
Dengan bimbingan Tuan Abdi, Daya telah banyak belajar menggunakan tombak selama tiga hari latihan. Pagi ini, Tuan Abdi akan mengajarkan Daya dasar bela diri tangan kosong. Daya dan Tuan Abdi telah berada di lapangan bersiap untuk latihan.
"Bukan bermaksud sok hebat, tuan. Tetapi kenapa harus belajar bela diri?" tanya Daya dengan nada sopan karena tidak ingin terkena amarah Tuan Abdi sebab pertanyaannya.
"Kelemahan itu ibarat lobang yang ada pada diri setiap manusia, jika orang itu mengetahui kelemahan dirinya dan mencoba untuk menutupnya walau hanya sekadar. Maka dia adalah orang yang akan memegang kunci kemenangan! Namun, orang bodoh hanya akan membiarkan kelemahannya terbuka, dan mencoba menutupinya dengan kelebihan yang ada!"
"Bukankah itu sudah wajar, tuan? Di saat orang lemah akan sesuatu hal, maka dia akan menonjolkan apa yang ia bisa?"
"Benar! Sudah wajar manusia memiliki kelemahan, namun bukan berarti kau harus membiarkan kelemahan itu terbuka dan berlaga tidak memilikinya dengan mencoba menonjolkan kelebihan yang kau punya! Ceroboh itu namanya!
"Aku ingin mengajarkan kau apa yang aku tau. Mulai dari pengetahuan dan latihan, mulai dari senjata hingga Arbitrium. Di saat kau kalah dalam penggunaan senjata, setidaknya kau memiliki seni bela diri. Di saat kau kalah dalam seni bela diri, setidaknya kau bisa mengeluarkan elemen. Walaupun kau kalah dalam penggunaan elemen, kau bisa menguatkan elemen itu dengan Arbitrium!
"Ingatlah Daya, jangan penuhi dirimu dengan sifat naif dan kelemahan! Karena kedua hal itu akan membuatmu seperti orang bodoh yang mengimpikan terbang ke bulan!" tegas Tuan Abdi dengan pandangan yang tajam.
"Ah ... aku tidak tau harus berkata apa, tuan. Anda sangat bijak dalam menyikapi semua hal. Maaf telah bertanya seperti itu, mulai sekarang aku akan mematuhi setiap perkataanmu," ucap Daya dengan membungkukkan badannya hormat.
Bermaksud untuk mematuhi dan memuji sifat dan perkataan Tuan Abdi, ternyata Tuan Abdi marah dan memukul kepala Daya.
Tok ....
"Aaw ... sakit, tuan. Kenapa Anda memukul kepalaku?" tanya Daya sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Kau bodoh, aku manusia dan kau manusia! Aku bisa berbuat salah juga, aku sudah memberitahu kau jangan terlalu memuji orang atau sesuatu hal! Apa lagi mempercayai apapun yang ia katakan!"
"Terus bagaimana donk, tuan? Aku kagum dengan sifat anda."
"Cukup kagumi orang dalam hatimu, bertindak seperlunya, berfikir dan menyaring setiap apa yang di katakannya!
"Karena ada kalanya orang yang kau kagumi itu berbuat salah. Jika itu terjadi, maka tegurlah! Dan jangan lupa untuk selalu bertanya jika kau tidak tau sesuatu!" kata Tuan Abdi dengan nada yang sangat bijak.
"Baik, tuan."
__ADS_1
"Sekarang aku akan mengajarimu tentang bela diri tangan kosong, jadi bersiaplah!"
Tuan Abdi pun mengajari Daya dasar seni bela diri tangan kosong selama dua hari dengan diselingi latihan fisik. Seperti push up, sit up, membawa barang dari satu tempat ke tempat lain, hingga mengerjakan pekerjaan pondok dua kali lipat dari biasanya. Sebenarnya Dewi sempat melarang latihan yang terlalu ekstrim. Tetapi Daya menolak usulan Dewi karena Daya menyukai latihan yang diberikan Tuan Abdi padanya.
Tibalah hari dimana Daya akan mempelajari tentang Arbitrium, Daya telah menunggu lama hari ini tiba karena latihan ini adalah penutup latihannya di pondok. Jika ia sudah bisa menggunakan dan mengkontrol Arbitrium, maka Daya bisa melangkahkan kakinya menjadi pendekar yang diimpikannya. Siang itu, Daya dan Tuan Abdi telah berada di lapangan seperti biasanya. Mereka berdua berdiri menghadap satu sama lain.
"Tiba hari dimana kau akan belajar Arbitrium, Daya."
"Iya, tuan."
"Karena kau akan belajar tentang Arbitrium, ada kemungkinan kau akan terluka jika kau tidak fokus. Maka dari itu, aku ingin kau fokus tentang apa yang sedang kau pelajari!" perintah Tuan Abdi kepada Daya memandang matanya.
"Baik, tuan. Terima kasih nasihatnya."
Tidak seperti latihan-latihan biasanya, kali ini Tuan Abdi mengajak Daya pergi ke gua di pegunungan. Dengan membawa bekal di tas ransel yang telah di sediakan, mereka berdua memulai perjalanannya. Setelah perjalanan yang panjang, mereka pun sampai di gua yang akan menjadi tempat latihan Daya.
Daya menaruh tasnya dan duduk bersender di dinding gua karena kelelahan. Begitu juga Tuan Abdi yang duduk di atas batu di dalam gua.
"Hah ... Hah ..., aku tidak mengira perjalanan ini akan sangat melelahkan," ucap Daya dengan nafas yang ngos-ngosan.
Mereka pergi saat siang hari dan telah sampai di gua ketika di sore hari.
"Bagaimana kalau latihannya di mulai besok saja, tuan? Sekarang kita istirahat dahulu?" pinta Daya dengan nafas yang masih tidak beraturan.
"Kau benar, aku akan istirahat dulu dan kau harus berlatih!"
"Ehhhh ... tega sekali tuan sama saya," rengek Daya karena tidak diizinkan untuk istirahat.
"Sudah jangan banyak bicara, yang ingin kuat itu kau. Bukan aku!"
"Baiklah-baiklah, apa yang harus saya lakukan?" tanya Daya mengalah karena dia harus semakin kuat.
__ADS_1
"Meditasi-lah di depan gua dan cobalah kendalikan energi yang berada di sekitanya, sama seperti saat kau mengendalikan energi dalam dirimu."
"Sampai kapan, tuan?" tanya Daya.
"Sampai energi alam itu bisa kau kendalikan tanpa harus terlalu fokus untuk mengendalikannya!"
"Baik, tuan."
Tuan Abdi pun pergi lebih dalam ke dalam gua, saat Tuan Abdi ingin pergi, Daya bertanya,
"Mau kemana, tuan?"
"Ingin tidur, aku tidak ingin mendengar suara ledakan. Itu bisa menggangu tidurku," ucap Tuan Abdi berjalan masuk kedalam gua.
"Ledakan dari mana, tuan?" tanya Daya bingung.
"Tentu saja dari kau, saat kau kehilangan fokus!" ucap Tuan Abdi dan pergi meninggalkan Daya seorang diri.
Daya pun duduk di depan goa dan mencoba untuk bermeditasi. Daya mencoba fokus untuk merasakan dan mengkontrol energi alam di sekitarnya. Saat Daya telah berhasil mengendalikan energi alam, di sekitar tubuh Daya mengeluarkan aura berwarna hitam.
Selama berjam-jam sudah Daya bermeditasi di depan gua untuk mengendalikan energi alam. Banyak rintangan yang menghampiri, namun itu semua tidak menghentikan langkah Daya untuk menjadi semakin kuat.
Beberapa kali Daya kehilangan fokus dan beberapa kali juga ledakan tercipta. Baju Daya compang-camping dan badan Daya mulai dipenuhi luka yang mengitari badannya. Namun, karena fisik Daya yang telah semakin kuat, ledakan kecil Arbitrium tidak lagi terasa oleh badannya.
Pagi pun tiba, Tuan Abdi bangun dan pergi melihat latihan Daya. Tuan Abdi terkejut karena baju Daya telah banyak yang robek dan badannya dipenuhi luka. Tapi yang lebih membuat Tuan Abdi lebih terkejut adalah, walaupun badannya dipenuhi luka, tetapi Daya tetap sigap pada posisi meditasinya.
"Wahh ... bocah ini mulai kuat sepertinya," ucap Tuan Abdi berjalan menghampiri Daya yang sedang bermeditasi.
Saat Tuan Abdi sudah berada di depan Daya dan mencoba menggoyangkan tubuhnya, tubuh Daya terjatuh tergeletak dari posisi meditasinya. Saat sedang tergeletak, suara dengkuran Daya terdengar kuat.
"Bocah sialan, kukira masih bermeditasi. Tertidur rupanya dia!" geram Tuan Abdi merasa tertipu.
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.