Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 75: Latihan Kekuatan Fisik dan Mempercepat Pergerakan.


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, setelah mengisi energinya dengan makan dan minum, Jaka, Maya, Daya dan Livia langsung pergi ke lapangan luas untuk kembali berlatih demi persiapan ujian tahap kedua. Tujuan mereka berlatih adalah untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki dan menutupi kelemahan yang melekat pada diri.


Daya, Livia dan Maya adalah orang yang akan berlatih, sedang Jaka hanya membantu mereka jika diperlukan. Masing-masing dari mereka memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda, maka dari itu mereka juga memiliki latihan dengan tipe dan tujuan yang tak sama.


Bagi Daya, hal terpenting yang harus dipelajarinya adalah cara memperdalam energi Arbitrium. Menyadari energi Arbitriumnya tidak akan berjalan optimal jika kekuatan fisiknya lemah, Daya juga ingin memperkuat kekuatan fisiknya. Selepas itu Daya ingin mempelajari cara pengontrolan energi dan yang terakhir adalah ingin lebih mencari pengalaman bertarung, baik melawan manusia maupun melawan monster.


Bagi Maya, hal terpenting yang harus ia pelajari adalah tentang ketepatan dalam menembakkan panahnya. Maya juga ingin mengenal lebih jauh tentang energi Arbitrium untuk berjaga-jaga jika nanti ia harus melawan orang yang dapat menggunakan energi itu.


Sedangkan untuk Livia, ia ingin mempercepat pergerakannya dan memperkuat kekuatan fisiknya agar dapat bergerak dan meluncurkan serangannya seperti Maya. Selain itu Livia juga ingin lebih hebat dalam pengontrolan energi.


Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya mereka telah mendapati jalan tengah agar mempermudah mereka semua dalam berlatih. Maya akan mengajari Daya dan Livia cara memperkuat kekuatan fisik dan mempercepat pergerakannya. Lalu Daya akan mengajari serta memberitahu Maya tentang energi Arbitrium. Kemudian yang terakhir Maya akan memperdalam kehebatan memanah dan pengontrolan energi kepada Livia.


Mereka saling bahu membahu dan membantu satu sama lain agar dapat menjadi pribadi yang lebih kuat. Bagi mereka kekuatan kekeluargaan lebih tinggi dari pada apapun. Selain itu Daya dan Livia juga memiliki latihan yang hanya mereka sendiri yang bisa lakukan. Daya akan berlatih memperdalam kekuatan Arbitriumnya, sedang Livia juga akan memperdalam pengontrolan elemennya lebih jauh. Simbiosis mutualisme tercipta dari hubungan yang mereka lakukan.


***


Setelah berdiskusi kembali selama beberapa menit, Daya dan Livia telah memutuskan latihan macam apa yang akan mereka jalani untuk hari kedua ini. Livia dan Daya akan berlatih memperkuat kekuatan fisik serta kecepatan pergerakannya bersama Maya.


"Baiklah, karena kalian ingin berlatih kekuatan fisik dan kecepatan pergerakan, kalian harus melakukan apa yang aku perintahkan!" ucap Maya sembari menatap tajam mata Daya dan Livia. "Untuk pertama-tama kalian harus bisa berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak lima puluh kali putaran!" timpal Maya.


"Apakah dengan lima puluh kali putaran kita bisa memperkuat kekuatan fisik serta mempercepat pergerakan kita?" tanya Daya sembari melakukan peregangan.


"Tentu saja tidak, tapi mungkin jika kalian hanya menggunakan satu kaki!"


"Huh ...?" Mendengar ucapan Maya, Daya dan Livia kaget dibuatnya.


"M-maksudnya Livia dan Daya harus melompat-lompat sebanyak lima puluh kali mengitari lapangan yang besar ini?" tanya Livia dengan nada tidak percaya.

__ADS_1


"Benar, dengan cara seperti itulah aku memiliki kekuatan dan kecepatan yang seperti ini," ucap Maya sembari memperlihatkan masa ototnya yang besar. "Sekarang lakukan! Lima puluh kali putaran menggunakan kaki kanan dan lima puluh putaran menggunakan kaki kiri!" timpal Maya dengan nada tinggi.


Tidak mempunyai alasan lain, dengan terpaksa Livia dan Daya melakukan apa yang Maya perintahkan. Mereka melompat-lompat menggunakan satu kakinya mengitari lapangan yang besar. Beberapa menit telah berlalu, Livia dan Maya sudah memutari lapangan besar itu sebanyak sepuluh kali. Masih ada empat puluh kali lagi agar mereka dapat menyelesaikan latihan kaki kirinya. Namun saat putaran kedua belas tiba, mereka terjatuh seketika. Tak menyerah, mereka bangkit lalu berlari lagi.


Seusai mengitari lapangan besar sebanyak lima puluh kali, Maya kembali menyuruh mereka mengitari lapangan besar itu kembali, namun dengan kaki yang berbeda. Tanpa mengeluh sedikitpun Daya dan Livia menuruti perintah Maya. Selepas selesai dengan latihannya, Daya dan Livia pun berteduh di bawah rindangnya pohon dengan nafas yang memburu cepat. Terlihat keringat menetes membasahi baju dan celana mereka.


"Hahh ... hahhh. Ini adalah latihan terberat yang pernah saya lakukan," ucap Daya sembari mengibaskan tangan agar wajahnya terkena sedikit angin dengan nafas yang memburu cepat.


"Baru segitu kalian sudah kecapaian, ini baru pemanasan! Masih ada lagi latihan yang harus kelian lakukan!" Maya terlihat begitu bersemangat ketika menjadi guru Daya dan Livia.


"Huhh ...?" Mendengar perkataan Maya, Daya dan Livia seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Apanya yang pemanasan!?" Daya terlihat menekuk alisnya. "Ini sudah lebih dari pada pemanasan!" timpal Daya sedikit geram.


"Daya benar, Maya. Setidaknya berikan kami sedikit waktu untuk beristirahat," ucap Livia yang terlihat sangat kecapaian.


"Memangnya tadi latihan apa, Maya?" tanya Daya penasaran.


"Yang tadi adalah latihan kecepatan pergerakan."


Setelah setengah jam berlalu, Livia dan Daya kembali melakukan latihan. Kali ini mereka diperintahkan untuk mengangkat batu besar seukuran bangku dan membawanya mengitari lapangan sebanyak dua puluh kali.


Tanpa mengeluh Daya dan Livia melakukan apa yang Maya perintahkan. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit Daya dan Livia telah selesai mengelilingi lapangan membawa batu besar itu. Selepas mereka menyelesaikan latihan fisik, Daya dan Livia kembali berteduh di bawah rindangnya pohon.


Mereka diizinkan untuk beristirahat setengah jam lagi. Setengah jam telah berlalu semenjak Daya dan Livia berteduh di bawah rindangnya pohon. Maya kembali memanggil mereka untuk mengukur kemampuan yang mereka miliki.


"Daya, Livia, kemari sebentar!" perintah Maya dari kejauhan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Livia setelah dirinya dan Daya telah berada di hadapan Maya.


"Coba kalian berdua pukul besi ini." Maya menunjuk besi tebal di bawah kakinya.


Mendengar perintah Maya, Daya pun mencoba mematahkan besi yang dimaksud olehnya. Daya mengambil ancang-ancang kemudian mencoba mematahkan besi besar di bawah kakinya.


"Hiyahh!!"


Namun sayang, bukannya mematahkan besi tebal di bawah kakinya, tulang tangan milik Dayalah yang patah. Daya berteriak kencang kesakitan akibat merasakan sakit yang luar biasa di tangannya.


"Yap, kalian masih belum bisa mematahkan besi tebal ini. Perhatikan!" Maya mengambil ancang-ancang akan mematahkan besi tebal di bawah kakinya.


Craakk.


Benar saja, dengan sekali pukulan kuat, Maya dapat mematahkan besi tebal itu dengan mudah. Maya mengambil besi lain dengan tebal yang sama lalu menyuruh Livia untuk mematahkannya. Namun karena takut tangannya akan bernasib sama seperi Daya, Livia menolak.


"Inilah titik fokus kalian dalam kekuatan fisik! Sebelum kalian dapat mematahkan besi ini, maka kalian masih belum bisa lulus dalam ujian


kekuatan fisik."


Dari kejauhan datanglah Jaka sembari memegang pedang miliknya. "Bagaimana mereka bisa mematahkan besi itu sedang mereka baru saja kau suruh lari dan mengangkat beban."


"Hmm ..., baiklah. Latihan kalian hanya sampai sini. Besok kita akan kembali menguji kekuatan dan kelincahan kalian."


Mereka pun pergi kembali ke penginapan. Livia dan Daya terlihat sangat kelelahan. Selama perjalan mereka tidak banyak bicara, mereka lebih memilih menyimpan sisa energi mereka dari pada harus berkata hal yang tidak penting. Sembari memegang tangannya yang patah, Daya terlihat berjalan terpincang-pincang. Begitu pula dengan cara jalan Livia.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2