
Tubuh mereka telah kelelahan, energi telah terkuras habis, baju telah kotor terkena debu yang berterbangan dan nafas mereka memburu cepat. Dari arah monster Lanhak terjatuh, terlihat banyak debu-debu berterbangan.
"Selagi ada waktu, kumpulkan lagi energi kalian!" perintah Laksana yang tengah mengontrol nafasnya.
Mata mereka terbelalak kaget manakala melihat monster Lanhak yang masih dapat menggerakkan tubuhnya. Monster itu terlihat tengah mengejankan tubuhnya kuat.
*Crring ....
Laksana, Kantata, Wirya, Cayapata dan Nala terkaget seketika melihat duri-duri milik monster Lanhak yang kembali tumbuh seketika.
"Kau pasti bercanda! Mana mungkin duri dapat tumbuh secepat itu!?" Wirya tampak kesal mengetahui fakta bahwa duri milik monster Lanhak tumbuh dengan cepat.
"Kita dalam bahaya! Apa yang harus kita lakukan, Laksana!?" tanya Kantata melihat dengan tatapan takut dan badan yang bergetar. Laksana terlihat menggertakkan giginya kuat, perasaan marah dan bingung menyelimuti dirinya. Namun pandangan Laksana teralihkan ke area kulit yang tidak menumbuhkan durinya.
"Kalian lihat area yang tidak ditumbuhi duri itu?" tanya Laksana.
"Di mana?"
"Itu, didekat kepala monster itu!"
"Ah ... iya! Kenapa durinya tidak tumbuh dengan sempurna?" tanya Wirya bingung.
"Aku tak tahu, namun yang pasti hanya itu kelemahan yang bisa kita lihat untuk saat ini! Bagi yang sudah mempunyai energi walau hanya sedikit, ikuti aku!" Laksana mulai bergerak maju ke arah depan.
Beruntungnya Laksana tidak maju sendiri, dua temannya juga ikut maju mengikuti langkah kaki Laksana, mereka adalah Cayapata dan Wirya.
"Apa yang harus kita lakukan, Laksana?" Cayapata bertanya tanpa memalingkan pandanganya dari arah monster Lanhak yang kapanpun siap untuk menyerang mereka.
"Apa kalian ingat saat di mana monster itu tak dapat lagi menghindar dari serangan Kantata?" tanya Laksana kepada dua teman-temannya.
"Saat di udara?" terka Cayapata.
"Tidak hanya itu, lebih tepatnya saat monster itu berada di udara setelah menghindar dari serangan milikku!"
__ADS_1
"Jadi kau ingin kami menyerang monster itu hingga melompat ke udara, kemudian menyerangnya kembali sesaat monster itu telah berada di udara lalu melakukan serangan penutup yang kuat di area yang tidak ditumbuhi duri itu?" Wirya mulai menerka ke mana arah pikiran Laksana.
"Benar, kita bisa gunakan masing-masing satu kali serangan. Kalian berdua melakukan serangan yang akan monster itu hindari sedangkan aku akan melakukan serangan penutup!" Laksana menatap mata teman-temannya tajam.
"Teman-teman, sepertinya kalian harus memulai penyerangan, deh! Monster itu sepertinya sudah mulai besiap-siap ingin menyerang kalian!" Nala yang melihat monster Lanhak sudah bersiap-siap ingin menyerang langsung memberitahu teman-temannya.
"Mari kita akhiri ini!" ucap Laksana lalu berlari ke arah depan diikuti oleh Wirya dan Cayapata.
Mereka bertiga berlari dengan cepat, dipimpin oleh Laksana dan diikuti oleh kedua temannya. Saat jarak mereka hanya beberapa meter lagi dari monster Lanhak, Cayapata terlihat mengepalkan tangannya kemudian memukulkan tangannya ke atas tanah.
Bersamaan dengan itu muncullah batu tajam dari bawah tanah tepat di mana monster itu menginjakkan kakinya. Seperti yang mereka duga, monster itu dapat menghindari serangan milik Cayapata dengan mudah dengan melompat ke atas udara.
Kini tiba giliran Wirya untuk bersinar. Wirya melompat tinggi, menutup matanya selama beberapa detik kemudian merapalkan jurusnya kembali.
"Elemen angin: Pedang kematian!"
Tekanan angin berbentuk pedang milik Wirya kembali terbentuk dan bergerak cepat ke arah monster Lanhak. Ternyata benar, monster Lanhak dapat kembali menghindari serangan milik Wirya dengan menggulingkan badannya ke arah kanan.
Laksana yang mengetahui monster Lanhak akan menghindar ke arah kanan itu langsung melompat dengan bantuan elemen apinya. Saat posisi Laksana telah lebih tinggi dari monster Lanhak, Laksana langsung mengepalkan tangannya dan merapalkan jurusnya.
Bersamaan dengan rapalan yang Laksana katakan, muncullah semburan api yang berasal dari tangannya. Laksana langsung memukul area yang tidak ditumbuhi duri itu.
Dhuagg ....
Suara api yang menembus tubuh monster Lanhak melalui kulit tanpa duri itu terdengar begitu kuat. Para penonton melihat gerakan Laksana, Cayapata dan Wirya yang bergerak begitu terorganisir dan akhirnya mampu menyerang tubuh monster Lanhak terlihat begitu indah.
Bahkan Raja dan pendekar terkuat pun mengangguk-angguk serta tersenyum dengan cara Laksana beserta teman-temannya bertarung. Suara penonton yang bergemuruh riang itu menggema ke seluruh stadion. Suara gemuruh dan tepukan tangan didapatkan Laksana dan keempat teman-temannya.
***
Jlebb ....
Saat Laksana masih fokus mengeluarkan elemennya, tanpa Laksana dan teman-temannya duga, salah satu duri milik monster Lanhak terlempar dan menancap tepat di pahanya. Suara gemuruh yang penonton berikan mendadak hening seketika mengetahui Laksana telah terkena serangan monster Lanhak. Teman-teman tidak mengira bahwa monster Lanhak dapat melemparkan durinya.
__ADS_1
"K-kenapa monster itu bisa melemparkan durinya?" Cayapata terlihat kaget, matanya terbelalak seakan ingin keluar dari kantung matanya.
Dalam keadaan duri monster Lanhak yang masih menancap, Laksana tidak menghentikan sedikitpun elemen apinya. Malah Laksana terlihat menguatkan elemen miliknya. Laksana dan tubuh monster Lanhak lama-kelamaan menjauh kemudian monster itu terjatuh ke atas tanah, begitu pula dengan tubuh Laksana.
Teman-temannya telah gagal menangkap tubuh Laksana karena tubuhnya bergerak begitu cepat. Laksana terjatuh dengan kepala terlebih dahulu mengakibatkan Laksana kehilangan kesadarannya. Saat Kantata ingin melepaskan duri itu dari pahanya, tiba-tiba muncullah Evan langsung menggengam lengan Kantata kuat.
"Jika kau melepasnya, maka ia akan kehabisan darah kemudian mati!" ucap Evan menatap mata Kantata tajam. Kantata yang melihat Evan berada di sebelahnya hanya bisa diam membisu.
Evan terlihat melambai-lambaikan tangannya, beberapa detik kemudian keluarlah para tabib dari pintu penghubung membawa tandu. Para tabib itu langsung membawa tubuh Laksana masuk ke ruang pengobatan.
"Kami menang, bukan? Monster itu sudah mati!" Bukannya mengkhawatirkan keadaan Laksana, Wirya malah menanyakan tentang pertandingan. Cayapata langsung memukul kepala Wirya.
"Laksana akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Cayapata setelah memukul kepala Wirya.
"Jika kalian menanyakan pertandingan, maka jawabanku adalah kalian lulus ujian tahap awal! Namun kalau kalian menanyakan tentang keselamatan teman kalian, aku tidak tahu jawabannya. Lebih baik kalian susul para tabib itu ke ruangan pengobatan!" perintah Evan memandang satu per satu mata teman Laksana.
Para teman Laksana pun menuruti kata-kata Evan dan pergi menyusul para tabib itu. Di tengah perjalanan terdengar Wirya berteriak dan langsung terkena pukulan cinta dari Cayapata.
"Hiyahh, kami menang! Serikat pendekar, kami datang! Aaww ...."
Para penonton tidak dapat bertepuk tangan, mereka semua mengkhawatirkan keselamatan dari Laksana. Para penonton saling berpandangan dan saling bertanya.
"Aku harap pria tadi selamat."
"Iya, aku juga berharap seperti itu. Dia adalah ketua yang hebat.
"Apa kau melihat serangan monster itu?"
"Yang mana?"
"Saat monster itu melemparkan durinya!"
"Tidak, aku tidak lihat. Yang aku tahu duri itu sudah menancap di pahanya!"
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.