Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 41: Menuju Serikat Pendekar dan Tradisi Seda.


__ADS_3

*Beberapa hari sebelum Maya bergabung menjadi teman sependekar Daya.


Jauh dari tempat Daya dan teman-temannya berada, tepatnya di area istana. Seorang pria tegap dengan pakaian serba hijau sedang duduk berselonjor di atas singgasana yang juga berwarna hijau. Terdapat dua orang membungkukkan kakinya dengan pandangan ke arah bawah menghormati pria yang sedang duduk di atas singgasana itu. Benar, pria yang sedang duduk di atas singgasana adalah Baginda Zake George, Raja dari Kerajaan Naga Hijau. Baginda Zake menatap wajah para bawahannya dengan raut wajah bertanya-tanya. Baginda Zake menghebuskan nafasnya pelan, berdiri dan menggerakkan jubah hijaunya dengan elegan.


"Apakah ada sesuatu di wajahku yang membuat para bawahan setiaku tidak ingin melihatnya!?" Suara Baginda Zake yang terdengar sanggat berwibawa itu menggema ke seluruh ruangan takhta.


Dua bawahan Baginda Zake yang mendengar ucapan Rajanya langsung berdiri dengan sigap.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud lancang merendahkan ketinggian Anda," ucap salah satu bawahan Baginda Zake dengan hormat.


"Apakah aku harus bertanya pada kalian tentang urusan yang mendorong kalian berdiri ke hadapanku!?"


"Tidak, Yang Mulia. Urusan hamba datang ke hadapan Anda tidak lain dan bukan adalah meminta izin melakukan tradisi Seda kepada para calon pendekar."


"Hmm ...," Baginda Zake menghela nafasnya lalu duduk kembali di atas singgasananya, "Kalau begitu aku sebagai Raja memberikan mandat padamu sebagai Tetua para pendekar untuk melaksanakannya!"


"Baik, Yang Mulia."


*Kembali ke hari sekarang tempat Daya dan teman-temannya berada.


Pagi itu terlihat Daya, Jaka dan Maya berjalan beriringan di Desa Thalas. Mereka sedikit berbincang mengenai pendekar kepada Jaka. Jaka memberitahu mereka semua yang ia ketahui,


"Pokoknya aku yakin kalian berdua akan lulus, tenang saja!" ucap Jaka dengan nada yang sangat optimis.


Tidak seperti Jaka, Daya sangat kepikiran tentang apa yang akan ia hadapi nanti,


"Tidak bisa seperti itu, Jaka! Katakan pada kami tentang apa yang akan diuji ketika mendaftar menjadi pendekar nanti," potong Daya tidak setuju dengan ucapan Jaka.


"Daya benar, Jaka. Sebaiknya kita mengetahui musuh yang akan kita hadapi nanti, sehingga kita bisa merancang strategi ke depannya!" sosor Maya membenarkan ucapan Daya.

__ADS_1


"Kalian tidak memerlukan strategi apapun, kalian hanya akan dites ketangkasan. Seperti cara memakai senjata dan sedikit cara bertarung yang mana kalian pasti sudah menguasainya. Maka dari itu, tenang saja," ucap Jaka dengan sangat percaya diri.


"Hmm ... aku harap kau benar, Jaka," ucap Maya pelan.


Setelah mendengarkan penjelasan Jaka, Daya melihat toples berisi darah monster yang ia pegang dan bertanya kepada Jaka,


"Memang apasih keunggulan dari darah ini, Jaka?"


"Kau akan mengetahuinya saat telah sampai di serikat pendekar nanti, Daya."


"Apa kita masih jauh dari serikat pendekar?" Daya kembali bertanya kepada Jaka dan Maya seperti orang yang tidak sabar untuk menjadi seorang pendekar.


"Sebentar lagi sampai kok, Daya," jawab Maya memalingkan pandangan ke arah Daya.


"Oh ... oke."


Jaka hanya tertawa kecil melihat reaksi yang Daya tunjukkan,


"Baru pertama kali melihat tempat sebagus ini yah?" ledek Jaka melihat reaksi Daya.


Daya hanya tersenyum mendengar kekehan Jaka, merekapun masuk ke dalam Serikat pendekar. Saat mereka telah sampai di dalam Serikat Pendekar, mereka melihat banyak sekali orang dengan badan tegap dan senjata di kiri dan kanannya. Sebuah tempat yang luas dan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian kanan untuk para calon pendekar yang ingin mendaftarkan dirinya, bagian tengah untuk para pendekar yang ingin menjalankan misi, dan bagian kiri diperuntukkan kepada para pendekar yang ingin menjual hasil buruannya.


Serikat Pendekar yang Daya kunjungi ini sangat ramai, terlihat bangku-bangku yang telah disediakan oleh pengelola Serikat telah dipenuhi oleh beberapa pendekar. Ada juga beberapa pendekar yang terlihat berdiri menunggu antriannya di tempat penjualan hasil buruan dan tempat untuk mendapatkan misi. Setelah mengetahui pembagian tempat di Serikat Pendekar, Maya sempat bertanya kepada Jaka,


"Kenapa para pendekar melakukan misi lagi? Bukankah misi para pendekar sudah ditentukan sedari awal sesuai Tiernya?" tanya Maya bingung. Daya yang mendengar pertanyaan Maya juga ikut penasaran dengan jawaban Jaka.


"Benar, saat pertama kali menjadi pendekar aku juga sempat mempertanyakan hal yang sama. Para pendekar mendapatkan uang dari Serikat setiap bulannya dan akan ditambah jika bisa memberikan bagian tubuh dari monster. Karena monster jarang menyerang desa dan jikapun mereka menyerang, itu tidak akan cukup. Baik untuk pembangunan maupun untuk kebutuhan lainnya. Hal ini membuat pembangunan di dalam suatu area menjadi tidak


seimbang karena kekurangan material bagian tubuh monster.

__ADS_1


"Karena hal itulah pihak serikat memberikan misi, biasanya para pendekar mengambil misi untuk membunuh dan memberikan bagian tubuh monster kepada orang yang membutuhkannya. Para pendekar akan membunuh monster dari habitat aslinya, membawa dan memberikannya ke Serikat Pendekar untuk di jual. Contoh mudahnya adalah para pendekar menjual darah Monster Bee ke Serikat Pendekar dengan harga yang sangat tinggi, mengetahui jumlah Monster Bee sudah mulai menipis dan banyak orang yang membutuhkannya!" jawab Jaka dengan serius menjelaskan kepada Daya dan Maya.


Mendengar penjelasan Jaka, Maya hanya manggut-manggut mencerna apa yang Jaka jelaskan. Sedangkan Daya hanya terdiam dengan pandangan kosong, ia tidak bisa mengerti apapun yang Jaka ucapkan. Melihat ekpresi bingung yang Daya buat, Jaka sudah tahu bahwa Daya tidak mengerti tentang apa yang ia katakan. Jaka menyuruh Maya untuk menerangkan kepada Daya dengan singkat. Maya pun memberitahu lagi kepada Daya dengan nada yang lebih pelan,


"Jadi gini Daya, pada dasarnya pendekar itu memiliki dua misi. Sebut saja misi utama dan misi sampingan. Misi utama seorang pendekar dengan Tier tertentu adalah untuk melindungi wilayahnya dari serangan monster. Sedangkan misi sampingannya dilakukan jika pendekar itu membutuhkan uang lebih, seperti untuk membeli senjata atau perlengkapan lain. Bukan begitu, Jaka?" jelas Maya memberitahu Daya lalu bertanya kebenarannya kepada Jaka.


"Iya, lebih kurang seperti itu." Jaka membenarkan apa yang Maya ucap.


"Oh ... oke," jawab Daya sembari manggut-manggut.


"Tapi aku bingung, kenapa hari ini tidak banyak orang yang mendaftarkan dirinya menjadi pendekar, biasanya banyak orang yang mengantri menjadi pendekar," ucap Jaka bingung setelah melihat bagian kanan Serikat yang biasanya dipenuhi oleh calon pendekar kini hanya ada seorang yang berdiri di sana.


"Mungkin karena tidak mendapatkan darah Monster Bee?" Maya menerka-nerka yang terjadi.


Jaka hanya menghela nafasnya mendengar terkaan Maya lalu berjalan menuju bagian kanan Serikat untuk mendaftarkan Maya dan Daya. Saat mereka sedang berjalan menuju bagian kanan, para pendekar yang duduk di bangku berbisik-bisik dengan pandangan tajam menatap ke arah mereka bertiga. Jaka hanya membiarkan para pendekar itu dan terus melangkahkan kakinya menuju bagian kanan.


Setelah sampai di bagian kanan, Jaka berpapasan dengan satu-satunya orang yang ingin mendaftarkan dirinya menjadi pendekar. Maya, Jaka dan Daya merasakan aura yang sangat pekat berasal dari pria itu saat berjalan melewati mereka. Daya bingung dengan aura yang ia rasakan, apakah ini aura Arbitrium atau bukan, karena Daya tidak bisa melihat ada aura berwarna yang mengelilingi pria itu. Namun mereka hanya diam saat pria itu berjalan melewatinya.


"Selamat datang, apakah kalian benar-benar yakin ingin mendaftarkan diri menjadi pendekar?" tanya seorang wanita yang bertugas menjaga bagian kanan Serikat.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Jaka bingung karena setahunya penjaga bagian kanan tidak pernah berkata seperti itu kepada calon pendekar.


"Karena tradisi Seda akan dilaksanakan kembali!" beber wanita itu menatap mata Jaka tajam.


"Huh ...!?" Jaka dan Maya kaget mendengar ucapan wanita itu, sedangkan Daya hanya bengong mendengarnya karena tidak tahu menahu apa itu tradisi Seda.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2