
"Livia tak akan kalah!" teriak Livia lalu menarik busur panahnya akan menyerang Jaka yang sedang berlari ke arahnya.
Setelah beberapa detik menatap tajam pergerakan Jaka, Livia langsung meluncurkan dua anak panahnya mengincar tubuh Jaka kemudian melompat dan menembakkan dua anak panahnya lagi. Total ada empat panah tengah bergerak lurus mengincar tubuh Jaka yang diselimuti oleh api berwarna merah itu. Namun tidak seperti sebelumnya, kini Jaka tidak menunjukkan perlawanan apapun.
Empat anak panah milik Livia terus bergerak tanpa ada perlawanan yang berarti. Seakan yakin empat panah milik Livia tidak akan melukainya, Jaka terus berlari dengan cepat menuju arah Livia. Benar saja, saat empat anak panah milik Livia sedang melewati kobaran api di sekitar tubuh Jaka, empat anak panah itu langsung terbakar tak tersisa.
Mengetahui serangannya tak berhasil, Livia terlihat melangkahkan kakinya ke belakang untuk menjaga jarak. Keringat menetes membasahi kening Livia dan rasa panas semakin lama kian terasa saat jaraknya dengan Jaka semakin dekat.
"Hihh ... bagaimana caranya menyerang tubuh Jaka jika anak panah Livia sudah terbakar duluan sebelum bisa menyentuh tubuhnya," batin Livia tengah memikirkan jalan keluar. Livia tahu ia harus berpikir dengan cepat, karena semakin lama ia berpikir maka semakin dekat pula Jaka dengan dirinya.
Detik terus berjalan, jarak Jaka sudah semakin dekat, dan keadaan Livia mulai terdesak. Saat jarak Jaka dan Livia hanya beberapa meter lagi, Livia kemudian teringat serangan yang Maya lakukan dengan anak panahnya.
"Kenapa Livia tidak terpikir sampai sana. Air adalah lawan alamiah dari api. Kalau begitu gunakan serangan panah yang diselimuti oleh air!" batin Livia sembari memukul kepalanya pelan saat teringat pertarungan antara Maya dan Daya.
Mengetahui apa yang harus dilakukan, Livia langsung mengambil beberapa anak panahnya kemudian meletakkannya di atas busur miliknya.
"Elemen air: Busur panah hiu!" rapal Livia kemudian melepaskan dua anak panahnya mengincar lengan Jaka. Saat ini serangan Livia bukan hanya anak panah biasa, melainkan anak panah yang diselimuti oleh lapisan air berbentuk hiu.
Dua anak panah Livia bergerak cepat menuju arah Jaka. Mengetahui serangan itu dapat melukainya, Jaka menggengam erat pedangnya lalu bersiap akan memotong busur panah milik Livia.
Sraakk.
Benar saja, Jaka dapat dengan mudah mematahkan anak panah milik Livia. Namun sebagai gantinya saat Jaka mematahkan anak panah milik Livia, lapisan air yang mengelilingi busur panah itu pecah kemudian memadamkan api pada lengan Jaka. Mengetahui apinya telah padam akibat elemen air milik Livia, Jaka berhenti berlari dan kembali mengeluarkan elemen api di lengannya.
__ADS_1
"Kau pikir dapat melukaiku hanya dengan memadamkan api di tubuhku ini!? Mau berapa banyak pun air yang kau berikan, aku tetap bisa mengeluarkan api di tubuh ini!" Jaka berkata dengan mata yang melotot tajam.
"Agar bisa melukai Jaka, Livia tidak perlu memadamkan seluruh api yang berada di tubuh Jaka. Hanya perlu sedikit air dan serang di tempat yang sama!" ucap Livia lalu dengan cepat mengeluarkan lagi panah yang dilapisi oleh air berbentuk hiu. Serangan demi serangan Livia luncukan di tempat yang sama.
Karena kelihaian dan ketepatan Livia dalam menggunakan panah membuat Jaka sedikit kesulitan. Setiap kali Jaka mematahkan satu anak panah milik Livia dengan pedangnya, maka api di sekitar panah yang Jaka patahkan padam dibuatnya.
Jaka mencoba sebisa mungkin menghindari panah milik Livia, namun Jaka merasa sulit, sangat sulit. Serangan Livia bagaiman panah yang diberikan sentuhan dewa, seakan panah yang Livia luncurkan tak akan pernah berhenti sebelum mengenai dirinya atau patah dibuatnya.
Jaka menyadari jika ia terus mematahkan panah yang Livia luncurkan, maka ia harus kembali menghidupkan api yang telah padam menggunakan energinya. Jika itu terus menerus ia lakukan, maka Jaka akan kehabisan energi.
Di lain sisi jika Jaka menghindari serangan Livia dan menunggunya kehabisan energi dengan menghindari serangan panahnya, Jaka juga akan kehabisan energi karena harus melompat dan menghindari serangan panah milik Livia.
"Perempuan sialan!" decak Jaka kesal di dalam hatinya. "Dia ingin memadamkan api di tubuhku lalu menyerangnya di tempat yang sama, karena dia tahu ia tak akan bisa melukaiku jika masih ada kobaran api di sekitar tubuhku ini.
Melihat Jaka telah memadamkan api di tubuhnya, Livia berhenti menyerang Jaka. Nafas Livia dan Jaka sama-sama memburu cepat, terutama Livia. Nafas Livia tidak beraturan dan peluh keringat membasahi tubuhnya.
Belum sempat Livia menghilangkan nafas yang tidak beraturan di dalam dadanya, Jaka sudah kembali bergerak ke arahnya. Namun kali ini Jaka bergerak jalan dengan santai.
Dari pada mengeluarkan api dengan jumlah banyak pada area yang luas namun tetap bisa dipadamkan oleh air biasa, Jaka lebih memilih menggunakan elemennya pada area yang kecil namun tak akan bisa padam oleh elemen air milik Livia. Kali ini Jaka menggunakan api birunya pada pedang miliknya.
Melihat Jaka telah kembali bergerak ke arahnya dengan api berwarna biru di pedangnya, Livia kembali meluncurkan anak panah yang dilapisi oleh air berbentuk hiu ke arah Jaka.
Namun Livia tidak mengetahui apa yang Jaka ketahui. Saat anak panah yang dilapisi oleh air milik Livia dipatahkan oleh pedang yang Jaka pegang, ternyata air yang melapisi anak panah itu tidak sanggup memadamkan api biru milik Jaka.
__ADS_1
Tidak menyerah, Livia kembali menyerang Jaka dengan panah airnya, namun serangannya tetap tidak sanggup memadamkan api di pedang milik Jaka. Livia juga tidak sanggup menyerang tubuh Jaka yang tidak terlindung oleh api lagi, setiap serangannya berhasil di patahkan oleh pedang yang Jaka pegang.
"Hahaha ... kenapa? Tidak bisa memadamkan api biru miliku?" tanya Jaka sembari melangkahkan kakinya menghampiri Livia dengan nada yang mengejek.
"Yap, api biru milik Jaka sangatlah hebat, sampai-sampai elemen air Livia tidak sanggup memadamkannya. Sebelum itu, bolehkan Livia bertanya kepada Jaka?"
"Apa itu?" Jaka mengangkat satu alisnya tinggi.
"Antara api berwarna merah dan biru yang saat ini Jaka gunakan, mana yang lebih mengkonsumsi energi?"
"Tentu saja api biru ini!" jawab Jaka sembari mengangkat pedangnya tinggi. "Api biru ini lebih panas dan lebih kuat dari pada api merah!"
"Jadi itu alasan Jaka menghilangkan api merah dengan skala yang besar (Api merah di tubuhnya) dan lebih memilih api biru pada skala yang kecil (Api biru pada pedangnya)"
"Benar, aku tidak perlu lagi repot-repot melindungi tubuhku dari seranganmu! Karena aku telah membaca semua pola serangan anak panahmu! Menyerahlah, Livia. Atau kau akan mendapati luka yang manyakitkan!" ucap Jaka dengan pandangan yang tajam.
Jarak mereka berdua semakin lama semakin dekat. Langkah kaki Jaka terkesan lambat, namun itu juga yang membuat suasana semakin tegang.
"Livia lebih memilih terluka dan berkembang dari pada harus sehat tapi berjalan di tempat. Sepertinya Livia harus serius kali ini," ucap Livia lalu membuang busur dan sarung yang berisikan anak panah miliknya.
Melihat apa yang Livia lakukan, Jaka, Maya dan Daya terkejut dibuatnya. Mereka bertiga tidak mengetahui serangan macam apa yang akan Livia keluarkan.
\=\=♡\=\=
__ADS_1
To Be Continued.