
Suatu malam yang sunyi, tampak lima orang berkelompok berjalan menyusuri area sekitar pedesaan. Mereka terlihat membawa pedang pada masing-masing bahunya dengan pakaian yang sepertinya tidak murah. Dengan pencahayaan yang memadai, terlihat mereka adalah kelompok Jaka.
"Hal seru apa yang akan kita lakukan malam ini?" ucap salah seorang teman Jaka.
"Bagaimana kalau mengerjai nenek-nenek? Pasti lucu, hahaha."
"Sudah bosan kalau itu mah."
"Hmm, bagaimana kalau memalak bocah yang sedang berduaan? Aku muak melihat mereka!"
"Bagaimana kalau untuk malam ini saja kita tidak melakukan hal itu? Aku lelah," ucap Jaka dengan nada tidak yakin.
Saat mendengar ucapan dari Jaka, teman-temannya langsung memandang Jaka dengan tatapan tidak senang.
"Ayolah ... kita akan baik-baik saja. Lagi pula tidak ada yang akan mencurigai pendekar dengan Tier Secundus seperti kita. Ditambah Ayahmu adalah orang yang penting di desa Oregon ini. Yakan teman-teman."
"Iya betul, santai saja Jaka."
"Hmm ... terserah kalian deh," ucap Jaka mengalah.
Mereka melanjutkan perjalanan, setelah berjalan yang cukup jauh, mereka singgah disebuah bar.
"Hurftt ... ah ... bau birnya sangat nikmat," ucap salah seorang teman jaka menghirup aroma di dalam bar dengan tangan yang masih memegang pintu bar.
Mereka pun duduk di kursi yang telah disediakan.
"Hoi pelayan, berikan kami 5 bir! Cepat!" perintah salah seorang teman Jaka dengan nada yang merendahkan pelayan dan satu kakinya yang naik ke atas meja.
"Ah ... baik tuan, silahkan ditunggu. Apakah ada hal lain yang ingin tuan pesan?" tanya pelayan dengan hormat.
"Tidak ada, cepat buatkan!"
Pelayan pun pergi dengan cepat menyiapkan minuman untuk Jaka dan teman-temannya. Setelah beberapa menit menunggu, datanglah pelayan dengan nampan yang berisikan lima gelas bir berwarna kuning. Pelayan menaruh lima gelas di atas meja untuk di serahkan kepada kelompok Jaka.
"Silahkan dinikmati tuan, jika ada lagi yang ingin dipesan silahkan panggil saja," kata pelayan dengan nada hormat.
"Ya, ya. Pergi sana kau, mukamu merusak mood minumku!"
"Ah ... kalau begitu permisi tuan." Pelayan membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan kelompok Jaka.
__ADS_1
Teman-teman Jaka mulai meminum bir yang berada di hadapannya.
Glugg Glugg Glugg ....
"Ahh ... tidak ada yang lebih nikmat dari pada bir di malam hari, khahaha."
"Hmm ... kenapa kau tidak meminum birmu Jaka?"
Jaka tidak membalas ucapan temannya, dia hanya berdiam diri mematung melihat ke arah birnya yang penuh dengan tiga buah es batu di dalamnya.
"Hoi ...!"
"Ah ... a-apa?" ucap Jaka terkaget saat temannya setengah berteriak di depan wajahnya.
"Kenapa kau bengong huh? Minum itu birmu, itukan minuman kesukaanmu."
"Iya, lelah sekali rasanya hari ini." ucap Jaka lalu meneguk birnya dengan cepat.
"Setelah ini, kita akan melakukan hal yang selalu kita lakukan di malam hari!"
"Okeh ...!" ucap keempat teman-teman Jaka dengan serempak. Sementara Jaka hanya mangut-mangut dengan pelan, wajahnya tampak sangat kelelahan.
yang melaporkan bahwa mereka telah diganggu oleh orang lain. Namun, para penduduk tidak tau siapa dalang di baliknya.
"Bagaimana perkembangan kasusnya, Raf?" tanya pria berbadan tegap dengan badge di dada bertuliskan Sir. Deff Nasiri yang duduk dengan tatapan tajam di atas kursi mewahnya.
"Laporan masyarakat tidak menurun, tuan. Malah jika dihitung menurut laporan yang datang, kasusnya semakin banyak dan meresahkan warga!" ucap seorang berbadan kurus dengan hormat.
"Suruh anggota Tiga untuk menyelesaikan masalah ini! Aku tidak ingin lagi mendengar masalah dan laporan yang sama setiap malamnya!"
"Baik, tuan."
Kembali ke kelompok Jaka yang telah keluar dari bar.
"Baiklah, kita akan mengambil uang dari para penduduk lagi malam ini!"
"Okeh."
Kelompok Jaka pergi ke tempat yang sekiranya ramai penduduk, yaitu di pasar desa. Suasana di sana masih sedikit ramai dengan para penduduk yang masih bekerja. Masing-masing penduduk terlihat membawa
__ADS_1
lampu sebagai alat penerangan. Kelompok Jaka mencari siapa kira-kira tergetnya kali ini. Sampailah mata kelompok Jaka ke seorang perempuan yang terlihat membawa barang belanjaan masuk ke sebuah gang yang sempit.
"Baiklah, kita sudah tau targetnya. Saatnya operasi kita mulai!"
Mereka pun diam-diam membuntuti wanita itu dari belakang, saat kelompok Jaka sudah berada di depan gang tempat wanita itu masuk, seorang teman Jaka memerintah Jaka untuk mengeluarkan elemennya,
"Cepat Jaka, keluarkan elemen mu!"
"Kau yakin?" tanya Jaka melihat ke arah wanita yang masih berjalan di gang.
"Tentu saja, cepat lakukan, sebelum ada orang yang melihat kita, cepat!"
Jaka pun mencoba untuk fokus dan mengeluarkan elemennya.
"Elemen Api: Sang manusia api!" rapal Jaka dengan mengayunkan tangan kirinya vertikal.
Dari gerakan tangannya, muncullah api merah yang berbentuk seperti manusia dari tangan kirinya. Dengan cepat api itu bergerak maju ke depan dengan gerakan yang tidak manusiawi. Saat api yang berbentuk manusia itu hanya sekitar lima meter dari si perempuan, api itu terlihat dengan cepat mengeluarkan senjata yang tampak seperti palu yang terbuat dari api juga. Namun, senjata yang yang digunakan berwarna biru. Tidak seperti badannya yang berwarna merah.
Si api mengayunkan palunya ke arah tangan si perempuan dengan cepat. Palu si api terlihat menembus tangan si perempuan. Walaupun menembus tangan si perempuan, luka bakar yang dihasilkan dari serangan palu di tangannya terlihat sangat parah. Setelah berhasil melukai si perempuan, api itu menghilang dalam hembusan angin malam. Sontak si perempuan teriak akibat rasa sakit dan panas yang dirasakan ditangannya. Mengetahui si perempuan akan teriak, teman Jaka menyentil tangannya dari jauh. Keluarlah batu dari jarinya bergerak cepat menuju leher si wanita.
Brugg ....
Suara benturan terdengar menyakitkan, si perempuan pingsan karena batu yang terlempar tepat di lehernya.
"Bulls Eye, hahaha," girang teman Jaka mengetahui serangannya tepat mengenai si perempuan.
"Hey, kenapa kau menyerangnya tepat di leher? Itu bisa membunuhnya!" ucap Jaka tidak senang dengan yang dilakukan temannya.
"Sudahlah, itu lebih baik dari pada kita ketahuan oleh para penduduk. Sekarang mari kita ambil keuntungan kita, hahaha."
Para teman Jaka mengerubungi barang yang dibawa si perempuan dan menggambil semua yang dimilikinya.
"Sepertinya hari ini kita akan makan makan, hahaha."
"Kau benar, ayo cepat pergi, sebelum ada yang tau kita dalangnya."
Mereka pun pergi dari tempat kejadian dan keberadaan mereka hilang ditelan gelapnya malam. Wajah Jaka masih terlihat marah, penyesalan terukir di matanya. Tapi, dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Jauh di lubuk hati terdalam Jaka, ia ingin meninggalkan teman-temannya ini. Namun dia tidak memiliki siapapun lagi.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.