
"Uwahhhhhh ...." Tangis Livia kembali pecah berpikir ini adalah ucapan selamat tinggal dari teman-temannya. Livia memeluk ketiga temannya dengan erat, kakinya gemetar dan wajahnya memerah dengan air mata yang hampir habis itu membasahi baju ketiga temannya. Selama beberapa menit mereka berada pada posisi ini hinga akhirnya mereka melepaskan pelukannya, Livia tersenyum untuk yang terakhir kalinya lalu membalikkan badannya untuk pergi kembali ke tempat Kakek Eko.
Setelah Livia membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya, Livia kembali dibuat kaget
oleh perdebatan yang Daya dan teman-temannya lakukan,
"Kalau begitu, kita akan pergi menemui Raja!" Daya berkata dengan pandangan yang tajam.
"Tidak bisa, Daya! Area Istana itu sangat jauh dari sini!" Maya membantah ucapan Daya mentah-mentah.
"Lagipula orang seperti kita hanya akan jadi bahan cemoohan di sana dan tidak diizinkan untuk masuk ke dalam area Istana!" tambah Jaka yang juga menolak ucapan Daya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Daya berkata dengan bimbang mulai kehabisan akal.
"Kita memang tidak bisa menjumpai Raja secara langsung, tetapi kita bisa meminta ke pada Serikat Perhubungan untuk menyampaikan surat kepada Raja! Mereka akan mengirimkan surat untuk membebaskan Livia!" Maya memberikan usulnya setelah berpikir selama beberapa menit.
Mendengar teman-temannya yang masih berdepat tentang kebebasannya, Livia kembali membalikkan badan serta memandang ke arah teman-temannya tajam. Dengan raut wajah yang cemberut Livia berkata,
"Ihh ... kenapa teman-teman masih membahas tentang pembebasan Livia? Bukankah kalau meminta Raja teman-teman juga bisa terkena imbasnya?"
Daya, Jaka dan Maya saling berpandang saat mendengar ucapan Livia lalu melempar senyum. Bingung melihatnya, Livia marah kepada teman-temannya karena mereka tidak memperdulikan keselamatan diri mereka sendiri. Namun jawaban dari Daya, Jaka dan Maya membuat Livia terkejut.
"Tujuanku menjadi pendekar adalah untuk mencari teman sejati! Walaupun saya tidak bisa menjadi pendekar, selama bersama dengan teman, saya tidak peduli!" Daya berkata sembari tersenyum ke arah Livia.
"Aku memiliki janji kepada satu-satunya teman di masa lalu untuk menjadi pendekar yang menjunjung tinggi kebaikan. Namun aku tidak akan pernah bisa melaksanakannya jika tanpa ada teman yang berdiri di sampingku! Untuk mencari teman biasa adalah hal yang mudah, tetapi untuk mencari teman dengan melakukan pengorbanan adalah hal yang sulit!" Maya juga ikut tersenyum kepada Livia.
"Kami semua sudah tidak memiliki keluarga dan tempat untuk kembali, maka dari itu kami ingin membuat keluarga dan tempat yang bisa disebut dengan rumah! Yahh ... cuma ada dua opsi untuk hal yang kita lakukan, antara Livia dibebaskan dari status budaknya atau kita semua akan pergi sejauh mungkin dari Kerajaan sialan ini!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Daya dan teman-temannya membuat hati kecil Livia tersentuh. Livia tak pernah terpikir kenapa mereka rela mengorbankan impian dan nyawanya demi orang yang baru saja mereka temui. Sebuah kepercayaan kepada teman yang tidak pernah Livia temukan sebelumnya, sebuah kekuatan yang baru saja Livia dapatkan dan rasa senang yang tiada tara menyelimuti diri Livia. Livia sudah tidak dapat menangis lagi, hanya senyuman lebar yang terukir di bibirlah yang menjadi saksi atas kebahagiaan dan kegembiraan yang Livia rasakan. Livia kembali memeluk ketiga temannya itu dengan erat dan mengucapkan kata terima kasih berulang kali.
"Kira-kira berapa hari yang dibutuhkan agar surat balasan dari Raja akan tiba?" Daya langsung bertanya kepada Maya setelah melepaskan pelukannya.
"Orang-orang yang ditugaskan untuk memberikan surat kepada Raja adalah ahlinya, jika hari ini kita memberikan surat itu kemungkinan dalam waktu dua hari kemudian kita akan mendapatkan balasan atas surat yang kita berikan, atau akan ada beberapa orang yang datang ke rumah untuk menangkap dan memenggal kepala kita, hahaha." Jaka menjawab pertanyaan Daya sembari bercanda dengan tawa besar di akhir.
Mendengar guyonan Jaka, Daya, Maya dan Livia hanya melihatnya dengan tatapan dingin.
"Apa? Itu lucu, hoi!" Jaka tidak merasa bersalah sedikit pun telah mengatakan candaan seperti itu.
"Kalau begitu sebelum pergi ke Perpustakaan Raja kita harus mengurus pembebasan status Livia di Serikat Perhubungan. Ayolah kita pergi, hari sudah sore!" Kali ini Maya yang memimpin teman-temannya pergi menuju Serikat Perhubungan.
Di tengah perjalanan, Daya kembali bertanya,
"Omong-omong serikat itu ada berapa, ya?"
"Nanti juga kau akan tahu!"
"Apa hanya saya atau semua bentuk bangunan serikat itu sama?"
"Hahaha ... baru sadar, kah? Serikat itu ada banyak, agar penduduk tidak bingung, semua bangunan dibuat sama persis. Hanya tulisan di papan besar itu saja yang menjadi pembeda!" Jaka tertawa karena Daya baru menyadari hal ini.
Merekapun masuk ke dalam Serikat Perhubungan lalu melangkahkan kakinya menuju petugas di tengah ruangan. Seorang wanita paruh baya berdiri dengan ramah menyambut kedatangan Daya dan teman-temannya. Mereka menjelaskan tujuannya datang ke serikat ini, lalu petugas memberikan kertas kepada Daya.
"Silahkan tulis permasalahan Anda di kertas itu dengan ketentuan pembuka, masalah, data diri dan penutup! Semakin bagus Anda menulis maka semakin mudah juga pembalasan surat akan dilakukan!"
Saat Livia ingin menulis permasalahan di kertas, Maya menghentikannya dengan berkata bahwa dialah yang akan menulisnya. Maya bertanya beberapa pertanyaan penting sebelum memulai menulis.
__ADS_1
"Aku sudah pernah melihat surat yang ditujukan kepada Raja, biar aku saja yang menulis!"
Setelah surat yang ingin diberikan kepada Raja telah siap, Maya melipat kertas itu lalu memberikannya kepada wanita paruh baya yang menjadi petugas di Serikat Perhubungan. Surat itu berbunyi,
Selamat pagi, siang dan malam Rajaku. Kami berdoa atas keselamatan Anda, yang mulia Ajeng Abelia Anne, Pangeran serta Puteri dan Kerajaan Naga Hijau ini. Terima kasih telah menyisihkan waktu berharga Anda untuk membaca secercah surat hamba.
Nama hamba adalah Livia Dewi Andhini, seorang budak yang lari dari Serikat Budak di desa Oregon sekitar lima tahun lalu. Tujuan hamba menulis surat ini adalah memohon kepada Yang Mulia untuk meringankan jejak hamba dalam menjadi pendekar dengan mencabut status budak hamba. Hamba bersama teman-teman akan melakukan tes, namun dengan status budak ini hamba tidak bisa melakukannya. Teman hamba bernama Daya Adi Madanu, Jaka Nasiri dan Maya Revina. Hamba bersama teman sekarang tinggal di desa Thalas dekat Serikat Perhubungan.
Sekian surat ini hamba sertakan, sekali lagi saya memohon maaf atas waktu yang hamba renggut. Terima kasih atas waktunya, Yang Mulia.
Setelah memberikan alamat lengkapnya kepada petugas, mereka lalu pergi ke luar dari Serikat Perhubungan untuk menunggu surat balasan itu tiba dengan menyewa penginapan di sekitar Serikat Perhubungan.
\=\=\=
Dua hari telah berlalu, namun surat balasan belum juga Daya dan teman-temannya dapatkan. Waktu ujian tinggal tiga hari lagi, waktu-waktu mereka dipenuhi dengan rasa takut dan rasa gelisah yang teramat.
Di area yang jauh, tepatnya di area Istana. Seorang pria dengan rambut panjang berwarna perak dan mata kanan buta terkena tebasan memasuki Ruangan Takhta. Saat keberadaan pria itu sudah berada dihadapan Raja Zake dan Ratu Ajeng. Pria itu menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengadah memegang selembar surat.
"Sudah beberapa minggu aku tidak menerima sepucuk surat, ada masalah apa sehingga orang paling kupercaya datang padaku?"
"Maafkan hamba yang telah menggangu waktu Anda dan waktu Nyonya Ajeng, kedatangan hamba ke hadapan Anda karena telah menerima surat yang menurut hamba sangat penting!"
"Katakan padaku!"
"Dalam surat ini ada beberapa nama yang menurut hamba tidak asing bagi Anda. Yang pertama adalah Livia Dewi Andhini ...."
Mendengar nama Livia, tanpa menunggu bawahannya menyelesaikan ucapannya, Raja langsung mengernyitkan dahinya dan memerintahkan bawahannya untuk melakukan eksekusi kepada Livia!
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.