
Tidak seperti dua kelompok calon pendekar yang telah bertarung sebelumnya, kali ini hanya terdapat tiga orang dalam satu kelompok dan mereka terlihat tidak menggunakan senjata apapun. Mereka berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju arena pertandingan. Beberapa penonton yang melihat ketiga calon pendekar itu merasa aneh dan risih.
Pasalnya ketiga calon pendekar itu tidak mengenakan pakaian apapun untuk menutup tubuhnya, hanya celana pendek berwarna hitam sajalah satu-satunya kain yang mereka kenakan.
Walau ketiga calon pendekar itu adalah lelaki, para penonton menganggap pakaian yang mereka gunakan tidaklah sopan. Terlebih saat ini anggota kerajaan sedang melihat, para penonton bersorak untuk mendiskualifikasi ketiga calon pendekar itu karena telah menunjukkan ketidaksopanan di hadapan anggota kerajaan.
"Hoi ...! Keluar kalian dari arena itu! Orang yang tidak memiliki etika seperti kalian tidak cocok jika menjadi pendekar!"
"Benar itu, kalian mencoreng nama desa Thalas! Keluar kalian!"
Banyak sumpah serapah ditujukan kepada ketiga calon pendekar itu saat telah berdiri di tengah arena.
Mendengar teriakan para penonton, Evan memandang wajah sang Raja. Karena Raja tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap ketiga calon pendekar ini, Evan memutuskan untuk tetap membiarkan mereka bertarung tanpa menggunakan sehelai pakaian pun di badan mereka.
***
"Kenapa para penonton sialan itu berisik sekali!?" Rajaendra terlihat kesal dengan teriakan serta ejekan yang penonton lontarkan.
"Anda benar, Ketua. Hamba berkenan membunuh semua penonton yang menghina Anda, tentunya atas izin Anda." Gayatri memandang satu per satu para penonton yang menghina ketuanya dengan tatapan tajam.
"Kau gila, ya? Kau pikir Raja dan dua pendekar tingkat tinggi itu akan membiarkan kau melakukannya, kau akan mati duluan sebelum bisa membunuh semua penonton itu, khahah." Barman tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang diucapkan Gayatri.
Merasa tidak senang dengan ucapan Barman, dengan gerakan yang sangat cepat Gayatri langsung mencengkram leher Barman. Namun dengan mudah Barman menepis serangan Gayatri.
"Cukup! Kita ke sini bukan untuk bertengkar satu sama lain! Tujuan kita berdiri di sini adalah untuk menjadi pendekar!" Rajaendra berteriak dengan lantang membuat Gayatri dan Barman diam seketika.
"Tetapi kenapa kau ingin menjadi pendekar? Apakah kau ingin menjadi seorang pahlawan?" tanya Barman dengan tatapan bingung.
"Tentu saja tidak, bodoh! Untuk apa menjadi seorang pahlawan!? Hanya sia-sia! Manusia yang lemah memang pantas berada di bawah! Tujuanku menjadi pendekar adalah karena uang! Hanya dengan berburu monster lah kita bisa mendapatkan uang dengan mudah!"
__ADS_1
"Hahaha ... kita akan mendapatkan tier tertinggi kemudian akan menjadi kaya, Ketua!" ucap Gayatri sembari menunjukkan otot-ototnya yang besar.
Mereka bertiga memiliki perawakan yang seram, terlebih Rajaendra. Tak luput badan yang gemuk, otot yang besar dan janggut yang panjang melekat pada dagunya.
Pintu kembali berdecit kuat, salah satu pintu kembali terbuka. Teriakan penonton terhenti dan lebih memilih untuk menutup telinganya dari decitan yang membuat telinga mereka terasa sakit. Evan kembali menghilangkan dirinya bersamaan dengan telah terbukanya pintu yang menutup tempat monster itu berada.
Ngengengenge ....
Suara kepakan sayap terdengar seiring terbukanya pintu besi itu. Suara yang tidak asing di telinga beberapa orang. Saat pintu telah terbuka sepenuhnya, sedikit demi sedikit muncullah seekor monster yang sangat besar. Bahkan monster itu terlihat kesulitan ke luar dari pintu besi. Monster itu terlihat seperti lalat, namun dengan wujud yang lebih menyeramkan.
Badannya berwarna hitam legam, terdapat beberapa titik berwarna merah di matanya, badannya terlihat keras seperti batu, memiliki empat kaki di belakang dan dua kaki di depan serta ekor yang menyerupai jarum besar di belakang tubuhnya.
"Bukankah itu monster Botfly?" Rajaendra menyipitkan matanya.
"Benar, Rajaendra. Itu adalah Botfly! Sepertinya kita sedang beruntung."
"Kahahah, kalau monster nya itu mah mudah!" ucap Gayatri yakin.
Saat jarak mereka bertiga hampir dekat dengan monster Botfly, Rajaendra langsung melompat dan tengah bersiap mengepalkan tangannya akan memukul kepala monster itu. Namun belum sempat Rajaendra melepaskan pukulannya, Gayatri dan Barman sudah menghantam dagu monster itu menggunakan kepalan tangannya.
Duagg ....
Mendapati pukulan Gayatri dan Barman, monster itu langsung terpental naik ke atas. Tak mau kalah, Rajaendra langsung menghantamkan pukulannya mengenai kepala monster Botfly saat tubunya masih terpental akibat serangan bawahannya.
Pukulan Rajaendra terdengar begitu kuat, saking kuatnya pukulan Rajaendra, kepala monster Botfly
mengeluarkan darah berwarna hitam.
Para penonton tidak mempercayai apa yang mereka lihat, bagaimana mungkin seseorang dapat melukai monster hingga mengeluarkan darah dari kulitnya hanya dengan menggunakan sebuah pukulan. Monster Botfly terjatuh ke atas tanah, mengucurkan darah, menggeliat-geliat, lalu tidak menggerakkan tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Lah ...? Sudah mati?" Barman terlihat sangat bingung.
"Tentu saja! Karena pukulan ketua semakin kuat!" Gayatri langsung menimpali ucapan Barman dengan nada seperti ingin mengajak bertarung.
"Tidak, kita belum ada perkembangan semenjak pertarungan kita yang terakhir. Aku yakin memang ada sesuatu yang aneh dengan monster itu!" Rajaendra menatap tajam tubuh monster Botfly yang darahnya hampir habis mengucur.
"Siapa yang peduli? Kitakan telah mengalahkan monster itu, berarti kita telah menang!" Gayatri langsung berlari ke sekeliling arena pertandingan. Gayatri berteriak lantang menyuruh para penonton untuk bersorak dan menepuk tangan atas kemenangan mereka.
"Ini sangat aneh, Rajaendra! Pertarungan terakhir kita saat melawan monster Botfly memerlukan waktu hampir seharian! Kenapa sekarang sudah berakhir dengan sekali pukulan?" Barman masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
"Kau benar, Barman! Tapi sudahlah, masih ada ujian kedua yang harus kita lalui. Lebih bagus kita memikirkan cara mengalahkan para calon pendekar yang telah lulus ujian tahap pertama!"
"Baiklah!"
Pintu penghubung kembali terbuka, mereka bertiga kembali mengambil tempat di bangku penonton untuk melihat pertarungan yang berikutnya.
***
Mengetahui pertandingan telah usai, Evan langsung melangkahkan kakinya menghadap Raja George. Saat telah berada di hadapannya rajanya, Evan menundukkan kepala serta pandangannya.
"Setelah melihat pertandingan barusan ... apakah menurutmu aku telah salah dalam mengambil keputusan, Evan?" tanya Raja George memandang arena pertandingan yang tengah dalam tahap pembersihan.
"Menurut hamba, keputusan yang Anda lakukan telah tepat, Yang Mulia. Hamba mendukung langkah yang Anda berikan," jawab Evan menundukkan kepalanya.
"Tidak ada alasan untuk mundur, Yang Mulia! Kami akan melakukan apa yang Anda perintahkan!" timpal pendekar dengan Tier Celestial Dragon pada posisi tegak berdiri di samping Raja George. Raja hanya menghela nafasnya pelan kemudian menyuruh Evan melanjutkan pertandingan. Evan mengangguk kemudian beranjak pergi menuju arena pertandingan.
Saat Evan telah berdiri di tengah arena pertandingan, ia mulai berkata, "Mungkin kalian tidak percaya dengan apa yang kalian lihat! Namun calon pendekar sebelumnya telah mengalahkan monster Botfly dalam beberapa kali serangan!
"Itulah kebenaran! Itulah kenyataan! Tanpa menunggu lama lagi, saya akan memanggil calon pendekar selanjutnya yang akan melanjutkan pertandingan! Namanya adalah ...."
__ADS_1
\=\=♡\=\=
To Be Continued.