa dekat gubuknya. Ketika sedang asik berjalan, Maya bertemu dengan seorang bocah aneh yang kira-kira berumur lima tahun lebih tua darinya. Bocah itu membawa pedang mainan dan memakai topeng monster sedang berlaga seperti pendekar.


Bocah itu melihat kedatangan Maya dan bergerak menuju arahnya. Setelah dekat dengan Maya, bocah itu berkata,


"Hooooi cewe, siapakah gerangan?" tanya bocah itu dengan nada yang dilebih-lebihkan.


"Maya," jawab Maya dengan pandangan merasa aneh melihatnya.


"Woooo ... Maya, apakah kau monster? Jika iya, aku akan menebasmu dengan pedang ini! Cyakk ... Hyah!" ucap bocah itu lalu mengayunkan lagi pedangnya memotong udara.


"Tentu saja bukan, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Maya memandang gerak-gerik bocah itu.

__ADS_1


"Aku sedang berpatroli, jika aku melihat monster maka akan kutebas dengan pedang ini," jawab bocah itu berapi-api.


"Apa kau suka dengan pendekar?" tanya Maya penasaran dengan tingkah lakunya meniru pendekar.


Bocah itu menghentikan gerakan anehnya selama beberapa detik. Bocah itu mengangkat tangannya dan membuka topeng yang menutup wajahnya, betapa kagetnya Maya melihat wajahnya. Bagian kanan wajah bocah itu rusak dengan luka tebasan yang memanjang melintasi mata kirinya. Maya terlihat ketakutan saat melihatnya dan merasa tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah bocah itu.


"Ini akibat Raja dan para pendekar sialan itu!" seru bocah itu dengan nada yang sangat marah.


Maya tidak membalas ucapannya, perhatiannya masih teralihkan dengan wajah mengerikan yang bocah itu derita.


"Aku tahu, kau pasti merasa jijik dengan wajahku, bukan?"


"Ah ... maaf, aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Aku hanya keget melihatnya, kalau boleh tahu kenapa para pendekar dan Raja melakukan hal itu? Apa karena tidak bisa membayar pajak?" tanya Maya setelah bisa mengendalikan rasa takutnya.


"Ternyata kau sudah tahu, apa kau juga telah merasakan kejahanaman Raja itu?" tanya bocah itu sembari memasang kembali topengnya.


"Iya, kedua orang tuaku telah dibunuh oleh para pendekar yang disuruh oleh Raja," jawab Maya dengan nada pilu mengingat teriakan dan rasa sakit yang orang tuanya derita ketika mereka dibunuh.


"Aku turut berduka, apa kau melihatnya membunuh kedua orang tuamu?"


"Tidak, aku hanya mendengar jeritan ayah dan ibuku. Jeritan yang sangat pilu dari rasa sakit yang teramat."


Maya kembali teringat kematian kedua orang tuanya, rasa sedih dan marah kembali mengalir dalam dirinya. Melihat Maya yang sedih, bocah itu menggenggam tangan Maya dan menariknya pelan sembar berkata,


"Ayo ikuti aku, 'kan kutunjukkan sebuah hal yang mungkin akan meredam rasa sakitmu."

__ADS_1


\=\=♡\=\=


To Be Continued.


__ADS_2