Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 31: Melawan Monster Verdon (1/3).


__ADS_3

Hari mulai gelap, suasana tegang dan jantung yang berdebar-debar menunggu detik-detik penyerangan monster yang diyakini menjadi monster terkuat yang pernah mereka hadapi. Di ujung jalan setapak, terlihat Maya, Daya dan Jaka menuruni bukit untuk pergi menuju ladang tandus dihadapannya. Mereka berjalan dengan perlahan tapi pasti, lahan itu telah kering dan terlihat jalan setapak mengitarinya sebagai tempat para warga berjalan dan melakukan pekerjaannya. Saat mereka telah sampai di ladang, mereka menghampiri tempat para penduduk biasa berteduh yang telah rusak. Saat mereka telah sampai di sana, Maya menyuruh untuk tidak berbicara dengan suara keras dan meminta mereka untuk jongkok.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Jaka dengan suara pelan dan posisi jongkok memandang ke arah Maya.


"Aku memiliki informasi tentang monster Verdon dan aku yakin kita bisa mengalahkannya," ucap Maya dengan optimis.


"Bagaimana rencananya, Maya?" tanya Daya yang juga ikut berbisik dan jongkok.


"Pertama, Verdon adalah monster yang memiliki pendengaran dan indra perasa yang tajam tetapi jarak pandangannya sangat terbatas, maka ada kalanya dia melihat menggunakan pendengarannya. Kedua, serangan utama Verdon ada pada serudukan cula dan air seninya yang bisa sangat jauh," jelas Maya dengan memandang Jaka dan Daya.


"Memangnya apa yang harus diwaspadai dari air kencingnya?" tanya Jaka memotong penjelasan Maya.


"Air seni Verdon memiliki kuman yang sangat mematikan, jika air seninya mengenai kulitmu, maka kulitmu bisa bolong akibat gigitan dari kuman yang berada pada air seninya."


"Cih ... dasar monster," dengus Jaka setelah mendengar penjelasan Maya.


"Ketiga, sebagaimana monster lainnya, kecepatan, daya tahan dan kekuatan Verdon sangat cepat dan kuat. Lalu yang terakhir, elemen yang mungkin bisa membunuh Verdon adalah api," jelas Maya melihat ke arah Jaka.


"Apa lagi yang kita tunggu, ayo cari dan bunuh monster itu! Akan aku bakar dia dengan api biruku," ucap Jaka dengan semangat yang berapi-api.


"Sebelum itu, bagaimana caranya kamu tahu tentang semua ini, Maya?" tanya Daya dengan nada yang halus.


Semangat yang terlihat dari Jaka seakan menghilang, pandangan Maya menunduk dan terlihat sedih.


"Aku mengetahui semua ini tidak tanpa sebab. Ini semua berkat usaha dan pengorbanan para penduduk desa dan beberapa pendekar yang ingin menghabisi Verdon karena telah berbuat banyak kerusakan di desa. Monster ini sangat kuat, tidak seperti monster biasa yang sering dijumpai di sekitar desa. Kami mencatat semua hal yang pernah monster itu lakukan dan perbuat. Lalu empat hal yang telah aku sebutkan tadi lah buah dari usaha mereka," jawab Maya dengan suara seperti menahan tangis dan sedih.

__ADS_1


"Maaf telah bertanya dan kami turut berduka atas kepergian para warga," ucap Daya merasa bersalah karena telah bertanya demikian membuat Maya merasa sedih.


"Tidak perlu minta maaf, karena bukan itu yang ingin mereka dapatkan. Mereka hanya ingin para penerusnya hidup dalam kedamaian," ucap Maya yang terlihat mulai tegar kembali.


"Saya yakin, berkat bantuan mereka dan kekuatan yang kita miliki. Kita bisa menghabisi monster itu dan menyelamatkan nyawa kakekmu, Maya," ucap Daya dengan senyum yang merekah di bibirnya.


Maya ikut tersenyum mendengar ucapan serta senyuman Daya dan berkata,


"Terima kasih, Daya."


Daya dan Maya saling bertatapan sembari tersenyum satu sama lain. Mereka melakukan itu selama beberapa detik hingga Jaka membuyarkan senyuman mereka,


"Hei ... hei. Lanjutkan cerita romantis kalian setelah kita berhasil membunuh monster itu, sekarang jelaskan apa rencanamu, Maya!" ucap Jaka memecah senyuman di antara Daya dan Maya.


"Ah, maaf. Baiklah, pertama gunakan serangan dari jarak jauh, saat monster itu telah menyadari keberadaan kita dan menyerang, salah satu di antara kita menghindar dan bergerak ke arah belakang monster itu lalu yang satunya lagi berlari menuju arah yang berlainan.


"Hmm ... kau bisa menggunakan elemen angin?" tanya Jaka kepada Maya.


"Iya, aku bisa," jawab Maya singkat.


"Baiklah, ayo lakukan, kita telah mempunyai cukup informasi tentang apa yang akan kita lawan. Kita harus bergerak cepat, akan sulit jika matahari sudah tengelam," ucap Daya melihat hari yang mulai gelap.


Merekapun mulai bergerak dan mencari ke dalam gua sekitar ladang yang sekiranya terdapat monster Verdon yang bersembunyi. Pada dasarnya monster Verdon adalah monster yang aktif di pagi hingga siang hari. Saat akan malam, monster itu masuk ke dalam tempat yang sekiranya bisa untuk tidur.


Setelah mencari selama beberapa menit, akhirnya mereka menemukan gua yang terdapat monster Verdon yang sedang terlelap. Merekapun bergerak masuk ke dalam, dipimpin oleh Maya, dibelakangnya ada Jaka dan yang paling belakang adalah Daya.

__ADS_1


Maya melangkahkan kakinya pelan, saat sekiranya jarak antara monster dan dirinya hanya beberapa meter, Maya mengambil busur dan panah dari punggungnya. Maya meletakkan dua panah pada busurnya, menarik dan memfokuskan pandangan pada target yang ingin dia tuju. Saat Maya merasa sudah yakin, Maya melepaskan panah yang ia pegang. Panah yang melesat bukan hanya sekedar panah, panah itu telah diselimuti oleh elemen angin yang membuat kecepatan serta ketepatannya bertambah. Melesatlah dua panah itu mengarah ke monster Verdon yang terlelap.


*Ctak ... Ctak ...


Suara dua panah yang dilesatkan itu bergerak cepat menuju kepala monster Verdon. Namun, dua panah yang telah dilapisi elemen angin itu patah seketika bertubrukan dengan kulit monster Verdon yang tebal.


"Sial, bahkan setelah kutambah elemen tetap patah," gerutu Maya melihat serangannya gagal.


Karena merasakan ada yang ingin menggangu waktu tidurnya, monster Verdon terbangun dan melihat ke arah sumber suara serangan itu berasal. Dari gelapnya gua terlihat monster itu berlari ke arah mereka dengan cula yang siap menyerang tubuh mereka. Monster itu berwarna abu-abu dengan tubuh yang sangat besar, hampir setinggi manusia dewasa. Culanya terlihat tajam dan air liur terlihat jatuh dari mulutnya.


Maya bergerak ke arah belakang Jaka dan Jaka berlari mendekati monster itu. Ketika monster itu hanya tinggal beberapa meter darinya, Jaka melompati monster itu dan mendarat tepat di belakangnya. Bersamaan dengan itu juga monster Verdon mengeluarkan air seninya ke arah Jaka.


Dikarenakan mengetahui serangan apa yang akan dilakukan dan seberapa jauh serangan itu bisa mendarat, Jaka dengan cepat menghindari serangan monster Verdon dengan bergerak ke arah samping kanan. Setelah berhasil menghindar, Jaka mengayunkan tangannya horizontal. Elemen api keluar dari tangannya bergerak menuju ke arah belakang monster Verdon. Api yang telah membakar bagian tubuh belakang monster Verdon seakan hanya membelai tubuh sang monster. Api itu tidak melukai monster Verdon sedikitpun.


Daya yang melihat Jaka telah berada tepat di belakang monster itu memutuskan untuk berlari ke arah yang berlainan dari posisi Jaka. Bersamaan dengan itu, Maya mengalihkan perhatian monster Verdon dengan menembakkan panah anginnya ke arah kepala sang monster. Walaupun tidak mempan, Maya tetap menembakkan panahnya agar Daya bisa sampai pada posisinya.


Namun sayang, melihat ada manusia yang bergerak tepat di depan matanya membuat monster itu mengarahkan culanya dan berlari menuju Daya. Usaha yang Maya lakukan sia-sia, Daya belum mengetahui bahwa monster itu bergerak menuju arahnya hingga ia mendengar teriakan Maya.


"Daya ...! Awas ...!" teriak Maya menggema ke seluruh gua memperingati Daya akan bahaya yang datang.


"Daya ...!" Jaka yang berada di belakang monster itu ikut berteriak memperingati Daya saat melihatnya dalam bahaya.


Daya yang mendengar suara teriakan Maya dan Jaka lantas melihat ke arah samping, terlihatlah monster itu siap menanduk tubuh Daya dengan culanya. Daya yang melihat monster itu sudah dekat dengannya kaget dan ....


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2