Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 37: Maya Revina (3/5).


__ADS_3

"Ayo ikuti aku, 'kan kutunjukkan sebuah hal yang mungkin akan meredam rasa sakitmu."


Dengan tangan kanan yang terpegang, Maya mengikuti tarikan bocah itu menyusuri jalan setapak. Maya tidak bertanya maupun mengeluh tentang ke mana bocah itu membawanya. Setelah beberapa menit Maya mengikuti langkahnya, akhirnya bocah itu melepaskan tangan Maya di tempat yang belum pernah Maya kunjungi sebelumnya. Maya melihat ke sekelilingnya, di samping kanan dan kirinya hanya ada pepohonan sedangkan di hadapannya terdapat gerbang kecil bertuliskan 'Selamat Datang'.


"Ini di mana?" tanya Maya kecil setelah bocah itu melepaskan tangan Maya sembari melihat area di sekitarnya.


"Tutuplah matamu," pinta bocah itu.


Tanpa curiga sedikitpun, Maya menuruti permintaan bocah itu dengan menutup mata menggunakan kedua tangannya. Setelah Maya menutup mata, Maya merasakan punggungnya didorong perlahan, bocah itu membimbing Maya memasuki gerbang bertuliskan 'Selamat Datang' itu. Setelah mereka sampai di dalam, bocah itu meminta Maya menghintung mundur dari tiga lalu membuka matanya. Maya pun menuruti permintaannya dan mulai menghitung.


"Tiga ... dua ... satu!" ucap Maya menghitung mundur dari tiga lalu membuka kedua matanya.


Saat Maya melihat ke arah depan, matanya terbuka lebar oleh pemandangan mempesona di hadapannya. Ia melihat bunga-bunga berbagai warna tumbuh dengan indah mengitari beberapa lahan berbentuk persegi. Melihat pemandangan yang indah di hadapannya ini membuatnya lupa untuk berkedip.


"Bagaimana ... indah, bukan?" tanya bocah itu dengan bangga menunjukkan hamparan bunga miliknya kepada Maya.


Mendengar pertanyaan bocah itu, Maya mulai ingat untuk berkedip dan melihat ke arah bocah itu sembari berkata,


"Wahh ... ini indah sekali, kebun ini milikmu?" tanya Maya dengan mata berbinar-binar.


"Bisa dibilang seperti itu, tanaman bunga ini adalah peninggalan kedua orang tuaku. Sekarang aku yang menjaga kebun ini," jawab bocah itu dengan bangga menunjukkan kebun miliknya.


"Omong-omong siapa namamu?" tanya Maya penasaran dengan nama bocah di sebelahnya ini.


"Panggil saja aku dengan sebutan Po."


Maya melihat Po dan tersenyum kecil, melihat Maya yang tersenyum membuat Po merasa ia sedang dipuji oleh Maya.


"Hahaha ... nama yang keren, bukan?" ucap Po lantang dengan bangga.


Maya hanya membalas ucapan Po dengan anggukan kecil. Po mengajak Maya untuk masuk lebih dalam ke kebunnya itu. Semakin dalam Maya masuk, semakin banyak pula jenis bungga yang Maya lihat. empat persegi yang menampung bunga-bunga itu sangat besar, kira-kira satu persegi bisa menampung bunga sampai lima puluh biji.


"Wahh ... banyak banget bunganya, bagus-bagus juga warnanya."


"Hahaha ... tentu saja, kalau aku yang jaga pasti bagus."


"Apa kau ingin tahu bagaimana aku merawat kebun ini sehingga menghasilkan bungga secantik ini, Maya?" tanya Po menawarkan Maya cara berkebun.

__ADS_1


"Iya! Aku mau!" jawab Maya kegirangan mendengarkan ajakan Po.


Po yang melihat antusias Maya ikut senang mendengarnya. Po mengajak Maya ke sebuah gubuk kecil tempat di mana ia menyimpan barang-barang untuk merawat kebunnya. Po masuk ke dalam gubuk itu selama beberapa menit lalu keluar dengan berbagai alat dan bahan untuk berkebun. Seperti biji-bijian, air, pupuk, kompos dan sekop.


"Pegang nih ...," kata Po sembari memberikan semua barang-barang yang ia pegang ke pangkuan Maya.


Maya yang menerima semua alat-alat berkebun dari Po kewalahan dibuatnya. Maya mencoba menahan alat itu agar tidak jatuh ke tanah yang mungkin bisa merusak alat milik Po.


"Ihh ... jangan semua donk!" decak Maya kesal dengan tangan menahan alat-alat milik Po di pangkuannya.


Po yang melihat Maya setengah berjongkok membawa barang-barangnya hanya tersenyum dan menyuruh Maya mengikutinya ke petakan kebun miliknya. Dengan terpaksa Maya menuruti perintah Po, Maya berjalan perlahan-lahan dengan posisi setengah berjongkok menahan berat yang ia pegang. Setelah sampai di petakan, Maya menurunkan semua barang-barang milik Po dengan perlahan dan memarahinya.


"Kalau kau melakukan itu sekali lagi, akan kubuang alat-alatmu ke tempat sampah!" ancam Maya kecil dengan wajah yang cemberut.


"Hahaha ... maaf, maaf. Kau ingin tahu cara menanam bunga, bukan?"


Cemberut yang mengiasi wajah Maya tiba-tiba meredup setelah Po menyinggung tentang menanam bunga.


"Mau donk!" jawab Maya berapi-api.


Po yang melihat Maya telah melupakan rasa kesalnya hanya tersenyum kecil.


"Yap," jawab Maya setelah melihat tanah gambut yang masih kosong, di sekeliling tanah kosong itu telah penuh ditanami oleh berbagai bunga yang berwarna cerah.


"Kita akan menanam bunga di sana. Aku akan memberitahukan apa yang harus kau lakukan, sedangkan kau melaksanakan apa yang aku perintahkan! Pertama ambil sekop itu dan gali tanahnya sedalam 1,5cm!" perintah Po menyuruh Maya melakukan apa yang ia katakan.


Maya pun jongkok mengambil sekop dengan tangan kanannya dan mulai menggali tanah itu sesuai dari apa Po perintahkan.


"Apa ini sudah 1,5cm?" tanya Maya setelah menggali tanah di hadapannya.


"Hmm ... sudah cukuplah. Sekarang taruh biji mawar itu ke dalam tanah yang telah kau buat!"


Maya mencari di mana letak biji yang dimaksud Po di sekitar alat-alatnya. Setelah beberapa detik Maya mencari, akhirnya Maya menemukannya di sebuah pelastik yang terlihat basah. Karena bingung, Maya bertanya kenapa pelastiknya basah. Lalu Po pun


menjawab,


"Itu adalah benih yang telah direndam di dalam air selama satu hari, tujuannya direndam agar kita dapat dengan cepat meningkatkan kadar air di sekitar biji, sehingga ketika ditanam akan memberi sinyal ke benih bahwa kondisi aman untuk tumbuh," jelas Po dengan serius.

__ADS_1


Maya mendengarkan semua yang Po jelaskan dan mengingatnya.


"Berikan sedikit serbuk kompos itu lalu tutup menggunakan tanah dan jangan di tekan! Setelah tertutup berikan sedikit pupuk di atasnya sebagai tambahan zat hara! Jika sudah siap makan siramlah selalu di pagi hari."


"Wahh ... gampang juga ya menanam bunganya," ucap Maya sembari menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya yang kotor setelah selesai menanam biji bunga mawar.


"Ya gampanglah ... kaukan cuma menanam, yang paling susah dalam berkebun adalah menjaga tanamannya tetap hidup!"


Maya tertegun mendengar ucapan Po, sebuah kata yang sederhana tetapi banyak sekali nilainya. Karena waktu yang hampir gelap, Maya berkeinginan untuk pulang dan berpamitan kepada Po.


Saat Maya hampir menuju gerbang Maya dipanggil oleh Po. Saat Maya telah berdiri tepat di hadapan Po, Maya melihat gerak-gerik Po yang aneh dengan tangannya yang disembunyikan ke belakang seperti sedang memegang sesuatu.


"Aku ada sedikit hadiah untukmu, Maya," ucap Po memandang wajah Maya.


"Apa itu?" tanya Maya penasaran.


"Tutup matamu dan buka telapak tanganmu!"


Maya pun menutup matanya dan mengangkat tangannya yang terbuka ke arah Po, setelah beberapa detik pada posisi ini, Maya merasakan tangan Po menggerakkan tangannya seakan menyuruh Maya untuk menggengam sesuatu.


"Sekarang kau boleh membuka mata," kata Po menyuruh Maya membuka matanya.


Saat membuka mata, Maya kembali dikejutkan dengan setangkai bunga mawar digenggamannya. Bunga yang indah, ranum dan mekar itu Maya gengam dengan erat. Air mata Maya terjatuh mengetahui Po memberikannya hadiah, Maya berterima kasih lalu memeluk Po. Po yang dipeluk Maya merasakan kaget yang luar biasa. Sebuah pelukan dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan semenjak kedua orang tuanya telah tiada. Selama ini banyak orang yang takut dengan wajah Po, namun hanya Maya yang tidak takut dan bahkan memberikannya kehangatan sebuah pelukan.


Tanpa Po duga air matanya juga menetes, Po membalas pelukan Maya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya. Mereka berpelukan selama hampir dua menit hingga akhirnya mereka melepaskan pelukannya dan tersenyum malu.


"Terima kasih bunganya, Po. Aku akan menjaga bunga ini dengan ilmu yang telah kau berikan," ucap Maya dengan senyum di bibirnya.


Po tersenyum dan melambaikan tangannya saat Maya beranjak pergi dari kebunnya. Saat Maya hampir keluar dari gerbang, Po berteriak lantang,


"Maya! Jika kau punya waktu lagi jangan lupa kunjungi aku di kebun ini lagi yahh!"


Maya berbalik dan juga ikut berteriak agar Po bisa mendengarnya, "Iyahh! Aku pasti akan datang lagi!"


Maya pun melangkahkan kakinya pergi dari kebun milik Po beranjak pulang ke rumah karena takut Kakek mengkhawatirkannya.


\=\=♡\=\=

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2