
Dengan langkah yang pelan, Daya melangkahkan kakinya membantu Jaka berjalan. Dari arah belakang, para penduduk melempari mereka dengan banyak sekali barang-barang. Mulai dari sandal, kayu, botol minum, hingga batu. Daya mencoba sebisa mungkin melindungi tubuh lemah Jaka dari hantaman benda-benda itu, namun ada kalanya benda itu tetap mengenai tubuh Jaka. Saat salah satu benda itu mengenai kepala Jaka, ia terbangun dari pingsannya.
Jaka merasa aneh karena dia merasa dibopong oleh seseorang, Jaka melihat siapa orang yang membopongnya dengan mencoba memfokuskan pandangannya ke orang di sebelahnya. Namun, pandangan Jaka terlalu kabur untuk bisa melihat
siapa orang yang menyelamatkannya.
"Akh ... sakit sekali," rintih Jaka menahan sakit di sekujur badannya.
"Bergeraklah sedikit lagi agar kamu tidak terkena lemparan warga," ucap Daya membopong tubuh Jaka.
Setelah perjuangan yang keras, akhirnya mereka berdua bisa keluar dari desa dengan selamat, walaupun keadaan mereka tidak bisa dibilang
baik-baik saja. Kondisi luka Jaka semakin parah akibat terkena lemparan para warga, dan badan Daya yang membopong tubuh Jaka juga ikut terkena imbasnya. Setelah Daya merasa mereka telah jauh dari desa, Daya membaringkan tubuh Jaka di atas permukaan tanah. Saat tubuh Jaka dibaringkan oleh Daya, pandangan Jaka telah kembali ke sedia kala. Jaka melihat siapa orang yang telah menyelamatkannya.
"K-k-kau ...," ucap Jaka terkaget tidak percaya melihat orang yang menyelamatkan nyawanya adalah Daya. Orang yang selalu diganggunya ketika masih belajar di pondok milik Tuan Abdi.
"Jangan banyak bicara, biarkan aku menyembuhkan mu dahulu."
"Kenapa kau ingin menyembuhkanku? Bukankah aku telah banyak melukai kau?" tanya Jaka dengan nada dan tatapan bingung.
"Kita ini teman, kan?" ucap Daya dengan senyum ramah mengiasi bibirnya.
Mendengar kata 'teman' dari orang yang selalu ditindasnya memberikan pukulan telak di dada Jaka. Tanpa terasa tetesan air mata membasahi pipinya.
"Tapi, sepertinya luka yang aku terima tidak bisa disembuhi lagi. Kau tau apa yang kurasakan saat ini?
"Aku merasakan saat-saat terakhir yang dramatis dan kematian yang terasa manis. Tidak ada lagi penyesalan dalam diriku, dan telah hilang semua keraguan yang mengekang hatiku. Terima kasih telah berkata bahwa aku adalah temanmu, kata-kata itu sangat berarti bagiku," ucap Jaka dengan nada sedih merasakan bahwa ia akan mati sebentar lagi.
"Jangan lebay deh, kamu bakalan sembuh kok, aku akan menggunakan Arbitrium untuk menyembuhkan lukamu," ucap Daya duduk bersila bersiap menggendalikan energi alam disekitarnya.
"S-sialan, kenapa gak bilang dari awal kalau kau bisa menggunakan energi itu," ucap Jaka menahan malu mengingat kata-kata memalukan yang keluar dari mulutnya.
Daya mulai mengendalikan energi alam, tubuhnya mengeluarkan aura berwarna hitam yang mengelilingi tubuh Daya. Saat aura itu mengelilingi tubuh Daya, semua luka yang ia terima juga ikut sembuh. Saat Daya rasa persiapannya sudah matang, Daya menyalurkan auranya ke tubuh Jaka. Selama beberapa saat, tubuh Jaka dialiri oleh aura berwarna hitam milik Daya. Saat aura itu sampai ke tubuh Jaka, terlihat perlahan-lahan luka di sekujur tubuh Jaka mulai menutup dan sembuh seketika.
Tubuh Jaka yang awalnya lemas, kini ia dapat menggerakkan tangannya kembali. Luka-luka yang mengitari tubuh Jaka seketika menghilang dan pergi. Setelah Daya merasa luka yang Jaka terima telah sembuh, Daya menghentikan auranya dan menyuruh Jaka untuk duduk.
"Hah ... terima kasih sudah menyelamatkanku. Omong-omong siapa namamu?" tanya Jaka duduk bersender di batang pohon mencari nafas.
"Panggil saja Daya," jawab Daya berdiri dan membuka ransel miliknya menggambil roti lalu memberikanya kepada Jaka.
__ADS_1
"Hahaha, Daya. Nama yang aneh. Ah ... terima kasih," tawa Jaka keluar ketika mendengar nama Daya lalu mengambil roti pemberiannya.
Jaka membuka roti tawar itu dan memakannya dengan lahap.
"Yah, begitulah. Itu nama pemberian orang tuaku," ucap Daya kembali duduk di atas permukaan tanah memandang Jaka memakan roti.
"Maaf, bukannya aku tidak bersyukur dengan pemberianmu, Daya. Tapi aku sangat lapar, bisakah aku meminta makananmu sedikit lagi," pinta Jaka dengan tangan mengadah meminta makanan ke Daya.
"Eh ... roti itu sudah habis? Baru saja saya duduk setelah menggambilkanmu roti," jawab Daya kaget melihat roti pemberiannya habis sekali makan.
"Hehe ...," tawa Jaka singkat terdengar pelan.
"Kalau kau memang lapar, ambil saja ini," ucap Daya memberikan kotak bekalnya kepada Jaka.
"Kau sungguh akan memberikannya kepadaku? Makasih Daya," kata Jaka mengambil kotak bekal milik Daya membuka dan memakannya lahap.
Daya menunggu Jaka menghabiskan makanannya dengan sabar. Setelah menunggu lama, akhirnya Jaka selesai memakan makanan. Sendawa keluar dari mulut Jaka, Daya memberikan botol minumnya kepada Jaka.
"Ah ... terima kasih," ucap Jaka menggambil botol dari tangan Daya lalu meneguknya cepat.
*Glug glug glug glug ....
"Siapa namamu?" tanya Daya memandang wajah tampannya.
"Ah, kukira kau sudah tahu namaku. Panggil saja Jaka."
"Banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu, jadi bisakah kamu jelaskan padaku tentang apa yang terjadi padamu?" tanya Daya dengan wajah penuh pertanyaan.
Pandangan Jaka menunduk, ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Jaka menghela nafasnya lalu berkata,
"Aku akan menjelaskan semua padamu. Namun, pertama-tama terima lah permohonan maafkanku kerena dulu pernah melakukan hal yang tidak pantas padamu," ucap Jaka sedih membungkukkan badannya.
"Yang berlalu, biarlah berlalu. Jelaskan saja kenapa kamu sampai akan di eksekusi oleh Pemimpin desa," tanya Daya singkat.
Jaka pun menjelaskan apa yang terjadi kepada dirinya sehingga akan dieksekusi. Mulai dari pertemanannya, Pemimpin desa adalah ayahnya, hingga alasan kenapa ia mencelakai orang lain. Setelah Jaka selesai memberitahu Daya apa yang terjadi, Daya mengambil inti sari dari penjelasan Jaka,
"Ohh ... jadi alasan kenapa pria tegap itu tersenyum, karena anaknya terselamatkan yah," batin Daya menerka apa yang terjadi.
"Aku turut prihatin dengan apa yang kamu alami, Jaka. Tapi kenapa bisa kamu berteman dengan mereka? Apa yang melatarbelakanginya?" tanya Daya penasaran.
__ADS_1
"Sebagaimana kau tahu, aku adalah anak dari Pemimpin desa. Ibu dan Ayahku sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga aku harus selalu bermain di rumah sendirian sepanjang hari. Aku tau apa arti kesunyian dan aku mengerti apa arti kehampaan. Namun, semua itu diperparah saat mengetahui ternyata orang tuaku sendiri yang membuatnya.
"Ketika umurku delapan tahun, aku merasa jenuh bermain di rumah. Jadi aku mencoba bermain di luar. Saat aku sedang bermain di luar, aku hampir di ganggu oleh segerombolan anak-anak desa. Namun, aku diselamatkan oleh keempat temanku itu. Aku berteman dengan mereka selama bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun pertemanan itu juga aku merasakan ada yang aneh dengan mereka. Mulai dari meminta uang yang tidak sedikit kepadaku, menggunakan aset desa, hingga mengajakku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan.
"Dalam hatiku merasakan aku tidak ingin bermain bersama mereka. Tapi pemikiranku menolak merasakan kesunyian dan kehampaan lagi. Banyak yang berkata bahwa aku telah dimanipulasi olehnya, tapi aku tidak mendegarkannya. Hingga akhirnya aku sampai pada batasannya, dan kau tau apa yang selanjutnya terjadi. Begitu lah ceritanya."
Daya menundukkan kepalanya, ia merasa kasihan kepada Jaka karena salah memilih teman.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Daya? tanya Jaka memecah lamunan Daya.
"Ah ... saya ingin mejadi pendekar. Tapi aku tidak tau bagaimana cara memulainya."
"Kalau begitu, tolong jadikan aku teman sependekarmu," pinta Jaka memohon kepada Daya.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa kembali ke Desa Oregon. Tolong izinkan aku menjadi teman sependekarmu," lanjut Jaka memohon kepada Daya.
"Kita memang teman, bukan?"
"Iya, maksudku jadi teman sependekar."
"Maksudnya apa? Saya tidak mengerti."
"Kau ingin menjadi pendekar seorang diri atau bersama teman?" tanya Jaka memastikan langkahnya benar.
"Tidak ada yang bisa dilakukan sendiri. Tentu saja aku ingin menjadi pendekar dan berpetualang bersama teman-temanku," jawab Daya yakin.
"Ketika kau melamarkan diri menjadi pendekar di serikat pendekar, kau boleh memilih teman berpetualangmu, maksimalnya adalah lima orang. Jadi izinkan aku menjadi teman sependekarmu."
"Oh ... oke."
"Terima kasih, Daya."
Akhirnya Jaka pun menjadi teman sependekar pertama Daya. Perjalanan dan tantangan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Petualangan yang tidak mudah dan tidak pula gampang untuk dilalui. Namun Daya yakin, dengan percaya dan bekerja keras bersama teman-teman yang setia, apapun pasti bisa dilaluinya.
\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=
To Be Continued.
Wahh ... Terima kasih sudah membaca novel saya teman teman. Segala kritik dan saran yang membangun akan saya terima dengan senang hati :))
__ADS_1
Jika ada salah penulisan atau typo tolong diberitahukan. Karena saya menjadi writer sekaligus editor novel ini. Sampai jumpa di hari esok, Bye bye :))