
Kekuatan dari kelima calon pendekar itu bergabung membuat sebuah elemen baru, lahar panas terlihat membakar tubuh monster Lanhak. Gemuruh suara para penonton kembali terdengar, semua penonton yakin bahwa elemen gabungan itu pasti dapat menumbangkan monster Lanhak.
Laksana, Kantata, Wirya, Cayapata dan Nala terus mengeluarkan elemennya, mereka tidak berhenti walau hanya sedetik. Jaring-jaring besi berwarna putih yang mereka pegang sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi warna merah menyala. Gemuruh penonton tak henti-hentinya memeriahkan serangan mereka.
Namun tanpa mereka duga, cairan racun berwarna hijau keluar dari duri monster Lanhak dengan jumlah sangat banyak seiring duri milik monster Lanhak yang terbakar habis oleh lahar panas gabungan elemen mereka.
Cesss ....
Suara jaring-jaring besi milik mereka yang bersentuhan langsung dengan cairan hijau milik monster Lanhak terdengar pelan, Laksana yang memiliki pendengaran lebih bagus dari teman-temannya itu mendengar dan melihat dari mana sumber suara itu berasal. Mata Laksana terbelalak kaget mengetahui cairan hijau milik monster Lanhak telah mengikis habis jaring miliknya. Belum sempat memberitahu teman-temannya untuk menjauh, ternyata jaring milik mereka telah putus terlebih dahulu.
Duuarrr ....
Suara ledakan terdengar begitu kuat akibat terputusnya jaring-jaring milik mereka, Laksana beserta teman-temannya tercampak jauh membentur ujung dinding arena pertandingan. Mereka semua merasakan sakitnya punggung yang bertabrakan dengan dinding arena, mereka mencoba bangkit, namun rasa sakit itu membuatnya sulit.
Elemen lahar yang mereka gunakan berserakan ke sekitar dinding arena dan lantainya. Untungnya, ketika ledakan itu terjadi, tidak ada satupun dari kelima calon pendekar itu yang terkena lahar panas secara langsung. Jika iya, kemungkinan mereka akan mati.
Laksana dan teman-temannya yang masih bersender pada ujung dinding arena melihat ke arah monster Lanhak, begitu juga para penonton yang terlihat terdiam setelah mendengar suara ledakan itu terdengar. Mereka semua berharap monster itu mati, namun lagi-lagi harapan tidak selalu berjalan sesuai kenyataan.
Monster itu masih terlihat dapat menggerak-gerakkan tubuhnya kuat, monster Lanhak sedang berusaha melepaskan lahar yang masih menempel pada kulit-kulitnya. Setelah cairan lahar itu telah tanggal semua, terlihatlah monster Lanhak yang hanya tersisa kulitnya saja. Duri-duri monster Lanhak telah putus terbakar oleh lahar yang panas.
"Ini kesempatan kita untuk menyerang langsung ke kulitnya, Laksana! Aku yakin kulit adalah kelemahannya!" Kantata setengah berteriak melihat ke arah Laksana. Mendengar ucapan Kantata, Laksana beserta teman-teman yang lain mencoba untuk bangkit dan berkumpul.
Setelah berkumpul, mereka semua terlihat mendiskusikan rencana untuk ke depannya.
"Apakah kalian masih mempunyai energi yang tersisa?" tanya Laksana memandang teman-temannya satu per satu. Namun teman-temannya hanya bisa menjawab dengan gelengan kecil.
"Maaf, energiku habis untuk mengeluarkan elemen gabungan." Kantata menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku juga, membutuhkan beberapa menit lagi agar energiku terisi!" ucap Cayapata setelah menggelengkan kepalanya.
Nala terlihat sedang membenarkan posisi kacamata bulat besarnya kemudian berkata, "Kita semua telah kehabisan energi, Laksana. Bagaimana kalau menggunakan pisau kecil mili-" Belum sempat Nala menyelesaikan ucapannya, kata-katanya telah dipotong oleh Wirya.
"Semua? Pfftt ... aku masih mempunyai sedikit energi! Cukuplah untuk memotong tubuh botak monster itu dengan sekali serangan!" Wirya berkata dengan penuh semangat dan keyakinan yang sangat hebat.
"Baiklah ... Wirya, gunakan serangan penutupmu kepada monster itu! Gunakan seluruh energimu dan pastikan seranganmu mengenai tubuhnya!" Laksana manatap mata Wirya dengan tajam.
"Tentu saja, khahaha. Lihatlah monster itu! Ia bahkan sudah tak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya lagi!" Wirya langsung menggambil ancang-ancang kemudian melompat dengan lompatan yang sangat tinggi dibantu oleh elemen anginnya. Setelah sampai di atas udara, Wirya langsung menutup matanya selama beberapa detik kemudian menghentakkan tangannya kuat sembari merapalkan jurusnya.
"Elemen angin: Pedang kematian!"
Bersamaan dengan rapalan dan hentakan tangan Wirya, keluarlah semacam angin yang memadat berbentuk sebilah pedang bergerak dengan kecepatan yang sangat hebat melayang akan memotong tubuh monster Lanhak.
Craakk ....
Mereka semua mengira monster itu tak dapat menggerakkan tubuhnya lagi, namun ternyata saat serangan Wirya hampir mengenai tubuh monster Lanhak, hidungnya kembali bergerak dan tubuh monster itu menghindar seiring dengan pergerakan hidungnya.
Wirya yang telah kehabisan energi itu tak mampu lagi melayangkan tubuhnya di atas udara, ia terjatuh dari ketinggian karena tidak dapat mengeluarkan elemen anginnya.
"Sialan!" maki Wirya saat terjatuh dari ketinggian.
Para penonton merasakan ketegangan saat melihat serangan Wirya yang gagal dan dirinya sedang terjatuh dari ketinggian. Tanpa Wirya dan teman-temannya duga, monster Lanhak telah menumbuhkan duri pada kepalanya dan sedang melompat ingin menerjang tubuh milik Wirya yang telah kehabisan energi itu.
Tentunya tanpa adanya energi, Wirya tidak dapat menggunakan elemennya untuk menghindari serangan milik monster Lanhak. Wirya hanya bisa menutup matanya berharap serangan monster Lanhak tak mengenainya.
Melihat monster Lanhak yang ingin menyerang tubuh Wirya, Laksana dan teman-temannya tidak hanya tinggal diam. Laksana dan Kantata berlari secepat yang ia bisa lalu Laksana mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan melemparkan pisau itu mengincar tubuh monster Lanhak yang tengah fokus ingin menyerang tubuh Wirya.
__ADS_1
Namun lagi dan lagi hidung monster itu kembali bergerak dan monster Lanhak dapat menghindari serangan pisau milik Laksana. Monster Lanhak menghindar ke arah kanan, namun ternyata dari arah kanan terdapat Kantata yang sedari tadi sudah mengira bahwa monster Lanhak akan menhindari serangan milik Laksana.
Duaagg ....
Kantata yang telah dekat dengan monster Lanhak itu langsung menendang kulit monster Lanhak dengan kuat. Monster Lanhak langsung tercampak jatuh ke atas tanah akibat serangan milik Kantata. Bersamaan dengan monster Lanhak yang jatuh ke atas tanah, jatuh juga tubuh Wirya. Namun tidak seperti monster Lanhak yang terjatuh dengan kuat ke atas arena, tubuh Wirya jatuh ke pangkuan Laksana.
"Maaf, Laksana. Serangan penutupku gagal," ucap Wirya yang sedang dalam pelukan Laksana.
"Yaya, tak apa. Awas!" Laksana langsung melepaskan pelukannya pada Wirya.
"Kenapa dilepas?" tanya Wirya.
"Jijik!" tandas Laksana yang terlihat jijik memeluk Wirya yang juga seorang lelaki.
"Khhahahaa ... yang terpenting serangan milik Kantata berhasil!" ucap Wirya terlihat senang.
"Apakah serangan Kantata berhasil membunuh monster itu?" tanya Nala yang tengah membenarkan posisi kacamatanya bundarnya.
"Aku tidak tahu, semoga saja begitu." Laksana dan teman-temannya terlihat sangat kecapaian, mereka telah kehilangan banyak energinya.
"Jika monster itu masih dapat bergerak, kita benar-benar akan kesulitan!" tandas Kantata.
"Selagi ada waktu, kumpulkan lagi energi kalian!" perintah Laksana yang tengah mengontrol nafasnya.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.
__ADS_1