Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 71: Latihan Bersama, Jaka vs Livia (1/4).


__ADS_3

Pertarungan latihan antara Maya dan Daya telah berakhir, pertarungan yang sangat sengit terjadi di antara mereka berdua. Pukulan serta tendangan silih diberikan, Daya telah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan sedikit luka pada tubuh Maya tanpa bantuan energi Arbitrium dan auranya. Namun itu semua sangatlah sulit untuk dilakukan, tubuh Maya terlalu kuat dan keras.


Karena tidak ada cara lain, Daya memutuskan untuk menggunakan energi Arbitrium sebagai tambahan energi. Namun tetap, pukulannya tidak sanggup menumbangkan Maya. Daya tidak ingin mengeluarkan aura miliknya karena tidak ingin memberikan luka yang parah kepada Maya.


Saat pertarungan antara Maya dan Daya telah berlangsung selama beberapa menit, selesailah sudah pertarungan mereka. Setelah pertarungan selesai, mereka mengetahui kelebihan serta kekurangan pada diri mereka, kekuatan mereka 'kan berkembang dan kelemahan mereka 'kan memudar.


Kini tiba saatnya pertarungan latihan antara Jaka dan Livia. Mereka berdua telah berdiri pada posisinya masing-masing. Daya dan Maya tak henti-hentinya menyemangati Livia yang kelihatannya sangat takut ketika akan melawan Jaka. Badannya bergetar, matanya tak sanggup menatap mata Jaka dan terlihat sedikit keringat menetes membasahi bajunya.


Livia takut saat melihat wajah serius milik Jaka, Livia takut saat melihat kobaran api yang berada pada pedang yang Jaka gengam, dan Livia takut elemen airnya tidak sanggup melindungi dirinya dari kobaran api milik Jaka.


"Ayo Livia! Kau pasti bisa! Tendang bokong si Jaka!"


"Semangat Livia, jangan ragu dan jangalah gentar! Percayalah pada dirimu sendiri, bangkit dan kerahkan kekuatanmu!" Daya dan Maya terus menerus menyemangati Livia tanpa henti.


Mendengar kata-kata semangat dari Maya dan Daya, sedikit demi sedikit ketakutan dan rasa tidak percaya diri yang ada pada diri Livia mulai memudar. "Terima kasih Daya, terima kasih Maya."


Livia menarik nafas yang panjang melalui hidungnya lalu menghembuskannya perlahan dari mulutnya. Terlihat Livia yang sekarang sangat berbeda dengan Livia beberapa menit yang lalu.


Saat ini Livia telah berdiri dengan tegap, tidak seperti beberapa menit yang lalu ia berdiri dengan kaki yang bergetar. Saat ini Livia telah berani menatap mata Jaka dengan tajam, tidak seperti beberapa menit yang lalu ia ketakutan saat hendak melirik Jaka. Dan saat ini Livia telah memegang busur dan anak panah pada gengaman tangannya bersiap akan meluncurkan serangannya.


Author Note:


Pedang milik Jaka yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu merupakan pedang dengan bentuk yang unik. Pedangnya memiliki panjang sekitar 70 cm dengan sedikit lengkungan. Agar lebih mudah membayangkannya, pedang Jaka berbentuk seperti Arabian Sword. Bisa teman-teman cari di Google.


Setelah beberapa detik mereka berada pada posisi bersiap ini, terdengarlah teriakan Daya sebagai tanda telah dimulainya pertarungan latihan bersama ini.

__ADS_1


"Mulai!"


***


"Aku tidak ingin menakut-nakutimu, tapi sebelum pertarungan ini dimulai, kau harus tahu satu hal!" Jaka mengangat tangannya lurus ke depan seakan menyuruh Livia untuk menahan tembakan anak panahnya.


Dengan alis yang terangkat, Livia bertanya, "Apah itu?"


"Saat aku bertarung, mau itu pertarungan sungguhan atau tidak, aku selalu serius. Aku membenci kekalahan, aku menolak untuk bertekuk lutut di hadapan orang lain, dan aku tidak suka ditumbangkan olehnya.


"Aku mau kau serius dalam pertarungan ini, Livia! Jika kau tidak sanggup, maka menyerahlah! Latihan ini tidak setimpal dengan nyawamu," jawab Jaka dengan pandangan tajam menatap mata Livia. Daya dan Maya yang mendengar ucapan Jaka merinding seketika.


Mendengar ucapan Jaka, Livia hanya menghela nafasnya pelan kemudian memandang kedua tangannya yang sedang memegang busur dan anak panah lalu tersenyum.


"Hahaa ... tenang saja, aku tak akan membunuhmu. Jika itu kulakukan, Daya dan Maya akan marah padaku."


"Heeee ... sebelum Jaka bisa membunuh Livia, Livia duluan lah yang akan melakukannya!" Livia terlihat bersiap akan menembakkan anak panahnya.


"Hahaha, mari kita lihat." Jaka langsung berlari memegang pedang miliknya di tangan kanan.


Melihat Jaka yang tengah berlari ke arahnya, Livia tidak hanya tinggal diam. Livia menembakkan dua anak panahnya tepat ke arah paha Jaka dengan tujuan ketika panah milik Livia berhasil menancap di paha Jaka, Jaka akan kesulitan untuk bergerak. Namun dua anak panah Livia dapat dipatahkan dengan mudah oleh pedang Milik Jaka.


Tidak kehabisan akal, Livia kembali menembakkan tiga anak panahnya. Dua anak panah mengincar kedua lengan Jaka sedang satu panah lagi mengincar perutnya. Mengetahui ada tiga panah yang mengincar tubuhnya, Jaka langsung memegang pedangnya erat lalu berniat mengayunkan pedangnya mengincar tiga anak panah milik Livia. Namun belum sempat Jaka mengayukan pedangnya, Livia telah mengeluarkan sedikit elemen airnya mengincar kedua bola mata Jaka.


"Akhhh ..., ahhh, sialan!" Jaka berteriak kuat saat elemen air milik Livia mengenai bola matanya dan kembali berteriak saat ketiga anak patah miliknya telah berhasil menancap di kedua tangan dan di perutnya.

__ADS_1


Melihat serangan Livia yang berhasil melukai tubuh Jaka, Daya dan Maya hanya bisa diam terbengong. Maya mengakui kehebatan Livia dalam menggunakan senjata panah dan pengontrolan elemen. Tanpa bantuan elemen apapun anak panahnya telah berhasil menyerang tubuh Jaka dari jarak yang lumayan jauh.


"Hmm ... sepertinya aku harus belajar cara memanah dari Livia nanti," batin Maya sembari mengangguk-angguk.


***


Pertarungan antara Livia dan Jaka belum selesai. Jaka terlihat sangat kesakitan saat tiga anak panah milik Livia membolongi kedua tangan dan perutnya. Jaka terlihat sangat marah, matanya melotot dan terlihat urat menegang di wajahnya.


"Hiaahhhh!!" Jaka berteriak sangat kencang, saat berteriak tubuh Jaka langsung diselimuti oleh elemen api. Api berwarna biru yang sangat besar menyelimuti dirinya, tiga anak panah yang berada pada tubuh Jaka langsung terbakar berubah menjadi abu lalu menghilang terhembus angin.


Jaka menundukkan pandangannya selama beberapa detik kemudian memandang mata Livia dengan tajam sembari melangkahkan kakinya ke arah depan.


"Kau suka bermain kotor, ya?" ucap Daya dengan senyum menyeringai yang terlihat menyeramkan. "Baik, 'kan kutunjukkan arti kotor yang sesunguhnya."


Mendengar ucapan Jaka membuat Livia bergidik ngeri. Dengan tangan yang bersiap meluncurkan anak panahnya, Livia telah memasang kuda-kudanya. Tubuh Jaka masih diselimuti oleh api biru yang membara, namun terlihat api milik Jaka mulai berubah warnanya, yang awalnya berwarna biru, berangsur-angsur berubah menjadi warna merah.


Tanpa membuang waktu lama lagi, Jaka langsung berlari ke arah Livia sembari menghunuskan pedangnya ke arah depan. Siapapun yang melihat Jaka sedang berlari ke arahnya dengan tubuh yang diselimuti api pasti akan merasakan ketakutan yang luar biasa. Awalnya Livia tidak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya, tubuhnya seakan telah dikendalikan oleh rasa takut saat melihat Jaka sedang berlari ke arahnya.


Namun saat matanya melirik ke arah Daya dan Maya, tubuhnya seakan dialiri oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah perasaan, sebuah kekuatan, dan sebuah harapan untuk terus maju dan tidak menyerah telah Livia dapatkan.


"Livia tak akan kalah!" teriak Livia lalu menarik busur panahnya akan menyerang Jaka yang sedang berlari ke arahnya.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2