
Mereka memasuki stadion yang besar dengan denyut jantung yang berdebar. Stadion itu sangat megah dan terbagi atas dua bagian, yaitu bangku penonton dan arena pertandingan. Bangku penonton dilengkapi dengan atap di atasnya sebagai pelindung dari panasnya hari, sedangkan arena pertandingan yang luas itu langsung terkena paparan sinar matahari,
membuat siapapun yang berdiri di tengah arena itu merasakan teriknya mentari. Di bangku penonton sudah terlihat penuh diisi oleh beberapa warga yang saling bersorak ketika para calon pendekar memasuki arena pertandingan. Namun dari penuhnya bangku penonton, terdapat tempat yang terlihat hanya memiliki lima kursi kosong.
Para calon pendekar dibimbing oleh seorang pria berbadan kurus dengan pedang kecil di pinggangnya untuk berbaris di tengah arena dan menghadap ke sebuah kursi mewah yang terletak di bangku penonton. Mereka melihat berderet lima buah kursi yang memiliki warna hijau dan masing-masing kursi itu memiliki ukuran yang berbeda. Kursi yang berada di tengah adalah kursi yang paling besar dan terdepan, sedangkan kursi yang lain berposisi sedikit ke belakang dengan ukuran yang sedikit lebih kecil dari pada kursi di depannya.
Masing-masing calon pendekar saling berpandang bingung tentang siapakah orang yang akan duduk di atas kursi mewah itu. Ada yang beranggapan bahwa Tetua Pendekarlah yang akan duduk di sana, ada juga yang beranggapan pendekar dengan Tier Celestial Dragon yang akan duduk di kursi mewah itu dan masih banyak anggapan lainnya. Namun satu hal yang pasti, siapapun orang yang duduk di atas kursi itu pasti adalah orang yang memegang peranan penting pada pertandingan ini.
\=\=
"Hih ... panas banget di sini!" Maya yang kepanasan itu terlihat mengelap keringat yang berada di keningnya.
"Iyah ... panas." Livia membenarkan ucapan Maya.
"Omong-omong apa yang kita tunggu, Maya? Sudah sekitar sepuluh menit kita berdiri di tengah arena ini," tanya Daya yang juga terlihat kepanasan.
"Aku tidak tahu, Daya. Dahulu aku dan kakekku pernah ikut melihat pertandingan pendekar, namun biasanya setelah pendekar dibariskan di tengah lapangan, maka ujiannya akan langsung dimulai."
__ADS_1
Ketika mereka masih berbicara, mereka dikagetkan dengan suara trompet yang menggema di stadion Perpend. Sebuah suara yang membuat siapapun tertarik untuk melihat ke arah suara itu berasal. Semua mata tertuju pada dua pria yang mengenakan pakaian khas Kerajaan Naga Hijau itu sedang meniup terompetnya dengan indah. Di tengah kedua pria itu terdapat sebuah pintu yang dihiasi dengan gorden berwarna putih denga logo Kerajaan Naga Hijau. Beberapa detik setelah peniupan terdengar, terlihat ada seseorang yang membuka gorden itu dan memasuki bangku penonton tempat lima kursi kosong berada.
Melihat siapa yang datang, para penonton bergemuruh riang dan para calon pendekar terbelalak kaget melihat wujud dari orang yang akan duduk di kursi mewah itu. Mereka adalah keluarga Kerajaan, Raja Zake George, Ratu Ajeng Abelia Anne dan ketiga anaknya.
Kejutan tidak hanya sampai situ, ternyata orang yang berjalan di paling belakang adalah orang yang bisa dibilang paling kuat di Kerajaan Naga Hijau ini. Yap, dialah satu-satunya pendekar dengan Tier Celestial Dragon, orang yang diangkat langsung oleh Raja, pendekar paling kuat, penasihat Raja sekaligus sebagai Perdana Menteri Kerajaan Naga Hijau. Walau posisi Perdana Menteri hanya memegang peranan simbolis, Raja memberikan beberapa hak kepada Perdana Menteri untuk melakukan sesuatu.
Raja Zake Geroge berjalan dengan tegap lalu duduk di kursi yang paling besar, Ratu Ajeng dan ketiga anaknya duduk di kursi dengan ukuran lebih kecil yang berada sedikit di belakang kursi Raja, sedangkan pendekar dengan Tier Celestial Dragon berdiri di samping keluarga kerajaan sebagai penjaga jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Semua orang memandang pendekar yang berdiri di sebelah keluarga kerajaan itu dengan mata yang tajam, melihatnya saja mereka semua sudah bergidik ngeri. Pria yang digadang-gadang sebagai orang terkuat itu memiliki aura yang sangat pekat, badan yang sangat kekar, sebelah matanya buta dengan bekas luka tebasan yang memanjang di mata kanannya dan rambut panjang diikat kuda berwarna putih perak. Pria itu berdiri menyilangkan tangannya melihat satu-satu para calon pendekar dengan tatapan yang cepat.
Putera mahkota tertua dan yang mungkin akan melanjutkan ayahnya menjadi Raja adalah Henry Abisatya Daryata. Memiliki badan yang tegap, tatapan tajam, rambut berwarna hitam bergelombang, kumis dan jenggot halus dan terlihat begitu berwibawa. Lalu Putera Mahkota kedua bernama Tommy Bryatta Bahuwirya. Memiliki badan yang kurus, tatapan sayu, rambut sedikit keriting, dan terlihat sedikit malas.
Lalu yang terakhir adalah Puteri Mahkota, anak paling muda dari pasangan Raja Zake dan Ratu Ajeng bernama Kanaya Puteri Cahari. Mempunyai pipi yang tembem, mata bulat dan rambut hitam panjang.
Saat ratusan pasang mata masih terfokus pada anggota kerajaan dan pendekar dengan Tier Celestial Dragon, seorang pria kurus dengan tompel besar di pipinya terlihat memasuki arena dari salah satu pintu. Arena tempat para calon pendekar berdiri memiliki sembilan buah pintu yang tertutup rapat pada ujung arena. Di atas masing-masing pintu memiliki nomor, mulai daru satu hingga delapan, sedangkan pintu yang terakhir berguna sebagai penghubung antara arena pertandingan, bangku penonton dan jalan keluar.
Pria dengan tompel itu berdiri di hadapan para calon pendekar lalu membuka ujian. Pria itu membalikkan pandangannya dan melihat ke arah anggota kerajaan,
__ADS_1
"Sebelum tradisi ini kita mulai, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam, karena telah dipercayai oleh Yang Mulia Zake sebagai juru pisah pada tradisi ini." Pria itu membungkukkan badannya.
Mendengar ucapan pria itu, Raja Zake hanya menyuruh pria itu untuk mengangkat wajahnya. Raja Zake dipersilahkan untuk mengucapkan kata pembuka sebelum ujian ini dimulai. Raja Zake berdiri, memandang ke arah bangku penonton lalu melihat para calon pendekar dengan tatapan tajam dan senyum di bibirnya. Raja Zake berkata,
"Sudah lama sekali stadion Perpend ini tidak digunakan oleh para calon pendekar untuk melaksanakan tradisi Seda. Saya yakin banyak dari kalian bingung tentang tradisi Seda ini. Mulai dari bingung tentang apa itu tradisi Seda hingga bingung kenapa tradisi Seda kembali diberlakukan. Tradisi Seda adalah tradisi melawan monster-monster kuat yang telah ditangkap oleh beberapa pendekar Tier Emperor!" Mendegar penjelasan Raja, beberapa penonton terkejut dan saling memandang.
"Akibat tradisi ini, banyak calon pendekar yang gugur karena tidak kuasa melawan monster kuat yang telah ditangkap. Namun jangan khawatir, orang di depan kalian akan membantu jika kalian dalam bahaya. Perkenalkan namamu!" perintah Raja memandang pria dengan tompel besar itu. Mendengar perintah Raja, pria itu mengangguk lalu membalikkan badannya.
"Perkenalkan, nama saya adalah Farraz Fazwan. Kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Evan. Selain menjadi juru pisah, saya juga bekerja sebagai pendekar dengan Tier Emperor." Pria itu membungkukkan badannya hormat ke arah para calon pendekar.
Mendengarnya, baik para calon pendekar maupun penonton dibuat kaget. Berbeda dengan pendekar Celestial Dragon yang berdiri di sebelah Raja pemancar aura yang sangat pekat, mereka tidak mengira bahwa pria kurus dengan tompel besar itu adalah seorang pendekar dengan Tier Emperor. Melihat reaksi para calon pendekar, Evan hanya tertawa dan tersenyum. Setelah memperkenalkan dirinya, Raja kembali pada ucapan pembukanya,
"Alasan saya menyetujui tradisi Seda kembali adalah karena ada ramalan di masa depan tentang Ras lain yang akan menyerang Ras manusia!"
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
__ADS_1